Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

World Clean Energy Conference, 1 Des 2022

ESCOM salah satu conference provider terkemuka di Asia Tenggara menggelar World Clean Energy Conference dirangkaikan dengan Smart Grid and Solar Energy Expo berlangsung dari Tanggal 1 hingga 2 Desember 2022 di Hotel Ayana Mid Plaza, Sudirman. Konferensi ini mempertemukan stakeholder di bidang sektor energi untuk membahas solusi, kebijakan, maupun teknologi yang dapat mendorong transformasi lanskap energi di Indonesia. 

Konferensi yang menghadirkan pembicara dimulai dari regulator, pengembang EBT, konsultan, kontraktor, termasuk organisasi profesi berlangsung sangat interaktif di hari pertama. Ir. Habibie Razak Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia yang hadir sebagai panelis pada sesi “Just Energy Transition” menyampaikan perspektif PII dan Insinyur Indonesia bahwa “Kita sebagai Insinyur Indonesia harus bisa mengambil peran di berbagai fungsi supaya investasi di sektor ini bisa sukses sesuai dengan roadmap Indonesia menuju net zero emission di tahun 2060” Lanjut, Habibie menekankan lagi bahwa “Insinyur kita terus melakukan upskilling terkait kompetensi yang dibutuhkan di era transisi energi ini. Penguasaan terhadap IPTEK dan kensinyuran di sektor ini adalah suatu keharusan agar kita bisa bersaing dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri”.

Ir. Habibie Razak yang juga adalah Indonesia Country Director SMEC International Pty Ltd – Surbana Jurong Group perusahaan konsultan infrastruktur dan energi terkemuka di dunia bahwa ini adalah big jump yang dilakukan oleh Pemerintah dan harus terus kita dukung sepenuh hati. Yang mesti dipikirkan adalah selagi kita secara gradual mempensiunkan PLTU-PLTU kita mulai dari kapasitas kecil hingga besar ini, Transitional LNG program diharapkan bisa hadir mengisi untuk bisa menggantikan coal fired based plant dengan PLTG/PLTGU yang lebih bersih in parallel kita melanjutkan usaha untuk membangun pembangkit dari sumber energi baru dan terbarukan. Oleh Ir. Habibie, era hidrogen sebagai cleanest fuel akan datang tapi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjadikan hidrogen ini menjadi economically viable.

Informasi terkait konferensi ini ada di Indonesia Clean Energy/Smart Grid/Solar Energy Summit 2022 – GZCP



Ir. Habibie Razak Represented PII at The International Seminar of IIEE, Philippines, 08 Nov 2022

The Institute of Integrated Electrical Engineers of the Philippines, Inc. (IIEE) is an organization of electrical engineering practitioners and the only accredited professional organization (APO) of electrical practitioners by the Professional Regulation Commission (PRC) with PRC Cert. No. I-APO-016, founded in 1975. IIEE held a virtual Annual National Convention via Zoom, and the ASEAN and Asia Pacific Engineering Registry Committee (AAPER), PEE Mentoring Committee and College of Fellows Committee spearheading a Building Career Path for Global Recognition on November 8, 2022 (Tuesday) at 8:00am to 5:00pm Philippine Time.

The event has presented several speakers from Philippine and other countries such as Malaysia and Philippine. Home speakers such as Engr. Federico A. Monsada President Philippine Technological Council (PTC) presented the introduction of internationally accepted exemplars of graduate attributes and professional competence to achieve global comparability of engineering education and practice while Engr. Romulo Country Registrar PTC promoted the mobility of qualified engineers through mutual recognition of qualification and experiences.

Ir. Yau Chau Fong – Head of AER Commissioner presented on how engineers in ASEAN can practice mobility. He mentioned, as we are under ASEAN Communities, Philippines Engineers can now easily do the Malaysian or Indonesian projects even from their home countries. They can export the engineering works to neighbouring countries and do site visits at project site. As Chau Fong said, we may find so many ASEAN Engineers also work in middle east and have been recognized as ASEAN Engineering Register (AER).

While Ir. Habibie Razak Executive Director of The Institution of Engineers, Indonesia (PII) and also The Country Director of SMEC International (Indonesia Operation) – Surbana Jurong Group presented his experience in “Building Engineer’s Career Path for Global Recognition; Indonesia/PII Perspective”. Several outlines to discuss, Engineering Profession Transformation after the issuance of Law No. 11/2014, Professional Engineer (PE) Practice in Indonesia, Engineer’s Career Path; Global Recognition, Global Challenges of Professional Engineer (PE); Energy Transition and Global Challenges of Professional Engineer (PE); Digitalization & Automation in AEC Sector.

