Monthly Archives: May 2019

Uji Kompetensi Badan Kejuruan Sipil PII Menelurkan Insinyur Profesional sesuai Amanah PP 25/2019, 9 Mei 2019

Majelis Penilai Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur (MP BKS PII) Indonesia kembali menggelar sidang uji kompetensi calon Insinyur Profesional di Kantor PII Pusat, 9 Mei lalu. Sidang dipimpin oleh Ir. Wahyu Hendrastomo Bersama dua anggota MP lainnya Ir. Andi Taufan Marimba dan Ir. Habibie Razak. Sidang ini diikuti oleh 10 calon Insinyur Profesional yang bekerja dan berdomisili di Pulau Kalimantan meluangkan waktu mereka ke ibukota untuk mengikuti proses uji kompetensi BKS PII.

Upaya ini terus dilakukan oleh Badan-badan Kejuruan di bawah Persatuan Insinyur Indonesia untuk mensertifikasi para Calon Insinyur Profesional sesuai dengan amanah UU No.11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran yang kemudian diatur lebih terinci melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 25 Tahun 2019. Lingkup Pengaturan dalam PP ini meliputi: a. disiplin teknik Keinsinyuran, dan bidang Keinsinyuran; b. program profesi Insinyur (PPI); c. registrasi Insinyur; d. Insinyur Asing; dan e. pembinaan Keinsinyuran.

Menurut PP ini, setiap Insinyur yang akan melakukan Praktik Keinsinyuran di Indonesia harus memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) yang dikeluarkan oleh PII. Untuk memperolehnya, Surat Tanda Registrasi sebagaimana dimaksud, menurut PP ini, harus memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur. Sertifikat Kompetensi Insinyur (SKI) sebagaimana dimaksud, menurut PP ini,  diperoleh setelah lulus Uji Kompetensi yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sertifikat Kompetensi ini Insinyur berlaku untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

Dalam PP ini juga disebutkan, jenjang kualifikasi profesi Insinyur terdiri atas: a. Insinyur profesional pratama; b. Insinyur profesional madya; dan c. Insinyur profesional utama. Sidang Uji Kompetensi yang dilakukan oleh Badan-badan kejuruan PII adalah untuk melahirkan lebih banyak lagi Insinyur yang memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur (SKI) sesuai dengan amanah UU dan PP keinsinyuran ini.

Sidang uji kompetensi sesuai bakuan kompetensi PII adalah calon Insinyur Profesional Madya atau Insinyur Professional Utama harus melalui proses wawancara teknis (technical interview) setelah Formulir Aplikasi Insinyur Profesional (FAIP) dievaluasi dan dinyatakan memenuhi score yang ditetapkan oleh majelis penilai sesuai dengan sistem sertifikasi PII. FAIP ini berisikan isian tentang pengalaman keinsinyuran kandidat IPM/IPU tadi yang terdiri dari 2 jenis kompetensi yakni kompetensi wajib yang terdiri dari: kode etik, keterampilan kerja, perencanaan dan perancangan dan pengelolaan/komunikasi sedangkan kompetensi pilihan terdiri dari: Pendidikan dan pelatihan, penelitian, pengembangan komersialisasi dan produk keteknikan, konsultansi rekayasa, konstruksi dan instalasi, produksi/manufaktur, bahan material dan komponen, manajemen usaha dan pemasaran Teknik, dan yang terakhir adalah manajemen pembangunan dan pemeliharaan asset.

Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Kelautan ITS Jabodetabek bekerjasama PII Menggelar Workshop Sertifikasi Insinyur Profesional, Jakarta, 4 Mei 2019

Ikatan Alumni Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Pengurus Wilayah Jabodetabek bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menggelar Workshop Sertifikasi Insinyur Profesional (WSIP) yang diselenggarakan 4 Mei 2019 di Hotel Alia, Cikini. Workshop ini dihadiri oleh setidaknya 11 sarjana Teknik dari berbagai alumni keteknikan antara lain Teknik Perkapalan, Sistem Perkapalan, Transportasi Laut, Teknik Kelautan, Teknik Fisika dan lainnya.

Workshop ini resmi dibuka oleh Gigih Retnowati yang juga merupakan Ketua Alumni ITS Teknologi Kelautan (ALFATEKELITS) Wilayah Jabodetabek. Gigih yang juga bekerja di Kementerian Perhubungan menyampaikan bahwa dengan lahirnya UU No. 11/2014 tentang keinsinyuran dan disahkannya Peraturan pemerintah turunan dari UU ini maka setiap Sarjana Teknik yang berpraktek keinsinyuran wajib untuk memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI)di mana mereka sebelumnya harus lulus uji kompetensi untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Insinyur (SKI). PII adalah satu-satunya organisasi yang mengeluarkan STRI.

