Category Archives: Kritik & Saran

Workshop Pengisian CPD Bapel PKB PII, 14 Februari 2018

Workshop Pengisian formulir Continuous Professional Development (CPD) diselenggarakan oleh Badan Pelaksana Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan Persatuan Insinyur Indonesia (Bapel PKB PII) pada hari Rabu 14 Februari 2018 dihadiri oleh beberapa Insinyur Profesional Madya (IPM) dari berbagai perusahaan dan instansi. Sesi yang berlangsung selama setengah hari di kantor PII Jl Bandung, Menteng Jakarta Pusat ini berlangsung sangat interaktif antara instruktur dan para peserta. Habibie Razak diminta sebagai instruktur workshop pengisian PKB di sesi kali ini.

Secara ringkas, kegiatan-kegiatan yang dapat diakui dalam program PKB adalah sebagai berikut:

  • Pendidikan dan Pelatihan Formal antara lain: Pendidikan Strata Lanjut, Pendidikan Singkat dan Pelatihan Kerja Formal.
  • Pendidikan Tidak Formal terdiri dari: Pembelajaran Mandiri dan Pembelajaran Sehubungan dengan Penugasan Kerja.
  • Partisipasi dalam Pertemuan Profesi terdiri dari: Peserta Pertemuan Profesi dan Partisipasi Dalam Kepanitiaan.
  • Paparan Dan Karya Tulis terdiri dari: Paparan dan Laporan Teknis Internal, Paparan pada Pertemuan Teknis, Penulisan Makalah untuk Pertemuan Profesi, Penulisan untuk, Penulisan Buku dan Pengajaran Sebagai Pengajar/Instruktur.
  • Kegiatan Penunjang terdiri dari: Sebagai Pakar atau Narasumber, Sebagai Pengurus Organisasi Profesi atau Pimpinan Lembaga, dan Sebagai Penerima Tanda Jasa; Award; dan sejenisnya.

Setiap Insinyur profesional diwajibkan mengisi dan menyetor formulir PKB setiap tahunnya dalam periode 5 tahun sebagai syarat untuk mempertahankan gelar Insinyur Profesionalnya. Tujuan dari workshop pengisian formulir PKB ini memastikan para Insinyur Profesional (IP) memahami tata cara pengisian PKB dan pada workshop ini Habibie Razak memaparkan panduan pengisian berikut contoh formulir PKB terisi. Setiap Insinyur Profesional Madya diharapkan mendapat score minimum 50 poin per tahunnya untuk kegiatan PKB yang sifatnya wajib dan tambahan poin dari kegiatan PKB yang sifatnya pilihan. Kegiatan yang sifatnya wajib maupun pilihan dijelaskan secara rinci oleh Habibie Razak pada sesi workshop ini.

Perusahaan yang mengirimkan pesertanya antara lain dari Sumitomo Corporation, Seaport Consultants Asia, Winrock International, dan lainnya. Prof. Hesty Heryani salah satu peserta yang sengaja datang dari Banjarmasin, staff pengajar Universitas Lambung Mangkurat juga menyempatkan hadir.

 

Bravo PII, Salam Insinyur

Reportase oleh Habibie Razak – Bidang Gas PII Pusat

 

 

 

Rapat Penyiapan Kelengkapan Landasan Hukum Profesi Keinsinyuran, 6 Februari 2018

Ketua Tim penyiapan kelengkapan landasan hukum Profesi Keinsinyuran Ir. Heru Dewanto, IPU kembali mengundang para anggota tim menghadiri rapat di Kantor Cirebon Electric Power, Pondok Indah Office Tower Hari Selasa kemarin, 6 Februari 2018. Rapat sejenis dilakukan secara intens setidaknya dua kali dalam sebulan yang berisikan berbagai agenda terkait penyiapan kelengkapan organisasi Persatuan Insinyur Indonesia menyambut diterbitkannya Peraturan pemerintah dari UU No.11/2014 tentang Profesi Keinsinyuran.

Agenda yang dibahas dalam rapat ini antara lain: pemantapan kerjasama PII dan Perguruan Tinggi terkait pelaksanaan Program Profesi Insinyur (PPI) yang sudah berlangsung dalam 2 tahun terakhir, sistem registrasi Insinyur yang akan didatabase secara teknologi informasi, rencana pembentukan Lembaga Sertifikasi Kompetensi Insinyur (LSKI) dan Lembaga diklat profesi terkait pengembangan keprofesionalan berkelanjutan, asuransi Professional Indemnity Insurance (PII) untuk perlindungan Insinyur terkait praktik keinsinyuran dan topik lainnya. Ir. Heru Dewanto mengistilahkan misi terkait pengembangan teknologi informasi ini sebagai Sistem Manajemen Informasi Persatuan Insinyur Indonesia (SIMPoNI) di mana semuanya diintegrasikan dalam satu platform terkait database keanggotaan dan insinyur profesional, proses sertifikasi (online application) dan lainnya.

Ir. Heru Dewanto sebagai ketua tim penyiapan Peraturan Pemerintah turunan UU Keinsinyuran juga sebagai Wakil Ketum PII menghimbau kepada para anggota tim untuk menerima saran maupun sumbangsih termasuk keluhan-keluhan yang dihadapi oleh Pengurus Wilayah dan Cabang di seluruh tanah air untuk bisa diakomodir dan diselesaikan secara komprehensif di tingkat kepengurusan pusat, ini tidak lain untuk meningkatkan kualitas layanan terkait keanggotaan, sertifikasi dan pengembangan keprofesionalan para anggota PII yang mayoritas berada di daerah.

Bravo PII Sukses Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Habibie Razak – PII Pusat

Seminar dan Munas I Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), 25 Januari 2018

Asosiasi Energi Surya Indonesia menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) I yang diselenggarakan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Manusia (KESDM) Jl. Medan Merdeka Selatan Jakarta Pusat hari Kamis, 25 Januari 2018. Hadir dalam acara ini, Bapak Ignasius Jonan Menteri ESDM memberikan pengarahan tentang arah kebijakan energi nasional untuk lebih menitikberatkan pada penggunaan sumber energi terbarukan dan solar energy termasuk salah satunya.

