Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Berpacu Meraih Bintang Melalui Program Pembinaan Profesi Insinyur bersama PII dan IKATEK Unhas, 14 Mei 2016

Gedung Nindya Karya tepatnya Lantai 8 tempat diadakannya Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) kerjasama Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin (IKATEK UH) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Memorandum of Understanding (MoU) kedua institusi ditandatangani dua tahun yang lalu yang salah satu agendanya adalah melaksanakan kegiatan ini. PPPI ini sudah dilakukan untuk ketiga kalinya di wilayah Jakarta dan sekitarnya oleh IKATEK UH dan akan terus dilaksanakan untuk semaksimal mungkin merekrut calon Anggota PII dari Alumni Universitas Hasanuddin.

AdvokasiProgram ini dibuka oleh perwakilan dari IKATEK-UH yang juga adalah pengurus PII Pusat, Ir. Sapri Pamulu, Ph.D yang kesehariannya bekerja di PT Wiratman Indonesia dan pada kegiatan kali ini juga membawakan materi Etika Profesi dan Hukum Profesi Insinyur . Beliau menyampaikan PII sekarang ini adalah PII yang jauh lebih progresif lagi setelah dikeluarkannya UU Keinsinyuran No. 11 Tahun 2014 di mana PII dalam UU tersebut ditunjuk sebagai penyelenggara keinsinyuran di Indonesia. Tak lepas dari itu, secara external, penyetaraan internasional menjadi suatu keharusan dan untuk mewujudkan itu sistem pendidikan profesi insinyur dan sistem layanan keinsinyuran banyak mengadopsi dari apa yang sudah diterapkan di luar negeri. Bagian dari perlindungan Insinyur berprofesi keinsinyuran PII juga akan menetapkan sistem advokasi Insinyur secara baku dan penetapan professional indemnity insurance bagi setiap Insinyur yang sudah mendapatkan STRI.

HR-2Pengenalan sistem sertifikasi Insinyur, bakuan kompetensi dan tata cara pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional (FAIP) disampaikan oleh Ir. Habibie Razak pada kesempatan kali ini. Habibie dalam pemaparannya menampilkan contoh CV yang padat, lengkap dan komprehensif yang bisa dijadikan referensi untuk pengisian FAIP lebih cepat dan lengkap. Format CV yang mumpuni yang diupdate secara terus-menerus sangat bisa membantu pada kandidat Insinyur Profesional untuk mengisi FAIP mereka lebih cepat. Penentuan scoring pada FAIP yang diisi oleh kandidat Insinyur Profesional ini didasarkan pada tiga faktor yaitu: lamanya pengalaman atau kegiatan keinsinyuran yang diikuti, peranan dan tanggung jawab atau posisi Insinyur di kegiatan atau proyek itu dan kompleksitas atau tingkat resiko proyek atau kegiatan keinsinyuran yang diikuti.

 

 

Mul MuhadirMateri Sosialisasi UU Keinsinyuran, Profil Organisasi PII dan Penutupan PPPI kali ini dipaparkan oleh Ir. Rudianto Handojo. Beliau pada kesempatan ini menjawab pertanyaan dari seorang penanya yang merupakan alumni Sarjana Perkapalan, bahwa saat ini Perkapalan belum memiliki Badan Kejuruan Khusus terkait disiplin perkapalan. Teknik Perkapalan adalah berbeda dengan Teknik Kelautan karena disiplin ini lebih spesifik pada naval architect dan naval construction di mana para profesional di bidang ini banyak bekerja di Industri Galangan Kapal di Indonesia maupun luar negeri. Ir. Rudianto menjawab secara lugas bahwa BK/BKT Perkapalan ini sangat bisa dibentuk apabila sudah ada lebih dari 25 anggota PII yang kemudian berkumpul bersama dan menyatakan siap menjadi pengurus BK/BKT ini dan kemudian hasil risalah rapat dan dokumentasi pendukungnya diserahkan ke PII Pusat untuk disahkan. BK/BKT Perkapalan kemudian harus bisa menelurkan Insinyur Profesional Madya dan Utama yang selanjutnya akan mengikuti pelatihan Assessor dan kelak akan menjadi Majelis Penilai (MP) untuk kejuruan Perkapalan ini.

