Category Archives: Aktifitas Organisasi

Kuliah Umum PSPPI FTI UMI “Engineering Contemporary Opportunities in the Energy Transition Era”, 24 Januari 2026

PROGRAM STUDI PROGRAM PROFESI INSINYUR FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA kembali menyelenggarakan Webinar “KULIAH UMUM, PEMBEKALAN DAN WORKSHOP PENYUSUNAN DOKUMEN PORTOFOLIO KEINSINYURAN”


Kegiatan ini menghadirkan Prof. Ir. Sugiono, S.T., M.T., Ph.D. (Kepala Subdirektorat Kawasan Sains dan Teknologi (KST) – UB), Ir. Habibie Razak, IPU., FIEAust., EngExec., CPEng., APEC Eng., IntPE(Aus) – Regional Director (Energy), Indonesia & ASEAN, Surbana Jurong Group yang juga adalah Ketua BK Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) dan Dr. Ir. Taufik Nur, S.T., M.T,. IPU., ASEAN Eng., CSCA, CSSCP., APEC Eng. (Sekretaris Program Studi Program Profesi Insinyur FTI-UMI).


Tema kuliah umum kali ini adalah “Engineering Contemporary Opportunities In this Energy Transition Era” dibawakan oleh Ir. Habibie Razak yang berlangsung Sabtu pagi, 24 JANUARI 2026, Pukul 09.00-12.00 WITA (Waktu Makassar).

Ir. Habibie Razak dalam paparannya kembali mengingatkan bahwa praktik keinsinyuran profesional selalu bertumpu pada 3 elemen penting yakni Etika, Pengetahuan dan Pengalaman, ketiga-tiganya haruslah jalan beriringan agar kita para Insinyur dan Insinyur Profesional bisa terhindar dari kasus-kasus malpraktik keinsinyuran seperti kasus runtuhnya Jembatan Quebec di Canada di tahun 1907 dan kasus meledaknya jalur pipa gas di Massachussets, Amerika di tahun 2018 yang bukan hanya menelan kerugian material tapi juga korban jiwa pada pekerja konstruksi maupun masyarakat umum.

Ir. Habibie menjelaskan perbedaan mendasar antara praktik profesi keinsinyuran dan praktik profesi kedokteran “Sarjana Kedokteran baru bisa melakukan praktik kedokteran secara mandiri setelah mengikuti program koas (co-assistant) selama 1,5 – 2 tahun sedangkan Seorang Insinyur baru bisa menyelenggarakan praktik keinsinyuran secara mandiri setelah menyandang predikat sebagai Insinyur Profesional Madya (IPM). Jenjangnya jelas untuk bisa praktik keinsinyuran secara mandiri, setelah ikut program profesi insinyur baru kemudian ikut program sertifikasi Insinyur Profesional, mendapatkan gelar Insinyur Profesional Madya (IPM) dan STRI (Madya)” papar Ir. Habibie.

Di slides utama Ir. Habibie, Beliau menjelaskan ada 4 subsektor utama yang merupakan bagian dari sektor energi antara lain: Renewable Energy (Solar, Wind, Geothermal, Hydro, others), Energy Transition (BESS, EV Ecosystem, Supergrid, Industrial Transformation, Data Centre, CCS), Fuels (Bio-energy, WTE, Upstream Oil & Gas, Refinery, Petrochemicals, Mining, Smelters & Mineral Downstreaming) dan Power & Gas (incl. LNG terminals, T&D). Sektor energi ini sangat multidisiplin dan menuntut Insinyur Indonesia untuk memiliki kompetensi interdisipilin. “Semisal, saya sebagai Insinyur Sipil juga harus mampu memiliki kompetensi bidang keinsinyuran lainnya seperti mekanikal, elektro, instrumen and kontrol sehingga saya bisa menjalankan peran saya sebagai project manager pada proyek-proyek sektor energi ini” lanjut Habibie.

Beberapa contoh proyek energi yang menjadi primadona yang diminati oleh Insinyur di dunia termasuk Indonesia saat ini antara lain proyek PLTS Terapung, proyek Data Centre, Proyek Hilirisasi Mineral, Carbon Management dan banyak lagi.

Sesi Kuliah Umum ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI UMI), Prof Dr. Ir. Lamatinulu, IPU., ASEAN Eng dan dimoderasi oleh Sekretaris PSPPI FTI UMI yang juga saat ini sebagai Ketua Forum Komunikasi Penyelenggara Program Profesi Insinyur se-Indonesia, Dr. Ir. Taufik Nur, IPU., APEC Eng., ASEAN Eng.

