Category Archives: Kritik & Saran

Laporan Badan Otonom Pengembangan Profesi di Rakornas IKATEK UH Bantimurung, 2 Desember 2017

Hari Sabtu, 2 Desember 2017 Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS 212 – 2017) di Taman Rekreasi Bantimurung Kabupaten Maros. Rakornas 212 ini diselenggarakan berkat inisiatif dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) IKATEK Sulawesi Ir. Muhammad Irfan AB yang sekaligus dirangkaikan dengan Rapat kerja (RAKER) DPW IKATEK Sulawesi. Sesi RAKER yang dilaksanakan di pagi hari dan setelah makan siang dilanjutkan dengan RAKORNAS 212.

RAKORNAS 212 secara resmi dibuka oleh Ketua Dewan Penasehat IKATEK UH Ir. Andi Herry Iskandar setelah sebelumnya kata sambutan dari Ketua Panitia, Ketua DPW Sulawesi dan Ketua Umum DPP Ir. Haedar A. Karim. Setelah resmi dibuka, RAKORNAS dipimpin oleh Marwan Hussein memberikan kesempatan kepada tiap DPW IKATEK Unhas memberikan laporan tentang kegiatan IKATEK yang dilaksanakan di Tahun 2017 ini. Perwakilan tiap DPW dimulai dari DPW Sulawesi, Papua, Maluku, Sumatera, Kalimantan, dan Bali-Nusa Tenggara kemudian dilanjutkan dengan laporan IKA Jurusan untuk 6 jurusan.

Presentase tambahan menghadirkan Ir. Ansar Rahman memaparkan PT Inovasi Benua Maritim, perusahaan yang dibentuk oleh Universitas Hasanuddin setahun terakhir ini. Beliau memaparkan model bisnis PT IBM, program yang akan dilaksanakan dan update kondisi perusahaan sampai bulan Desember ini. Setelahnya, Update tentang progress Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Teknik Unhas disampaikan oleh Sekretaris Rektor Unhas Dr. Ir. Suharman Hamzah.

Kesempatan buat Badan Otonom IKATEK Unhas juga untuk memaparkan laporan kegiatannya selama 2017 ini. Habibie Razak sebagai Ketua Badan Otonom Pengembangan Profesi Keinsinyuran memberikan laporan kegiatan Tahun 2017 antara lain:

 

 

  1. Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) atau Lokakarya Sertifikasi Insinyur Profesional (LSIP) kerjasama Ikatan Alumni Teknik Unhas dan Persatuan Insinyur Indonesia
    MOU ditandatangani pada bulan 21 Desember 2014 di Makassar. Kegiatan PPPI/LSIP dilaksanakan setidaknya 25 kali di beberapa daerah/kota seperti Jakarta, Makassar, Balikpapan, Gorontalo, Sumbawa dan Manado. Kegiatan PPPI/LSIP melibatkan DPW IKATEK Jaban – Jabar, DPW Kalimantan, DPW Sulawesi, DPW Bali Nusa Tenggara dan ISP Pusat. Total Jumlah Alumni dalam daftar Keanggotaan PII sampai saat ini: 1300 Insinyur, setidaknya 20 persen sudah berpredikat Insinyur Profesional. Program ini relevan dengan semangat IKATEK UH untuk mensertifikasi para alumninya sesuai dengan amanah UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran.
  2. Focus Group Discussion (FGD) on Waste to Energy and Roadmap of Petroleum Engineering
    FGD dilaksanakan di Benteng Fort Rotterdam Makassar dihadiri lebih dari 20 Peserta dari Alumni Unhas, 29 Juni 2017. Pembicara dari Alumni bergerak di Sektor Energi dan Eksplorasi (Ir. Jacky Latuheru dan Ir. Asri Jaya).
    Kolaborasi apik antara pengurus IKATEK kerjasama IKA UH Jabodetabek
  3. Knowledge Sharing Kerjasama PII Cab Makassar dan IKATEK Unhas
    Knowledge dilaksanakan di Kantor PII Cabang Makassar untuk Materi LNG & EPC
    Peserta dari Profesional dan Mahasiswa.

 

Rencana kegiatan tahun 2018 antara lain:

Program Sertifikasi Keinsinyuran melalui berbagai kegiatan seperti Lokakarya, Sertifikasi Insinyur (LSIP), Bimbingan FAIP untuk Alumni Teknik, dst. Focus Group Discussion (FGD) Knowledge Sharing untuk berbagai topik terkait Engineering & Technology kerjasama PII akan terus ditingkatkan frekuesnsinya.

 

 

 

 

RAKORNAS 212 ini juga mendiskusikan rencana kegiatan Halal biHalal Nasional IKATEK Unhas Tahun 2018 yang akan dilaksanakan Bulan Juni 2018.


Ketua Panitian HBH Nasional, Ir. Jusman Sikki memberikan update persiapan pelaksanaan HBH Nasional 2018 di depan peserta RAKORNAS. Sebagaimana tema HBH 2018 adalah Sinergi untuk Memperkuat Solidaritas di antara sesama Alumni Teknik Universitas Hasanuddin.