Sesi pagi menghadirkan beberapa pembicara antara lain Harris Yahya – Direktur Aneka EBTKE Ditjen EBTKE, Dewanto dari PLN mewakili Tohari Ahadiat dari Divisi EBT PLN, perwakilan dari Kementerian Perindustrian dan Sampoerna Group. Menurut Harris Yahya, saat ini, dari potensi 207 GW energi surya di Indonesia baru sekitar 0.02% yang terpasang tentunya ini mengajak seluruh stakeholders untuk memanfaatkan peluang dan tantangan yang ada terkait investasi proyek terkait energi surya di Indonesia. Tema seminar dan munas I kali ini “Konsolidasi Asosiasi Energi Surya Indonesia untuk mendukung pencapaian target energi nasional dalam rangka mewujudkan energi berkeadilan hingga pelosok negeri” tema yang sangat supportive mendukung program pemerintah sebagaimana yang disampaikan oleh penggagas AESI Luluk Sumiarso.

Sesi siang dilanjutkan dengan Munas I yang dibuka oleh Ir. Andhika Prastawa dilanjutkan dengan sidang pleno yang membahas tentang ADART, pemilihan ketua umum/ketua dewan pakar dan ketua dewan pembina dan pembahasan rancangan garis besar program kerja 2018-2020. Acara ini dihadiri para penggiat energi surya di Indonesia termasuk peneliti, konsultan, EPC contractor dan developer. Sukses terus kawan-kawan AESI, terus berjuang mengkampanyekan energi surya di tanah air tercinta.

Focus Group Discussion PLTSa Kerjasama BPPT & IKATEK; Road to HBH IKATEK UH 2018

Ikatan Alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (IKA Teknik Unhas) bekerjasama dengan BPPT menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait dengan peluang hingga strategi proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Kegiatan diskusi yang dihadiri beberapa pakar dan juga pemangku kepentingan tersebut berlangsung di Aula Gedung Menara Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (20/1/2018).  Acara diskusi dibuka oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unhas Dr Ir Abdul Rasyid Jalil MSi yang mewakili petinggi Unhas di kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Teknik Unhas ini.

Sambutan dilanjutkan Pengurus Ika Teknik Unhas yang diamanahkan kepada Ir AM. Sapri Pamulu MEng PhD dan laporan Ketua Panitia Pelaksana FGD Aie Asri AN ST. Sapri Pamulu menjelaskan, diskusi ingin mendapatkan rumusan berupa usulan, terkait sosialisasi implementasi kebijakan PLTSa, seperti dimensi proyek, investasi, pendanaan, teknologi, dan storage, model pengembangan PLTSa di Indonesia Timur. “Kegiatan FGD ini dalam rangkaian acara Halalbihalal (HBH) Ikatek 2018. Namun selain itu kita ingin mendapatkan rumusan yang bisa dijadikan usulan strategi implementasi mengenai kebijakan Ketenagalistrikan Energi Terbarukan terkhusus PLTSa di Indonesia,” ujarnya. Peserta yang hadir dalam diskusi grup sebanyak 120 orang dari berbagai komponen, termasuk pelaku investasi, PLN, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi/BPPT, alumni teknik Unhas, praktisi, dan akademisi dari ITB serta Universitas Indonesia.

Sejumlah pembicara nasional hadir dalam FGD Tinjauan Regulasi Proyek Ketenagalistrikan Energi Terbarukan berbasis PLTSa. Selain dari pihak Kementrian ESDM, PT PLN, Kementerian Lingkungan Hidup, Wali Kota Makassar Muh Ramdhan Pomanto juga hadir. Wali Kota Makassar yang berlatar belakang arsitek tersebut mengemukakan tantangan dan hambatan terkait regulasi mengenai Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) terkhusus PLTSa di Kota Makassar masih banyak.

Danny Pomanto menganggap ‘tipping fee’ sebagai ‘bottle-neck’ dari pengelolaan sampah untuk pengelolaan ‘waste to energy’ atau sampah menjadi energi. Selain faktor regulasi, mahalnya teknologi yang digunakan dan investasi yang dikeluarkan juga menjadi kendala besar. “Namun, masalah fee ini jelas bisa menimbulkan masalah hukum. Itu sebabnya Pemda (Pemkot Makassar) enggan untuk mengeksekusi PLTSa ini,” ujarnya. Tipping fee adalah biaya yang dikeluarkan anggaran pemerintah kepada pengelola sampah, berdasarkan jumlah yang dikelola per ton atau satuan volume (m3).

Menurut Dani, permasalahan sampah di kota-kota besar penyelesaiannya harus terintegrasi dan terstruktur dimulai dari sisi hulu sampai hilir. Dari sisi hulu, bagaimana mengedukasi masyarakat untuk melakukan pemisahan sampah mulai dari rumah tangga, kemudian manajemen sampah oleh Pemkot melalui istilah bank sampah sampai pada pengelolaan di TPA. “Saat ini sudah ada sekitar 1000 bank sampah yang bertanggung jawab mengelola sampah di kota Makassar ini” ujar Dani.

Dani juga memaparkan 14 tahapan pengolahan sampah mulai dari rumah tangga sampai dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Satu lagi yang menurut Dani mesti diperhatikan adalah model penenderan proyek PLTSa ini sebaiknya menggunakan model tender investasi di mana setiap technology provider menyampaikan proposalnya termasuk keunggulan teknologi dan total biaya investasi berdasarkan teknologi dan model eksekusi proyeknya. Fase DED akan dilakukan juga oleh technology provider karena mereka yang akan menggaransi performance dari PLTSa yang dibangun dan akan dioperasikan.

Pembicara lain yang hadir Elis Heviati Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementrian ESDM. Topik yang akan dibawakan Pemaparan regulasi EBTKE pada PLTSa dan dampaknya terhadap iklim investasi di Indonesia. Tampil pula memaparkan materi Agus Saefuddin MSi (kepala Sub Direktorat Sarana dan Prasarana Direktorat Pengelolaan Sampah, Kementrian LH dan Kehutanan). Sesi pertama pagi hari menghadirkan walikota Makassar, perwakilan ESDM dan KLKH ini dimoderasi oleh Ir. Habibie Razak yang juga Coordinator Steering Committee pada FGD ini.

Diskusi sesi pertama berlangsung sangat alot, Halim Kalla hadir hingga acara selesai menyampaikan concernnya sebagai pengusaha terkait investasi PLTSa di Indonesia termasuk di Kota Makassar. Menurut Beliau, Pemerintah harus memperhatikan dua hal penting apabila investasi ini menjadi attraktif sehingga bisa diimplementasikan, pertama adalah biaya pengelolaan sampah mulai dari rumah tangga sampai TPA di kisaran 200 – 400 Ribu/Ton untuk pihak pengembang dan tarif listrik yang dijual ke PLN untuk investasi bisa economically viable apabila  dijual di kisaran 19cent USD/Kwh. Dua point penting ini menjadi parameter utama untuk investasi PLTSa menjadi attraktif.

