PROGRAM STUDI PROGRAM PROFESI INSINYUR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA kembali menyelenggarakan Webinar “KULIAH UMUM, PEMBEKALAN DAN WORKSHOP PENYUSUNAN DOKUMEN PORTOFOLIO KEINSINYURAN”

Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ir. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D. (Kepala Subdirektorat Kawasan Sains dan Teknologi (KST) – UB), Ir. Habibie Razak, IPU., FIEAust., EngExec., CPEng., APEC Eng., IntPE(Aus) – Regional Director (Energy), Indonesia & ASEAN, Surbana Jurong Group yang juga adalah Ketua BK Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) dan Dr. Ir. Taufik Nur, S.T., M.T,. IPU., ASEAN Eng., CSCA, CSSCP., APEC Eng. (Sekretaris Program Studi Program Profesi Insinyur FTI-UMI).

Tema kuliah umum kali ini adalah “Engineering Contemporary Opportunities In this Energy Transition Era” dibawakan oleh Ir. Habibie Razak yang berlangsung Sabtu pagi, 24 JANUARI 2026, Pukul 09.00-12.00 WITA (Waktu Makassar).

Ir. Habibie Razak dalam paparannya kembali mengingatkan bahwa praktik keinsinyuran profesional selalu bertumpu pada 3 elemen penting yakni Etika, Pengetahuan dan Pengalaman, ketiga-tiganya haruslah jalan beriringan agar kita para Insinyur dan Insinyur Profesional bisa terhindar dari kasus-kasus malpraktik keinsinyuran seperti kasus runtuhnya Jembatan Quebec di Canada di tahun 1907 dan kasus meledaknya jalur pipa gas di Massachussets, Amerika di tahun 2018 yang bukan hanya menelan kerugian material tapi juga korban jiwa pada pekerja konstruksi maupun masyarakat umum.

Ir. Habibie menjelaskan perbedaan mendasar antara praktik profesi keinsinyuran dan praktik profesi kedokteran “Sarjana Kedokteran baru bisa melakukan praktik kedokteran secara mandiri setelah mengikuti program koas (co-assistant) selama 1,5 – 2 tahun sedangkan Seorang Insinyur baru bisa menyelenggarakan praktik keinsinyuran secara mandiri setelah menyandang predikat sebagai Insinyur Profesional Madya (IPM). Jenjangnya jelas untuk bisa praktik keinsinyuran secara mandiri, setelah ikut program profesi insinyur baru kemudian ikut program sertifikasi Insinyur Profesional, mendapatkan gelar Insinyur Profesional Madya (IPM) dan STRI (Madya)” papar Ir. Habibie.

Di slides utama Ir. Habibie, Beliau menjelaskan ada 4 subsektor utama yang merupakan bagian dari sektor energi antara lain: Renewable Energy (Solar, Wind, Geothermal, Hydro, others), Energy Transition (BESS, EV Ecosystem, Supergrid, Industrial Transformation, Data Centre, CCS), Fuels (Bio-energy, WTE, Upstream Oil & Gas, Refinery, Petrochemicals, Mining, Smelters & Mineral Downstreaming) dan Power & Gas (incl. LNG terminals, T&D). Sektor energi ini sangat multidisiplin dan menuntut Insinyur Indonesia untuk memiliki kompetensi interdisipilin. “Semisal, saya sebagai Insinyur Sipil juga harus mampu memiliki kompetensi bidang keinsinyuran lainnya seperti mekanikal, elektro, instrumen and kontrol sehingga saya bisa menjalankan peran saya sebagai project manager pada proyek-proyek sektor energi ini” lanjut Habibie.
Beberapa contoh proyek energi yang menjadi primadona yang diminati oleh Insinyur di dunia termasuk Indonesia saat ini antara lain proyek PLTS Terapung, proyek Data Centre, Proyek Hilirisasi Mineral, Carbon Management dan banyak lagi.
Sesi Kuliah Umum ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI), Prof Dr. Ir. Lamatinulu, IPU., ASEAN Eng dan dimoderasi oleh Sekretaris PSPPI FTI UMI yang juga saat ini sebagai Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Program Profesi Insinyur se-Indonesia, Dr. Ir. Taufik Nur, IPU., APEC Eng., ASEAN Eng.































































