Category Archives: Opini Energi Alternatif

Ujian Wawancara Insinyur Profesional Madya (IPM) Kerjasama PII Cabang Palembang

Animo para Sarjana Teknik (ST) di dalam mengikuti program sertifikasi Insinyur Profesional sangat tinggi beberapa tahun terakhir ini setelah dikeluarkannya UU No.11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran. Meskipun Peraturan Pemerintah (PP) yang merupakan turunan dari UU ini baru akan disahkan akhir tahun ini tidaklah menurunkan minat para ST dan Insinyur untuk segera menjadi Insinyur tersertifikasi. Adalah PII Cabang Palembang menyelenggarakan uji kompetensi Insinyur Profesional di Palembang pada Hari Senin, 30 Oktober 2017 lalu mengundang tiga (3) majelis penilai dari BK Sipil dan seorang staff sertifikasi PII Pusat.

Ketua Tim Majelis Penilai (MP), Ir. Wahyu Hendrastomo bersama dua rekan MP lainnya, Ir. Andi Taufan Marimba, IPM dan Ir. Habibie Razak, IPM menguji setidaknya 10 calon IPM di ruang meeting Hotel Swarna Dwipa, Kota Palembang. Ruli salah seorang staff PII Pusat menyampaikan ke pengurus PII Cabang Palembang, Ir. Mukhlis untuk lebih intens lagi berkomunikasi dengan PII Pusat terkait penyelenggaraan program sertifikasi Insinyur Profesional ini. “Setidaknya kegiatan sejenis dilakukan sekali dalam sebulan itu sudah sangat luar biasa” imbuh Ir. Wahyu kepada pengurus cabang.


Sesi ujian wawancara ini pun ditutup di sore hari oleh Ketua Tim MP dan dilanjutkan dengan sesi santai yang salah satunya adalah diskusi tentang investasi Pembangkit Listrik Batubara di Propinsi Sumatera Selatan. Menurut penuturan Ir. H. Syarifuddin, salah seorang pengurus, cadangan batubara di Sumsel ini masih sangat besar dan kebutuhan listrik untuk masyarakat Sumatera dan Sumsel khususnya sangat tinggi termasuk inisiatif membangun infrastruktur publik seperti LRT, MRT dan seterusnya yang tentunya membutuhkan lebih banyak pasokan listrik lebih banyak lagi. Habibie Razak memaparkan tentang strategi investasi pengembangan pembangkit listrik dimulai dari pembentukan special purpose vehicle (SPV) company dari bentukan beberapa perusahaan, kajian studi kelayakan untuk coal fired power plant sampai pada penandatanganan PPA dan pengoperasian pembangkit listrik. “Proyek pembangkit listrik sangat seksi dan attractive saat ini karena IRR, NPV dan payback periodnya sangat menarik” kata Habibie Razak di sela-sela diskusi.


Sukses PII Cabang Palembang, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Bidang Gas PII Pusat.

Brussels Trip for Business Development Seminar, 2 – 7 October 2017

“We are looking forward to meeting you in Brussels” sapa OC Seminar via email dua minggu sebelum keberangkatan ke Brussels dalam rangka Seminar Business Development yang menghadirkan seluruh BD manager di tiap entity Tractebel yang ada di seluruh dunia. Seminar yang diselenggarakan dari Tanggal 5 – 6 Oktober 2017 ini dihadiri tidak kurang dari 60 BD managers dari setidaknya 50 negara. Seminar ini dibuka secara langsung oleh Daniel Develay, CEO Tractebel ENGIE. Saya satu-satunya delegasi dari Tractebel Indonesia menghadiri event ini sesuai tugas saya sebagai Sales & Business Development Manager for Indonesia & Malaysia operation.

Saya berangkat dari Jakarta Senin malam dengan Turkish Airline maskapai penerbangan Turki -TK 0057 menempuh perjalanan kurang lebih 12 jam menuju Istanbul Attaturk International Airport dan kemudian transit selama kurang lebih 2.5 jam di bandara ini kemudian lanjut lagi dengan penerbangan menuju Brussels menempuh sekitar 3.5 Jam. Perbedaan waktu Istanbul maupun Brussels dari Jakarta adalah 5 jam lebih lambat. Satu pesawat dengan saya, kawan dari Jakarta, Haikal, profesional graphic design yang saat ini terlibat mengawasi proyek ASIAN Games di Senayan. Haikal berkunjung ke Brussels dalam rangka liburan menemui kakaknya yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja dan menetap di Belgia. Kami tiba di Brussels international airport hari Selasa Pagi Pukul 10.30 waktu setempat.

 

Saya pun beranjak menuju stasiun Bawah Tanah Brussels airport untuk membeli tiket menuju Brussels Central yang ditempuh kurang dari 30 menit. Dari Brussels Central station kemudian berpindah moda transportasi dengan Brussels Metro menuju Roodebeek selama kurang lebih 20 menit. Dari stasiun Roodebeek ini saya beranjak naik tangga menuju stasiun Bis dan berangkat menuju Ariane Avenue street tempat di mana Headquarter Tractebel ENGIE berada. Tractebel adalah perusahaan konsultan dan EPC di bidang energy dan infrastructure beroperasi lebih dari 150 tahun dan merupakan salah satu subsidiary dari ENGIE perusahaan IPP terbesar di dunia dan Energy Developer asal Perancis.

Hari Selasa dan Rabu saya bertemu beberapa kolega yang saat ini aktif membantu proyek kami di Indonesia dan Malaysia. Mereka bekerja kebanyakan di domain power & gas dan energy transition business line. Adalah tak kenal maka tak sayang, awalnya kami hanya berkomunikasi lewat email dan skype call dan sekarang kesempatan buat saya bertemu mereka secara langsung, saling mengenal lebih dekat. Teringat 4-5 tahun yang lalu sebelum bekerja di tempat sekarang saya juga menyempatkan mengunjungi headquarter perusahaan sebelumnya sampe harus traveling selama 36 Jam dari Jakarta. Untuk trip ini lebih ringan hanya 18 Jam saja, jadi sudah biasa aja kaliiii…Hari Selasa sore saya ditemani kawan baru Jeremy yang bekerja untuk energy storage and transmission department menuju Diamant Suites, salah satu hotel kecil yang tidak jauh dari kantor.