RH -1PPPI ini dihadiri oleh 47 peserta, 10 diantaranya berasal dari PT Nindya Karya dan 80 persen peserta adalah dari Alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin yang tersebar bekerja di bidang engineering and construction di berbagai sektor seperti oil & gas, public infrastructure, ship fabrication yard dan lainnya. Pembacaan kode etik Insinyur Indonesia dipimpin oleh Ir. Mulyawan Samad, Project Manager Oil & Gas di salah satu perusahaan terkemuka di dunia. Terlihat di sebelah Ir. Mulyawan adalah Ir. Muhadir Pagalay, seorang profesional di sektor offshore & marine di salah perusahaan internasional yang bergerak di bidang marine and offshore classification and certification. Kegiatan ini ditutup dengan berfoto bersama peserta, panitia dan pengurus PII.

Berpacu meraih bintang tidak lain adalah berpacu meraih sertifikasi Insinyur Profesional yang mendapatkan pengakuan nasional maupun internasional. PII mengajak para Sarjana Teknik yang bekerja keinsinyuran untuk segera menjadi bagian dari PII dan teregistrasi menjadi Insinyur Profesional Indonesia.

Mul

Salam Insinyur Indonesia, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia.

Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Bidang Distribusi Gas PII Pusat

 

 

 

 

Foto bersama

Menjadi Anggota PII melalui PPPI dan Workshop Sertifikasi Insinyur, 12 Mei 2016

Hari Kamis, 12 Mei 2016, Program Pembinaan Profesi Insinyur kembali diadakan di Gedung BPPT. Program ini juga menghadirkan workshop yang berlangsung setengah hari yang terdiri dari pengenalan sertifikasi Insinyur Profesional, bakuan kompetensi Insinyur dan tata cara pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional (FAIP).

Kegiatan PPPI ini tidak jauh berbeda dengan kegiatan sebelumnya seperti rundown materi dan instruktur yang diberi tugas antara lain: Sosialisasi UU Keinsinyuran dipaparkan oleh Ir. Rudianto Handojo yang sekaligus membuka acara ini. Ir. Rudi Purwondho memberikan sesi pengenalan sistem sertifikasi Insinyur Profesional, Ir. Habibie Razak dengan sesi Profil Organisasi PII dan sesi terakhir adalah workshop tata cara pengisian FAIP oleh Ir. Ngadiyanto.

RP-1Kegiatan PPPI ini cukup interaktif dihadiri oleh 25 peserta dan hampir semua pesertanya mendapatkan kesempatan mengemukakan pendapat dan pertanyaan pada tiap sesi. Salah satu pertanyaan yang disampaikan oleh salah seorang peserta “Usaha-usaha apa yang saat ini dilakukan PII dalam rangka meningkatkan jumlah Insinyur Profesional Indonesia dan bagaimana membuat profesi Insinyur menjadi lebih seksi sehingga diminati sebagai profesi yang memberikan benefit bagi yang menggeluti?”

Habibie Razak menyampaikan beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencapai misi ini antara lain:

  • Terus-menerus menggiatkan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran dan mendorong pemerintah untuk segera mengesahkan peraturan turunan UU keinsinyuran ini termasuk pengaturan standar kompensasi dan benefit para Insinyur yang sudah teregistrasi sebagai Insinyur Profesional.
  • Kebijakan pemerintah untuk tidak berorientasi pada penjualan hasil mentah atas SDA yang diperoleh dari bumi Indonesia dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi sarjana teknik. Dengan bertambahnya industri mulai dari hulu, midstream sampai pada industri hilir akan menyerap lebih banyak tenaga Insinyur dan Insinyur profesional sehingga Insinyur Indonesia akan lebih banyak berkarya di dalam negeri.
  • Insentif dari pemerintah kepada profesi insinyur yang telah memperoleh sertifikat ASEAN. Sebab jika tidak ada penghargaan lebih atau insentif dari pemerintah, maka dorongan bagi insinyur untuk mengambil sertifikasi Insinyur Profesional ASEAN tidak akan terwujud.
  • Pemerintah perlu melakukan desentralisasi pendidikan tinggi di mana dibutuhkan lebih banyak Perguruan Tinggi berbasis keteknikan di luar Jawa. Para calon mahasiswa teknik untuk bisa mengecap pendidikan keinsinyuran tidak perlu lagi jauh-jauh ke pulau Jawa karena mereka sudah bisa mendaftar di perguruan tinggi di daerahnya dengan kualitas yang sama.
  • Pola pikir yang mengatakan bahwa profesi dokter lebih prospektif dari profesi Insinyur juga perlu dipatahkan dan secara berkelanjutan mempromosikan profesi Insinyur ini kepada masyarakat luas mulai dari Sabang sampai Merauke.

HR in action (4)Salah seorang peserta yang berasal dari Kendari, Sulawesi Tenggara pada sesi coffee break mengutarakan keinginannya untuk menginisiasi kegiatan workshop sertifikasi Insinyur di daerahnya dan rencana akan mengundang Gubernur Sulawesi Tenggara untuk membuka acara. Inisiatif-inisiatif seperti ini sangat patut untuk diapreasiasi dan perlu segera ditindaklanjuti oleh Pengurus Pusat. Sulawesi Tenggara terkenal kaya akan sumber daya mineral seperti tambang nikel dan emas. Saat ini, setidaknya ada 9 investor yang sementara membangun pabrik Nickel Smelter di  propinsi ini dan rencana tahun depan sudah ada beberapa di antaranya yang akan beroperasi.

Reportase oleh: Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat

Silaturahim dan Workshop Pengisian Aplikasi ASEAN Engineer di Fakultas Teknologi Industri UMI, 7 Mei 2016

Undangan ini datang tak disangka sebelumnya. Adalah Ir. Taufik Nur, dosen muda dan enerjik Fakultas Teknologi Industri Universitas Muslim Indonesia (FTI-UMI) yang juga adalah Sekretaris PII Cabang Makassar memfasilitasi saya bersilaturahim dengan Bapak Ir. Zakir Sabara, Dekan FTI-UMI dan jajarannya sekaligus menjadi narasumber pada Workshop pengisian aplikasi ASEAN Engineer-Registered (AER) yang diadakan di ruangan kerja Beliau.

Suasana SilaturahimHari Sabtu, 7 Mei 2016 tepatnya, saya diundang oleh Bapak Ir. Zakir Sabara untuk bersilaturahmi dan sekaligus memandu pengisian aplikasi AER yang dihadiri oleh 5 calon AER yang tidak lain adalah tim dosen FTI-UMI yang dikoordinir oleh Ir. Taufik Nur. Pengisian formulir AER terdiri dari formulir aplikasi yang harus diisi sendiri oleh applicant dan juga form khusus untuk country registrar atau endorser dari host institution di mana calon AER itu berada. PII Pusat dalam hal ini Direktur Eksekutif PII dan ketua Tim AFEO meeting yang akan mengendorse calon AER ini. Dekan FTI-UMI menyampaikan bahwa Beliau akan membayar biaya sertifikasi AER ini kepada seluruh staff dosen yang berhasil lulus tadi. Biayanya adalah sekitar USD 220 per orang.