Sukses Insinyur Indonesia, Bravo IKATEK Unhas.

 

 

 

 

Konferensi ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO 35), Bangkok, Thailand

Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara atau CAFEO 35 tahun ini berhasil diadakan di Queen Sirikit Convention Center, Bangkok, Thailand pada Tanggal 14 – 19 November 2017. Konferensi yang dihadiri lebih dari 2000 delegasi terdiri dari 10 negara ASEAN berlangsung sangat meriah dimulai dari friendly golf tournament, opening ceremony, country report presentation, technical paper session, AFEO energy working group, YEAFEO meeting, WEAFEO meeting, technical tour sampai pada acara penganugerahan AFEO award kepada delegasi yang merepresentasekan negara masing-masing.

 

 

 

Kali ini Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang merupakan bagian dari federasi organisasi profesi Insinyur se-Asia Tenggara mengirim sekitar 200 Insinyur untuk menghadiri CAFEO ke-35 di Bangkok ini. Dari 200 delegasi ini 12 di antaranya adalah penerima AFEO Award untuk kategori Distinguished Honorary Fellow, Honorary Fellow and Honorary Member and sekitar 83 Insinyur berhasil meraih gelar ASEAN Engineer Register (AER) termasuk di antaranya 6 penerima AER dari PII Cabang Makassar di bawah mentoring Dr. Ir. Rusman Ketua PII Makassar dan Dekan FTI UMI, Ir. Zakir Sabara. Ada pun untuk sesi technical paper, PII berhasil mengirimkan beberapa presenter/author and co-author untuk 5 technical paper. Tradisi technical paper submission setiap tahun pun PII bisa pertahankan. PII Luwu Timur mendominasi sesi technical paper dengan 3 paper lolos conference proceedings. Prestasi yang sungguh membanggakan buat PII tahun ini.

Country presentation session pada Hari Kamis, Tanggal 16 November 2017 dibawakan langsung oleh Ketua Umum PII Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak, IPU. Dalam presentasenya Beliau memaparkan profil organisasi PII dimulai dari tahun pendiriannya, jumlah pemegang sertifikasi Insinyur Profesional, jumlah Anggota PII yang tersebar di Indonesia dan di luar negeri dan struktur organisasi PII secara umum. Pada slides berikutnya, Ir. Hermanto juga memperkenalkan sistem profesi keinsinyuran berdasarkan UU No. 11/2014 dan tentunya Beliau memaparkan overview tentang Indonesia saat ini dimulai dari total GDP dan GDP/kapita, program percepatan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, program pembangunan pembangkit listrik dan target renewable energy yang dicanangkan oleh pemerintahan Jokowi – JK. Pada kesempatan ini, Beliau juga menayangkan sebuah video yang sangat impresif dan menyita perhatian delegasi dari negara lain tentang bagaimana Indonesia dalam proses pesat pembangunan infrastruktur dan keterlibatan Insinyur Indonesia di dalam pembangunan ini.


Hadir di CAFEO ke-35 ini, Bapak Menteri Perindustrian, Ir. Airlangga Hartarto, MMT., MBA., IPU memberikan pidato singkat tentang cita-cita dan arah Industri Indonesia di masa depan  dan bagaimana peran PII dan para Insinyurnya di dalam mengakselerasi cita-cita ini. Ir. Airlangga menerima Distinguished Honorary Fellow dari AFEO Committee diikuti oleh beberapa nama penerima Honorary Fellow dan Honorary Member seperti Ir. Machnizon Masri salah satu Direktur PLN, Ir. Handoko Direktur McDermott Indonesia, Ir. Ricky Hikmawan Ketua BK Kimia PII.

Indonesia akan menjadi tuan rumah midterm meeting tahun depan diikuti CAFEO 36 di mana Singapura menjadi tuan rumah. Bravo Persatuan Insinyur Indonesia, Vivat Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Habibie Razak – Bidang Gas PII Pusat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Brussels Trip for Business Development Seminar, 2 – 7 October 2017

“We are looking forward to meeting you in Brussels” sapa OC Seminar via email dua minggu sebelum keberangkatan ke Brussels dalam rangka Seminar Business Development yang menghadirkan seluruh BD manager di tiap entity Tractebel yang ada di seluruh dunia. Seminar yang diselenggarakan dari Tanggal 5 – 6 Oktober 2017 ini dihadiri tidak kurang dari 60 BD managers dari setidaknya 50 negara. Seminar ini dibuka secara langsung oleh Daniel Develay, CEO Tractebel ENGIE. Saya satu-satunya delegasi dari Tractebel Indonesia menghadiri event ini sesuai tugas saya sebagai Sales & Business Development Manager for Indonesia & Malaysia operation.