Sesi siang hari menghadirkan beberapa narasumber antara lain:  Paul Butarbutar (Direktur Green Finance Asia South Pole), Dr Sri Wahyono (Direktur Pusat Teknologi Lingkungan BPPT), Jacky Latuheru (Senior Researcher, SMW & Energy Consultant), Ir Suhermin (Direktur PT Dimensi Barumas Perdana). Sesi kedua ini dimoderasi oleh Ir. Ma’rifat Pawellangi.  Paul Butarbutar menjelaskan, terkait pembiayaan atau financing, PLTSa itu sangat memungkinkan jika kepastian investasi didapatkan dari pemerintah. Adapun syarat terkait investasi PLTSa ini bersifat umum dan khusus terkait dengan pengelolaan sampah. Hal tersebut meliputi beberapa hal, seperti resiko, manajemen, kebijakan pemerintah dan lainnya. “Pemerintah daerah perlu melihat dengan jelas kemampuan dari pengusul project. Dan harus melalui proses tender yang baik,” kata Direktur Green Finance Asia South Pole Paul Butarbutar. Saran Paul Butarbutar, sebaiknya memikirkan hal lebih jauh dalam hal manfaat dari proyek pengedaan PLTSa, daripada memikirkan hal-hal teknis seperti tipping fee atau yang lainnya.

Sementara itu, Ir. Jacky Latuheru dari Energy Consultant mengemukakan potensi sampah di Indonesia ini cukup besar. Indonesia memiliki 500 kota/kabupaten yang semuanya memiliki potensi penghasil sampah. Adapun tekait dengan proyek, lulusan Teknik Unhas itu menggarisbawahi, pemilihan teknologi proyek yang dapat mengurangi efek rumah kaca terkait penanganan atau pemanfaatan gas metana (CH4) dari sampah.

Sementara itu di sesi ketiga dimoderasi oleh Ir. Oesman Reza menghadirkan Ikhsan Asaad (GM PLN Distribusi Jakarta Raya) yang menjadi pembicara ketujuh mengetengahkan program PLN terkait dengan EBTKE. PLN sudah menyiapkan rencana pengembangan pembangkit dan transmisi. Hal itu meliputi; 1. Rencana pengembangan pembangkit dan transmisi, 2. Proyeksi bauran energi, 3. Pengembangan energi baru dan terbarukan, dan 4. Implementasi Peraturan Menteri (PM) no 50/2017.

Ikhsan Asaad dalam paparannya bercerita tentang pengalaman mengelola pembangkit listrik dan distribusinya ke masyarakat. PLN selain diberi mandat oleh pemerintah untuk melistriki seluruh masyarakat Indonesia juga dituntuk menekan biaya produksi pembangkitan listrik agar bisa lebih efektif dan efisien. Skema pembangkitan PLTS yang dihybrid dengan genset di malam hari menjadi solusi efektif untuk masyarakat di Morotai, Maluku dan juga beberapa skema pembangkitan lainnya semisal PLTB, Tidal Wave atau renewable energy lainnya bisa menjadi solusi yang efektif dan ramah lingkungan untuk pulau-pulau besar maupun kecil yang ada di Indonesia. “Tahun 2019, semua desa yang ada di Indonesia 100% harus dilistriki oleh PLN sebagaimana ditugaskan oleh Presiden Jokowi” imbuh Ikhsan Asaad, GM Disjaya ini. Ikhsan juga pada kesempatan ini memaparkan beberapa program kerja andalan Beliau di dalam memimpin PLN Disjaya ini diantaranya kampanye penggunaan kendaraan berbasis energi listrik, PLN power bank pengganti genset pada aktifitas konstruksi di DKI yang bisa memberikan penghematan signifikan kepada kontraktor, smart grid dan lainnya.

Sesi terakhir, Ir. Mulyawan Samad memaparkan beberapa kesimpulan dari FGD yang akan dibuat dalam satu rekomendasi tertulis dan diserahkan kepada pemerintah. Seperti melihat peran yang lebih terstruktur dari Pemerintah untuk mengintegrasikan penanganan sampah baik itu terkait dengan penanggulangan sampah maupun keterkaitannya dengan energi.

 

Hal ini sangat mendesak untuk menyelesaikan banyak aspek yang meresahkan baik itu pelaku bisnis maupun Pemda. Diharapkan hal-hal tersebut antara lain seperti tipping fee dan harga satuan energi listrik yang ditawarkan dapat diselesaikan dengan menyeluruh, masih tingginya tingkat kekurangsadaran, baik pihak pemerintah maupun rakyatnya dalam pemanfaatan sampah kota, Skema percepatan dalam siklus project Pembangunan PLT Sampah perlu ditinjau kembali.

Disarankan untuk meninjau kembali skema ini dengan lebih mengedepankan aspek investasi secara lebih luas, Penanganan pemerintah terhadap proyek dan investasi oil dan gas yang dikelola secara menyeluruh oleh Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas mungkin dapat dijadikan model, bagaimana menyelaraskan potensi sampah menjadi energi maupun penanganannya dengan program Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) termasuk bagaimana menciptakan atau meningkatkan environmental enterpreneurship pada masyarakat maupun pemerintah. Serta mengubah filosofi berfikir dari sekedar mengatasi lingkungan lebih ke penghasilan energi.

Pada FGD juga disimpulkan bahwa ada sekitar 10 daerah kabupaten/kota yang saat krisis penanganan sampah saat ini. Dan BPPT mendapat tugas untuk menghasilkan pilot project yang harus berhasil di 2018. Saat ini proyek percontohan di TPA Bantar Gebang. Sorotan juga diarahkan terkait efektifitas kerjasama BPPT dengan insitusi lain. Lalu perluanya kajian menyeluruh dapat dilaksanakan dengan semua stakeholder termasuk pemilik teknologi dan investor dalam memecahkan masalah terkait proyek penanganan sampah. Terbitnya Perpres 97 / 2017 yang merangkum secara komprehensif pengelolaan sampah dan diharapkan menjadi hawa segar bagi pemerintah daerah.