IA-CEPA Katalis Phase 1 Closing Event Menghadirkan Panelis dari PII, 3 Dec 2025

Program Kerja Sama Ekonomi (Katalis) sebagai dari Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) telah menjadi landasan kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Australia sejak tahun 2020. Selama lima tahun pelaksanaan Katalis Fase 1, program ini telah bekerja sama erat dengan banyak kementerian dan lembaga Pemerintah Indonesia untuk membuka manfaat IA-CEPA, mendorong reformasi, dan memfasilitasi investasi di sektor-sektor utama. Menjelang berakhirnya Katalis Fase 1, acara ini berfungsi sebagai upacara penutupan formal dan strategis bagi para pemangku kepentingan utama Pemerintah Indonesia yang telah menjadi bagian integral dari keberhasilannya. 

Acara ini melanjutkan Program Showcase yang lebih luas pada bulan Agustus 2025 dengan menyediakan platform refleksi yang lebih terfokus dan berorientasi kebijakan.

Acara closing phase 1 (2020 - 2025) yang berlangsung Tanggal 3 Desember di Hotel Borobudur Jakarta  dibuka oleh sambutan-sambutan dan juga laporan dari kementerian BAPPENAS diwakili oleh Bapak Eka Chandra Buana (Deputy Minister for Macro Development Planning, Ministry of National Development Planning/BAPPENAS) dan Perwakilan Kedubes Australia, Bapak Jonathan Gilbert Minister Counsellor/Head of Economic, Investment and Infrastructure, Australian Embassy di Jakarta dilanjutkan laporan program Katalis yang diselenggarakan 5 tahun terakhir oleh Bapak Paul Bartlett, Director, Katalis. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi panel discussion menghadirkan beberapa panelist dari Katalis, BAPPENAS dan perwakilan dari beberapa Beneficiary di antaranya adalah Persatuan Insinyur Indonesia (PII). PII yang diwakili oleh Ir. Habibie Razak yang saat ini adalah anggota dari APEC Engineers Indonesia Monitoring Committee dan Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menceritakan bagaimana Katalis menjembatani PII dan Engineers Australia (EA) untuk bisa menyepakati MRA on Professional Engineers.

"Pada Q3-2022, IA-CEPA ECP Katalis memulai dan menjembatani diskusi antara PII & EA mengenai penyusunan MRA tentang Insinyur Profesional. Melalui beberapa pertemuan daring, draft MRA tersebut dikembangkan lebih lanjut dan dilanjutkan dengan pertemuan luring pada Maret 2023 di Kantor EA di Canberra untuk penyempurnaan. Akhirnya, pada tanggal 30 Juni 2023 di Kedutaan Besar Indonesia untuk Australia di Canberra, Presiden PII dan perwakilan EA menandatangani MRA untuk Insinyur disaksikan oleh perwakilan kedua negara, Y.M. Dr. Siswo, Duta Besar Indonesia untuk Australia dan Bapak Arjuna, perwakilan DFAT, Australia. Saat ini, kami memiliki lebih dari 25 Insinyur Indonesia yang terdaftar sebagai CPEng dan sebagian besar dari mereka bekerja di luar negeri seperti Australia, PNG, dan negara-negara lain di mana terdapat investasi Australia" lanjut Ir. Habibie yang juga berkarir sebagai Direktur Regional (Energi) di salah satu perusahaan Australia terkemuka, SMEC International Pty Ltd.

Beneficiary lainnya adalah terkait profesi Nurse yang diwakili oleh Prof. Achir Yani Hamid dari Universitas Indonesia, perwakilan dari Onuka Chocolate, CEO Charged, dan beberapa lainnya. 

Sesi diskusi market access dimoderasi oleh Ibu Laksmi Kusumawati, Director, Downstream Planning and International Economic Cooperation, BAPPENAS menghadirkan 3 panelis, Moekti P. Soejahmoen, Ir. Habibie Razak dan Prof. Achir. 
    

Kunjungan Badan Kejuruan Sipil PII ke Singapura: Belajar Infrastruktur Rendah Karbon dan Teknologi Konstruksi Cerdas, 14Nov 2025

Reportase: Ir. Amril Taufik Gobel, IPU

Delegasi Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (PII) baru saja melakukan sebuah perjalanan inspiratif ke Singapura, mengunjungi dua kawasan strategis terutama dalam dunia arsitektur dan rekayasa modern: Punggol Digital District (PDD) dan Surbana Jurong Campus, Kamis-Jum’at (13-14/11)

Kunjungan ini bukan sekadar melihat bangunan atau fasilitas, melainkan menyelami bagaimana sebuah negara merancang dan mengelola infrastruktur masa depan yang lebih hijau, lebih efisien, dan berbasis data.

Punggol Digital District: Laboratorium Kota Rendah Karbon Perjalanan dimulai di Punggol Digital District, sebuah kawasan yang menjadi simbol transformasi kota di Singapura.