Hari Rabu sore, 4 Oktober 2017 setelah jam kerja saya pun dengan pesanan taksi dari kantor beranjak menuju Hilton Hotel Grand Place untuk check-in tempat di mana seminar diselenggarakan. Check-in sore hari memberikan kesempatan untuk beristirahat selama  kurang lebih 3 Jam. Malam hari pun semakin dingin dengan suhu di bawah 10 derajat C tidak menurunkan semangatku untuk keluar berjalan kaki menapaki trotoar dan lorong-lorong pusat kota Brussels ini. Setelah berjalan kurang lebih setengah jam di tengah dinginnya suhu kota ini of course, seperti biasa di setiap oversea trip saya pun mengunjungi Hard Rock Cafe untuk sekedar berfoto dan membeli T-Shirt. Di Kafe ini diisi oleh American Community yang sengaja datang ke tempat ini untuk minum menghangatkan badan dan bercanda gurau.

Hari Kamis pagi, acara seminar pun dimulai Pukul 09.30 dimulai dari pembukaan dan kemudian presentase oleh Manager setiap Business Line dimulai dari Business Line Infrastructure & Environment, Nuclear, Power & Gas, Hydro, ENGIE Laborelec & Energy Transition. Sesi sore hari diisi dengan beberapa permainan yang salah satu diantaranya adalah setiap group terdiri dari 4 profesional. Pada setiap group ini profesional diminta untuk mempresentasekan business line (BL) yang bukan merupakan business line di tempat  mereka bekerja. Saya kebagian mempresentasekan BL energy transition kemudian meminta ketiga lainnya untuk menilai teknik presentase saya di depan mereka yang saya simulasikan sebagai client saya, it was an awesome game.

 

 

 

Di hari pertama ini kami juga kebagian buku kecil di sampulnya bertuliskan Business Development Passport di mana di dalam buku kecil ini terdapat isian hampir seluruh entities Tractebel yang berada di dunia. Kami sebagai peserta diminta untuk mengisi informasi tentang country manager di setiap negara di mana Tractebel eksis termasuk isian referensi proyek dan main strength yang dimiliki oleh setiap entity yang ada. Untuk mendapatkan informasi setiap entity dan mengisinya ke dalam buku kecil tadi mau tidak mau para peserta wajib untuk berinteraksi dengan para peserta dari business entity lainnya. Dengan simulasi seperti ini mereka akan saling mengenal setidaknya nama, asal negara dan di entity mana mereka ditempatkan.

 

 

 

Hari Kamis malam, organizing committee mengundang para peserta untuk dinner time dan berkeliling di radius 3 km pusat kota Brussels ini. Malam itu kami ditemani guide yang selama perjalanan menjelaskan tentang sejarah Kota Brussels dimulai Abad XVI sampai pada perang dunia kedua. Salah satu fakta adalah di mana Belgia dan juga Kota Brussels adalah tempat bertemunya tentara aliansi Amerika Inggris dan pasukan Jerman untuk berperang. Di pusat kota ini terdapat patung “Manneken Pis” patung anak kecil yang sedang buang air kecil. Setelah menikmati dinner kami pun berangkat lagi ke salah satu cafe tidak jauh dari pusat stock exchange untuk menikmati beberapa teguk Belgian Beers.

Hari Jum’at pagi di sesi BD seminar ini menghadirkan beberapa materi menarik di antaranya adalah sesi tentang ownership and business performance menghadirkan motivator yang mengupas habis pentingnya peran ownership dalam suatu perusahaan. Setidaknya ada tiga level ownership yang didiskusikan antara lain: first degree ownership dalam hal ini profesional tidak memiliki kepemilikan sama sekali terhadap perusahaan, dia tidak memiliki semangat memiliki perusahaan tempat dia bekerja dan kelihatan dari cara kerja dan hasil yang akan dicapainya. Second degree adalah dia hanya care pada tugas dia dan selalu membatasi diri untuk melakukan inisiasi yang lebih besar di luar tugas dia, “this is my job and you do yours, the rest is I am not involved”. Third degree adalah profesional memiliki sense of ownership terhadap semua yang terkait dengan bisnis perusahaan dan memiliki ownership untuk bersama-sama yang lain melakukan yang lebih untuk membesarkan perusahaan. Third degree ownership ini diharapkan dimiliki oleh profesional dengan bukan hanya membesarkan entity di tempat dia bekerja tapi juga mendorong entity lainnya yang masih dalam tahap development untuk juga bisa menjadi sukses dan meraih target sales dan project executions.

Hari Jum’at sore akhirnya harus beranjak menuju Brussels airport untuk mengejar pesawat yang berangkat Pukul 06.45 sore. Adalah kolega dari Gas Competence Center, Cedric and Lorena mengunjungi saya di acara seminar karena beberapa hari sebelumnya mereka di luar kota untuk business trip sehingga tidak menyempatkan bertemu mereka di kantor. Cedric menyempatkan mengantar ke bandara dan di jalan kami alot berdiskusi tentang present and future gas & LNG projects di Indonesia saat ini. An awesome moment adalah, di sore itu, sebelum berangkat ke Brussels airport saya menyempatkan berdiskusi sejenak dan berfoto dengan Daniel Develay, President & CEO Tractebel ENGIE. Beliau sungguh low profile dan menikmati bercanda gurau dengan Beliau.

Check in di Bandara ini, saya pun beruntung kedua kalinya bertemu dengan Habib dari Jawa Timur yang habis mengantar istrinya yang lulus beasiswa LPDP dan mulai aktifitas kuliah di salah satu Perguruan Tinggi di Belgia. Kami menyempatkan mengambil foto di perjalanan ini hanya sebagai bukti bahwa kami pernah di sini. Perjalanan menuju dari Brussels ke Istanbul menempuh waktu yang sama, transit di Istanbul beberapa jam kemudian melanjutkan perjalanan dengan maskapai Turkish airline lainnya menuju Jakarta.