Diskusi juga mencatat beberapa poin penting terkait tantangan yang ada dan usaha yang bisa dilakukan terkait potensi PLTSa di Indonesia. Seperti adalanya ketidakjelasan mengenai Tipping Fee (biaya pengelolaan sampah). Kemudian strategi Pemda mencari solusi pengelolaan sampah tanpa/minimum Tipping Fee. Lalu masih minimnya alokasi negara untuk kebersihan dan pengelolaan sampah. Sebab sejauh ini soal sampah masih belum menjadi prioritas. Masih kurang matangnya skema pembelian tenaga listrik. Kemampuan Pemda dalam sistem, dokumentasi dan pelaksanaan pengadaan. Karakteristik sampah di Indonesia yang tidak homogen serta memiliki kadar air tinggi. Bagaimana implementasi RUEN dan RUED. Dan poin terakhir pemilihan teknologi yang tepat dalam pengelolaan sampah.

Ketua Halal biHalal 2018 IKATEK-UH Ir. Jusman Sikki dan Ketua Panitia Pelaksana Focus Group Discussion (FGD)  Ikatan Alumni Teknik Unhas kali ini Asri An Nur, ST juga menyiapkan sertifikat kepesertaan yang bisa memberikan point tambahan bagi para Insinyur yang akan melaporkan PKB/CPDnya yang diwajibkan setiap tahunnya.

Reportase: Habibie Razak – Ketua Badan Otonomi Pengembangan Profesi Keinsinyuran IKATEK Unhas.

 

Regional Workshop on South-South Cooperation for Strengthening Engineering Standards and Mobility of Professionals, 21 – 22 December 2017

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan Malaysia Funds-in-Trust sebagai sponsor dan funder bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam rangka menyelenggarakan workshop keinsinyuran skala regional “South-South Cooperation for Strengthening Engineering Standards and Mobility of Professionals” di Hotel Fairmont, Jakarta. Workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini menghadirkan pembicara dari beberapa lembaga dan organisasi keinsinyuran skala Asia Pasifik antara lain: Federation of Engineering Institutions of Asia and the Pacific (FEIAP), Academy of Engineering and Technology of the Developing World (AETDEW), International Science, Technology and Innovation Centre for South-South Cooperation (ISTIC) dan beberapa lainnya.

Kerjasama Selatan-Selatan (South-south Cooperation) ini dibutuhkan untuk mengharmonisasi kurikulum keteknikan, mengontrol dan memonitor proses dan pemeliharaan infrastruktur, pelatihan dan pemagangan di industri dan peran women in engineering sebagai sumber daya manusia untuk membangun jaringan regional. UNESCO telah bekerjasama dengan dengan penyelenggara workshop untuk mengatur rapat-rapat regional untuk mengkaji ulang kualifikasi dan standarisasi keinsinyuran, membangun roadmap penguatan pondasi untuk kerjasama selatan-selatan dan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan di regional Asia Pasifik.

Workshop dua hari ini terdiri dari beberapa sesi antara lain: accreditation system for sustainable engineering standardization, development of young engineers, women in engineering, one-belt-one-road (OBOR) and engineers, dan building south-south cooperation in engineering qualification. Sesi pembukaan workshop oleh Dr. Ir. Hermanto Dardak – Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia sebagai host dari event ini menyampaikan pesan kepada peserta workshop untuk berdiskusi dan berinteraksi dalam rangka menghasilkan rekomendasi standarisasi pendidikan dan profesi keinsinyuran dan mobilisasi insinyur untuk mencapai sustainable development goals negara-negara yang terlibat pada kerjasama selatan-selatan ini. Sesi pembukaan ini juga menghadirkan Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT, Prof. Wimpie Agoeng Noegroho bahwa workshop ini bertujuan untuk melakukan standarisasi kualifikasi perekayasa (engineering) dalam mendorong kerjasama selatan-selatan untuk masa depan keperekayasaan di Asia dan Pasifik. Pada kesempatan ini, Prof. Shahbaz Khan Director and Representatives of UNESCO Office Jakarta dalam welcoming speechnya menyebut bahwa Indonesia adalah negara yang hebat, baik secara budaya dan sumberdaya. “Bagi UNESCO, Indonesia sangat spesial. Bisa dibayangkan bagaimana pembangunan Candi Borobudur kala itu. Dengan usia setua itu bisa terlihat kokoh sampai sekarang. Dan menjadi wahana edukasi dan sejarah dunia,” tuturnya.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) pada workshop kali ini menghadirkan Ir. Tjipto Kusumo, IPM – Ketua Badan Pelaksana PKB PII pada sesi Accreditation System for Sustainable Engineering Standardization, Ir. Nanang Untung, IPU pada sesi Development of Young Engineers dan Dr. Ir. Tiena Agustina Amran, IPU untuk sesi Women in Engineering. Ir. Tjipto pada paparannya menggambarkan sistem sertifikasi Insinyur Profesional Indonesia dan bagaimana progress proses sertifikasi insinyur di Indonesia secara umum dan pencapaian para Insinyur Indonesia yang sudah tersertifikasi di level ASEAN dan Asia Pasifik.  Ir. Nanang dalam paparannya menyampaikan betapa pentingnya kerjasama antara pemerintah, PII, perguruan tinggi, dan industri di dalam pengembangan insinyur muda di dalam mendapatkan pengalaman kerja di Industri melalui berbagai program seperti internship training dan technopreneurship program dan lainnya.

Di sesi young engineers development ini, Habibie Razak salah satu delegasi PII juga memberikan masukan tentang Engineers-in-Training program yang dilakukan di US dan Canada di mana para Insinyur muda didampingi oleh Insinyur Profesional selama bekerja di industri yang berperan mengawasi pekerjaan yang dilakukan insinyur muda tadi seperti mereview pekerjaan desain  dan aktifitas keinsinyuran lainnya termasuk memberikan rekomendasi pengembangan keprofesionalan seperti kursus, training dan event lain yang disarankan untuk diikuti oleh insinyur muda tadi. Setelah mendapatkan pengalaman minimum lima (5) tahun di dunia keinsinyuran, Insinyur Profesional yang merupakan mentor, coach sekaligus supervisor dari Insinyur muda tadi memberikan endorsement untuk mendapatkan gelar Insinyur Profesional. Dengan demikian, Insinyur muda yang dari awalnya adalah Engineer in Training (EiT) kemudian dinyatakan berhak untuk berpraktek keinsinyuran sesuai dengan undang-undang keinsinyuran yang berlaku.