Saya berangkat dari Jakarta Senin malam dengan Turkish Airline maskapai penerbangan Turki -TK 0057 menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam menuju Istanbul Attaturk International Airport dan kemudian transit selama kurang lebih 2.5 jam di bandara ini kemudian lanjut lagi dengan penerbangan menuju Brussels menempuh sekitar 3.5 Jam. Perbedaan waktu Istanbul maupun Brussels dari Jakarta adalah 5 jam lebih lambat. Satu pesawat dengan saya, kawan dari Jakarta, Haikal, profesional graphic design yang saat ini terlibat mengawasi proyek ASIAN Games di Senayan. Haikal berkunjung ke Brussels dalam rangka liburan menemui kakaknya yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja dan menetap di Belgia. Kami tiba di Brussels international airport hari Selasa Pagi Pukul 10.30 waktu setempat.

 

Saya pun beranjak menuju stasiun Bawah Tanah Brussels airport untuk membeli tiket menuju Brussels Central yang ditempuh kurang dari 30 menit. Dari Brussels Central station kemudian berpindah moda transportasi dengan Brussels Metro menuju Roodebeek selama kurang lebih 20 menit. Dari stasiun Roodebeek ini saya beranjak naik tangga menuju stasiun Bis dan berangkat menuju Ariane Avenue street tempat di mana Headquarter Tractebel ENGIE berada. Tractebel adalah perusahaan konsultan dan EPC di bidang energy dan infrastructure beroperasi lebih dari 150 tahun dan merupakan salah satu subsidiary dari ENGIE perusahaan IPP terbesar di dunia dan Energy Developer asal Perancis.

Hari Selasa dan Rabu saya bertemu beberapa kolega yang saat ini aktif membantu proyek kami di Indonesia dan Malaysia. Mereka bekerja kebanyakan di domain power & gas dan energy transition business line. Adalah tak kenal maka tak sayang, awalnya kami hanya berkomunikasi lewat email dan skype call dan sekarang kesempatan buat saya bertemu mereka secara langsung, saling mengenal lebih dekat. Teringat 4-5 tahun yang lalu sebelum bekerja di tempat sekarang saya juga menyempatkan mengunjungi headquarter perusahaan sebelumnya sampe harus traveling selama 36 Jam dari Jakarta. Untuk trip ini lebih ringan hanya 18 Jam saja, jadi sudah biasa aja kaliiii…Hari Selasa sore saya ditemani kawan baru Jeremy yang bekerja untuk energy storage and transmission department menuju Diamant Suites, salah satu hotel kecil yang tidak jauh dari kantor.

Hari Rabu sore, 4 Oktober 2017 setelah jam kerja saya pun dengan pesanan taksi dari kantor beranjak menuju Hilton Hotel Grand Place untuk check-in tempat di mana seminar diselenggarakan. Check-in sore hari memberikan kesempatan untuk beristirahat selama  kurang lebih 3 Jam. Malam hari pun semakin dingin dengan suhu di bawah 10 derajat C tidak menurunkan semangatku untuk keluar berjalan kaki menapaki trotoar dan lorong-lorong pusat kota Brussels ini. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam di tengah dinginnya suhu kota ini of course, seperti biasa di setiap oversea trip saya pun mengunjungi Hard Rock Cafe untuk sekedar berfoto dan membeli T-Shirt. Di Kafe ini diisi oleh American Community yang sengaja datang ke tempat ini untuk minum menghangatkan badan dan bercanda gurau.

Hari Kamis pagi, acara seminar pun dimulai Pukul 09.30 dimulai dari pembukaan dan kemudian presentase oleh Manager setiap Business Line dimulai dari Business Line Infrastructure & Environment, Nuclear, Power & Gas, Hydro, ENGIE Laborelec & Energy Transition. Sesi sore hari diisi dengan beberapa permainan yang salah satu diantaranya adalah setiap group terdiri dari 4 profesional. Pada setiap group ini profesional diminta untuk mempresentasekan business line (BL) yang bukan merupakan business line di tempat  mereka bekerja. Saya kebagian mempresentasekan BL energy transition kemudian meminta ketiga lainnya untuk menilai teknik presentase saya di depan mereka yang saya simulasikan sebagai client saya, it was an awesome game.

 

 

 

Di hari pertama ini kami juga kebagian buku kecil di sampulnya bertuliskan Business Development Passport di mana di dalam buku kecil ini terdapat isian hampir seluruh entities Tractebel yang berada di dunia. Kami sebagai peserta diminta untuk mengisi informasi tentang country manager di setiap negara di mana Tractebel eksis termasuk isian referensi proyek dan main strength yang dimiliki oleh setiap entity yang ada. Untuk mendapatkan informasi setiap entity dan mengisinya ke dalam buku kecil tadi mau tidak mau para peserta wajib untuk berinteraksi dengan para peserta dari business entity lainnya. Dengan simulasi seperti ini mereka akan saling mengenal setidaknya nama, asal negara dan di entity mana mereka ditempatkan.