Bravo Tractebel, Sukses Insinyur Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

Kuliah Umum Infrastruktur Energi, Fakultas Teknologi Industri UMI, 16 September 2017

Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI) kembali memfasilitasi kuliah umum bertemakan Infrastruktur Energi, Peluang dan Tantangan dihadiri oleh Mahasiswa(i) Jurusan Teknik Sipil dan Teknik Kimia di Auditorium KH Muhammad Ramly FTI UMI bertepatan Hari Sabtu, 16 September 2017. Sesi Kuliah Umum ini dibuka langsung Dekan FTI UMI, Ir. H. Zakir Sabara HW., IPM., MT., ASEAN Engineer.

Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan bahwa teknologi ketekniksipilan semakin pesat perkembangannya di dunia. Dunia saat ini membangunnya ke bawah seperti subway MRT and subway station construction, basement and tunneling construction termasuk konstruksi infrastruktur terkait energi seperti LNG Receiving Terminal, Pembangkit Listrik menggunakan energi terbarukan lepas pantai seperti offshore wind power generation dan seterusnya. Melihat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di luar sana menuntut tenaga pengajar di kampus untuk terus mengupdate ilmu yang dimililikinya bahkan di era serba internet saat ini mahasiswa lebih dituntut untuk belajar di luar sana langsung bersentuhan dengan industri termasuk senior-senior profesional yang bekerja di sektor energi untuk mendapatkan pencerahan keinsinyuran dan teknologi yang paling mutakhir. Sesi kuliah tamu ini tidak lain salah satu cara menghubungkan para mahasiswa dan profesional supaya terjadi interaksi yang lebih dalam lagi tentang kebutuhan dunia kerja kelak setelah mahasiswa(i) menyelesaikan studi di perguruan tinggi.

Habibie Razak, dosen kuliah umum kali ini memaparkan tiga agenda paparan dan diskusi antara lain: gambaran proyek infrastruktur strategis prioritas nasional di Indonesia saat ini, gambaran proyek infrastruktur energi termasuk pembangkit listrik, gas dan LNG dan apa yang harus disiapkan untuk bisa berperan serta di proyek-proyek infrastruktur energi nasional di Indonesia. Habibie dalam paparannya menyampaikan bahwa kita masih kekurangan Insinyur untuk mengeksekusi proyek 35Ribu MW, setidaknya kita  membutuhkan sekitar 50 Ribu Insinyur hanya untuk proyek ketenagalistrikan saja. Diperkirakan untuk menutup kekurangan Insinyur Indonesia setidaknya bakalan 5.900 Insinyur Asing/Professional Engineer mengisi posisi yang tersedia.

Berbicara tentang Strategi Peningkatan Kapasitas Pelaku Jasa Konstruksi Pada Proyek Ketenagalistrikan 35.000 MW setidaknya ada beberapa hal yang menjadi concern utama antara lain: bagaimana meningkatkan kinerja para perusahaan BUJK yang bisa dilakukan sebagai berikut:

  • Peningkatan kapabilitas dan kemampuan finansial
  • Peningkatan kinerja mutu dengan menerapkan sistem manajemen mutu bertaraf internasional
  • Peningkatan kinerja K4 dengan menerapkan sistem manajemen keamanan, keselamatan, kesehatan dan keberlanjutan (SMK4) bertaraf internasional
  • Pengembangan teknologi pembangkit yang diharapkan bisa dibangun anak bangsa.

Sedangkan Program Peningkatan Kompetensi  Tenaga Ahli Konstruksi tidak lain adalah memfasilitasi tenaga ahli :

  • Sertifikasi baru bagi tenaga yang baru akan mendapatkan sertifikasi.
  • Perpanjangan Sertifikat Kompetensi Kerja (SKK) Melalui Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (PKB), Peningkatan kualifikasi tenaga ahli dari Tenaga Ahli Muda menjadi Tenaga Ahli Madya dan Peningkatan tenaga Ahli Madya menjadi menjadi Tenaga Ahli Utama

Habibie juga memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara yang cukup kaya akan gas alam berusaha mengoptimalkan penggunaannya untuk untuk kebutuhan energi domestik yang ramah lingkungan  dengan membangun infrastruktur LNG/gas dimulai dari LNG liquefaction, LNG transportation baik darat maupun laut, sampai dengan membangun LNG receiving terminal di beberapa wilayah di Indonesia. Sebutlah PLN yang saat ini rencana membangun lebih dari 40 LNG receiving terminal dari Sabang sampai Merauke dan proyek-proyek strategis ini semestinya diisi oleh para Insinyur Indonesia yang berdomisili di Timur Indonesia. Mau tidak mau kita harus siap atau para lulusan Perguruan Tinggi di KTI hanya akan menjadi penonton saja di kampung sendiri.

Sesi tanya jawab pada kuliah umum kali ini berlangsung sangat interaktif dan diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dari para mahasiswa(i) yang hadir. Sukses terus proyek infrastruktur energi Indonesia, jayalah Insinyur Indonesia.

The 6th INDONESIA EBTKE ConEx 2017 at Balai Kartini, 13 -15 September 2017

The 6th Indonesia Renewable Energy and Energy Conservation (EBTKE) was organized successfully from 13th to 15th of September 2017. The event consist of conference and exhibition for 3 days at Balai Kartini, Jakarta. The event was attended by at least 500 delegates from different companies both local and overseas. The exhibition booths were fulfilled by various reputable corporations such as ENGIE group, PERTAMINA group, and several others. The Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM ministry) was also participating by organizing their own booth for three days exhibition.

The theme of this event is Renewable Energy is a Solution to Energy Security and Paris Agreement. The conference was opened ceremony by the Ministry of ESDM Mr. Ignasius Jonan after having Mr. Surya Darma the Chairman of Indonesia Renewable Energy Society (METI) delivered the report of organizing committee. In his speech, Jonan said he is indeed very optimistic in the near future the renewable energy investment will be more competitive to decouple the fossil fuel projects. This was proven couple days back he signed the minihydro PPA which is the tariff is 6.7 – 6.8 centUSD/Kwh in Central Java. The other renewable energy such as solar PV and geothermal will catch up soon. He also stated, during his 10 months working at his position, he already signed 723 MW PPA for renewable energy power generations.