At the end of Habibie’s presentation, he concluded “Engineers’ Career Path started from Junior Engineer’s Level all the way up to more mature experienced engineers and decide in which path they will choose, Project Management, Specialist or Sales & Business Development. Either we choose working domestic or oversea, either we work as professional or create our own business?

Ir. Habibie himself to reach to the top of his career as Country Director of reputable engineering consultancy firm he needs at least 18 years to stay in his career path starting from junior engineer level, engineer, project engineer, project manager, project director, sales and business development director till he became a country director.

Ir. Habibie also expressed his messages to the seminar participants The global challenges of Engineering (Digitalization and Automation) require ÄSEAN Engineers to focus on upskilling and continuous improvement of competence. The global competitiveness of ASEAN Engineers really needs to be supported by International Certification facilitated by PII through Cooperation with Foreign Parties (G to G) MRA or through International Engineering Alliances).

The last session was presenting Dr. Florigo Varona who was providing the updates, related activities and orientations on the ASEAN/ACPE/APEC/AAE/AT Engineering Registers

This prestigious event was attended nearly 1000 engineers who are working in various disciplines of engineering in Philippine.


Sosialisasi PII dan Sertifikasi Insinyur Profesional Bersama ITERA, 27 Oktober 2022

Dr. Sabhan Kanata Ketua UPT PLTS Institut Teknologi Sumatera (ITERA) kembali mengundang Persatuan Insinyur Indonesia pada penyelenggaraan lokakarya sosialisasi organisasi Persatuan Insinyur Indonesia dan UU 11/2014 tentang profesi keinsinyuran, pengenalan sistem sertifikasi Insinyur Profesional, Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) dan sertifikasi keinsinyuran di tingkat ASEAN dan ASIA PASIFIK.

Sesi sebelumnya UPT PLTS ITERA juga menggelar seminar terkait Effective Solar PV Design dan Renewable Energy Potentials di Indonesia menghadirkan pembicara dari Persatuan Insinyur Indonesia, Ir. Habibie Razak, IPU., APEC Eng., ACPE dan Andri Wahyudi, ST.

Untuk sesi sosialisasi ini PII kembali menghadirkan 3 pembicara, Ir. Bambang Goeritno, M.Sc., MPA., IPU., APEC Eng., ACPE, Ir. Habibie Razak, IPU., APEC Eng., ACPE dan Ir. Wahyu Hendrastomo, MM., IPU., ACPE. Ir. Bambang Goeritno, Sekretaris Jenderal PII dalam paparannya memberikan pesan kepada semua peserta webinar bahwa Insinyur Indonesia memegang peran penting di dalam berkontribusi pada kemajuan bangsa sebagaimana kita melihat PII menyatukan para insinyur di berbagai disiplin dan sektor yang bekerjasama di dalam penyelenggaraan proyek-proyek strategis nasional.

Sementara itu Ir. Wahyu menjelaskan proses untuk mendapatkan sertifikasi Insinyur Profesional dan Ijin Praktik Keinsinyuran di Indonesia (STRI) dan mendorong semua peserta lokakarya yang hampir semuanya bergelut di sektor keinsinyuran untuk bergabung dengan Persatuan Insinyur Indonesia.

Ir. Habibie Razak yang diberikan kesempatan memaparkan pengenalan sertifikasi Insinyur Profesional yang diselenggarakan melalui PII antara lain ASEAN Engineering Register (AER), ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) and APEC Engineer Register. Ir. Habibie melihat animo yang sangat tinggi saat ini oleh para Insinyur Indonesia mengikuti program international certification ini.

Ir. Habibie juga menjelaskan bahwa ada3 hal yang harus dimiliki oleh Insinyur Profesional yakni pengetahuan keinsinyuran (know what), keterampilan keinsinyuran (know how) dan how should (attitude) terkait etika dan integritas yang harus dimiliki seorang Professional Engineer sesuai dengan Kode Etik Insinyur Indonesia.

Dr. Sabhan Kanata selaku Ketua UPT PLTS ITERA berterima kasih sebesar-besarnya kepada pengurus PII atas kehadirannya pada lokakarya yang dihadiri setidaknya 100 peserta dari kalangan mahasiswa dan praktisi keinsinyuran.

Hari ini Di Universitas Jember Melantik Insinyur Baru, 01Okt2022

Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Jember kembali menggelar pengukuhan dan pengambilan sumpah lulusan Insinyur PSPPI sebanyak 39 orang. Dengan demikian PSPPI UNEJ menghasilkan total 188 sejak beroperasinya di tahun 2017. Pengukuhan dan pengambilan sumpah dilakukan oleh Ir. Habibie Razak, IPU., ACPE., ASEAN Eng. Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat mewakili Ketua Umum PII didampingi Rektor Universitas Jember Dr. Ir. Iwan Taruna, M.Eng.