 

 

 

Hari Kamis malam, organizing committee mengundang para peserta untuk dinner time dan berkeliling di radius 3 km pusat kota Brussels ini. Malam itu kami ditemani guide yang selama perjalanan menjelaskan tentang sejarah Kota Brussels dimulai Abad XVI sampai pada perang dunia kedua. Salah satu fakta adalah di mana Belgia dan juga Kota Brussels adalah tempat bertemunya tentara aliansi Amerika Inggris dan pasukan Jerman untuk berperang. Di pusat kota ini terdapat patung “Manneken Pis” patung anak kecil yang sedang buang air kecil. Setelah menikmati dinner kami pun berangkat lagi ke salah satu cafe tidak jauh dari pusat stock exchange untuk menikmati beberapa teguk Belgian Beers.

Hari Jum’at pagi di sesi BD seminar ini menghadirkan beberapa materi menarik di antaranya adalah sesi tentang ownership and business performance menghadirkan motivator yang mengupas habis pentingnya peran ownership dalam suatu perusahaan. Setidaknya ada tiga level ownership yang didiskusikan antara lain: first degree ownership dalam hal ini profesional tidak memiliki kepemilikan sama sekali terhadap perusahaan, dia tidak memiliki semangat memiliki perusahaan tempat dia bekerja dan kelihatan dari cara kerja dan hasil yang akan dicapainya. Second degree adalah dia hanya care pada tugas dia dan selalu membatasi diri untuk melakukan inisiasi yang lebih besar di luar tugas dia, “this is my job and you do yours, the rest is I am not involved”. Third degree adalah profesional memiliki sense of ownership terhadap semua yang terkait dengan bisnis perusahaan dan memiliki ownership untuk bersama-sama yang lain melakukan yang lebih untuk membesarkan perusahaan. Third degree ownership ini diharapkan dimiliki oleh profesional dengan bukan hanya membesarkan entity di tempat dia bekerja tapi juga mendorong entity lainnya yang masih dalam tahap development untuk juga bisa menjadi sukses dan meraih target sales dan project executions.

Hari Jum’at sore akhirnya harus beranjak menuju Brussels airport untuk mengejar pesawat yang berangkat Pukul 06.45 sore. Adalah kolega dari Gas Competence Center, Cedric and Lorena mengunjungi saya di acara seminar karena beberapa hari sebelumnya mereka di luar kota untuk business trip sehingga tidak menyempatkan bertemu mereka di kantor. Cedric menyempatkan mengantar ke bandara dan di jalan kami alot berdiskusi tentang present and future gas & LNG projects di Indonesia saat ini. An awesome moment adalah, di sore itu, sebelum berangkat ke Brussels airport saya menyempatkan berdiskusi sejenak dan berfoto dengan Daniel Develay, President & CEO Tractebel ENGIE. Beliau sungguh low profile dan menikmati bercanda gurau dengan Beliau.

Check in di Bandara ini, saya pun beruntung kedua kalinya bertemu dengan Habib dari Jawa Timur yang habis mengantar istrinya yang lulus beasiswa LPDP dan mulai aktifitas kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Belgia. Kami menyempatkan mengambil foto di perjalanan ini hanya sebagai bukti bahwa kami pernah di sini. Perjalanan menuju dari Brussels ke Istanbul menempuh waktu yang sama, transit di Istanbul beberapa jam kemudian melanjutkan perjalanan dengan maskapai Turkish airline lainnya menuju Jakarta.

Bravo Tractebel, Sukses Insinyur Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Technical Visit to MRT Jakarta Construction Site, 28 September 2017

One of the biggest and challenging transportation projects in Indonesia now is the MRT Jakarta construction financed by the Japan Bank for International Cooperation in 2006. The first phase project started to kickoff since 2008 starting from design phase, procurement till construction. The construction progress has now reached 90% completion and expected to commission and operate in 2019. This first phase project is being constructed for approximately 16 kilometers from Lebak Bulus station down to Bundaran Hotel Indonesia which consists of  13 stations with  1 Depot.

Hasanuddin University Alumnus organized the proposal to visit the construction site and approved by the Management of PT MRT Jakarta. The event was conducted on Wednesday morning, 28th of September 2017 attended by 20 alumnus from Hasanuddin University. The event was firstly opened by Ir. William Syahbandar, President Director of PT MRT Jakarta and continued with his presentation on the company overview, vision and mission and its current and future projects. In his speech he expected MRT Jakarta will be the benchmark for other big cities in Indonesia to start developing their transportation system as the first thing to do couple years back by the company was also to benchmark the big cities in the world which were already implementing this MRT system. “We are developing this project based on the latest MRT technology” as Mr. Willy said.

This technical visit led and guided directly by Mr. William Syahbandar and his team. Prior to enter project site the participants were wearing the personnel protective equipment (PPE) consist of safety boots, hard hat dan safety vest. The HSE team of MRT Jakarta briefed the safety induction to all participants for 15 minutes. As the construction progress is already 90 percent completion, the main structure such as diaphragm wall, columns, and beams are already completed. The railway and sleepers are also nearly complete and the remaining works are more on the construction of the architectural buildings inside the station such as office, shops, escalators, and others. Lobby, information desk, automatic ticket dispensing machines, one-way fare-gates and so on will be provided soon as part of the main facilities inside the station.


Questions and answers between participants and MRT Jakarta team were very interactive during the visit and during nearly 2 hours visit the participants should have gained more information on the technical and commercial aspects of this particular project. This visit was dismissed and continued with lunch time session at Plaza Indonesia.