 

 

Mr. Ignasius also witnessed the signing ceremony of several agreements accompanied by the General Director of ESDM EBTKE Rida Mulyana on renewable energy sectors such as the MOU between Balitbang and The Greatwall Drilling Company of the China National Petroleum Corporation, Cooperation between University of Indonesia, University of Gajah Mada, Bandung Institute of Technology, PLN and Geodipa for Research and Development in Geothermal, Funding Cooperation for the Development of Wilayah Kerja Panas Bumi (Geothermal concession) between PLN and SMI, and the signing ceremony of Renewable Energy Projects with REI.

The first day session after the opening ceremony continued with panel discussion consist of several speakers from several institutions and corporations such as National Development Planning Agency (BAPPENAS) represented by the Minister of BAPPENAS himself, Mr. Bambang Brodjonegoro, the International Finance Corporation (IFC), Danish Ambassador for Indonesia, US Ambassador for Indonesia, Indonesian Chamber of Commerce and Industry, Supreme Energy and IEA. The first day event also consist of the press conference of METI in front of the exhibition area represented by the Chairman of Organizing Committee Paul Butarbutar. Before leaving this EBTKE ConEx 2017 Mr. Paul also accompanied Mr. Jonan visited several booths including the visit to France Pavilion booth which consisted of French companies such as ENGIE group, Vinci Energies, and others.

In his speech, Mr. Bambang the Minister of BAPPENAS suggested there are at least points should be considered by the energy player in order to be successful in Indonesia (1) The developer should bring the low interest financing in order to meet the economic feasibility of the project (2) The involvement of existing big energy companies such including SOEs and private companies (MEDCO, Adaro, etc.) (3) The new player in this business should partner with big players so there will be learning process as well as the reduction of investment risks. The financing and equity capabilities of new players can be then tackled by the big ones.

Tractebel Engineering Indonesia (TEI), a group of ENGIE was taking part to the event by sending their three delegates, Mr. Nicolas Vaudremont (CEO, Product Director Renewable), Mr. Julien Blommaerts (Product Director T & D, VP Business Development) and Mr. Habibie Razak (Product Director Gas & LNG, Business Development and Sales Manager). Mr. Pupu Rahmat the Marketing Specialist of TEI was also available at the exhibition area had been very active in communicating and interacting with the conference delegates and visitors who visited the booth area.

The EBTKE ConEX was in Conjunction with Bali Clean Energy Forum (BCEF) 2017 has been very successful therefore we thank to the Host METI – The Indonesia Renewable Energy Society, The Endorser the Ministry of ESDM Indonesia and the Main Sponsor Pembangunan Perumahan.

Vivat Indonesia Renewable Energy Investments….Hoping the target of 23% Renewable Energy Power Generations in 2025 can be achieved. This will prove the commitment of Indonesian government to Paris Agreement.

 

 

 

 

 

 

 

Knowledge Sharing on LNG Organized by PII Cabang Makassar, 26 Agustus 2017

Kursus LNG yang diinisiasi oleh PII Cabang Makassar pada Hari Sabtu, 26 Agustus 2017 dihadiri oleh 6 peserta yang bergelut di berbagai sektor antara lain migas, infrastruktur, dosen dan pembangkit listrik. Kursus ini dibuka oleh Ketua PII Cabang Makassar, Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT., IPM., ASEAN Eng. yang juga adalah Kepala Departemen Teknik Industri Universitas Hasanuddin berharap ke depan kursus sejenis ini bisa sering dilakukan di level daerah sehingga terjadi distribusi pengetahuan secara merata bagi para Insinyur yang bergelut di proyek-proyek nasional di daerah.

Tiga peserta dari PT Surveyor Indonesia yang saat ini bekerja di proyek pengawasan Pembangkit Listrik di Sulawesi Selatan menyadari bahwa dunia LNG akan segera datang di mana PLN dalam masterplannya merencanakan membangun LNG infrastructures di seluruh Indonesia seperti LNG Hubs dan LNG Receiving Terminal. “Kompetensi LNG sangat perlu buat kami sebagai pengawas proyek dan harapannya untuk setiap proyek infrastruktur LNG ini PT Surveyor Indonesia mampu mengambil peran signifikan” Ujar Ir. Karman. Ir. Talib menambahkan “diskusi LNG ini bisa dilanjutkan lewat group teknis seperti WA group agar pengetahuan terkait LNG semakin bertambah jangan hanya di sesi sehari knowledge sharing ini”.

Hadir juga Ir. Andi Hafizul, IPP peserta terjauh dari Chevron Riau, berharap “LNG bisa menjadi bisnis yang attractive di Indonesia selain LNG adalah bahan bakar yang lebih murah dari oil based fuel juga ramah lingkungan”. Ir. Arfah dan Ir. Rahmat keduanya adalah pengusaha muda yang juga bekerja sebagai profesional dan dosen berharap bisa mengambil peran sebagai subkontraktor atau bagian dari KSO untuk proyek-proyek infrastruktur LNG di Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur.

Sesi knowledge sharing ini diarahkan oleh Ir. Habibie Razak memberikan pemaparan tentang LNG dimulai dari LNG fundamental, LNG market dan LNG technology di dunia saat ini termasuk studi kasus proyek LNG Liquefaction dan LNG Receiving Terminal.

Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Bidang Distribusi Gas PII Pusat

 

 

Indonesia International Geothermal Exhibition and Convention, 2 – 4 August 2017

The event was held at Jakarta Convention Center consisting of Convention and Exhibition from 2 – 4th of August 2017.  As the  the exhibition was free of charge, we just need to register online or upon arrival.

There were some exhibitors we might know already who are playing aggressively in this field such as ORMAT. We went to their booth where Erman & I got brief introduction to their binary patented technology. They mentioned first unit of Sarulla Geothermal previously planned for 65 MW but after decision to go with Binary they could operate on 110 MW capacity. The first unit is under operation for nearly 6 months now.

We also went APEXINDO & SCHLUMBERGER booths where they are actively in geothermal drilling activities. In this exhibition you might have found ESDM Renewable Energy Department Booth, SUPREME and several geothermal suppliers/vendors. One of friends from Star Energy, the company who acquired Chevron G.Salak dan Darajat Geothermal, he did 2 technical paper with regard to geothermal power plant operation and maintenance optimization strategy.

