Seminar Nasional Infrastruktur Kebandaraan, BK Sipil PII & UNSOED, 11 Juni 2026

Hari Kamis pagi, 11 Juni 2026 di Kampus Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman, masih menjadi rangkaian dari Roadshow Pengurus BK Sipil ke daerah, hari ini Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) Ir. Habibie Razak, FIEAust., EngExec., IntPE(Aus) memberikan sambutan pada Kuliah Umum dengan tema “Inovasi, Kebijakan &Tantangan Teknik Sipil dalam Mewujudkan Infrastruktur Bandara; Akselerasi Pembangunan dan Inovasi Teknologi Infrastruktur Bandara Modern di Inovasi”.

Dalam sambutannya, Ir. Habibie Razak menyampaikan beberapa hal yang mungkin bisa menjadi masukan secara umum untuk pengembangan infrastruktur berkelanjutan di Indonesia termasuk proyek infrastruktur bandara. BK Sipil selalu sudah kemudian menambahkan new competency requirement untuk para Civil Engineer lulus kompetensi Chartered Engineer certification antara lain:

  • Mampu mendemonstrasikan sustainable design credentials merespons kebutuhan client termasuk usaha untuk mengurangi penggunaan material tanpa mengurangi kekuatan dari struktur
  • Mampu melakukan perhitungan karbon untuk memenuhi persyaratan carbon footprint seperti syarat 200 kgCO2equivalent/m2 untuk bangunan
  • Mampu beradaptasi dalam hal penggunaan digital tools yang mensupport kolaborasi, modelling dan carbon tracking. Tools yang dimaksud antara lain BIM, Life Cycle Assessment (LCA), data analysis platform dan digital twin system & IoT integration.

Tentunya BK Sipil PII akan mengadopsi international requirement ini supaya Insinyur Indonesia juga bisa go beyond their homeland, mampu dan sukses bekerja dan berpraktik keinsinyuran di luar negeri dan tidak lupa untuk sharing pengetahuan dan pengalamannya kepada para Insinyur-insinyur kita di dalam negeri.

Kerjasama antara BK Sipil PII dan Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman menghadirkan narasumber antara lain:

  • Prof. Sakti Adji Adisasmita, IPU., ASEAN Eng. – Aviation Specialist
  • Antofany Yuniar Saputra – Senior Executive Project Manager, SJ Group
  • Dr. Ir. Lucky Caroles IPU- Transport Expert, UNHAS
  • Ir. Festy Aditama – VP Engineering & Quality, WIKA Beton.
    Acara seminar dimoderasi oleh Ir. Arinova G Utama Direktur Eksekutif BK Sipil PII.

Prof Sakti Adji Adisasmita sebagai keynote speaker memaparkan bahwa bandar udara modern telah berkembang dari sekadar fasilitas transportasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan pengembangan wilayah. Seiring meningkatnya urbanisasi dan munculnya mega city, kebutuhan akan mega airport dengan kapasitas dan kualitas layanan yang tinggi juga semakin besar. Konsep ini memandang bandara sebagai bagian dari sistem perkotaan yang terintegrasi, di mana konektivitas, aksesibilitas, dan pengembangan kawasan di sekitar bandara menjadi faktor penting dalam mendukung mobilitas manusia dan barang serta memperkuat daya saing ekonomi suatu wilayah.

Lebih lanjut, Prof Sakti juga memperkenalkan konsep Airport City dan Aerotropolis, yaitu pengembangan kawasan yang menjadikan bandara sebagai pusat aktivitas bisnis, logistik, perdagangan, dan industri. Dalam pendekatan ini, bandara tidak hanya menghasilkan pendapatan dari aktivitas penerbangan, tetapi juga dari sektor non-aeronautika seperti kawasan komersial, pergudangan, perhotelan, dan pengembangan properti. Keberhasilan implementasinya memerlukan perencanaan yang matang, konektivitas transportasi multimoda, kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, serta dukungan kebijakan tata ruang yang berkelanjutan.

Selain aspek fisik dan ekonomi, materi juga menyoroti pentingnya penerapan konsep smart airport, eco airport, dan airport sustainability planning untuk menjawab tantangan masa depan. Pemanfaatan teknologi digital, Internet of Things (IoT), dan sistem operasi cerdas diharapkan dapat meningkatkan efisiensi operasional, sementara prinsip keberlanjutan diarahkan pada konservasi sumber daya, pengurangan dampak lingkungan, dan peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat. Pengembangan bandar udara modern juga didukung melalui berbagai skema pembiayaan, termasuk Public Private Partnership (PPP/KPBU), guna mempercepat pembangunan infrastruktur sekaligus menjaga keberlanjutan investasi dan pelayanan publik.

Sementara itu, Antofany Yuniar perwakilan dari Konsultan Global menjelaskan bahwa pembangunan Dhoho International Airport tidak hanya ditujukan sebagai fasilitas transportasi udara, tetapi juga sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional dan meningkatkan konektivitas di Jawa Timur bagian selatan.

Bandara ini merupakan proyek strategis nasional yang dibangun melalui skema Public Private Partnership (PPP) dengan investasi swasta, menjadikannya contoh kolaborasi antara sektor publik dan swasta dalam pengembangan infrastruktur. Dengan landasan pacu sepanjang 3.300 meter yang mampu melayani pesawat berbadan lebar serta terminal yang dirancang untuk pengembangan bertahap, Dhoho diposisikan sebagai gerbang utama bagi sektor pariwisata, industri, dan perdagangan di wilayah Kediri dan sekitarnya.