PDD tidak hanya dibangun sebagai pusat teknologi dan pendidikan, tetapi juga sebagai kawasan rendah karbon yang mengintegrasikan segala aspek kehidupan—mulai dari ruang publik, infrastruktur pendidikan, hingga sistem utilitas digital.

Yang paling menonjol dari kawasan ini adalah bagaimana perencanaannya dilakukan
secara terintegrasi. Setiap elemen—sirkulasi pejalan kaki, jaringan utilitas, hingga
pengelolaan energi—dirancang untuk meminimalkan emisi dan memaksimalkan
kenyamanan penghuni. PDD memberikan gambaran jelas tentang bagaimana sebuah
kota dapat tumbuh tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.

Di kawasan ini, delegasi juga menyaksikan langsung inovasi penggunaan material timber sebagai struktur gedung. Mass timber kini menjadi alternatif baru dalam konstruksi modern berkat jejak karbonnya yang jauh lebih rendah dibandingkan material konvensional.

Lebih dari itu, PDD menunjukkan bagaimana timber dapat dikombinasikan
dengan beton dalam sistem struktur hybrid, menghasilkan bangunan yang kuat dan
waktu konstruksi lebih cepat, namun tetap ramah lingkungan.

Surbana Jurong Campus: Teknologi Hijau Kunjungan berikutnya membawa delegasi ke Surbana Jurong Campus, pusat rekayasa yang menjadi jantung inovasi salah satu konsultan infrastruktur terbesar di Asia. Kawasan ini menjadi refleksi nyata bagaimana desain arsitektur, efisiensi energi, dan teknologi monitoring modern berpadu untuk menciptakan lingkungan kerja masa depan.

Surbana Jurong Campus dibangun dengan prinsip green building yang kuat:
pencahayaan alami yang melimpah, ruang terbuka yang terhubung dengan lanskap
hijau, serta sistem bangunan yang dirancang untuk mengurangi konsumsi energi. Namun bukan hanya aspek desainnya yang mengesankan, kawasan ini memiliki kemampuan yang jarang ditemukan di fasilitas serupa—monitoring real-time atas konsumsi energi dan air.

Setiap ruangan, fasilitas, dan fungsi bangunan dapat dipantau setiap waktu,
memungkinkan pengambilan keputusan berbasis data untuk mengoptimalkan efisiensi operasional. Lebih jauh lagi, delegasi mendapatkan gambaran tentang dampak nyata yang diciptakan Surbana Jurong di tingkat regional dan global. Dengan mengintegrasikan riset, rekayasa, desain kota, dan manajemen aset, kawasan ini menunjukkan bagaimana industri keinsinyuran dapat memainkan peran penting dalam menciptakan infrastruktur berkelanjutan dan tahan masa depan.

Dua kunjungan ini memberikan banyak pelajaran bagi pengembangan keinsinyuran
Indonesia. Punggol Digital District mengajarkan pentingnya membangun kota secara
menyeluruh, terintegrasi, dan rendah karbon. Sementara Surbana Jurong Campus
menawarkan contoh bagaimana teknologi hijau dan monitoring berbasis data dapat
meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan infrastruktur.

Bagi Badan Kejuruan Sipil PII, perjalanan ini bukan hanya catatan perjalanan fisik—tetapi juga momentum untuk memperkuat kompetensi insinyur Indonesia dan membuka peluang kolaborasi internasional. Dalam konteks pembangunan kota-kota baru, pengembangan IKN, serta transformasi infrastruktur berkelanjutan, pelajaran yang diperoleh dari Singapura menjadi sangat berharga.

“Kunjungan delegasi Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia ke Punggol Digital District dan Surbana Jurong Campus memberikan pengalaman yang sangat berharga dan membuka wawasan baru bagi pengembangan praktik keinsinyuran di Indonesia. Apa yang kami saksikan di Singapura bukan sekadar kemajuan fisik sebuah kawasan, tetapi manifestasi nyata dari bagaimana visi, teknologi, dan keberlanjutan dapat dipadukan secara holistik dalam merancang infrastruktur masa depan,” ucap Habibie Razak, Ketua Badan Kejuruan Sipil PII dengan nada optimis.

PICQS Summit, Manila, Philippines,18 Oktober 2025

Hari Sabtu, 18 Oktober 2025, Philippines Institute Certified Quantity Surveyors (PICQS) bekerja sama dengan ASEAN Quantity Surveyors Association (AQSA) menyelenggarakan Technical Summit di Hotel Dusit Thani, Makati, Filipina yang dihadiri setidaknya 300 peserta dari berbagai negara seperti Singapura, Filipina, Thailand, Indonesia, Myanmar, Kamboja dan tuan rumah Filipina.