Reported by Habibie Razak – PII Gas Division

Workshop Mini LNG Plant Badan Pelaksana PKB Persatuan Insinyur Indonesia

Badan Pelaksana Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan kembali menggelar inhouse workshop terkait Liquefied Natural Gas (LNG) selama tiga hari di salah satu perusahaan nasional yang diadakan di Cirebon di pertengahan Bulan Juli 2017 ini. Workshop yang dihadiri lebih dari 30 professional berbagai disiplin keinsinyuran dan disiplin terkait berlangsung sangat interaktif. Adalah Ir. Habibie Razak diutus oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sebagai fasilitator di kegiatan ini.

Agenda hari pertama membahas LNG secara umum, antara lain terdiri dari fundamental LNG dan aplikasinya, LNG market di Indonesia dan secara global saat ini, teknologi LNG mulai dari sisi liquefaction, transportation sampai pada sisi receiving terminal. Fasilitator juga di awal hari pertama membuka sesi dengan pre-test terkait LNG ini kepada para peserta workshop. Overall, professional kita memiliki pengetahuan di atas rata-rata terkait LNG. Ke depan, mereka para peserta workshop akan menjadi duta buat perusahaan mengkampanyekan bisnis LNG di Indonesia agar lebih melek dan menggeliat lagi.

 

Agenda hari kedua dan ketiga fokus pada mini LNG plant yang membahas tentang studi kelayakan proyek ini, aspek-aspek apa yang harus diinkorporasi pada kajian FS proyek sejenis baik aspek teknis, regulasi, lingkungan, sosial, dan keekonomiannya. Fasilitator mengungkapkan para investor maupun pengembang proyek mini LNG setidaknya memiliki pengetahuan mumpuni tentang teknologi mini LNG yang ada di dunia saat ini dan bisa melakukan evaluasi terhadap teknologi-teknologi yang ada di fase inisiasi proyek (Pre-FS). Berbicara tentang kriteria penilaian teknologi LNG untuk small to mid scale liquefaction ada beberapa hal yang mesti diperhatikan antara lain:

  • Number of populations in operation including years of operation
  • Guaranteed LNG output
  • Guaranteed schedule for installation & startup
  • Guaranteed refrigerants use
  • Guaranteed electricity consumption
  • Guaranteed fuel consumption (turbine, regeneration, etc.)
  • Guaranteed water consumption.
  • Overall CAPEX
  • Overall OPEX/year
  • Plant Warranty Period
  • Simplified Operation and Quick Startup
  • Smallest Cold-box and life span track record.
  • Less use of SS pipe/cryogenic
  • No series system
  • Reduced equipment count (one compressors, no expanders)
  • Dan kriteria terkait lainnya.

Agenda hari ketiga akhirnya membahas juga tentang strategi mengeksekusi proyek ini pada tahap FEED & EPC. Sesi EPC pada LNG plant paling tidak harus memperhatikan beberapa aspek dan tahapan penting antara lain: Engineering Stage; detailed engineering design (DED) execution strategy, Procurement Stage consist of main equipment purchase (cold-box, refrigerant compressor, DCS, BOG compressor, LNG storage tank, etc.), Global Procurement Strategy, LNG Vendors & Suppliers, Construction, Commissioning & Startup Strategy. Fasilitator juga memberikan beberapa studi kasus tentang mini LNG plant yang pernah dibangun di dunia saat ini untuk aplikasi onshore dan floating.

Semoga dalam waktu dekat banyak mini LNG plant akan beroperasi di Indonesia belajar dari China yang sudah membangun lebih dari 50 mini LNG plant sampai saat ini. Business model LNG di China bisa dijadikan sebagai benchmark untuk dikembangkan di Tanah air.

Terima kasih kepada Bapa Ir. Tjipto Kusumo Ketua Bapel PKB PII dan staffnya Jafar yang selalu proaktif mengadakan kegiatan serupa untuk pengembangan kompetensi keinsinyuran di Indonesia.

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia, Vivat Perusahaan Nasional.

 

AFEO Mid Term Meeting, 16 -18 July 2017

Persatuan Insinyur Indonesia sebagai satu-satunya organisasi profesi Insinyur di Indonesia yang diakui di tingkat Internasional termasuk ASEAN & APEC mengirim delegasinya menghadiri ASEAN Federation of Engineering Organizations (AFEO) mid term yang kali ini dituanrumahi oleh The Institution of Engineers, Singapore (IES) berlangsung dari Tanggal 16 – 18 Juli 2017.

Agenda hari pertama terdiri dari cycling tour dengan berkeliling Kota Singapura selama kurang lebih dua jam dan kemudian dilanjutkan dengan welcoming dinner yang diadakan di restoran Jumbo Crabs seafood di area Clarke Quay River view. Hampir semua delegasi dari setiap negara menghadiri jamuan makan malam ini tak ketinggalan rombongan dari Indonesia di bawah Komando Ir. Habimono. Hadir pada makan malam ini antara lain perwakilan dari PII Cabang Makassar Dr. Ir. Rusman Muhammad, Ir. Taufik Nur, dan Ir. Zakir Sabara Haji Wata. PII Sulawesi Utara mengirimkan Ir. Audi pada AFEO kali ini, tak ketinggalan Ir. Habibie Razak dari PII Pusat dan Ir. Andy Rahmadi dari BKS PII. Ir. Tonny Ketua BK HUT PII bersama Ir. Hadiamin juga menikmati welcoming dinner ini.

Hari kedua adalah sesi mid term meeting yang diadakan di kantor the Institution of Engineers Singapore di area Bukittinggi. Rombongan peserta AFEO mid term dijemput oleh tuan rumah dari Hotel Mercure menuju kantor IES yang sangat besar dan megah ini. Sesi meeting dibagi ke dalam dua ruangan sebagaimana gambar di bawah. Sesi Educational and Capacity Buildings mengangkat topik tentang progress akreditasi pendidikan tinggi di ASEAN, Model CPD untuk sistem sertifikasi ASEAN Engineer dan beberapa topik lainnya.