Kepala Prodi PSPPI Ir. Kristianto, M.Eng., IPM menyebutkan satu persatu nama nama lulusan PSPPI Angkatan VIII ini dilanjutkan sesi pengambilan sumpah dan sambutan-sambutan dimulai dari Wakil Ketua PII Wilayah Jatim Dr. Ir. Gentur, Rektor UNEJ Dr. Ir. Iwan dan kemudian dilanjutkan dengan orasi dan kuliah umum keinsinyuran oleh Ir. Habibie.

Ir. Habibie Razak dalam orasinya menyampaikan bahwa “Kita sebagai Anggota PII saat ini patut berbangga karena Ketua Umum kita juga diberikan amanah sebagai Kepala Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN” yang ini kemudian disambut dengan tepuk tangan oleh para lulusan PSPPI.

Ir. Habibie juga berpesan kepada para Insinyur yang baru dilantik untuk tidak hanya berhenti di jenjang sebagai Insinyur saja tapi diharapkan segera melanjutkan ke program sertifikasi Insinyur Profesional dan mendapatkan ijin praktik keinsinyuran dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Dalam orasinya, Ir. Habibie yang juga merupakan Country Director di salah satu perusahaan konsultan terkemuka di dunia saat ini meminta para Insinyur Indonesia untuk terus memutakhirkan pengetahuannya di dalam menjawab tantangan global keinsinyuran saat ini.

Liputan lengkap kegiatan ini dapat dilihat langsung melalui link https://youtu.be/5DeOfj6x8GM

Pengukuhan Insinyur PSPPI UNILA, 17Sept2022

Universitas Lampung sebagai salah satu universitas terbesar di Pulau Sumatera kembali sukses mengukuhkan 235 lulusan Insinyur Program Profesi Insinyur Sabtu kemarin di Balroom Hotel Emersia. Hadir pada acara ini mewakili Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Ir. Habibie Razak yang saat ini menjabat sebagai Direktur Eksekutif PII didampingi Sekretaris Wilayah PII Lampung Ir. Taufik Kurrahman.

Laporan terkait PSPPI disampaikan langsung oleh Dr. Ir. Dipridi Despa Kaprodi PSPPI UNILA dilanjutkan dengan sambutan sambutan antara lain oleh Ir. Habibie Razak mewakili PII Pusat dan Prof. Ir. Suharso, PhD Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerjasama dan Teknologi Informasi dan Komunikasi Universitas Lampung.

Dalam sambutannya selama kurang lebih 15 menit, Ir. Habibie Razak yang juga merupakan Indonesia Country Director untuk SMEC International Pty Ltd – Surbana Jurong Group menyampaikan pemintaan maaf Ketua Umum PII yang belum sempat hadir pada acara pengukuhan kali ini. Ir. Habibie juga menyampaikan bahwa sebagai anggota PII, kita saat ini patut berbangga karena Ketua Umum kita diberikan amanah dan tanggung jawab besar sebagai Kepala Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur IKN di Kalimantan Timur.

Ketum PII juga menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya kepada UNILA yang terus menerus melahirkan Insinyur-insinyur baru melalui program profesi insinyur dan di angkatan VIII ini berhasil mengukuhkan dan mewisuda sejumlah 235 Insinyur dengan demikian total alumni menjadi 720 insinyur sejak PSPPI UNILA beroperasi di tahun 2018.

Ir. Habibie Razak yang menjadi anggota PII sejak 2002 menyampaikan kembali pesan Ketum PII bahwa Persatuan Insinyur Indonesia memegang peranan penting di dalam penyediaan sumber daya Insinyur baik secara kualitas maupun kuantitas untuk mencapai Visi Indonesia Emas 2045. Saat ini rasio Insinyur kita masih jauh di bawah dibandingkan negara seperti Vietnam, Korea dan Amerika Serikat. Rasio kita di kisaran 5,300 per 1 Juta Penduduk sedangkan Vietnam, Korea dan Amerika Serikat masing masing di kisaran 9000, 25000 dan 20000 per 1 Juta penduduk. “Butuh kerja keras dari semua stakeholders keinsinyuran untuk mencapai rasio setidaknya 30000 per 1 juta penduduk di tahun 2045 dan tentunya kualitas Insinyur kita harus terus ditingkatkan” Lanjut Ir. Habibie.