Depan Meja Pak DekanFTI-UMI di bawah kepemimpinan Dekan Ir. Zakir Sabara setidaknya akan mengirimkan 5 berkas AER application di antaranya Dekan sendiri, Ir. Taufik Nur dan Ir. Nusran, Ph.D. Mereka sementara menyiapkan formulir dan Curriculum Vitae dan akan segera dikirimkan ke PII Pusat paling lambat 11 Mei ini untuk final review oleh PII Pusat. Curriculum Vitae adalah bagian yang paling vital pada aplikasi AER ini karena ASEAN Federation of Engineering Organization (AFEO) Monitoring Committee mendasarkan assessment pada pengalaman keinsinyuran yang dimiliki oleh calon-calon tadi. Workshop ini memberikan presentase pembuatan CV dalam bentuk bahasa Inggris yang attraktif dan berisi.

Suasana WorkshopHari yang sama, FTI-UMI juga mengadakan seminar internasional yang dihadiri oleh beberapa rektor Universitas Swasta lainnya dan menghadirkan pembicara dari salah satu Universitas di Malaysia. Ir. Zakir Sabara telah menjabat Dekan FTI-UMI selama dua tahun dan telah memberikan banyak kontribusi terhadap kemajuan fakultas. Pencapaian-pencapaian telah dilakukan di bawah kepemimpinan Beliau di antaranya membawa UMI sebagai salah satu dari 40 Perguruan Tinggi di Indonesia yang diberikan mandat sebagai pelaksana Program Profesi Insinyur (PPI) dan juga menorehkan sejarah bahwa UMI satu-satunya Universitas Swasta di luar Jawa yang mendapatkan amanah ini. Pembangunan infrastruktur sarana dan prasarana terus dilakukan oleh Beliau termasuk pembangunan gedung perkuliahan, laboratorium dan terkhusus lagi Beliau sementara menyiapkan gedung khusus untuk kegiatan Program Profesi Insinyur (PPI) ini.  Ada satu lagi yang saya dapatkan menarik di fakultas ini bahwa semua dosen memiliki ruangan kerja sendiri yang tentunya memberikan kenyamanan dan ketenangan untuk bisa bekerja dan mengajar lebih baik lagi.

Dpn SpandukSaya adalah salah satu dari 10 calon pengajar PPI yang diusulkan oleh FTI-UMI yang akan mulai digulirkan bulan September 2016 ini. Sukses buat Universitas Muslim Indonesia (UMI) di bawah kepemimpinan Fakultas Teknologi Industri di dalam menelurkan Insinyur-Insinyur handal yang siap memajukan masyarakat, bangsa dan negaranya.

Salam Insinyur.

Perekrutan Insinyur melalui PPPI Balikpapan Kerjasama PII dan IKATEK Unhas, 1 Mei 2016

Persatuan Insinyur Indonesia dalam upayanya mensosialisasikan UU Keinsinyuran termasuk sertifikasi Insinyur Profesional untuk meraih Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) saat ini diadakan minimal dua kali dalam seminggu. Bahkan, kegiatan PPPI yang dulunya terpusat di Jakarta kini terdistribusi ke daerah-daerah luar Jawa termasuk Kalimantan, Sumatera bahkan Maluku. Animo Sarjana Teknik mengikuti kegiatan ini karena adanya amanah UU keinsinyuran yang menyatakan hanya Insinyur dan Insinyur yang teregistrasi yang berhak melakukan aktifitas dan praktek keinsinyuran di Indonesia.

1-NgadiyantoSertifikasi Insinyur Profesional oleh PII dalam sejarah perjalanannya mulai mendapatkan pengakuan internasional di tahun 2003 oleh APEC menyusul menyusul pengakuan tingkat ASEAN di Tahun 2004. Ini disampaikan oleh Habibie Razak pada saat memberikan kuliah tentang sistem sertifikasi Insinyur Profesional. Habibie juga menambahkan, proses untuk mendapatkan lisensi Insinyur Profesional di luar negeri seperti Amerika, Canada dan Australia selain memiliki perbedaan dalam proses juga memiliki kesamaan yaitu untuk mendapatkan pengakuan sebagai professional engineer, engineer in training atau graduate engineer harus memiliki pengalaman minimum 4 tahun di dunia keinsinyuran. Indonesia melalui PII mengadopsi sistem bakuan kompetensi dari the Institution of Engineers Australia.