 

 

Ir. Habibie Razak mewakili Ir. Rudianto Direktur Eksekutif PII mengusulkan agenda presentasi roadmap professional engineer licensing di setiap Negara ASEAN untuk dipresentasekan di CAFEO35 di Bangkok bulan Nopember 2017 ini.  Alangkah baiknya momen CAFEO35 ini dijadikan wadah untuk knowledge sharing dan benchmarking terkait roadmap sertifikasi Insinyur Profesional tadi.

 

 

 

 

 

 

 

Sesi yang tak kalah menariknya adalah Energy Working group session di mana Ir. Yau Chau Fong dari EETD IEM mempresentasekan Electrical Inspection Guidelines for ASEAN Countries yang kemudian mendapatkan respon positif dari forum termasuk dari Ir. Prof. Syamsir Abduh yang mengusulkan agar guideline ini nantinya tetap refer ke IEC standard di mana hampir semua Negara ASEAN mengadopsi standard ini.

 

 

Sesi AFEO Awards yang sempat diikuti oleh tim reporter menginfokan bahwa setidaknya ada 9 wakil dari Indonesia yang diusulkan untuk mendapatkan awards di CAFEO akhir tahun ini. Sesi terakhir yang sempat tim reporter hadiri adalah sesi sustainable cities di mana pada sesi ini chairman memberikan kesempatan kepada para delegasi tiap negara ASEAN untuk mengeluarkan input dan gagasan tentang arah dan tujuan dari sesi working group ini. Dr. Ir. Hermanto Dardak Ketua Umum PII merekomendasikan sebaiknya hasil akhir dari forum ini adalah memformulasikan karakteristik yang harus dimiliki oleh khususnya kota-kota besar di Negara ASEAN untuk mencapai predikat sustainable cities antara lain sustainable transportation, energy efficiency, information and communication technology (ICT), dan atribut-atribut lainnya.

Sesi dinner malam kedua tidak kalah serunya juga dihadiri oleh tim PII dikoordinir langsung Ketum PII. Pada sesi dinner ini kelihatan Dr. Hermanto Dardak sangat interaktif di dalam berdiskusi tentang praktek keinsinyuran di Indonesia dan ASEAN termasuk diskusi MRT Regulatory Issues di Singapore saat ini ditemani oleh Ir. Habibie Razak dan salah satu kawannya Ir. Daniel SMB yang bekerja di salah satu konsultan terkenal di dunia yang juga memiliki kantor di Singapura.

 

 

Sesi hari ketiga yakni AFEO Governing Board meeting diadakan di Hotel Mercure yang kemudian dilanjutkan dengan technical visit pada suatu proyek high rise building di kota Singapura.

 

Salam Insinyur, Bravo AFEO, sukses PII.

 

 


Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Divisi Gas PII Pusat

Focus Group Discussion II Ikatan Alumni Teknik Unhas, 29 Juni 2017

Focus Group Discussion (FGD) kali kedua diadakan sebagai rangkaian dari Perayaan Temu Alumni dan Halal bi Halal Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin yang dilaksanakan di Kota Makassar, Tanggal 28 – 29 Juni 2017. FGD yang dilaksanakan pada Hari Kamis, 29 Juni 2017 di Benteng Fort Rotterdam mengangkat dua topik utama yakni: Waste to Energy dan Roadmap Prodi Perminyakan Fakultas Teknik Unhas.
FGD yang berlangsung selama kurang lebih 7 Jam ini menghadirkan lebih dari 40 alumni yang banyak bergelut di sektor Energi dan Sumber Daya Mineral di seluruh Indonesia dan bahkan luar negeri. Pembukaan FGD oleh Ir. Andi Razak Wawo, Dewan Pembina IKATEK UH dan Ketua IKA Unhas Korwil Jabodetabek.”FGD ini adalah forum untuk berdiskusi bertukar pikiran antarsesama alumni Teknik tentang perkembangan dunia energi di luar sana dan juga sebagai wadah untuk mensinergikan program kerja Fakultas Teknik Unhas termasuk pembukaan Prodi perminyakan akan menjadi momentum paling berkesan di mana para alumni bisa memberikan kontribusi positif di dalam penyiapan program studi ini” Ujar Andi Wawo. “Saya di pagi ini ada acara main Golf juga tapi saya paham betul FGD ini akan menjadi prioritas saya supaya bisa bergabung dengan kawan-kawan profesional di tempat yang berbahagia ini” Ketua IKA UH Jabodetabek ini menimpali.

Sesi pertama FGD dengan topik Waste to Energy (WTE) dihadirkan oleh Ir. Jacky Latuheru, IPM, professoional engineer Indonesia yang sudah malang melintang di bisnis WTE dan renewable energy projects di Indonesia dan luar negeri. Ir. Jacky terakhir bergabung dengan International Financing Center, a World Bank Group dan juga Resources and Waste Advisory (RWA) Group afilasi dari GIZ dan KFW Development Bank. Sesi pertama yang berlangsung lebih dari 3 jam ini terdiri dari paparan dan tanya jawab berlangsung sangat interaktif.