Sejak diterbitkannya UU 11/2014, PII pun kemudian mengemban tugas dan amanah besar menjalankan transformasi keinsinyuran antara lain mendukung penyelenggaraan PSPPI, melakukan akreditasi perguruan tinggi teknik melalui IABEE, menyelenggaran sertifikasi Insinyur Profesional, mengeluarkan ijin praktik keinsinyuran (STRI), menyelenggarakan Continuing Professional Development (CPD) buat para Insinyur Profesional, mengakreditasi Himpunan Keahlian Keinsinyuran (HKK) dan mempertahankan Insinyur Profesional PII tersetarakan dengan Internasional.

Di akhir sambutan, Ir. Habibie kembali mengingatkan perlunya upskilling oleh para Insinyur Indonesia di dalam menghadapi tantangan global keinsinyuran antara lain: digitalisasi dan otomasi, transisi energi, resilient infrastructure dan revolusi teknologi kesehatan.

Ketum PII Pimpin Upacara Kemerdekaan RI Ke-77: Insinyur Bangun Negeri Menjadi Lebih Baik

Suasana upacara perayaan kemerdekaan RI ke-77 hari ini secara offline di kantor PII Pusat Gedung Graha Rekayasa Indonesia berlangsung hikmat dipimpin langsung oleh Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc., IPU.,, ACPE. Bertindak selaku inspektur upacara Sekretaris Jenderal PII Ir. Bambang Goeritno, M.Sc., MPA., IPU., APEC Eng.

Ketum dalam pidatonya menyampaikan, kita membutuhkan Insinyur untuk bangun negeri ini menjadi lebih baik. Berikut isi pidato lengkap keinsinyuran Ketum PII pada perayaan Kemederkaan RI hari ini.

“Bapak dan Ibu serta Saudaraku sekalian, Sahabat Insinyur se-Indonesia dan para Insinyur kita yang saat ini berkarya di Luar Negeri.
Pagi ini kita hadir bersama untuk merayakan 77 tahun Indonesia meraih kemerdekaannya. Sebagai insan Insinyur Indonesia, kontribusi kita baik secara individu maupun secara organisasi telah banyak melahirkan karya-karya dan Inovasi Keinsinyuran yang mewarnai perjalanan bangsa ini menuju bangsa besar, bangsa yang maju, mandiri dan berdaulat.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa kelahiran PII di tanggal 23 Mei 1952, jelang 7 tahun usia Republik Indonesia juga menandai betapa pentingnya kehadiran PII untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah kita rebut dari kolonialisme. Negeri yang kala itu masih berusia belia membutuhkan infrastruktur dan industri untuk membuktikan eksistensi kita sebagai bangsa.
PII adalah gagasan besar Founding Father Indonesia Ir. Soekarno bersama pendiri Ir. Djuanda dan Ir. Rosseno.
Visi besar Founding Father kita adalah Insinyur Indonesia hadir untuk membangun bangsa dan mensejahterakan masyarakat melalui karya-karya dan inovasi keinsinyuran. Ir. Soekarno sangat memahami bahwa tanpa insinyur, Indonesia tidak akan menjadi negara maju dan tidak akan bisa setara dengan bangsa-bangsa lain. Indonesia butuh insinyur.
Bapak dan Ibu serta saudaraku para Insinyur yang berkarya di berbagai sektor,
Saat ini kita menghadapi perekonomian dunia yang begitu dinamis, penuh ketidakpastian. Kehidupan berbangsa dan bernegara pun yang melibatkan multi-sektor, multi-aktor sehingga permasalahan yang muncul pun semakin beragam dan begitu kompleks. Begitu pun tantangan keinsinyuran baik skala global maupun nasional yang sungguh dinamis.
Visi Menuju Indonesia Emas di Tahun 2045 yang salah satu pilarnya adalah Pembangunan Manusia serta Penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang di dalamnya termasuk tantangan pemenuhan sumber daya Insinyur Indonesia baik secara Kuantitas maupun Kualitas. Secara Kuantitas, saat ini kita masih berada kisaran rasio 5300 Insinyur per juta penduduk yang perlu ditingkatan secara eksponensial untuk setidaknya berada pada rasio 25000 Insinyur per juta penduduk di tahun 2045.
Tentunya, ini menuntut kita, para aktifis Keinsinyuran (yang berada di sisi industri, akademisi, Pemerintah maupun melalui PII sendiri) untuk bersinergi dan berkolaborasi di dalam melakukan proses akselerasi tadi, yang tidak cukup lagi dengan business as usual untuk mencapai target itu. Saat ini, kita jauh tertinggal dari Amerika Serikat (20000 Insinyur per juta penduduk), Korea (25000 Insinyur per juta penduduk) dan bahkan Vietnam (9000 per juta penduduk).
Sebagai organisasi besar, kita patut berbangga, PII telah bertransformasi menjadi Otoritas Keinsinyuran melalui mandat UU 11/2014 telah mencapai milestones of achievement yang di antaranya pengakuan PII sebagai bagian dari International Engineering Alliances sejak awal 2000-an dan baru-baru ini kita mendapat kabar yang sangat menggembirakan beberapa minggu lalu bahwa PII melalui Indonesian Accreditation Board of Engineering Education (IABEE) telah menjadi full signatory member of Washington Accord, sungguh pencapaian yang luar biasa.
Tantangan global keinsinyuran (Digitalisasi dan Automasi, Transisi Energi, Penyediaan Infrastruktur Handal dan Revolusi Industri Kesehatan) menuntut para Insinyur Indonesia fokus pada upskilling dan peningkatan kompetensi secara terus-menerus.
Semoga dengan credentials yang kita miliki sebagai Organisasi bisa secara konsisten menjadi barometer penyelenggaraan Keinsinyuran di Indonesia maupun global yang lebih professional, lebih berkualitas, dan lebih bermartabat. Peran Insinyur Indonesia di dalam berbagai sektor pun harus terus didorong dan ditingkatkan untuk memberikan nilai tambah buat pembangunan nasional dan juga berdaya saing global.
Semoga dengan momentum perayaan kemerdekaan ke-77 ini “INSINYUR INDONESIA SEMAKIN KONSISTEN MENGEKSPRESIKAN NASIONALISME DAN KECINTAAN PADA TANAH AIR MELALUI KARYA DAN INOVASI KEINSINYURAN DI BERBAGAI SEKTOR”
Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-77 tahun.
Indonesia Maju, PII Jaya, Insinyur Indonesia Semakin Tangguh dan Bermartabat”