Kegiatan ini mengangkat tema besar tentang bagaimana kita mengakselerasi digital and green transformation in the ASEAN Built Environment sekaligus menekankan peran penting profesi Quantity Surveyor yang bekerja di berbagai fungsi di proyek-proyek infrastruktur di ASEAN.

Di sesi panel discussion, Ir. Habibie Razak sebagai perwakilan dari Indonesia, Ketua Badan Kejuruan Sipil PII dan Regional Director (Energy) Surbana Jurong Group Indonesia juga menyampaikan pendapatnya terkait perkembangan adopsi digitalisasi dan green development di ASEAN “Across ASEAN, we see large gaps in digital readiness — places like Singapore and Kuala Lumpur are advancing rapidly with BIM, smart sensors, and carbon-tracking tools, while smaller cities and rural areas are still focused on basic infrastructure. To bridge that gap, we need to focus on three things: Firstly, capacity building — empowering local engineers and government officers through regional training, second, affordable and scalable tools — like open-source BIM or simple carbon calculators that smaller projects can use and the third one is collaboration and policy support — so funding and knowledge reach beyond capital cities. Professional bodies also play a crucial role by standardizing competencies and advocating for inclusive digital and green adoption across ASEAN“.

Beberapa pembicara lain yang hadir antara lain: JULIE CHRISTIE DELA CRUZ sebagai Chair and Founder, PICQS, NGAN HONG GOH, Immediate Past President, AQSA Chairman, PAQS, DORIS GACHO sebagai Executive Director, Philippine Overseas and Domestic Construction Board (PODCB), Construction Industry Authority of the Philippines (CIAP) dan banyak lagi.

Ir. Habibie Razak juga dalam sesi ini mengingatkan pentingnya kolaborasi yang apik antara profesi QS, Arsitek dan Insinyur di dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur di regional ASEAN dan bersama-sama memberikan edukasi kepada stakeholders termasuk pemerintah masing-masing untuk mulai mensyaratkan BIM atau sistem digitalisasi konstruksi lainnya sebagai syarat pengadaan proyek di semua fase proyek dimulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga operasi dan pemeliharaan.

AER Roadshow Bersama BKS PII di Aceh Utara, 20 Sept 2025

Ir. Habibie Razak Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) menghadiri ASEAN Engineering Register (AER) Roadshow yang mendampingi Ir. Simon Yeong, Head of AER Commissioner, Ir. Habimono Koesobjono dan Ir. Prastiwo Anggoro (Country Registrar dan Alt Country Registrar, AER, Indonesia).

Road show kali ini diselenggarakan di Aceh Utara pada hari Jumat dan Sabtu, 19 – 20 September 2025 dituanrumahi oleh Ketua PII Cabang Aceh Utara, Ir. Mirza Gunawan, ASEAN Eng dan segenap unsur Pengurus dan Rektor Universitas Malikussaleh, Prof. Ir. Herman Fithra, ASEAN Eng. Kegiatan yang berlokasi di kampus UNIMAL pada hari Sabtu 20 September terdiri dari beberapa rangkaian acara antara lain: sambutan-sambutan dari Ketua PII Aceh Utara, Rektor UNIMAL hingga perwakilan PII Pusat dilanjutkan dengan sesi perkenalan tentang ASEAN Engineering Register, sejarahnya, AER membership category, jumlah AER saat ini, benefit yang diberikan dan program kerja AER terkait capacity building Insinyur ASEAN di Kawasan Asia Tenggara ini.

Sesi terakhir, Ir. Habibie Razak diminta untuk sharing pengalaman terkait keanggotaan Beliau sebagai bagian dari AER sejak tahun 2011. “Saya sudah menjadi bagian dari ASEAN Engineering community sejak tahun 2011 dengan nomor registrasi 1551 dan banyak menggunakan network atau jaringan Insinyur ASEAN untuk meningkatkan mobilitas keinsinyuran saya bekerja dan praktik keinsinyuran pada proyek-proyek sektor energi di Malaysia, Singapura dan Brunei di antaranya adalah proyek PLTGU dan PLTS Terapung di Asia Tenggara” ungkap Ir. Habibie Razak yang juga adalah Direktur Eksekutif PII Pusat Periode 2021 – 2024.