2-HR kelas AProgram Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) yang diadakan hasil kerjasama PII dan Ikatan Alumni Teknik Unhas untuk kedua kalinya diadakan di Balikpapan mengumpulkan para professional di bidang keinsinyuran di wilayah Kalimantan yang mayoritas bergerak di sektor pertambangan dan migas. Sebutlah beberapa kawan dari Chevron yang tak kalah antusiasnya mengikuiti program ini sampai penutupan. Tidak seperti biasanya, PPPI kali ini terdiri dari dua kelas untuk mengakomodir lebih dari 70 peserta agar sesi tanya jawab dengan para instruktur bisa lebih efektif.

3-RusmanPPPI ini dihadiri oleh Ir. Ngadiyanto, IPM mewakili PII Pusat membuka acara ini setelah sebelumnya Ir. Isradi Zainal memberikan kata sambutan selaku Ketua PII Wilayah Kalimantan Timur. Isradi yang juga adalah Ketua Asosiasi Pengusaha K3 ini diberi tugas memberikan materi Keselamatan dan Kesehatan Kerja mengutarakan bahwa regulasi K3 di Indonesia saat ini tidak tersentralisasi pada satu kementerian saja begitu pun terkait perijinannya ada pada tiap kementerian dan departemen-departemen di bawah kementerian. Semisal, Direktorat Migas memiliki regulasi K3 sendiri dan berbeda dengan Direktorat Minerba dan saat ini berdiri Direktorat Panas Bumi yang juga memiliki regulasi sendiri. Untuk berpraktek K3 di suatu proyek harus mendapatkan ijin sesuai regulasi di direktorat yang membawahi proyek itu. Kementerian Ketenagakerjaan pun memiliki regulasi K3 yang berbeda. Jadi, untuk bekerja sebagai ahli K3 bahkan mendirikan perusahaan yang menyediakan jasa K3 kita harus mendapatkan ijin kerja dari berbagai direktorat dan kementerian tersebut di atas. Tumpang tindih antar-regulasi pun sudah sering terjadi dan semakin membingungkan para pelaku penyedia jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ini.

6-Isradi K3Materi advokasi dan hukum profesi keinsinyuran seperti biasa diadakan oleh Ir. Sapri Pamulu, PhD yang merupakan Wakil Ketua Komite Advokasi Insinyur PII Pusat. Fokus materi adalah memberikan gambaran rancangan sistem perlindungan Insinyur hubungannya dengan malpraktek keinsinyuran dan upaya untuk mensetarakan program Professional Indemnity Insurance dengan apa yang ada di luar negeri saat ini. Sapri Pamulu adalah Manager Project Management Office di PT Wiratman saat ini dan aktif sebagai staff ahli di Kementerian Pekerjaan Umum.

4-SapriMateri Organisasi Profesi dipaparkan oleh Dr. Ir. Rusman adalah Ketua PII Cabang Makassar juga adalah Dosen Teknik Industri di Fakultas Teknik Unhas. Tata cara pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional dijabarkan secara mendetail oleh Ir. Andi Subhan dan Ir. Taufik Nur yang juga merupakan sesi materi terakhir pada kegiatan PPPI kali ini sebelum akhirnya ditutup secara resmi dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama antara panitia, instruktur dan pengurus PII dan peserta. Habibie sebagai reporter pada kegiatan ini menyempatkan berfoto dengan beberapa kawan dari Chevron dan Adaro. Ternyata, melalui PII kita bisa dipertemukan dan menjadi keluarga besar Insinyur Indonesia yang diyakini akan lebih solid mengikuti organisasi kedokteran yang merupakan organisasi profesi pertama di Indonesia.

5-Bebens

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia

Reportase oleh: Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat.