Turut hadir pada workshop ini sebagai delegasi PII antara lain: Ir. Pandri Prabono Dewan Insinyur Indonesia, Ir. Rudianto Handojo – Direktur Eksekutif PII, Ir. Bambang Priatmono Pengurus Badan Kejuruan Sipil PII, Dr. Insanul Kamil PII Wilayah Sumatera Barat, Dr. Ir. Rusman Muhammad PII Cabang Makassar, Ir. Taufik Nur Universitas Muslim Indonesia,  Ir. Sri Hidayati Forum Insinyur Wanita PII, Laksma Ir. Eden Gunawan Pengurus PII Wilayah Banten, dan beberapa pengurus PII lainnya yang belum sempat disebut namanya.

Workshop dan scientific event sejenisnya akan terus dilakukan oleh UNESCO bekerjasama dengan berbagai Institusi keinsinyuran regional Asia Pasifik dalam rangka menjembatani gap antara insinyur, entrepreneurs, local government, perguruan tinggi, research centers and professional bodies melalui standar dan kualifikasi pendidikan keteknikan dan profesi keinsinyuran.

Reportase dari Ir. Habibie Razak PII Pusat Bidang Gas

 

 

Laporan Badan Otonom Pengembangan Profesi di Rakornas IKATEK UH Bantimurung, 2 Desember 2017

Hari Sabtu, 2 Desember 2017 Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (RAKORNAS 212 – 2017) di Taman Rekreasi Bantimurung Kabupaten Maros. Rakornas 212 ini diselenggarakan berkat inisiatif dari Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) IKATEK Sulawesi Ir. Muhammad Irfan AB yang sekaligus dirangkaikan dengan Rapat kerja (RAKER) DPW IKATEK Sulawesi. Sesi RAKER yang dilaksanakan di pagi hari dan setelah makan siang dilanjutkan dengan RAKORNAS 212.

RAKORNAS 212 secara resmi dibuka oleh Ketua Dewan Penasehat IKATEK UH Ir. Andi Herry Iskandar setelah sebelumnya kata sambutan dari Ketua Panitia, Ketua DPW Sulawesi dan Ketua Umum DPP Ir. Haedar A. Karim. Setelah resmi dibuka, RAKORNAS dipimpin oleh Marwan Hussein memberikan kesempatan kepada tiap DPW IKATEK Unhas memberikan laporan tentang kegiatan IKATEK yang dilaksanakan di Tahun 2017 ini. Perwakilan tiap DPW dimulai dari DPW Sulawesi, Papua, Maluku, Sumatera, Kalimantan, dan Bali-Nusa Tenggara kemudian dilanjutkan dengan laporan IKA Jurusan untuk 6 jurusan.

Presentase tambahan menghadirkan Ir. Ansar Rahman memaparkan PT Inovasi Benua Maritim, perusahaan yang dibentuk oleh Universitas Hasanuddin setahun terakhir ini. Beliau memaparkan model bisnis PT IBM, program yang akan dilaksanakan dan update kondisi perusahaan sampai bulan Desember ini. Setelahnya, Update tentang progress Program Profesi Insinyur (PPI) Fakultas Teknik Unhas disampaikan oleh Sekretaris Rektor Unhas Dr. Ir. Suharman Hamzah.

Kesempatan buat Badan Otonom IKATEK Unhas juga untuk memaparkan laporan kegiatannya selama 2017 ini. Habibie Razak sebagai Ketua Badan Otonom Pengembangan Profesi Keinsinyuran memberikan laporan kegiatan Tahun 2017 antara lain:

 

 

  1. Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) atau Lokakarya Sertifikasi Insinyur Profesional (LSIP) kerjasama Ikatan Alumni Teknik Unhas dan Persatuan Insinyur Indonesia
    MOU ditandatangani pada bulan 21 Desember 2014 di Makassar. Kegiatan PPPI/LSIP dilaksanakan setidaknya 25 kali di beberapa daerah/kota seperti Jakarta, Makassar, Balikpapan, Gorontalo, Sumbawa dan Manado. Kegiatan PPPI/LSIP melibatkan DPW IKATEK Jaban – Jabar, DPW Kalimantan, DPW Sulawesi, DPW Bali Nusa Tenggara dan ISP Pusat. Total Jumlah Alumni dalam daftar Keanggotaan PII sampai saat ini: 1300 Insinyur, setidaknya 20 persen sudah berpredikat Insinyur Profesional. Program ini relevan dengan semangat IKATEK UH untuk mensertifikasi para alumninya sesuai dengan amanah UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran.
  2. Focus Group Discussion (FGD) on Waste to Energy and Roadmap of Petroleum Engineering
    FGD dilaksanakan di Benteng Fort Rotterdam Makassar dihadiri lebih dari 20 Peserta dari Alumni Unhas, 29 Juni 2017. Pembicara dari Alumni bergerak di Sektor Energi dan Eksplorasi (Ir. Jacky Latuheru dan Ir. Asri Jaya).
    Kolaborasi apik antara pengurus IKATEK kerjasama IKA UH Jabodetabek
  3. Knowledge Sharing Kerjasama PII Cab Makassar dan IKATEK Unhas
    Knowledge dilaksanakan di Kantor PII Cabang Makassar untuk Materi LNG & EPC
    Peserta dari Profesional dan Mahasiswa.

 

Rencana kegiatan tahun 2018 antara lain:

Program Sertifikasi Keinsinyuran melalui berbagai kegiatan seperti Lokakarya, Sertifikasi Insinyur (LSIP), Bimbingan FAIP untuk Alumni Teknik, dst. Focus Group Discussion (FGD) Knowledge Sharing untuk berbagai topik terkait Engineering & Technology kerjasama PII akan terus ditingkatkan frekuesnsinya.

 

 

 

 

RAKORNAS 212 ini juga mendiskusikan rencana kegiatan Halal biHalal Nasional IKATEK Unhas Tahun 2018 yang akan dilaksanakan Bulan Juni 2018.


Ketua Panitia HBH Nasional, Ir. Jusman Sikki memberikan update persiapan pelaksanaan HBH Nasional 2018 di depan peserta RAKORNAS. Sebagaimana tema HBH 2018 adalah Sinergi untuk Memperkuat Solidaritas di antara sesama Alumni Teknik Universitas Hasanuddin.

Sukses Insinyur Indonesia, Bravo IKATEK Unhas.