 

 

 

Kuliah Umum Infrastruktur Energi, Fakultas Teknologi Industri UMI, 16 September 2017

Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) kembali memfasilitasi kuliah umum bertemakan Infrastruktur Energi, Peluang dan Tantangan dihadiri oleh Mahasiswa(i) Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia di Auditorium KH Muhammad Ramly FTI UMI bertepatan Hari Sabtu, 16 September 2017. Sesi Kuliah Umum ini dibuka langsung Dekan FTI UMI, Ir. H. Zakir Sabara HW., IPM., MT., ASEAN Engineer.

Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa teknologi ketekniksipilan semakin pesat perkembangannya di dunia. Dunia saat ini membangunnya ke bawah seperti subway MRT and subway station construction, basement and tunneling construction termasuk konstruksi infrastruktur terkait energi seperti LNG Receiving Terminal, Pembangkit Listrik menggunakan energi terbarukan lepas pantai seperti offshore wind power generation dan seterusnya. Melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di luar sana menuntut tenaga pengajar di kampus untuk terus mengupdate ilmu yang dimililikinya bahkan di era serba internet saat ini mahasiswa lebih dituntut untuk belajar di luar sana langsung bersentuhan dengan industri termasuk senior-senior profesional yang bekerja di sektor energi untuk mendapatkan pencerahan keinsinyuran dan teknologi yang paling mutakhir. Sesi kuliah tamu ini tidak lain salah satu cara menghubungkan para mahasiswa dan profesional supaya terjadi interaksi yang lebih dalam lagi tentang kebutuhan dunia kerja kelak setelah mahasiswa(i) menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Habibie Razak, dosen kuliah umum kali ini memaparkan tiga agenda paparan dan diskusi antara lain: gambaran proyek infrastruktur strategis prioritas nasional di Indonesia saat ini, gambaran proyek infrastruktur energi termasuk pembangkit listrik, gas dan LNG dan apa yang harus disiapkan untuk bisa berperan serta di proyek-proyek infrastruktur energi nasional di Indonesia. Habibie dalam paparannya menyampaikan bahwa kita masih kekurangan Insinyur untuk mengeksekusi proyek 35Ribu MW, setidaknya kita  membutuhkan sekitar 50 Ribu Insinyur hanya untuk proyek ketenagalistrikan saja. Diperkirakan untuk menutup kekurangan Insinyur Indonesia setidaknya bakalan 5.900 Insinyur Asing/Professional Engineer mengisi posisi yang tersedia.

Berbicara tentang Strategi Peningkatan Kapasitas Pelaku Jasa Konstruksi Pada Proyek Ketenagalistrikan 35.000 MW setidaknya ada beberapa hal yang menjadi concern utama antara lain: bagaimana meningkatkan kinerja para perusahaan BUJK yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Peningkatan kapabilitas dan kemampuan finansial
  • Peningkatan kinerja mutu dengan menerapkan sistem manajemen mutu bertaraf internasional
  • Peningkatan kinerja K4 dengan menerapkan sistem manajemen keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan (SMK4) bertaraf internasional
  • Pengembangan teknologi pembangkit yang diharapkan bisa dibangun anak bangsa.

Sedangkan Program Peningkatan Kompetensi  Tenaga Ahli Konstruksi tidak lain adalah memfasilitasi tenaga ahli :

  • Sertifikasi baru bagi tenaga yang baru akan mendapatkan sertifikasi.
  • Perpanjangan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Melalui Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB), Peningkatan kualifikasi tenaga ahli dari Tenaga Ahli Muda menjadi Tenaga Ahli Madya dan Peningkatan tenaga Ahli Madya menjadi menjadi Tenaga Ahli Utama

Habibie juga memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara yang cukup kaya akan gas alam berusaha mengoptimalkan penggunaannya untuk untuk kebutuhan energi domestik yang ramah lingkungan  dengan membangun infrastruktur LNG/gas dimulai dari LNG liquefaction, LNG transportation baik darat maupun laut, sampai dengan membangun LNG receiving terminal di beberapa wilayah di Indonesia. Sebutlah PLN yang saat ini rencana membangun lebih dari 40 LNG receiving terminal dari Sabang sampai Merauke dan proyek-proyek strategis ini semestinya diisi oleh para Insinyur Indonesia yang berdomisili di Timur Indonesia. Mau tidak mau kita harus siap atau para lulusan Perguruan Tinggi di KTI hanya akan menjadi penonton saja di kampung sendiri.

Sesi tanya jawab pada kuliah umum kali ini berlangsung sangat interaktif dan diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dari para mahasiswa(i) yang hadir. Sukses terus proyek infrastruktur energi Indonesia, jayalah Insinyur Indonesia.