Jacky dalam paparannya, Waste-to-Energy (WtE) or energy-from-waste (EfW) is the process of generating energy in the form of electricity and/or heat from the primary treatment of waste. WtE is a form of energy recovery. Most WtE processes produce electricity and/or heat directly through combustion, or produce a combustible fuel commodity, such as methane, methanol, ethanol or synthetic fuels. Sedangkan teknologi WTE yang ada saat ini terdiri dari: (1) Incineration yaitu: The combustion of organic material such as waste with energy recovery, is the most common WtE implementation. Instalasi insinerasi modern sangat berbeda dari jenis yang lama, beberapa di antaranya tidak menghasilkan energi atau material. Insinerator modern saat ini mengurangi volume asli sampah sebesar 95-96 persen, tergantung pada komposisi dan tingkat pemulihan bahan seperti logam dari abu untuk didaur ulang. Insinerator dapat memancarkan partikulat halus, logam berat, jejak dioksin dan gas asam. Diperlukan pengelolaan residu yang tepat: abu terbang beracun, yang harus ditangani dalam instalasi pembuangan limbah B3 serta insinerator bottom ash (IBA) yang harus digunakan kembali dengan benar. Menurut Kementerian Lingkungan Jerman, “karena peraturan yang ketat, instalasi insinerasi limbah tidak lagi penting terkait emisi dioksin, debu, dan logam berat”. (2) Thermal Technologies: terdiri dari a) Gasification, produces combustible gas, hydrogen, synthetic fuels. Thermal depolymerization: produces synthetic crude oil, which can be further refined. Pyrolysis: produces combustible tar/biooil and chars. Plasma arc gasification or plasma gasification process (PGP): produces rich syngas including hydrogen (H) and carbon monoxide (CO) usable for fuel cells or generating electricity to drive the plasma arch, usable vitrified silicate and metal ingots, salt and sulphur. (3) Non-thermal technologies: terdiri dari a) Anaerobic digestion: Biogas rich in methane, b) Fermentation production: examples are ethanol, lactic acid, hydrogen, C) Mechanical biological treatment (MBT), d) MBT + Anaerobic digestion dan e) MBT to Refuse Derived Fuel.

Bagaimana dengan prospek proyek WTE di Indonesia? Menurut UU No. 18/2008, setiap kabupaten/kota wajib mengelola sampah-sampah yang ada. Namun mayoritas kabupaten/kota tidak memiliki kemampuan mendanai proyek ini dan juga ahli untuk mengelola sampah secara tepat dan benar. UU lainnya terkait WTE ini antara lain: UU No 22/1999 – Undang-undang ini mengalokasikan banyak tanggung jawab kepada pemerintah daerah yang sebelumnya berada dalam wilayah pemerintahan pusat. UU No 25/1999 – Memberi sarana fiskal kepada pemerintah daerah untuk menerapkan tanggung jawab undang-undang baru mereka, termasuk pelayanan perkotaan seperti pengelolaan sampah kota.
Skema pembelian listrik menurut Permen ESDM No. 44/2015 seperti di bawah:

Namun kemudian PERMEN ini teranulir dengan sendirinya setelah dikeluarkannya PERMEN ESDM No. 12/2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik. Dalam PERMEN ini disebutkan bahwa dalam hal Biaya Pokok Penjualan (BPP) pembangkitan di sistem ketenaglistrikan setempat di atas rata-rata BPP pembangkitan nasional, harga patokan pembelian tenaga listrik dari PLTSa paling tinggi sebesar BPP pembangkitan di sistem ketenagalistrikan setempat. Di mana harga pembelian tenaga listrik dari PLTSa ditetapkan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak. Pada PERMEN ini PLN akan membeli listrik dari penyedia (IPP) tidak lebih dari Biaya Pokok Penjualan (BPP) sekaligus menyimpulkan bahwa prospek WTE tidak akan sebagus dulu pada saat PERMEN sebelumnya masih berlaku.
Sehingga tantangan-tantangan yang dihadapi terkait WTE projects ini adalah antara lain: Peraturan nasional yang diterbitkan tidak mendukung pengembangan EBT khususnya Sampah Kota, Peraturan tentang Feed in tariff yang tidak mendukung perkembangan investasi pembangunan WtE dan Pemerintah Daerah belum memiliki fleksibilitas menyangkut perlunya dukungan alokasi dana pengelolaan sampah di TPA (Tipping Fee).

Di akhir sesi pertama ini dibuka sesi tanya jawab dan 3 pertanyaan dari para alumni antara lain: Pak Sanapsir Mahe Direktur PUSTEK E&T, Rizkie Abidin Direktur Mutu dan Pengembangan LPTM dan Isnaeni – Direktur ENKA Energy. Inti dari pertanyaan mereka adalah WTE projects ini akan bisa diimplementasikan di Indonesia, sampai di mana optimisme dari para pelaku bisnis ini dan kira-kira apakah Pemerintah Indonesia akan lebih bersahabat dengan mengeluarkan peraturan pemerintah dan peraturan menteri agar proyek ini bisa economically viable di mata investor baik lokal maupun FDI.
Habibie Razak memoderasi sesi pertama ini mengawal sesi paparan dan tanya jawab berlangsung alot dan interaktif. Habibie sangat aktif melakukan penelitian terhadap inisiatif proyek Waste to Energy projects. Habibie rajin menulis tentang MSW to Energy termasuk pemanfaatan teknologi gasifikasi untuk menghasilkan bahan bakar pesawat. Jacky dan Habibie sama-sama melihat potensi besar di bisnis ini di masa depan. Habibie kesehariannya adalah senior project manager dan business development di salah satu perusahaan Perancis dan Belgia yang bergerak di bidang investasi, engineering dan konsultasi sektor energi dan infrastruktur.

Sesi kedua adalah Roadmap Teknik Perminyakan Unhas yang dibawakan oleh Ir. Asri Jaya, MT dimoderasi oleh Ir. Firmansyah Arifin – Manager Drilling di salah satu perusahaan ternama di Indonesia. Agenda presentasi Ir. Asri antara lain: Latar Belakang inisiatif didirikannya T. Perminyakan Unhas, Mekanisme Pembukaan Prodi Baru, Struktur Organisasi T. Perminyakan Unhas, Borang Akreditasi T. Perminyakan Unhas dan Roadmap Teknik Perminyakan Unhas. Sesi yang berlangsung selama kurang lebih dua jam ini juga berlangsung sangat dinamis dan interaktif.
Ir. Asri dalam paparannya menyampaikan bahwa latar belakang pembentukan prodi ini antara lain: 1) Orientasi pencarian MIGAS di Indonesia Barat ke Timur dimana UNHAS sebagai institusi pendidikan terkemuka berada di wilayah ini. 2) Paradigma eksplorasi MIGAS di deepwater area selaras dengan visi-misi Unhas (maritime continent). 3) Prodi Geologi-Pertambangan (upstream) telah ada, dibutuhkan prodi yang selaras seperti Perminyakan (downstream). 4) Tantangan masa depan – perkembangan unconventional energy (Coal Bed Mathane, Tight Gas Reservoir, dan Deepwater Reservoir).