Dari perspektif rekayasa sipil, Antofany menekankan bahwa desain bandar udara mengikuti suatu design cascade, di mana keputusan mengenai pesawat rencana (design aircraft) dan kondisi angin menjadi dasar bagi seluruh proses perencanaan. Faktor-faktor tersebut menentukan orientasi dan panjang landasan pacu, standar geometrik, kapasitas perkerasan, tata letak taxiway dan apron, hingga desain terminal dan sistem akses darat. Studi kasus Dhoho
International Airport menunjukkan bahwa perencanaan yang matang memungkinkan pembangunan infrastruktur yang mampu mengakomodasi kebutuhan jangka panjang, meskipun pada tahap awal operasional masih didominasi oleh lalu lintas pesawat berbadan sempit.

Selain fungsi transportasi, materi ini juga memperkenalkan konsep airport-led development, yaitu menjadikan bandar udara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Dhoho International Airport direncanakan menjadi inti dari kawasan industri terpadu seluas sekitar 1.200 hektare yang terhubung dengan jaringan jalan tol dan pusat kota Kediri. Pengembangan ini sejalan dengan kebijakan nasional seperti hilirisasi industri, Making Indonesia 4.0, dan target Net Zero Emission, sehingga bandara diharapkan dapat berperan sebagai katalis investasi, logistik, dan
industrialisasi berkelanjutan di Jawa Timur.

Pembicara ketiga, Dr. Lucky Caroles, menyoroti bahwa bandar udara bukan sekadar fasilitas transportasi, tetapi merupakan simpul strategis yang mendorong konektivitas, pertumbuhan ekonomi, dan pengembangan wilayah.
Sebagai negara kepulauan dengan ratusan bandar udara yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam penyediaan dan pemeliharaan infrastruktur penerbangan. Keberagaman kondisi geografis, mulai dari wilayah perkotaan, kepulauan, pegunungan, hingga daerah rawan bencana, menuntut pendekatan perencanaan dan pengelolaan infrastruktur yang adaptif dan inovatif.

Materi ini juga menjelaskan bahwa keberhasilan infrastruktur bandara tidak hanya ditentukan oleh tahap perencanaan dan konstruksi, tetapi juga oleh kemampuan mempertahankan kinerja struktur selama puluhan tahun operasi. Perubahan lalu lintas pesawat, variasi mutu konstruksi, dan pengaruh lingkungan dapat menyebabkan kondisi aktual berbeda dengan asumsi desain awal. Oleh karena itu, evaluasi kapasitas struktural secara berkala menjadi kebutuhan penting, salah satunya melalui metode Heavy Weight Deflectometer (HWD) yang digunakan untuk menilai kemampuan perkerasan runway, menentukan nilai ACR/PCR, memperkirakan sisa umur layanan, serta mendukung keputusan pemeliharaan dan perkuatan struktur.

Sebagai bentuk inovasi, pembicara memperkenalkan konsep pengembangan Alat Pengujian Kekuatan Struktur Perkerasan Bandar Udara Tipe Kecil (APTURA-LANBA) yang dirancang lebih ringan, mudah dimobilisasi, dan lebih ekonomis dibandingkan HWD konvensional. Inovasi ini diharapkan dapat memperluas akses evaluasi struktural pada bandar udara kecil dan daerah terpencil, sekaligus membuka peluang riset lanjutan berbasis sensor digital untuk pemantauan kondisi infrastruktur secara lebih efisien. Pendekatan tersebut menjadi langkah strategis dalam meningkatkan keselamatan, keandalan, dan keberlanjutan layanan infrastruktur bandar udara di Indonesia.

Narasumber terakhir, Ir. Festy perwakilan WIKA Beton menuturkan bahwa pembangunan bandara modern tidak hanya berfokus pada penyediaan landasan pacu, tetapi juga pada pengembangan suatu sistem infrastruktur yang
terintegrasi. Teknologi beton memegang peranan penting dalam mendukung berbagai komponen bandara, mulai dari runway, taxiway, apron, terminal, akses jalan, hingga sistem drainase dan utilitas. Infrastruktur tersebut harus mampu memenuhi tuntutan keselamatan, ketahanan terhadap beban pesawat, keawetan jangka panjang, kecepatan konstruksi, serta prinsip pembangunan berkelanjutan.

Ir. Festy sebagai salah satu penerima Srikandi Indonesia Infratstruktur Award 2025, juga menekankan bahwa kualitas perkerasan kaku (rigid pavement) bandara sangat bergantung pada pengendalian mutu secara menyeluruh, mulai dari desain campuran beton, workability, temperatur beton, proses transportasi, finishing, curing, hingga pengaturan sambungan (joint). Selain itu, penerapan teknologi beton pracetak (precast) pada terminal, gedung parkir, akses jalan, dan fasilitas pendukung lainnya dinilai mampu meningkatkan efisiensi waktu pelaksanaan, menjaga konsistensi kualitas, serta mendukung percepatan pembangunan infrastruktur bandara.

Sebagai penutup, Ir. Festy menyoroti pentingnya kolaborasi antara regulator, pemilik proyek, akademisi, perencana, kontraktor, dan industri dalam mengembangkan infrastruktur bandara masa depan. Inovasi seperti penggunaan beton rendah karbon (low carbon concrete), optimalisasi desain campuran, substitusi sebagian semen dengan supplementary cementitious materials (SCM), serta pengurangan limbah konstruksi menjadi langkah strategis untuk mewujudkan bandara yang tidak hanya andal dan aman, tetapi juga lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman, Prof Agus Maryoto, IPU., ASEAN Eng dan dihadiri setidaknya 50 peserta dari berbagai unsur (praktisi, akademisi, dan mahasiswa).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.