Ir. Habibie juga mengingatkan kawan-kawan PII Aceh Utara bahwa Insinyur di daerah ini harus mampu memberikan kontribusi terbaiknya pada pengembangan infrastruktur energi seperti minyak dan gas, PLTA, PLTP dan PLTB di mana Aceh Utara, Aceh Besar dan Lhokseumawe ini akan menjadi pusat pertumbuhan yang jauh lebih pesat lagi di masa depan. Sebutlah kehadiran Mubadala Energi yang melakukan aktivitas eksplorasi dan produksi blok South Andaman dan saat ini sudah melakukan pengeboran lepas pantai setidaknya untuk 2 sumur (Layaran-1 dan Tangkulo-1) yang lokasinya 166 Km Timur Laur Banda Aceh dan 67 Km Utara Lhokseumawe.

Sejarah membuktikan bagaimana Aceh Utara berkontribusi pada penyediaan gas alam untuk pabrik pupuk dan pembangkit listrik melalui kehadiran Arun LNG plant yang kemudian dikonversi Menjadi Arun LNG Receiving Terminal. Menurut Ir. Habibie Razak selain kaya akan hydrocarbon, Aceh secara umum juga kaya akan sumber energi Terbarukan seperti angin, panas bumi, dan hydro. Sebutlah satu proyek yang sudah selesai studi kelayakannya mampun menghasilkan setidaknya 90 MW dari PLTB dengan tingkat kecepatan angin rata-rata 5-6 m/s dengan ketinggian 50 meter. “Potensi seperti ini mesti dimaterialize jangan sampai hanya sekedar potensi saja”, lanjut, Ir. Habibie.

”Dalam konteks mobilitas internasional Insinyur Indonesia, kita juga tentunya mendorong Insinyur Indonesia untuk mengambil sertifikasi Internasional untuk bisa meningkatkan mobilitas keinsinyurannya dengan bekerja dan berpraktik di negara-negara ASEAN, Australia bahkan hingga ke kawasan Timur Tengah” lanjut Ir. Habibie menjelaskan ke setidaknya 150 peserta AER Head of Commissioner Roadshow ini.

Kuliah Umum “Future-Ready ASEAN Engineering” Pembukaan PSPPI UKRIDA, 29 Agt 2025

Sabtu Pagi, 29 Agustus 2025 kemarin, Ketua Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia (BKS PII) Ir. Habibie Razak, FIEAust., EngExec., IntPE(Aus) mengikuti prosesi seremonial pembukaan Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UKRIDA.



Pada kesempatan ini Ketua BKS PII juga menghadirkan kuliah tamu dengan topik “FUTURE READY ASEAN ENGINEERING: ACCELERATING DIGITAL AND GREEN TRANSFORMATION IN THE ASEAN BUILT ENVIRONMENT”.

Topik future ready engineering yang dibawakan oleh Ir. Habibie Razak memaparkan bagaimana kondisi lingkungan terbangun negara-negara Asia Tenggara di persimpangan jalan seperti rapid urbanization, kebutuhan akan infrastruktur yang resilien, climate vulnerability atau bencana alam di berbagai daerah di ASEAN, environmental impact oleh aktivitas konstruksi dan ketidakmerataan di dalam hal adopsi digital tools di berbagai negara dan sektor-sektornya.

Ir. Habibie mengingatkan betapa pentingnya negara-negara ASEAN memiliki dan menjalankan strategi yang sama yakni bagaimana mengintegrasikan digital and green “by integrating digital and green, we not only reduce environmental harm but also improve project delivery, resilience, and public trust”.

Penggunaan teknologi digitalisasi seperti BIM, AI, GIS, Digital Twins dan Low Carbon Materials akan mampu mengurangi tingkat emisi di mana setiap negara di ASEAN sudah melakukan berbagai upaya antara lain: Indonesia’s push for LC3 cement, Malaysia’s Green Building Index and Singapore’s BCA Green Mark requiring carbon reporting.

Bagaimana dengan implementasi BIM + LCA = Smarter Design Decisions. BIM can be integrated with Life Cycle Assessment (LCA) tools to estimate embodied carbon, energy use, and material waste early in the design process. Contoh: memilih concrete mixes berdasarkan pertimbangan GHG impact dan mengoptimalisasi volume material untuk mengurangi limbah.

Menarik mendengar response super positif dari kawan-kawan yang hadir baik offline maupun online via Zoom. Pertanyaan yang muncul bagus-bagus semua menunjukkan mereka cukup excited dengan materi yang dipaparkan.

Sukses UKRIDA dengan Program studi PPInya.

Seminar dan Pelantikan Kepengurusan BKS PII Periode 2025 – 2028

Berikut ringkasan sambutan Ketua BKS PII terpilih periode 2025 – 2028, Ir. Habibie Razak di acara Seminar Nasional dan Pelantikan Pengurus BKS PII.