Ketum PII – Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc., IPU., ACPE

Hadir juga secara offline Bendahara Umum PII Dr. Ir. Arlan Septia, IPU., Wasekjen PII Ir. Dandung Sri Harninto, IPU., Sekretaris Komite Penjaminan Mutu PII Pusat Ir. Taufik Nur, MT., IPM., ASEAN Eng, Direktur Eksekutif PII Ir. Habibie Razak, IPU., ACPE., APEC Eng dan Wakil Direktur Eksekutif PII Ir. Mucharom, ST yang diberi amanah membacakan doa di perayaan dirgahayu RI ke-77 ini.

Mewakili Ketum PII pada FGD Program Profesi Insinyur UNSRI, 15Agt2022

Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Sriwijaya (UNSRI) Palembang menggelar Seminar dan Focus Group Discussion yang berlangsung hari Senin pagi, 15 Agustus 2022 dengan topik “Kebijakan, Tantangan dan Peran Mutu Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI)”.

Acara yang dihadiri langsung oleh Rektor UNSRI Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaf, MSCE., IPU., ASEAN Eng. sekaligus memberikan keynote speech tentang peran dan tantangan PSPPI Universitas Sriwijaya dalam menelurkan lulusan Insinyur melalui Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) yang sudah bergulir setidaknya 5 tahun terakhir.

Ir. Habibie Razak Direktur Eksekutif PII Pusat mewakili Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia dalam paparannya bahwa saat ini sekitar 40 Perguruan Tinggi diberi Ijin membuka Program Studi Program Profesi Insinyur sejak 11 April 2016, per 1 Januari 2017, Batch Pertama Penerima Mandat – UMI – Andalas Padang – UMS Surakarta – Binus Jakarta. Dari 40 yang diberi ijin dan mandat tadi sekitar 37 Perguruan Tinggi berhasil menelurkan Insinyur dari PSPPI per 10 Maret 2022. Saat ini, TOP THREE penghasil lulusan PSPPI hingga Maret 2022, UNHAS (2385 alumni), UGM (1989 alumni) dan UMI (1676 alumni). Total keseluruhan Alumni PSPPI se-Indonesia per Maret 2022 baru +/- 12.974 Insinyur.

Oleh Ir. Habibie “ketika membaca dan mempelajari statistik, rasio Insinyur Indonesia per 1 Juta penduduk masih jauh dibandingkan negara seperti Korea, Amerika Serikat bahkan Vietnam. Saat ini rasio kita masih 5300 per Juta penduduk dibandingkan dengan negara lain seperti Vietnam saja sudah 9000, US 20000 dan Korea 25000. Namun Selain kuantitas, kualitas program pendidikan tinggi teknik kita masih perlu didorong menjadi lebih baik lagi melibatkan industri dan praktisioner untuk mendapatkan real engineering experience. Program studi keinsinyuran diharapkan mengikuti program international accreditation (ABET) untuk kesetaraan internasional” lanjut Habibie.