Adapun mekanisme pembentukan prodi baru di Unhas sebagai Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN-BH) tidak serumit sebelumnya di mana tim kelembagaan yang dimotori oleh Pimpinan Fakultas memasukkan proposal dan kemudian melalu proses evaluasi oleh UP3K, verifikasi oleh Senat Akademik dan penerbitan SK pendirian oleh rektor dan akreditasi oleh BAN PT. “Kita berharap prodi perminyakan ini sudah bisa melakukan penerimaan mahasiswa baru tahun depan dan memenuhi target menerima 40 mahasiswa baru.

Ir. Asri dalam paparannya menyampaikan bahwa teknik perminyakan ini melibatkan berbagai disiplin ilmu antara lain: teknik sipil, teknik mesin, teknik elektro, teknik kimia, teknik lingkungan, teknik fisika, geologi dan lainnya. Menurut aturan DIKTI dan BAN-PT syarat pendirian prodi adalah Unhas harus memiliki minimum 6 dosen homebase. Untuk memperkuat staff pengajar prodi ini dibutuhkan dosen yang berstatus NIDK yang sesuai Pasal 6 Permendikti No.2/2016 antara lain: (1) NIDK diberikan kepada Dosen yang diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja setelah memenuhi persyaratan.
(2) Dosen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berasal dari Pegawai Negeri Sipil, Tentara Nasional Indonesia, Polisi Republik Indonesia, perekayasa, peneliti, praktisi, atau dosen purna tugas. (3) Dosen yang memiliki NIDK diperhitungkan dalam nisbah dosen terhadap mahasiswa. Rekomendasi kepada Rektor untuk juga merekrut dosen yang berstatus NIDK ini.

Profil Lulusan Prodi Teknik Perminyakan Unhas yang diharapkan adalah Insinyur Perminyakan (Petroleum Engineers), Insinyur reservoir (Reservoir Engineers), Insinyur Pengeboran (Drilling engineers), Konsultan Perminyakan (Entrepreneurship), Peneliti, Akademisi dan Pengelola Kebijakan Perminyakan. Sedangkan bidang kerja teknik perminyakan setidaknya mencakup Reservoir Engineering, Drilling Engineering, Production Engineering, Surface Preparation facilities dan Integrated Field Development project.

Sesi kedua tanya jawab dibuka oleh Ir. Firmansyah Arifin memberikan kesempatan kepada beberapa penanya antara lain. Ir. Theo Duma – pakar upstream development di salah satu perusahaan energi terkemuka di Indonesia sekaligus membagikan secara simbolis buku terkait pengembangan sektor hulu migas kepada Ir. Asri. Di sesi kedua tanya jawab ini juga, Ir. Safri Burhanuddin, Deputy Kementerian Kemaritiman yang menyempatkan hadir setelah menemani kunjungan Pak JK ke Fakultas Teknik Unhas di Gowa menyampaikan pesan kepada pihak tim kerja pembentukan prodi ini bahwa “untuk bisa mensukseskan pembentukan prodi ini tidak hanya dengan cara “business as usual” tapi dibutuhkan pemikiran dan aksi out of the box. Bahwa pada saat ini memang sektor eksplorasi minyak lagi mengalami penurunan tapi yang dipikir secara panjang adalah apa yang dilakukan saat ini adalah untuk kebutuhan masa depan Indonesia Timur di mana masih banyak potensi migas yang belum teridentifikasi secara maksimal”. Ir. Andi Razak Wawo sebagai penanya ketiga juga menyampaikan hal yang sama bahwa aktifitas eksplorasi harus lebih ditingkatkan lagi dan Unhas harus bisa mengambil peran signifikan terutama di Indonesia Timur di masa depan.

Terima kasih sebesar-besarnya atas kerja cerdas dari Panitia pelaksana yang dimotori oleh Asbar Amri, salah satu profesional muda yang saat ini proaktif di sektor migas Indonesia.

Salam Insinyur, Bravo IKATEK UH.
Reportase: Ketua Badan Otonomi Pengembangan Profesi Insinyur, DPP IKATEK UH.

 

 

Diskusi Seputaran Liquefied Natural Gas BAPEL PKB PII Pusat, 10 Juni 2017

Badan Pelaksana Pengembangan Keprofesionalan Berkelanjutan (BAPEL PKB) Persatuan Insinyur Indonesia Pusat kembali mengadakan pelatihan keinsinyuran bagi para Insinyur dan Insinyur Profesional Indonesia yang kali ini dengan topik Liquefied Natural Gas di Hotel Ibis Senen, Tanggal 10 Juni 2017. Pelatihan kali ini dihadiri oleh 5 professional yang bergerak di berbagai sektor termasuk konsultan pembangkit dan infrastruktur migas, konstruksi sipil beton pracetak dan sektor lainnya.

Diskusi seputaran LNG ini memasukkan sub-topik tentang fundamental LNG terdiri dari definisi, benefit dan aplikasinya. Pengenalan teknologi LNG juga menjadi bahan diskusi panjang antara peserta dan instruktur dimulai dari LNG liquefaction, LNG transporter (carrier, trucking, and barging), LNG receiving terminal, LNG satellite station (LNG refueling dan LNG bunkering) dan lainnya. Tujuan utama dari pelatihan ini antara lain:

  • Memperkenalkan bisnis LNG kepada para Insinyur termasuk Business Developer yang sementara dan akan menekuni bisnis ini.
  • Memberikan informasi minimum tentang LNG supply chain termasuk instalasi LNG.
  • Memperkenalkan konsep dan fungsionalitas infrastruktur LNG.
  • Memberikan studi kasus tentang manajemen proyek terkait infrastruktur LNG.

Event kali ini dibuka oleh Jafar staff BAPEL PKB PII Pusat mewakili Bapak Ir. Tjipto Kusumo yang tidak menyempatkan hadir karena tugas ke luar negeri. Pelatihan yang berlangsung sehari ini berlangsung sangat interaktif dan acara ditutup oleh Habibie Razak mewakili Bapel PKB PII yang juga kali ini ditugaskan menjadi Instruktur.

Salam Insinyur, Sukses Persatuan Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Habibie Razak, Sekretaris Bidang Distribusi Gas, PII Pusat.