Bapak, Ibu, dan rekan-rekan insinyur sekalian,

Kita semua menyadari bahwa profesi insinyur sipil tengah menghadapi tantangan yang kompleks dan multidimensi. Kita tidak bisa bertahan dengan kebiasaan-kebiasaan lama. Saat ini, kita dihadapkan pada perubahan-perubahan besar, di antaranya:

  • Perubahan iklim yang semakin ekstrem dan nyata,
  • Urbanisasi yang cepat dan tidak merata,
  • Disrupsi teknologi digital,
  • Dan meningkatnya tuntutan akan pembangunan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Di tengah arus perubahan tersebut, kita tidak bisa hanya menjadi pengikut. Kita harus menjadi pengarah, menjadi penggerak, dan menjadi pencipta masa depan yang lebih baik dan bermartabat.

Tema seminar hari ini—Future-Ready Civil Engineering—adalah seruan bagi kita semua sebagai insinyur sipil, untuk bertransformasi:

  • Dari yang hanya fokus pada kekuatan struktur, menjadi insinyur yang juga memperhitungkan jejak karbon dan keberlanjutan.
  • Dari yang hanya menghitung volume dan biaya, menjadi insinyur yang mengintegrasikan teknologi digital seperti BIM, digital twin, dan kecerdasan buatan atau AI.
  • Dan dari yang hanya bekerja di balik meja gambar, menjadi insinyur yang juga tampil di ruang-ruang strategis, berkontribusi dalam perumusan kebijakan dan arah pembangunan nasional.

Seringkali kita melihat isu pemanasan global hanya dari sisi energi atau transportasi. Padahal, sektor konstruksi dan bangunan menyumbang sekitar 37% dari total emisi global. Termasuk dari produksi semen, baja, material bangunan, dan juga energi yang digunakan selama umur bangunan.

Artinya, teknik sipil memegang kunci strategis dalam upaya menurunkan emisi karbon. Kita bisa memulainya dari hal-hal mendasar: memilih material rendah karbon, merancang struktur yang efisien, menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular, serta mengembangkan infrastruktur berbasis alam seperti ruang terbuka hijau dan restorasi ekosistem mangrove atau nature-based solution.

Kita ketahui bersama bahwa Indonesia telah menargetkan Net Zero Emission pada tahun 2060. Dan target ini tidak mungkin tercapai tanpa kontribusi besar dari sektor konstruksi dan para insinyur sipil.

Inilah yang ingin kita dorong melalui seminar hari ini:

Bagaimana teknik sipil bisa menjadi bagian dari solusi — bukan hanya membangun fisik infrastruktur, tetapi juga mendesain masa depan yang lebih ramah lingkungan dan tangguh terhadap bencana.

Narasumber yang tampil adalah para professional dan pakar yang ahli di sektor dan bidangnya antara lain seperti pembicara dari Singapore, Tan Wooi Leong adalah energy practitioner yang melakukan praktik keinsinyuran di Asia Tenggara, termasuk pengalaman Beliau dan tim di dalam berkoordinasi dengan project stakeholders termasuk pemerintah untuk mengutilisasi bendungan, reservoar atau pun danau yang ada di Indonesia untuk proyek pengembangan PLTS terapung. Koordinasi antarkementerian dan antarlembaga pun dibutuhkan untuk menyelenggarakan proyek sekompleks ini di mana KKB/BTB/Ditjen SDA Kementerian PU sebagai pengelola aset tadi, PLN sebagai offtaker dari listrik yang dihasilkan dari PLTS terapung tadi sampai isu-isu sosial lingkungan melibatkan KLHK pastinya menjadi bagian yang sangat krusial menjadi perhatian kita bersama.

Pembicara dari Wika Beton, Ir. Verly, juga akan memaparkan pengembangan low carbon concrete materials yang sudah dilengkapi environmental product declaration (EPD} sehingga target pasar WIKA Beton bukan hanya domestik lagi tapi juga sudah bisa go international bagi client-client yang mensyaratkan nilai karbon tertentu.

Begitupun narasumber dari palm oil industry, First Resources, Ir. Stanley, akan menjelaskan program dekarbonisasi di era transisi energi di subsektor ini, teknologi yang dikembangkan dan diaplikasikan pun sudah merefer ke low carbon technology solution dan banyak lagi.

Last but not least, Prof. Dr. Ir. Andreas akan memaparkan green financing untuk pengembangan infrastruktur di Indonesia, skema seperti apa dan bagaimana developer kita mengaccess sumber-sumber pembiayaan tadi.

Hadirin yang saya banggakan

Transformasi ini tidak bisa kita dilakukan secara parsial. Kita membutuhkan kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat. Kolaborasi ini dilakukan untuk membentuk ekosistem pembangunan yang saling terhubung dan saling menguatkan.