 

 

 

 

Konferensi ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO 35), Bangkok, Thailand

Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara atau CAFEO 35 tahun ini berhasil diadakan di Queen Sirikit Convention Center, Bangkok, Thailand pada Tanggal 14 – 19 November 2017. Konferensi yang dihadiri lebih dari 2000 delegasi terdiri dari 10 negara ASEAN berlangsung sangat meriah dimulai dari friendly golf tournament, opening ceremony, country report presentation, technical paper session, AFEO energy working group, YEAFEO meeting, WEAFEO meeting, technical tour sampai pada acara penganugerahan AFEO award kepada delegasi yang merepresentasekan negara masing-masing.

 

 

 

Kali ini Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang merupakan bagian dari federasi organisasi profesi Insinyur se-Asia Tenggara mengirim sekitar 200 Insinyur untuk menghadiri CAFEO ke-35 di Bangkok ini. Dari 200 delegasi ini 12 di antaranya adalah penerima AFEO Award untuk kategori Distinguished Honorary Fellow, Honorary Fellow and Honorary Member and sekitar 83 Insinyur berhasil meraih gelar ASEAN Engineer Register (AER) termasuk di antaranya 6 penerima AER dari PII Cabang Makassar di bawah mentoring Dr. Ir. Rusman Ketua PII Makassar dan Dekan FTI UMI, Ir. Zakir Sabara. Ada pun untuk sesi technical paper, PII berhasil mengirimkan beberapa presenter/author and co-author untuk 5 technical paper. Tradisi technical paper submission setiap tahun pun PII bisa pertahankan. PII Luwu Timur mendominasi sesi technical paper dengan 3 paper lolos conference proceedings. Prestasi yang sungguh membanggakan buat PII tahun ini.

Country presentation session pada Hari Kamis, Tanggal 16 November 2017 dibawakan langsung oleh Ketua Umum PII Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak, IPU. Dalam presentasenya Beliau memaparkan profil organisasi PII dimulai dari tahun pendiriannya, jumlah pemegang sertifikasi Insinyur Profesional, jumlah Anggota PII yang tersebar di Indonesia dan di luar negeri dan struktur organisasi PII secara umum. Pada slides berikutnya, Ir. Hermanto juga memperkenalkan sistem profesi keinsinyuran berdasarkan UU No. 11/2014 dan tentunya Beliau memaparkan overview tentang Indonesia saat ini dimulai dari total GDP dan GDP/kapita, program percepatan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, program pembangunan pembangkit listrik dan target renewable energy yang dicanangkan oleh pemerintahan Jokowi – JK. Pada kesempatan ini, Beliau juga menayangkan sebuah video yang sangat impresif dan menyita perhatian delegasi dari negara lain tentang bagaimana Indonesia dalam proses pesat pembangunan infrastruktur dan keterlibatan Insinyur Indonesia di dalam pembangunan ini.


Hadir di CAFEO ke-35 ini, Bapak Menteri Perindustrian, Ir. Airlangga Hartarto, MMT., MBA., IPU memberikan pidato singkat tentang cita-cita dan arah Industri Indonesia di masa depan  dan bagaimana peran PII dan para Insinyurnya di dalam mengakselerasi cita-cita ini. Ir. Airlangga menerima Distinguished Honorary Fellow dari AFEO Committee diikuti oleh beberapa nama penerima Honorary Fellow dan Honorary Member seperti Ir. Machnizon Masri salah satu Direktur PLN, Ir. Handoko Direktur McDermott Indonesia, Ir. Ricky Hikmawan Ketua BK Kimia PII.

Indonesia akan menjadi tuan rumah midterm meeting tahun depan diikuti CAFEO 36 di mana Singapura menjadi tuan rumah. Bravo Persatuan Insinyur Indonesia, Vivat Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Habibie Razak – Bidang Gas PII Pusat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Brussels Trip for Business Development Seminar, 2 – 7 October 2017

“We are looking forward to meeting you in Brussels” sapa OC Seminar via email dua minggu sebelum keberangkatan ke Brussels dalam rangka Seminar Business Development yang menghadirkan seluruh BD manager di tiap entity Tractebel yang ada di seluruh dunia. Seminar yang diselenggarakan dari Tanggal 5 – 6 Oktober 2017 ini dihadiri tidak kurang dari 60 BD managers dari setidaknya 50 negara. Seminar ini dibuka secara langsung oleh Daniel Develay, CEO Tractebel ENGIE. Saya satu-satunya delegasi dari Tractebel Indonesia menghadiri event ini sesuai tugas saya sebagai Sales & Business Development Manager for Indonesia & Malaysia operation.

Saya berangkat dari Jakarta Senin malam dengan Turkish Airline maskapai penerbangan Turki -TK 0057 menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam menuju Istanbul Attaturk International Airport dan kemudian transit selama kurang lebih 2.5 jam di bandara ini kemudian lanjut lagi dengan penerbangan menuju Brussels menempuh sekitar 3.5 Jam. Perbedaan waktu Istanbul maupun Brussels dari Jakarta adalah 5 jam lebih lambat. Satu pesawat dengan saya, kawan dari Jakarta, Haikal, profesional graphic design yang saat ini terlibat mengawasi proyek ASIAN Games di Senayan. Haikal berkunjung ke Brussels dalam rangka liburan menemui kakaknya yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja dan menetap di Belgia. Kami tiba di Brussels international airport hari Selasa Pagi Pukul 10.30 waktu setempat.

 

Saya pun beranjak menuju stasiun Bawah Tanah Brussels airport untuk membeli tiket menuju Brussels Central yang ditempuh kurang dari 30 menit. Dari Brussels Central station kemudian berpindah moda transportasi dengan Brussels Metro menuju Roodebeek selama kurang lebih 20 menit. Dari stasiun Roodebeek ini saya beranjak naik tangga menuju stasiun Bis dan berangkat menuju Ariane Avenue street tempat di mana Headquarter Tractebel ENGIE berada. Tractebel adalah perusahaan konsultan dan EPC di bidang energy dan infrastructure beroperasi lebih dari 150 tahun dan merupakan salah satu subsidiary dari ENGIE perusahaan IPP terbesar di dunia dan Energy Developer asal Perancis.

Hari Selasa dan Rabu saya bertemu beberapa kolega yang saat ini aktif membantu proyek kami di Indonesia dan Malaysia. Mereka bekerja kebanyakan di domain power & gas dan energy transition business line. Adalah tak kenal maka tak sayang, awalnya kami hanya berkomunikasi lewat email dan skype call dan sekarang kesempatan buat saya bertemu mereka secara langsung, saling mengenal lebih dekat. Teringat 4-5 tahun yang lalu sebelum bekerja di tempat sekarang saya juga menyempatkan mengunjungi headquarter perusahaan sebelumnya sampe harus traveling selama 36 Jam dari Jakarta. Untuk trip ini lebih ringan hanya 18 Jam saja, jadi sudah biasa aja kaliiii…Hari Selasa sore saya ditemani kawan baru Jeremy yang bekerja untuk energy storage and transmission department menuju Diamant Suites, salah satu hotel kecil yang tidak jauh dari kantor.

