Seminar Nasional K3 Konstruksi, Universitas Muhammadiyah Purwokerto, 10 Juni 2026

Hari ini Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) Ir. Habibie Razak, FIEAust., EngExec., IntPE(Aus) memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa(i), dosen dan alumni Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMP) dengan judul “The Role of Professional Engineers in Creating Safe Construction”.



Acara ini di-organize oleh Himpunan Mahasiswa Sipil UMP dan dituanrumahi oleh Dekan FT UMP, Bapak Ir. Agung Setiawan, MT.



Sesi kuliah umum berlangsung interaktif dimoderasi Ibu Indri Nurtiyani Hakim, ST., MT. Setelah sesi presentase selama 60 menit yang kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Ir. Habibie Razak dalam paparannya memberikan wawasan terutama kepada mahasiswa(i) bagaimana roadmap menjadi Insinyur Profesional dan mendapatkan pengakuan internasional. Ir. Habibie juga memberikan resep atau kiat-kiat perencanaan karir efektif untuk fresh graduate.

Keselamatan konstruksi menjadi sangat penting untuk dilaksanakan dan usaha-usaha ini berada di bawah tanggung jawab Insinyur Profesional demi mencapai tujuan antara lain: keselamatan publik, kualitas infrastruktur, meningkatkan accountability dan mengurangi kegagalan desain atau pun malpraktik keinsinyuran.

Kembali kepada kasus runtuhnya Jembatan Quebec di awal 1900-an di mana root causenya antara lain engineering design deficiencies, lack of technical competency, poor decision making and inadequate professional oversight sehingga kita meyakini bahwa keselamatan konstruksi itu bukan hanya isu-isu di lokasi proyek atau di lapangan tapi juga adalah tanggung jawab desain atau perencanaan. Proyek haruslah dipimpin oleh Insinyur Profesional (design and construction phase).

Ir. Habibie kembali mengingatkan bahwa titel Insinyur Profesional di Indonesia diadopsi dari terminologi “Professional Engineer” dari negara maju seperti US, Canada, Australia, New Zealand, Singapore, Malaysia yang mengimplementasikan lebih awal. Standar kompetensi keinsinyuran kita tidak boleh lebih rendah dari negara-negara maju tadi sehingga kita bisa melahirkan Insinyur Indonesia yang bukan hanya berkompetisi di skala nasional tapi di skala global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.