Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Universitas Katolik Parahyangan bekerjasama dengan Badan Kejuruan Kimia (BKK PII) dan Badan Kejuruan Sipil (BKS PII) menyelenggarakan seminar keinsinyuran dengan topik Akselerasi Teknologi Dekarbonisasi Menuju Indonesia Net Zero Emission: Perspektif Proses dan Infrastruktur yang diselenggarakan hari Sabtu, 31 Oktober 2026 mulai Pukul 08.00-12.00 WIB di Ruang Advis Lantai 1, Gedung 3 FISIP UNPAR.

Dekan Fakultas Teknik Ir. Budijanto Widjaja, S.T., M.T., Ph.D dan Kaprodi Program Profesi Insinyur Ir. Tony Handoko, ST., MT., IPM memberikan sambutan sekaligus membuka acara seminar keinsinyuran ini yang menghadirkan 3 pembicara antara lain: Dr. Ir. Sripeni Inten, MM. IPM., ASEAN Eng, Ketua Badan Kejuruan Kimia PII yang juga merupakan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Ir. Triharyo Soesilo, M.Che., IPM yang biasa dipanggil Pak Hengki, Wakil Ketua Green Economic Council dan Ir. Habibie Razak, Ketua Badan Kejuruan Sipil PII yang juga sebagai Regional Director (Energy), Surbana Jurong Group, Indonesia.

Ir. Habibie Razak dalam presentasinya “Decarbonise to Thrive: Unleashing the Power of the Seven Pillars for Industrial Decarbonisation” memperkenalkan sebuah kerangka kerja praktis untuk membantu sektor industri mencapai target Net Zero melalui tujuh pilar dekarbonisasi yang saling terintegrasi. Kerangka ini menegaskan bahwa dekarbonisasi tidak dapat dicapai hanya dengan satu teknologi atau solusi tunggal, melainkan membutuhkan kombinasi peningkatan efisiensi operasional, transisi energi, pengelolaan karbon, solusi berbasis alam, serta perubahan perilaku.

Tujuh pilar tersebut meliputi: efisiensi operasional dan ekonomi sirkular, peralihan menuju gas alam sebagai bahan bakar transisi, pengembangan utilitas rendah karbon, pemanfaatan bahan bakar rendah karbon seperti hidrogen, amonia, dan biofuel, teknologi penangkapan, pemanfaatan, dan penyimpanan karbon (CCUS), pemanfaatan penyerap karbon alami (natural sinks), serta perubahan perilaku individu dan organisasi. Masing-masing pilar berkontribusi dalam mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga daya saing dan ketahanan energi industri.

Presentasi ini juga menampilkan berbagai studi kasus dari Singapura, Inggris, Malaysia, Indonesia, dan Filipina yang menunjukkan bagaimana strategi dekarbonisasi dapat diterapkan secara nyata melalui pengembangan kawasan industri Net Zero, penggunaan energi terbarukan, infrastruktur hidrogen, biofuel, teknologi CCUS, hingga solusi berbasis ekosistem seperti blue carbon.

Kesimpulan utama dari presentasi ini adalah bahwa pencapaian Net Zero memerlukan pendekatan holistik yang menggabungkan teknologi, kebijakan, investasi infrastruktur, kolaborasi lintas sektor, dan perubahan perilaku. Dengan mengintegrasikan ketujuh pilar tersebut, pemerintah, kawasan industri, dan pelaku usaha dapat membangun jalur transisi yang realistis menuju ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan.

Seminar ini dihadiri setidaknya 150 orang yang hadir offline dan 100 peserta dari zoom platform.