Hari Rabu sore, 4 Oktober 2017 setelah jam kerja saya pun dengan pesanan taksi dari kantor beranjak menuju Hilton Hotel Grand Place untuk check-in tempat di mana seminar diselenggarakan. Check-in sore hari memberikan kesempatan untuk beristirahat selama  kurang lebih 3 Jam. Malam hari pun semakin dingin dengan suhu di bawah 10 derajat C tidak menurunkan semangatku untuk keluar berjalan kaki menapaki trotoar dan lorong-lorong pusat kota Brussels ini. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam di tengah dinginnya suhu kota ini of course, seperti biasa di setiap oversea trip saya pun mengunjungi Hard Rock Cafe untuk sekedar berfoto dan membeli T-Shirt. Di Kafe ini diisi oleh American Community yang sengaja datang ke tempat ini untuk minum menghangatkan badan dan bercanda gurau.

Hari Kamis pagi, acara seminar pun dimulai Pukul 09.30 dimulai dari pembukaan dan kemudian presentase oleh Manager setiap Business Line dimulai dari Business Line Infrastructure & Environment, Nuclear, Power & Gas, Hydro, ENGIE Laborelec & Energy Transition. Sesi sore hari diisi dengan beberapa permainan yang salah satu diantaranya adalah setiap group terdiri dari 4 profesional. Pada setiap group ini profesional diminta untuk mempresentasekan business line (BL) yang bukan merupakan business line di tempat  mereka bekerja. Saya kebagian mempresentasekan BL energy transition kemudian meminta ketiga lainnya untuk menilai teknik presentase saya di depan mereka yang saya simulasikan sebagai client saya, it was an awesome game.

 

 

 

Di hari pertama ini kami juga kebagian buku kecil di sampulnya bertuliskan Business Development Passport di mana di dalam buku kecil ini terdapat isian hampir seluruh entities Tractebel yang berada di dunia. Kami sebagai peserta diminta untuk mengisi informasi tentang country manager di setiap negara di mana Tractebel eksis termasuk isian referensi proyek dan main strength yang dimiliki oleh setiap entity yang ada. Untuk mendapatkan informasi setiap entity dan mengisinya ke dalam buku kecil tadi mau tidak mau para peserta wajib untuk berinteraksi dengan para peserta dari business entity lainnya. Dengan simulasi seperti ini mereka akan saling mengenal setidaknya nama, asal negara dan di entity mana mereka ditempatkan.

 

 

 

Hari Kamis malam, organizing committee mengundang para peserta untuk dinner time dan berkeliling di radius 3 km pusat kota Brussels ini. Malam itu kami ditemani guide yang selama perjalanan menjelaskan tentang sejarah Kota Brussels dimulai Abad XVI sampai pada perang dunia kedua. Salah satu fakta adalah di mana Belgia dan juga Kota Brussels adalah tempat bertemunya tentara aliansi Amerika Inggris dan pasukan Jerman untuk berperang. Di pusat kota ini terdapat patung “Manneken Pis” patung anak kecil yang sedang buang air kecil. Setelah menikmati dinner kami pun berangkat lagi ke salah satu cafe tidak jauh dari pusat stock exchange untuk menikmati beberapa teguk Belgian Beers.

Hari Jum’at pagi di sesi BD seminar ini menghadirkan beberapa materi menarik di antaranya adalah sesi tentang ownership and business performance menghadirkan motivator yang mengupas habis pentingnya peran ownership dalam suatu perusahaan. Setidaknya ada tiga level ownership yang didiskusikan antara lain: first degree ownership dalam hal ini profesional tidak memiliki kepemilikan sama sekali terhadap perusahaan, dia tidak memiliki semangat memiliki perusahaan tempat dia bekerja dan kelihatan dari cara kerja dan hasil yang akan dicapainya. Second degree adalah dia hanya care pada tugas dia dan selalu membatasi diri untuk melakukan inisiasi yang lebih besar di luar tugas dia, “this is my job and you do yours, the rest is I am not involved”. Third degree adalah profesional memiliki sense of ownership terhadap semua yang terkait dengan bisnis perusahaan dan memiliki ownership untuk bersama-sama yang lain melakukan yang lebih untuk membesarkan perusahaan. Third degree ownership ini diharapkan dimiliki oleh profesional dengan bukan hanya membesarkan entity di tempat dia bekerja tapi juga mendorong entity lainnya yang masih dalam tahap development untuk juga bisa menjadi sukses dan meraih target sales dan project executions.

Hari Jum’at sore akhirnya harus beranjak menuju Brussels airport untuk mengejar pesawat yang berangkat Pukul 06.45 sore. Adalah kolega dari Gas Competence Center, Cedric and Lorena mengunjungi saya di acara seminar karena beberapa hari sebelumnya mereka di luar kota untuk business trip sehingga tidak menyempatkan bertemu mereka di kantor. Cedric menyempatkan mengantar ke bandara dan di jalan kami alot berdiskusi tentang present and future gas & LNG projects di Indonesia saat ini. An awesome moment adalah, di sore itu, sebelum berangkat ke Brussels airport saya menyempatkan berdiskusi sejenak dan berfoto dengan Daniel Develay, President & CEO Tractebel ENGIE. Beliau sungguh low profile dan menikmati bercanda gurau dengan Beliau.

Check in di Bandara ini, saya pun beruntung kedua kalinya bertemu dengan Habib dari Jawa Timur yang habis mengantar istrinya yang lulus beasiswa LPDP dan mulai aktifitas kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Belgia. Kami menyempatkan mengambil foto di perjalanan ini hanya sebagai bukti bahwa kami pernah di sini. Perjalanan menuju dari Brussels ke Istanbul menempuh waktu yang sama, transit di Istanbul beberapa jam kemudian melanjutkan perjalanan dengan maskapai Turkish airline lainnya menuju Jakarta.

Bravo Tractebel, Sukses Insinyur Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Technical Visit to MRT Jakarta Construction Site, 28 September 2017

One of the biggest and challenging transportation projects in Indonesia now is the MRT Jakarta construction financed by the Japan Bank for International Cooperation in 2006. The first phase project started to kickoff since 2008 starting from design phase, procurement till construction. The construction progress has now reached 90% completion and expected to commission and operate in 2019. This first phase project is being constructed for approximately 16 kilometers from Lebak Bulus station down to Bundaran Hotel Indonesia which consists of  13 stations with  1 Depot.