Melalui BK Sipil PII, kami hadir dan berkomitmen untuk:

  1. Meningkatkan kapasitas dan kompetensi insinyur sipil Indonesia agar siap menjawab tantangan masa depan.
  2. Mendorong sinergi antara dunia profesi, akademisi, industri, dan pemerintah
  3. Menjadi ruang kolaborasi dan pembinaan bagi generasi muda insinyur.
  4. Memperkuat peran strategis teknik sipil dalam kebijakan publik, terutama dalam isu keberlanjutan dan ketahanan infrastruktur.

Bapak, Ibu dan Insinyur sekalian yang saya hormati,

Saya yakin, melalui forum ini akan lahir banyak gagasan, jejaring, dan inspirasi baru yang bisa menjadi bahan bakar perubahan ke arah yang lebih baik. Tantangan yang kita hadapi tidaklah kecil. Namun saya percaya, dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan dedikasi, insinyur sipil Indonesia mampu menjadi penentu arah masa depan.

Mari kita buktikan bahwa insinyur sipil bukan hanya pembuat gambar dan perhitungan. Kita adalah pembentuk peradaban. Kita bukan hanya membangun jembatan dan gedung — tapi kita juga sedang membangun harapan.

Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, narasumber, sponsor, dan semua pihak yang telah berkontribusi dalam terselenggaranya acara ini.

Selamat mengikuti seminar. Semoga acara hari ini membawa manfaat nyata dan menjadi awal dari kolaborasi yang berkelanjutan.

Liputan kegiatan seminar dan pelantikannya bisa juga dibaca di

https://konstruksimedia.com/bk-sipil-pii-dorong-insinyur-indonesia-future-ready-untuk-transformasi-infrastruktur-berkelanjutan/

Pelantikan Pengurus BK Sipil PII

https://www.linkedin.com/posts/satrio-agung-wijonarko_energyleadership-sustainabledevelopment-cleanenergyfuture-activity-7360009052115931137-MbGg?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAADQivABV3_L6PjvcRNj59hJsYZ0XJ1cr18

Trip to Brunei Darussalam, Awalnya Pertemuan Teknis Keinsinyuran Sampai Pada Penugasan Proyek Energi, July 2025

Saya pertama kali ke Bandar Seri Begawan di tahun 2011 di mana saya menghadiri Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations (CAFEO). Saya berterima kasih kepada Persatuan Insinyur Indonesia tempat saya mewakafkan sebagian waktu saya untuk menambah pengetahuan dan memperkuat jaringan sesama Insinyur bukan hanya di skala nasional tapi juga di skala internasional.

Awalnya ke Brunei untuk aktivitas organisasi, siapa sangka saya ke Brunei berkali-kali 3 tahun terakhir karena kita menginisiasi, membangun dan mendapatkan satu proyek ketenagalistrikan di negara yang berpopulasi 400 ribu jiwa ini.

Saya pun tidak menyangka bisa menginjakkan kaki ke Prime Minister Office of Brunei Darussalam kalo bukan karena ada proyek di sana dan tidak akan pernah ada proyek apabila saya tidak ada networking activity dengan kawan-kawan professional dari Brunei khususnya dan ASEAN Engineers Community pada umumnya.

Sebagai Regional Director pada perusahaan konsultansi keinsinyuran yang beroperasi skala global saya pun harus memastikan saya terlibat di berbagai organisasi profesional di skala regional maupun global sehingga secara pribadi saya bisa terekspose keluar begitu pun dengan bendera perusahaan yang menaungi saya.

All about networking, professionalism, and integrity as professional.

BIM Workshop, AEC Digitalization & Carbon Accountability, 03 June 2025

Today, I was engaged with Engineers and Architects who attended the seminar and workshop “BEYOND BIM – Building Information Modelling (BIM) Contribution to the Development of Indonesia New Capital City – Stage 2” organized by Civil Engineering College The Institution of Engineers Indonesia (BKS PII) in collaboration with Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Chapter South Sulawesi and Engineering Faculty of UNHAS which is held at Hasanuddin University (UNHAS) Engineering Faculty, Makassar, South Sulawesi.

I was also asked to deliver the welcoming speech on behalf of Chairman of BKS PII. BKS PII plans to disseminate the use of BIM by establishing the BIM Centre in our BKS PII office and will engage several universities such as ITB, UNUD and UNHAS. This program is also supported by CYPE, one of the leading BIM software companies from Spain.

Additionally, I was also presenting the Future-ready Engineering: AEC Digitalization & Carbon Accountability. I strongly recommended the use of BIM integrated with LCA tools with the objectives are to interpret and apply carbon data, optimise designs for embodied and operational carbon and integrate carbon performance targets into specification which all possible now to be done with BIM application.

Last but not least, to conclude my presentation, there are 4 engineers’ future-ready competencies: Digital Proficiency, Sustainability and Carbon Literacy, Ethical and Regulatory Awareness and Communication and Interdisciplinary Collaboration.