Ir. Habibie yang dalam kapasitasnya mewakil Ketum PII Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga juga menyampakan kembali 4 tantangan keinsinyuran yang ada di dunia saat ini antara lain digitalisasi dan automasi, transisi energi, infrastruktur tangguh di era perubahan iklim dan revolusi industri kesehatan. Para lulusan Insinyur kita hendaknya diberikan insight bahkan kesiapaan skill terkait 4 tantangan tadi.

Oleh karena itu ada beberapa saran-saran oleh PII kepada pihak penyelenggara PSPPI antara lain: Perlu ada kerjasama yang apik antara Perguruan Tinggi + PII + Industri untuk menelurkan calon-calon Insinyur Profesional melalui program Engineer in Training (benchmarking ke US & Canada), Perlu adanya mata kuliah khusus terkait “Pedoman Berpraktik Keinsinyuran bagi Insinyur Profesional”, dengan menghadirkan pembicara dari PII, Perlu tambahan penekanan mata kuliah “Etika” dan “Profesionalisme”, dengan mengundang praktisi Keinsinyuran dari industri, Penambahan wawasan para Insinyur tentang “Teknologi Digitalisasi dan Transisi Energi”, melalui sub-mata kuliah tersebut di PSPPI, perlu adanya diskusi sesama penyelenggara PSPPI terkait biaya penyelenggaraan untuk kelas RPL dan reguler, Saran untuk Forum Penyelenggara PSPPI untuk program reguler PSPPI hendaknya bisa langsung dimulai sejak lulus Sarjana Teknik/Hayati tanpa harus menunggu 2 tahun umur ijazah dan yang terakhir adalah dibutuhkan extra-ordinary effort mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara maju terkait peningkatan rasio Insinyur per Juta penduduk yang hanya bisa dilakukan apabila ada program akselerasi (not business as usual).

Acara ini dibuat secara hybrid, sesi offline bertempat di Ruang Prof Djoaeni Mukti UPT Bahasa Kampus Universitas Sriwijaya Bukit Besar.

Mewakili Ketum PII pada CITES2022, 09 Agustus 2022

Universitas Andalas Padang menggelar The Conference on Innovation in Technology and Engineering Sciences (CITES) 2022 yang sukses diselenggarakan pagi hingga sore ini secara hybrid. Acara ini menghadirkan keynote speaker nasional maupun internasional antara lain: I Nyoman Radiarta, Ph.D mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan, Prof. Jafril Tanjung, Prof. Toong Khuan Chan dan Ir. Habibie Razak.

Keynote speaker di sesi pagi membawakan topik terkait kebijakan pemerintah terkait inovasi sains keketnikan dan teknologi di sektor kelautan dan perikanan, structural engineering, construction management dan profesionalisme dalam dunia keinsinyuran. Selain keynote speaker, di sesi siang membawakan topik yang berbeda terkait disiplin, civil, mechanical and electrical engineering, computational electronics and physics. Pembicara yang bukan hanya berasal dari Indonesia tapi juga menghadirkan pembicara dari Australia dan Malaysia.

Ir. Habibie Razak mewakili Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia memaparkan 4 outlines antara lain: The Spirit of Law No. 11 Year 2014 regarding Engineering Profession, Engineering Profession Transformation after the issuance of Law No. 11/2014, Professional Engineer (PE) Practice in Indonesia and Global Challenges of Professional Engineer (PE).

Dalam paparannya Ir. Habibie menuturkan “we are glad to announce that PII has been recognized by the IEA to be part of the APEC Engineer Membership since early 2000s and IABEE – Indonesian Accreditation Board for Engineering Education under PII has succeeded in becoming a full signatory member of the Washington Accord in 2022. These 2 major milestones would enable us to get recognized internationally and enhance the mobility of PEs to work abroad”

Selain itu, Ir. Habibie juga menyampaikan bahwa harusnya dengan UU 11/2014 memberikan peluang buat para Insinyur Indonesia yang juga merupakan bagian dari Industri (melalui PII) untuk memberikan kontribusi pemikiran dan pengetahuan kepada perguruan tinggi teknik di dalam mensetting the Discipline Criteria in Accreditation, dan Curriculum Development. Harapannya lebih banyak PEs/Industry Representatives involved in Accreditation Processes”

Ir. Habibie dalam kesimpulannya menyampaikan points to take away antata lain: “•After the enactment of Law no. 11/2014, PII has an important task in the professional development and coaching of Indonesian Engineers, and the preparation of superior and highly competitive Engineers to bring progress, prosperity and glory to the Indonesian nation and state. •Engineering Transformation must be able to create a conducive climate for the growth of professionalism, innovation, creativity, and excellence of Engineers, as well as being able to improve the quality of services and deliverables to Engineering users/usefuls. •The global challenges of Engineering (Digitalization, Energy Transition, Provision of Reliable Infrastructure and the Health Industry Revolution) require Indonesian Engineers to focus on upskilling and continuous improvement of competence.The global competitiveness of Indonesian Engineers really needs to be supported by International Certification facilitated by PII through Cooperation with Foreign Parties (G to G MRA or through International Engineering Alliances)”.