 

 

7-Taufik Nur8-Foto bersama

Strategi Pemasaran Produk dan Jasa Keinsinyuran pada Program Pembangkitan Listrik 35.000 MW

Oleh: Habibie Razak – Energy Practitioner and Power, Oil & Gas Project Manager

Program pembangunan pembangkit listrik oleh Pemerintah Republik Indonesia yang dijalankan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang saat ini dikenal sebagai program 35.000 MW yang ditargetkan selesai dalam 5 tahun satu periode pemerintahan Jokowi-JK. Begitu banyaknya proyek pembangkit listrik sebagai bagian dari program ini dimulai dari pembangkit berskala kecil, menengah sampai besar, dari bahan bakar gas, batubara dan renewable energy yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Perusahaan yang memiliki reputasi internasional baik domestik, nasional maupun asing bertarung memenangkan ratusan bahkan ribuan paket pekerjaan pada program 35.000 MW di antaranya sebagai Kontraktor Rancang-Bangun (EPC), Major Equipment Provider seperti Turbin, Boiler, Water Treatment Package dan lainnya. Insinyur Indonesia dituntut berperan serta bukan hanya pada saat fase eksekusi proyek berlangsung tapi di tahap di mana mereka sebagai perwakilan dari perusahaan-perusahaan raksasa tadi turut andil memenangkan proyek-proyek mercusuar di program 35.000 MW ini.

Salah satu jenis kompetensi yang perlu dimiliki oleh seorang Insinyur yang bergelut di bidang pemasaran produk atau jasa keinsinyuran adalah manajemen pemasaran. Insinyur yang bergelut sebagai Sales dan Business Development memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain: memasarkan produk berbau teknologi atau jasa keinsinyuran kepada client atau customer dan memenangkan proyek-proyek tersebut dengan menggunakan segala sumber daya yang ada di dalam organisasinya. Suatu perusahaan memungkinkan untuk mengembangkan bisnisnya termasuk menambah sumber dayanya seiring dengan produktifitas di dalam memasarkan produk dan jasanya secara sustainable atau berkelanjutan. Insinyur Pemasaran harus mampu menerapkan strategic selling untuk mampu memenangkan proyek-proyek Pembangkit Listrik di mana pihak pemilik proyek adalah PLN maupun pihak swasta atau dikenal sebagai Independent Power producer (IPP). Sebagai contoh, seorang Insinyur pemasaran yang berusaha menjual major equipment package yang digunakan pada pembangkit listrik di dalam langkahnya untuk meraih kontrak ataupun orderan perlu mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

  • Target utama pemilik proyek. Apabila pihak pemilik itu adalah perusahaan IPP maka target finalnya adalah memenangkan tender IPP dan finalisasi Power Purchase Agreement (PPA). Insinyur Pemasaran perlu membekali diri pengetahuan dan pengalaman tentang mekanisme tender IPP dan regulasi terkait dengan bisnis ini. Insinyur pemasaran yang berpengalaman di bisnis ini akan mampu memberikan rekomendasi bahkan solusi pada beberapa hal terkait tender IPP antara lain: saran tentang pemasok bahan bakar pembangkit, opsi lender atau pihak pemberi pinjaman untuk proyek sejenis ini, rekomendasi kontraktor EPC yang berpengalaman pada pembangunan pembangkit listrik tergantung tipe dan kapasitasnya, dan juga saran tentang opsi kontraktor pengoperasian dan pemeliharaan pada saat fasilitas pembangkit sudah mulai bekerja. Seorang Insinyur Pemasaran memiliki nilai tambah di mata pemilik proyek apabila dia mampu memfasilitasi komunikasi antara PLN dan IPP.
  • Insinyur Pemasaran diharapkan mampu menghitung Return on Investment (ROI) setidaknya membantu Client atau Owner di dalam menyediakan opsi-opsi strategis untuk menurunkan biaya investasi proyek yang tidak lain tujuan akhirnya adalah untuk meraih keekonomian proyek. Perhitungan struktur tarif yang akan ditawarkan ke PLN terdiri dari 4 komponen antara lain: komponen A adalah total pinjaman, bunga dan Return on Equity, komponen B adalah biaya tetap pengoperasian dan pemeliharaan, komponen C adalah biaya bahan bakar dan komponen D adalah biaya variabel pengoperasian dan pemeliharaan.
  • Insinyur Pemasaran memahami bahwa keberlanjutan operasi adalah penting buat pemilik proyek untuk bisa mencapai periode pengembalian yang lebih cepat. Pembangkit listrik yang bisa bekerja minimum 8.000 Jam per Tahun tanpa ada gangguan signifikan akan memaksimal profitabilitas pemiliknya. Setidaknya ada tiga faktor yang mendrive kehandalan suatu pembangkit antara lain: komponen equipment utama seperti turbin dan boiler adalah merupakan teknologi yang teruji dan handal, program pemeliharaan yang tepat sasaran, dan ketersediaan suku cadang.
  • Analisis kompetitor yang terkait dengan produk yang dijual. Insinyur pemasaran selain menguasai produk yang dia jual juga memahami kelebihan dan kekurangan teknologi lain yang bisa menjadi pesaing utama dari produk yang dia pasarkan.