Workshop ini diisi oleh beberapa sesi materi antara lain pengenalan sertifikasi Insinyur profesional PII dan sertifikasi keinsinyuran internasional oleh Ir. Habibie Razak – Badan Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan PII juga merangkap Komite Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan PII Pusat, Pengenalan Organisasi PII dan Badan Kejuruan (BK)Teknologi Kelautan oleh Ir. Iskendar Ketua BK dan Ir. Nofirwan S. Said Sekretaris BK dan materi tata cara pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional dan Bakuan Kompetensi PII oleh Ir. Ade Irfan – Wakil Sekjen PII Pusat.

Habibie Razak dalam paparannya mengumumkan kepada peserta bahwa UU keinsinyuran saat ini sudah bisa sepenuhnya diimplementasikan dengan segala konsekuensi hukum yang ada di dalamnya setelah Peraturan pemerintah No. 25 tahun 2019 diterbitkan minggu lalu oleh Presiden Republik Indonesia. Harapannya dengan UU keinsinyuran dan turunannya ini mampu memberikan aura positif pada peningkatan inovasi dan daya saing Insinyur Indonesia di tingkat nasional dan global termasuk peningkatkan kesejahteraan para Insinyur Indonesia di masa sekarang dan masa depan.

“Peraturan Pemerintah juga mengatur tentang Insinyur Asing yang akan bekerja di Indonesia diwajibkan memiliki sertifikat kompetensi Insinyur atau biasa diistilahkan sebagai Professional Engineer certificate yang diakui oleh hukum negaranya. Apabila mereka (Insinyur asing) belum memiliki sertifikat yang dimaksud maka mereka wajib mengikuti uji kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Kompetensi Insinyur (LSKI) atau di Badan Kejuruan PII terkait untuk mendapatkan sertifikat kompetensi Insinyur sebagai syarat untuk dikeluarkannya Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI)” tambah Ir. Habibie. “Dengan demikian kita dapat memproteksi Insinyur-Insinyur Indonesia dari penetrasi Insinyur asing yang akan masuk bekerja di Indonesia yang merupakan implikasi dari investasi yang mereka bawa ke Indonesia” ujar Habibie

AFEO Menggelar AFEO Midterm Meeting 2019 di Brunei, 30 April – 2 Mei 2019

ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO) menggelar AFEO Midterm Meeting di Hotel Centrepoint Kota Gadong, Brunei Darussalam. Midterm meeting kali ini dituanrumahi oleh Pertubuhan Jurutera dan Arkitek (PUJA) yang sukses diselenggarakan mulai dari Tanggal 30 April hingga 2 Mei 2019.

AFEO Midterm Meeting dihadiri oleh 10 perwakilan negara ASEAN yang tergabung dalam AFEO ini bertemu, sharing informasi dan melakukan inisiasi terkait engineering practice and engineering education development di kawasan Asia Tenggara. AFEO membentuk ASEAN Engineering Inspectorate (AEI) untuk Boiler, Fire Safety in Buildings dan Electrical installation. Inspektorat ini bertemu dan berdiskusi untuk merumuskan standard inspeksi untuk instalasi yang kemudian akan diusulkan untuk diimplementasikan di negara-negara ASEAN.

Pertemuan midterm AFEO ini juga terdiri dari beberapa working group discussion seperti Environmental, Logistics, Energy, Education and Capacity Buildings, Disaster Preparedness, Sustainable Cities, Engineers Mobility Forum, ASEAN Engineers, dan working group lainnya. PUJA juga mengorganize technical visit pada satu proyek Suspension & Cable Stayed Bridge yang diikuti oleh delegasi tiap negara ASEAN. Technical visit ini memberikan insight kepada para Insinyur ASEAN tentang update teknologi jembatan yang lagi berkembang saat ini.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat yang dimotori langsung oleh Ketua Umum Dr. Ir. Heru Dewanto menghadiri Midterm Meeting ini bersama pengurus PII Pusat lainnya antara lain: Dr. Ir. Robert Sianipar – Awards Committee, Ir. Faizal Safa & Ir. Bobby Gafur Umar – AFEO Honorary Advisor, Ir. Siti Wahyuna Bintari & Ir. Mucharom Ahmadi (PII delegates for environment working group), Ir. Andri Doni – energy working group, Ir. Nurmiadji Sukasdewa – engineers mobility working group, Ir. Habimono Koesobjono dan Ir. Habibie Razak – ASEAN Engineer’s working group, Ir. Ade Irfan – AEI Boiler, Ir. Andi Taufan Marimba – AEI Building Safety, Ir. Tri Joko Samiono – Sustainalbe Cities working group, Ir. Akbar Nur Agung & Ir. Andy Rachmadi Herlambang (technical visit participants) dan beberapa lainnya.

Follow up dari 2019 AFEO Midterm ini adalah diselenggarakannya Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO) yang ke-37 yang akan digelar di Indonesia bulan September 2019 ini. PII adalah host CAFEO 2019 ini dan dikoordinir langsung oleh Dr. Ir. Heru Dewanto Ketua Umum PII.