Hasanuddin University Alumnus organized the proposal to visit the construction site and approved by the Management of PT MRT Jakarta. The event was conducted on Wednesday morning, 28th of September 2017 attended by 20 alumnus from Hasanuddin University. The event was firstly opened by Ir. William Syahbandar, President Director of PT MRT Jakarta and continued with his presentation on the company overview, vision and mission and its current and future projects. In his speech he expected MRT Jakarta will be the benchmark for other big cities in Indonesia to start developing their transportation system as the first thing to do couple years back by the company was also to benchmark the big cities in the world which were already implementing this MRT system. “We are developing this project based on the latest MRT technology” as Mr. Willy said.

This technical visit led and guided directly by Mr. William Syahbandar and his team. Prior to enter project site the participants were wearing the personnel protective equipment (PPE) consist of safety boots, hard hat dan safety vest. The HSE team of MRT Jakarta briefed the safety induction to all participants for 15 minutes. As the construction progress is already 90 percent completion, the main structure such as diaphragm wall, columns, and beams are already completed. The railway and sleepers are also nearly complete and the remaining works are more on the construction of the architectural buildings inside the station such as office, shops, escalators, and others. Lobby, information desk, automatic ticket dispensing machines, one-way fare-gates and so on will be provided soon as part of the main facilities inside the station.


Questions and answers between participants and MRT Jakarta team were very interactive during the visit and during nearly 2 hours visit the participants should have gained more information on the technical and commercial aspects of this particular project. This visit was dismissed and continued with lunch time session at Plaza Indonesia.

 

 

 

Kuliah Umum Infrastruktur Energi, Fakultas Teknologi Industri UMI, 16 September 2017

Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) kembali memfasilitasi kuliah umum bertemakan Infrastruktur Energi, Peluang dan Tantangan dihadiri oleh Mahasiswa(i) Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia di Auditorium KH Muhammad Ramly FTI UMI bertepatan Hari Sabtu, 16 September 2017. Sesi Kuliah Umum ini dibuka langsung Dekan FTI UMI, Ir. H. Zakir Sabara HW., IPM., MT., ASEAN Engineer.

Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa teknologi ketekniksipilan semakin pesat perkembangannya di dunia. Dunia saat ini membangunnya ke bawah seperti subway MRT and subway station construction, basement and tunneling construction termasuk konstruksi infrastruktur terkait energi seperti LNG Receiving Terminal, Pembangkit Listrik menggunakan energi terbarukan lepas pantai seperti offshore wind power generation dan seterusnya. Melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di luar sana menuntut tenaga pengajar di kampus untuk terus mengupdate ilmu yang dimililikinya bahkan di era serba internet saat ini mahasiswa lebih dituntut untuk belajar di luar sana langsung bersentuhan dengan industri termasuk senior-senior profesional yang bekerja di sektor energi untuk mendapatkan pencerahan keinsinyuran dan teknologi yang paling mutakhir. Sesi kuliah tamu ini tidak lain salah satu cara menghubungkan para mahasiswa dan profesional supaya terjadi interaksi yang lebih dalam lagi tentang kebutuhan dunia kerja kelak setelah mahasiswa(i) menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Habibie Razak, dosen kuliah umum kali ini memaparkan tiga agenda paparan dan diskusi antara lain: gambaran proyek infrastruktur strategis prioritas nasional di Indonesia saat ini, gambaran proyek infrastruktur energi termasuk pembangkit listrik, gas dan LNG dan apa yang harus disiapkan untuk bisa berperan serta di proyek-proyek infrastruktur energi nasional di Indonesia. Habibie dalam paparannya menyampaikan bahwa kita masih kekurangan Insinyur untuk mengeksekusi proyek 35Ribu MW, setidaknya kita  membutuhkan sekitar 50 Ribu Insinyur hanya untuk proyek ketenagalistrikan saja. Diperkirakan untuk menutup kekurangan Insinyur Indonesia setidaknya bakalan 5.900 Insinyur Asing/Professional Engineer mengisi posisi yang tersedia.

Berbicara tentang Strategi Peningkatan Kapasitas Pelaku Jasa Konstruksi Pada Proyek Ketenagalistrikan 35.000 MW setidaknya ada beberapa hal yang menjadi concern utama antara lain: bagaimana meningkatkan kinerja para perusahaan BUJK yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Peningkatan kapabilitas dan kemampuan finansial
  • Peningkatan kinerja mutu dengan menerapkan sistem manajemen mutu bertaraf internasional
  • Peningkatan kinerja K4 dengan menerapkan sistem manajemen keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan (SMK4) bertaraf internasional
  • Pengembangan teknologi pembangkit yang diharapkan bisa dibangun anak bangsa.

Sedangkan Program Peningkatan Kompetensi  Tenaga Ahli Konstruksi tidak lain adalah memfasilitasi tenaga ahli :

  • Sertifikasi baru bagi tenaga yang baru akan mendapatkan sertifikasi.
  • Perpanjangan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Melalui Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB), Peningkatan kualifikasi tenaga ahli dari Tenaga Ahli Muda menjadi Tenaga Ahli Madya dan Peningkatan tenaga Ahli Madya menjadi menjadi Tenaga Ahli Utama

Habibie juga memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara yang cukup kaya akan gas alam berusaha mengoptimalkan penggunaannya untuk untuk kebutuhan energi domestik yang ramah lingkungan  dengan membangun infrastruktur LNG/gas dimulai dari LNG liquefaction, LNG transportation baik darat maupun laut, sampai dengan membangun LNG receiving terminal di beberapa wilayah di Indonesia. Sebutlah PLN yang saat ini rencana membangun lebih dari 40 LNG receiving terminal dari Sabang sampai Merauke dan proyek-proyek strategis ini semestinya diisi oleh para Insinyur Indonesia yang berdomisili di Timur Indonesia. Mau tidak mau kita harus siap atau para lulusan Perguruan Tinggi di KTI hanya akan menjadi penonton saja di kampung sendiri.

Sesi tanya jawab pada kuliah umum kali ini berlangsung sangat interaktif dan diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dari para mahasiswa(i) yang hadir. Sukses terus proyek infrastruktur energi Indonesia, jayalah Insinyur Indonesia.