Acara konferensi ini dibuka dengan tari Piring merupakan tarian khas Sumatera Barat.

Seminar dan Muswil PII Wilayah Sulsel, Prof JJ Ketua Terpilih

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Wilayah Sulawesi Selatan menggelar Musyawarah Wilayah dan Seminar Nasional dengan tema “Sinergitas Akademisi, Pemerintah dan Industri Untuk Mendorong Profesionalisme Insinyur Sulawesi Selatan”. Ketua Panitia penyelenggara Dr. Ir. Rusman Muhammad dalam laporannya menyampaikan bahwa musyawarah dilaksanakan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan wilayah Sulsel yang akan memilih pengurus yang baru sedangkan seminar yang merupakan rangkaian dari Muswil ini diharapkan mampu mengajak kembali para Insinyur yang berdomisili dan bekerja di Sulawesi Selatan untuk menjadi bagian dari kepengurusan dan berkontribusi pada Pembangunan Regional Sulsel.

Ir. Sapri Pamulu, Ph.D Wakil Sekretaris Jenderal mewakili Ketua Umum PII dalam sambutannya menyampaikan bahwa PII pada kepengurusan periode ini mengalami lonjakan jumlah anggota yang sangat signifikan dari 35 ribu profesional akhir tahun lalu menjadi sekitar 58 ribu anggota per Juli ini. Ini memang didorong oleh continuous massive socialization yang dilakukan oleh pengurus sekarang. “Selain itu, kita juga sebagai anggota dan pengurus PII patut berbangga bahwa Ketua Umum PII saat ini memegang tugas penting dari Pemerintah sebagai Ketua Satgas Pelaksanaan Pembangunan Infrastruktur Ibu Kota Negara yang tentunya buat kita ini adalah momentum yang sangat penting buat Insinyur Indonesia untuk memberikan kontribusi terbaiknya” lanjut Dr. Sapri yang juga merupakan Direktur Utama di salah satu perusahaan BUMN.

Sesi seminar menghadirkan beberapa pembicara antara lain: Prof. Dr. Jamaluddin Jompa Rektor Universitas Hasanuddin didampingi oleh WR IV bidang kerjasama Prof. Ir. Ady Maulana, Ir. Budiawansyah Direktur Permit and Corporate Strategy, Ir. Mustakim Toba perwakilan Pemerintah di sisi Dinas PUTR Sulsel dan Ir. Habibie Razak Direktur Eksekutif Persatuan Insinyur Indonesia.

Prof Jamaluddin Jompa yang akrab dipanggil Prof JJ membuka sesi seminar dengan memberikan data tentang Global Competitiveness Index Indonesia masih jauh di bawah negara-negara maju begitupun tingkat total productivity index masih perlu ditingkatkan sehingga peran Insinyur di dalam mendongkrak indikator-indikator ini sangatlah dibutuhkan. Sementara, Budiawansyah memberikan contoh sinergi perguruan tinggi dan industri yang diwujudkan dalam bentuk program magang/Cooperative Program Student yang pernah dilakukan oleh PT Vale dan Unhas.

Ir. Mustakim Toba dalam diskusi panel ini menyampaikan bahwa Insinyur di Indonesia membutuhkan payung hukum yang lebih kuat lagi untuk bisa menjalankan kerja dan praktik keinsinyurannya sehingga bisa memberikan andil lebih besar lagi pada pembangunan infrastruktur di Sulawesi Selatan dan Indonesia. Sedangkan Ir. Habibie Razak dalam paparannya menyampaikan bahwa kita masih membutuhkan lebih banyak Insinyur lagi untuk bisa berkontribusi mewujudkan Indonesia Emas di 2045.

Saat ini kita hanya menghasilkan 27 ribu Sarjana Teknik per tahun dengan total sekitar 1,45 Juta Sarjana Teknik, apabila ditambahkan dengan Sarjana Hayati mungkin kita baru sekitar 40 ribu. Rasio Insinyur kita baru di kisaran 5.300 per satu juta penduduk masih jauh dibandingkan Vietnam (9000 Sarjana Teknik per 1 Juta Penduduk), Korea Selatan (25000 per 1 Juta Penduduk) dan Amerika Serikat (20000 per 1 Juta penduduk). Kebutuhan untuk membuka pendidikan tinggi teknik/hayati di Indonesia untuk mencapai target 500 ribu Insinyur per tahun sangat membutuhkan kerjasama dari pihak Pemerintah, Akademisi dan Industri tentunya.