The 6th INDONESIA EBTKE ConEx 2017 at Balai Kartini, 13 -15 September 2017

The 6th Indonesia Renewable Energy and Energy Conservation (EBTKE) was organized successfully from 13th to 15th of September 2017. The event consist of conference and exhibition for 3 days at Balai Kartini, Jakarta. The event was attended by at least 500 delegates from different companies both local and overseas. The exhibition booths were fulfilled by various reputable corporations such as ENGIE group, PERTAMINA group, and several others. The Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM ministry) was also participating by organizing their own booth for three days exhibition.

The theme of this event is Renewable Energy is a Solution to Energy Security and Paris Agreement. The conference was opened ceremony by the Ministry of ESDM Mr. Ignasius Jonan after having Mr. Surya Darma the Chairman of Indonesia Renewable Energy Society (METI) delivered the report of organizing committee. In his speech, Jonan said he is indeed very optimistic in the near future the renewable energy investment will be more competitive to decouple the fossil fuel projects. This was proven couple days back he signed the minihydro PPA which is the tariff is 6.7 – 6.8 centUSD/Kwh in Central Java. The other renewable energy such as solar PV and geothermal will catch up soon. He also stated, during his 10 months working at his position, he already signed 723 MW PPA for renewable energy power generations.

 

 

Mr. Ignasius also witnessed the signing ceremony of several agreements accompanied by the General Director of ESDM EBTKE Rida Mulyana on renewable energy sectors such as the MOU between Balitbang and The Greatwall Drilling Company of the China National Petroleum Corporation, Cooperation between University of Indonesia, University of Gajah Mada, Bandung Institute of Technology, PLN and Geodipa for Research and Development in Geothermal, Funding Cooperation for the Development of Wilayah Kerja Panas Bumi (Geothermal concession) between PLN and SMI, and the signing ceremony of Renewable Energy Projects with REI.

The first day session after the opening ceremony continued with panel discussion consist of several speakers from several institutions and corporations such as National Development Planning Agency (BAPPENAS) represented by the Minister of BAPPENAS himself, Mr. Bambang Brodjonegoro, the International Finance Corporation (IFC), Danish Ambassador for Indonesia, US Ambassador for Indonesia, Indonesian Chamber of Commerce and Industry, Supreme Energy and IEA. The first day event also consist of the press conference of METI in front of the exhibition area represented by the Chairman of Organizing Committee Paul Butarbutar. Before leaving this EBTKE ConEx 2017 Mr. Paul also accompanied Mr. Jonan visited several booths including the visit to France Pavilion booth which consisted of French companies such as ENGIE group, Vinci Energies, and others.

In his speech, Mr. Bambang the Minister of BAPPENAS suggested there are at least points should be considered by the energy player in order to be successful in Indonesia (1) The developer should bring the low interest financing in order to meet the economic feasibility of the project (2) The involvement of existing big energy companies such including SOEs and private companies (MEDCO, Adaro, etc.) (3) The new player in this business should partner with big players so there will be learning process as well as the reduction of investment risks. The financing and equity capabilities of new players can be then tackled by the big ones.

Tractebel Engineering Indonesia (TEI), a group of ENGIE was taking part to the event by sending their three delegates, Mr. Nicolas Vaudremont (CEO, Product Director Renewable), Mr. Julien Blommaerts (Product Director T & D, VP Business Development) and Mr. Habibie Razak (Product Director Gas & LNG, Business Development and Sales Manager). Mr. Pupu Rahmat the Marketing Specialist of TEI was also available at the exhibition area had been very active in communicating and interacting with the conference delegates and visitors who visited the booth area.

The EBTKE ConEX was in Conjunction with Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2017 has been very successful therefore we thank to the Host METI – The Indonesia Renewable Energy Society, The Endorser the Ministry of ESDM Indonesia and the Main Sponsor Pembangunan Perumahan.

Vivat Indonesia Renewable Energy Investments….Hoping the target of 23% Renewable Energy Power Generations in 2025 can be achieved. This will prove the commitment of Indonesian government to Paris Agreement.

 

 

 

 

 

 

 

Knowledge Sharing on LNG Organized by PII Cabang Makassar, 26 Agustus 2017

Kursus LNG yang diinisiasi oleh PII Cabang Makassar pada Hari Sabtu, 26 Agustus 2017 dihadiri oleh 6 peserta yang bergelut di berbagai sektor antara lain migas, infrastruktur, dosen dan pembangkit listrik. Kursus ini dibuka oleh Ketua PII Cabang Makassar, Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT., IPM., ASEAN Eng. yang juga adalah Kepala Departemen Teknik Industri Universitas Hasanuddin berharap ke depan kursus sejenis ini bisa sering dilakukan di level daerah sehingga terjadi distribusi pengetahuan secara merata bagi para Insinyur yang bergelut di proyek-proyek nasional di daerah.

Tiga peserta dari PT Surveyor Indonesia yang saat ini bekerja di proyek pengawasan Pembangkit Listrik di Sulawesi Selatan menyadari bahwa dunia LNG akan segera datang di mana PLN dalam masterplannya merencanakan membangun LNG infrastructures di seluruh Indonesia seperti LNG Hubs dan LNG Receiving Terminal. “Kompetensi LNG sangat perlu buat kami sebagai pengawas proyek dan harapannya untuk setiap proyek infrastruktur LNG ini PT Surveyor Indonesia mampu mengambil peran signifikan” Ujar Ir. Karman. Ir. Talib menambahkan “diskusi LNG ini bisa dilanjutkan lewat group teknis seperti WA group agar pengetahuan terkait LNG semakin bertambah jangan hanya di sesi sehari knowledge sharing ini”.