BIMTEK Pengurus PII Cabang se-Jawa Barat, 17 May 2025

Hari Sabtu sore,17 Mei kemarin, Ir. Habibie Razak diberi kesempatan menjadi narasumber pada BIMTEK Pengurus Cabang se-Jawa Barat yang dituanrumahi oleh Ketua PII Wilayah, Ir. Erpandi Dalimunthe, IPM dan kawan-kawan pengurus wilayah Jawa Barat.

Ir. Habibie dalam paparannya mengingatkan kepada unsur pengurus wilayah dan 25 cabang yang hadir bahwa Tatakelola Organisasi Profesi Keinsinyuran di tingkat Cabang, Wilayah, Pusat serta Unsur Praktik Keinsinyuran seyogyanya dilaksanakan secara profesional yang di dalamnya termasuk strategi penyelenggaraan program kerja disertai pengelolaan keuangan yang baik.

“Kita juga punya kewajiban yang sama sebagai aktivis PII bahwa pengurus di organisasi sebesar PII harus mampu mendapatkan intangible benefit baik melalui interaksi sesama pengurus maupun interaksi dengan stakeholder keinsinyuran seperti industri, perguruan tinggi, R&D agency dan masyarakat umumnya” lanjut Ir. Habibie Razak.

Iuran keanggotaan dan hasil sertifikasi tidak cukup untuk membiayai aktivitas organisasi untuk kegiatan di skala nasional maupun internasional, di mana pemimpin organisasinya harus memiliki figur kuat untuk bisa meleverage citra organisasi sehingga betul-betul bisa menyiapkan pendanaan secara mandiri.

Ir. Habibie Razak dengan pengalaman 20+ tahun tentunya bisa membedakan bagaimana mengelola organisasi perusahaan yg mengedepankan P&L responsibility dengan organisasi profesi yang objectivenya adalah untuk pengembangan keprofesionalan para anggotanya.

Sekilas tentang Ir. Habibie Razak

Ir. Habibie Razak adalah seorang Insinyur profesional (Sipil) yang meraih pengakuan di tingkat ASEAN, Asia Pasifik, Australia dan Dunia. Beliau diberi gelar Engineering Executive dan International Professional Engineer dari Engineers Australia, organisasi profesi global keinsinyuran asal Australia.

Ir. Habibie Razak yang di awal karirnya sebagai junior civil engineer kemudian beranjak naik sebagai civil engineer, project manager, project director, director of business development hingga posisi sebagai country director dan regional director di perusahaan konsultan global terkemuka di dunia (One of Temasek-owned Companies).

Beliau menapaki posisi director di umur 36 tahun di perusahaan konsultan Perancis-Belgia terkemuka.

Sosok Insinyur Sipil ini mulai mewakafkan dirinya pada organisasi PII sejak tahun 2006 pada saat mendirikan PII Cab Sorowako yang kemudian berkembang menjadi PII Cabang Luwu Timur.

Di tahun 2004, Ir. Habibie mulai belajar praktik keinsinyuran internasional sewaktu Habibie dimentoring langsung oleh Marty Holmberg, Manager of Engineering Services PT Inco Sorowako yang juga adalah seorang Professional Engineer dari Manitoba Province (APEGM), Canada.

Hijrah ke Jakarta di tahun 2012 dan bekerja di perusahaan konsultan dan EPC global asal Amerika, concurrently kanda Ir. Habibie mulai menjadi bagian dari kepengurusan PII Pusat di era Bapak Ir. Bobby Gafur Umar sebagai Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan di tahun 2012.

Beliau melanjutkan dedikasinya di kepengurusan Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak periode 2015 -2018, Dr. Ir. Heru Dewanto periode 2018 – 2021.

Di periode 2021 – 2024, Beliau menjadi Direktur Eksekutif mendampingi Dr. Ir. Danis Hidayat Sumadilaga dan seperti biasa menorehkan berbagai prestasi dan pencapaian.

Ir. Habibie juga aktif sebagai pengurus di BKS PII di jaman Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak dan Bapak Ir. Bambang Goeritno dengan total pengabdian selama 12 tahun lebih.

Dengan modal 20+ tahun pengalaman di berbagai sektor keinsinyuran (mining and mineral downstreaming, oil, LNG & gas, thermal generation & transmission, new and renewable energy, palm oil downstreaming, transport, industrial transformation master planning), bekerja dan praktik keinsinyuran di berbagai negara seperti Amerika, Australia, China dan ASEAN, kanda Ir. Habibie Razak memahami bagaimana membentuk “Future-ready Indonesian Engineers towards Indonesia Emas 2045 & NZE”