Selain itu Habibie juga memberikan beberapa contoh perwujudan sinergi akademisi, pemerintah dan industri ini antara lain:

  1. Perlu ada kerjasama yang apik antara Pemerintah + Perguruan Tinggi + PII + Industri untuk menelurkan calon-calon Insinyur Profesional melalui program Engineer in Training (benchmarking ke US & Canada). Di Indonesia, program ini setara dengan Program Profesi Insinyur di Perguruan Tinggi.
  2. Penyiapan internship/magang/Kerja praktik oleh industri selama PSPPI-reguler dilakukan. 
  3. Perlu adanya mata kuliah khusus terkait “Pedoman Berpraktik Keinsinyuran bagi Insinyur Profesional”, dengan menghadirkan pembicara dari PII.
  4. Perlu tambahan penekanan mata kuliah “Etika” dan “Profesionalisme”, dengan mengundang praktisi Keinsinyuran dari industri.
  5. Penambahan wawasan para Insinyur tentang “Teknologi Digitalisasi, Transisi Energi, Ekonomi Sirkular, Revolusi Industri Kesehatan dan Isu-isu terkait Climate Change seperti Resilient Infrastructures”, melalui sub-mata kuliah tersebut di PSPPI.
  6. PII mendorong terjadinya knowledge transfer yang wajib dilakukan Insinyur Asing yang bekerja di Indonesia kepada Insinyur Indonesia.
  7. Pemerintah menyiapkan regulasi terkait pemberdayaan Insinyur Indonesia dan melakukan pengawasan melibatkan PII.

Acara seminar dilanjutkan dengan Musyawarah Wilayah Sulawesi Selatan yang agendanya mendengarkan laporan pertanggungjawaban pengurus lama yang dibacakan oleh Prof. Dr. Rudy Djamaluddin, IPU dan memilih Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa sebagai Ketua yang baru untuk periode 2022 – 2025.

Mewakili Ketum PII, Habibie Razak Memberi Sambutan Keinsinyuran di Unand Padang, 15Juli2022

Sekolah Pasca Sarjana Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Universitas Andalas (Unand) Padang sore ini melakukan pengambilan sumpah dan pelantikan 63 lulusan Insinyur yang diselenggarakan secara hybrid. Acara dibuka dengan Laporan Direktur Program Pasca Sarjana Unand Prof. Dr. Nursyirwan Effendi yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan Wakil Rektor III Dr. Ir. Insannul Kamil, IPM., ASEAN Eng.

Dr. Insannul yang akrab dipanggil Pak Nanu menyampaikan bahwa ada 4 hal yang menjadi isu global keinsinyuran saat ini antara lain: isu krisis air dan energi, ekonomi digital, climate change dan revolusi industri kesehatan. Ke depannya para Insinyur lulusan PSPPI ini bisa berkontribusi di dalam melakukan invovasi keinsinyuran termasuk menyelesaikan masalah-masalah global tadi dari perspektif keinsinyuran.

Sementara itu, Ir. Habibie Razak Direktur Eksekutif PII yang mewakili Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia dalam sambutan singkatnya mengingatkan bahwa dibutuhkan kerjasama apik, sinergi kolaborasi antara pihak penyelenggara PSPPI Unand dan unsur pengurus PII Wilayah dan Cabang-cabang di Sumatera Barat untuk terus mendorong para praktisi keinsinyuran untuk mengikuti program ini sesuai dengan yang diamanahkan oleh UU 11/2014. Habibie menambahkan “Program Profesi Insinyur ini sudah dilakukan oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia dan beberapa di antara mereka sudah menelurkan lulusan Insinyur jauh lebih banyak di regional Jawa, Kalimantan dan Sulawesi”, Unand sebagai penyelenggara juga diharapkan bisa melahirkan lebih banyak lulusan lagi di regional Sumatera”.

Suasana pengambilan sumpah oleh Ketua Umum PII Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga, M.Eng.Sc., IPU., ACPE yang hadir secara online berlangsung hikmat yang kemudian diikuti oleh pengalungan medali oleh Dr. Insannul Kamil, penyerahan sertifikat profesi oleh Prof. Dr. Nursyirwan Effendi dan pemasangan helmet insinyur kepada para lulusan oleh Ir. Habibie Razak disaksikan oleh Wakil Direktur I Prof. Ir. Yonariza, MSc.

Foto bersama dilakukan di sesi akhir bersama para lulusan yang hadir secara offline maupun online. Hadir juga Ir. Muhammad Dien – Wakil Ketua PII Wilayah Sumbar pada acara pengambilan sumpah ini.