Hadir juga Ir. Andi Hafizul, IPP peserta terjauh dari Chevron Riau, berharap “LNG bisa menjadi bisnis yang attractive di Indonesia selain LNG adalah bahan bakar yang lebih murah dari oil based fuel juga ramah lingkungan”. Ir. Arfah dan Ir. Rahmat keduanya adalah pengusaha muda yang juga bekerja sebagai profesional dan dosen berharap bisa mengambil peran sebagai subkontraktor atau bagian dari KSO untuk proyek-proyek infrastruktur LNG di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.

Sesi knowledge sharing ini diarahkan oleh Ir. Habibie Razak memberikan pemaparan tentang LNG dimulai dari LNG fundamental, LNG market dan LNG technology di dunia saat ini termasuk studi kasus proyek LNG Liquefaction dan LNG Receiving Terminal.

Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Bidang Distribusi Gas PII Pusat

 

 

EPC Contract & Proposal Workshop bersama EMLI, Juli 2017

EMLI training untuk kesekian kalinya mengundang saya sebagai pembicara pada EPC Workshop yang mereka adakan setidaknya sekali dalam tiga bulan. Lembaga training ini banyak merekrut peserta dari kalangan legal di beberapa perusahaan nasional maupun multinasional. Animo mereka terhadap kontrak dan proposal EPC menjadi salah satu fokus utama beberapa tahun terakhir ini. Workshop yang dilaksanakan pada Tanggal 26 Juli kemarin menghadirkan 6 peserta yang kesemuanya berprofesi sebagai legal manager di perusahaan dan lembaga tempat mereka bekerja.

 

Legal officer yang bekerja baik di sisi client maupun di sisi kontraktor dituntut untuk memahami substansi dan isi kontrak EPC menurut kaidah-kaidah internasional semenjak kontrak EPC ini sudah lebih banyak diaplikasikan di dunia konstruksi baik proyek pemerintah maupun swasta. Sebutlah perusahaan nasional seperti PLN dan PERTAMINA, untuk proyek-proyek besar yang melibatkan kompleksitas pekerjaan dan resiko tinggi akan lebih prefer menggunakan skema EPC  untuk memastikan investasi mereka sesuai dengan perhitungan keekonomian (NPV, IRR and payback period) pada kajian kelayakan.

Selama kurang lebih 3 tahun bersama EMLI, saya selalu menyampaikan pesan kepada peserta workshop bahwasanya Project Manager di sisi kontraktor membutuhkan legal counsel yang handal yang memahami aspek legal dari kontrak ini, termasuk commercial & tax manager yang memiliki pengalaman mumpuni pada aspek insurance, treasury, finance dan tax. Di luar sisi commercial dan legal tadi aspek teknis juga sangat membutuhkan dukungan dari tim termasuk engineering manager, procurement manager dan site manager. Mereka semua bahu-membahu di dalam menyiapkan proposal, mereview dan bersama-sama project manager memfinalisasi isi kontrak.

Tim teknis dan komersil di bawah kendali project manager di sisi client atau project owner pun memastikan bahwa semua kaidah-kaidah hukum, komersil dan teknis kontrak EPC sudah terpenuhi sebelum final EPC contract ditandatangani oleh Direktur Perusahaan. Kontrak adalah mutual assent, memastikan kedua belah pihak yang berkontrak mendapatkan mutual agreement dari kontrak yang ditandatangani.

Workshop sehari ini selain menghadirkan saya sebagai praktisi manajemen proyek juga menghadirkan pembicara yang bekerja sebagai legal and commercial manager pada suatu perusahaan sehingga materi yang dihadirkan bisa memenuhi ekspektasi para peserta workshop kali ini. Terima kasih kepada EMLI training atas kepercayaan yang diberikan.

Workshop Mini LNG Plant Badan Pelaksana PKB Persatuan Insinyur Indonesia

Badan Pelaksana Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan kembali menggelar inhouse workshop terkait Liquefied Natural Gas (LNG) selama tiga hari di salah satu perusahaan nasional yang diadakan di Cirebon di pertengahan Bulan Juli 2017 ini. Workshop yang dihadiri lebih dari 30 professional berbagai disiplin keinsinyuran dan disiplin terkait berlangsung sangat interaktif. Adalah Ir. Habibie Razak diutus oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sebagai fasilitator di kegiatan ini.

Agenda hari pertama membahas LNG secara umum, antara lain terdiri dari fundamental LNG dan aplikasinya, LNG market di Indonesia dan secara global saat ini, teknologi LNG mulai dari sisi liquefaction, transportation sampai pada sisi receiving terminal. Fasilitator juga di awal hari pertama membuka sesi dengan pre-test terkait LNG ini kepada para peserta workshop. Overall, professional kita memiliki pengetahuan di atas rata-rata terkait LNG. Ke depan, mereka para peserta workshop akan menjadi duta buat perusahaan mengkampanyekan bisnis LNG di Indonesia agar lebih melek dan menggeliat lagi.

 

Agenda hari kedua dan ketiga fokus pada mini LNG plant yang membahas tentang studi kelayakan proyek ini, aspek-aspek apa yang harus diinkorporasi pada kajian FS proyek sejenis baik aspek teknis, regulasi, lingkungan, sosial, dan keekonomiannya. Fasilitator mengungkapkan para investor maupun pengembang proyek mini LNG setidaknya memiliki pengetahuan mumpuni tentang teknologi mini LNG yang ada di dunia saat ini dan bisa melakukan evaluasi terhadap teknologi-teknologi yang ada di fase inisiasi proyek (Pre-FS). Berbicara tentang kriteria penilaian teknologi LNG untuk small to mid scale liquefaction ada beberapa hal yang mesti diperhatikan antara lain:

  • Number of populations in operation including years of operation
  • Guaranteed LNG output
  • Guaranteed schedule for installation & startup
  • Guaranteed refrigerants use
  • Guaranteed electricity consumption
  • Guaranteed fuel consumption (turbine, regeneration, etc.)
  • Guaranteed water consumption.
  • Overall CAPEX
  • Overall OPEX/year
  • Plant Warranty Period
  • Simplified Operation and Quick Startup
  • Smallest Cold-box and life span track record.
  • Less use of SS pipe/cryogenic
  • No series system
  • Reduced equipment count (one compressors, no expanders)
  • Dan kriteria terkait lainnya.

Agenda hari ketiga akhirnya membahas juga tentang strategi mengeksekusi proyek ini pada tahap FEED & EPC. Sesi EPC pada LNG plant paling tidak harus memperhatikan beberapa aspek dan tahapan penting antara lain: Engineering Stage; detailed engineering design (DED) execution strategy, Procurement Stage consist of main equipment purchase (cold-box, refrigerant compressor, DCS, BOG compressor, LNG storage tank, etc.), Global Procurement Strategy, LNG Vendors & Suppliers, Construction, Commissioning & Startup Strategy. Fasilitator juga memberikan beberapa studi kasus tentang mini LNG plant yang pernah dibangun di dunia saat ini untuk aplikasi onshore dan floating.

Semoga dalam waktu dekat banyak mini LNG plant akan beroperasi di Indonesia belajar dari China yang sudah membangun lebih dari 50 mini LNG plant sampai saat ini. Business model LNG di China bisa dijadikan sebagai benchmark untuk dikembangkan di Tanah air.

Terima kasih kepada Bapa Ir. Tjipto Kusumo Ketua Bapel PKB PII dan staffnya Jafar yang selalu proaktif mengadakan kegiatan serupa untuk pengembangan kompetensi keinsinyuran di Indonesia.

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia, Vivat Perusahaan Nasional.

 

LSIP Reguler PII Kerjasama IKATEK UH, 15 Juli 2017

Lokakarya Sertifikasi Insinyur Profesional (LSIP) kembali digelar di Hotel Ibis Senen Tanggal 15 Juli kemarin. IKATEK Unhas juga berencana melakukan kegiatan terpisah namun karena peserta yang tidak mencukupi persyaratan untuk melaksanakan satu kelas sendiri akhirnya diputuskan ikut di LSIP regular PII Pusat.

Total peserta pada LSIP ini adalah di kisaran 37 peserta dan 8 di antaranya adalah peserta dari IKATEK Unhas. Hadir sebagai peserta kali ini adalah beberapa perusahaan konsultan sektor energi, IPP pembangkit tenaga panas bumi dan PERTAMINA Drilling Service. Terlihat Commissioner salah satu perusahaan engineering juga mengikuti kegiatan ini dengan sangat antusias dengan harapan Beliau juga bisa tersertifikasi sebagai Insinyur Profesional Indonesia.

 

 

PII Pusat menghadirkan tiga pembicara antara lain: Ir. Rudianto Handojo membawakan materi Sosialisasi UU Keinsinyuran Profil Organisasi PII, Ir. Istanto Oerip dengan sistem sertifikasi PII dan Etika Profesi dan Ir. Ngadiyanto untuk tata-cara dan bimbingan pengisian FAIP. Para peserta LSIP tidak hanya sampai menjadi Anggota PII saja tapi diharapkan bias menyelesaikan pengisian FAIP dan disetor ke Biro Sertifikasi PII Pusat untuk meraih gelar Insinyur Profesional. Salah satu peserta, Reynhard Siahaan yang bekerja sebagai project manager pada perusahaan pembangkit panas bumi mengutarakan minatnya untuk segera menuntaskan sertifikasi PII ini dan bisa mengikuti kegiatan PII termasuk menjadi trainer untuk kursus CPD yang saat ini memang rutin dilakukan oleh BAPEL PKB PII.

 

Reportase: Habibie Razak – Bidang Gas PII Pusat