Insinyur Pemasaran yang akrab kita sebut sebagai sales engineer atau bahkan business development apapun yang dia berusaha pasarkan secara garis besarnya memiliki kompetensi kunci antara lain:

  • Memahami sepenuhnya secara teknis dan komersil tentang produk dan/atau jasa yang dia pasarkan. Dia memahami dan mengimplementasikan konsep Value Proposition. Value Proposition adalah perusahaannya memiliki produk yang membedakannya dengan competitor lainnya dan secara signifikan mempengaruhi investasi pemilik proyek ke arah yang tepat.
  • Akses langsung ke organisasi customer atau client. Insinyur Pemasaran yang handal dan berpengalaman menemukan siapa yang dia bisa dekati yang bakalan bisa mengambil keputusan final untuk memenangkan produk atau jasa yang dia jual.
  • Subject Matter Expert (SME) pada satu atau beberapa organisasi profesi keinsinyuran dan komunitas professional seperti: Persatuan Insinyur Indonesia (PII), Komunitas Migas Indonesia (KMI), Masyarakat Kelistrikan Indonesia (MKI). Dengan berpartisipasi aktif pada organisasi atau komunitas di atas dia akan mampu berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan para professional dari berbagai level seperti President Direktur, Direktur Operasi, General Manager, Manager sampai pada level Engineer yang tidak menutup kemungkinan di antara mereka adalah potential clients.
  • Bagaimana pun juga, sehebat apapun seorang Insinyur Pemasaran dia tetap tidak akan mampu menjual sendiri tanpa dukungan dari anggota tim lainnya. Menjual proyek atau produk bukanlah pencapaian individual tapi melainkan kerjasama tim. Kuncinya adalah zippering the relationship di setiap lapis struktur organisasi Client.

 

 

Inhouse PPPI PT Nindya Karya, 21 April 2016

Program Pembinaan Profesi Insinyur kembali bergulir sebagai entry point buat para Sarjana Teknik yang bekerja lebih dari tiga tahun di dunia keinsinyuran untuk meraih sebutan Insinyur dan gelar Insinyur Profesional. UU No. 11 Tahun 2014 mengamanahkan kepada para Sarjana Teknik mengikuti program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) sebagai salah satu upaya menjadi Insinyur yang teregistrasi.

Rudianto2

Inhouse workshop ini lahir dari permintaan Ir . Haedar A. Karim Direktur Pemasaran dan Pengembangan PT Nindya Karya setelah sebelumnya membuka kegiatan serupa hasil kerjasama Ikatan Alumni Unhas dan PII pada Tanggal 9 Maret 2016. Peserta PPPI bukan hanya dihadiri oleh staff Insinyur perusahaan konstruksi berpelat merah ini tetapi melihat absensi kehadiran peserta, dari 40 peserta dihadiri oleh level manager, kepala divisi, general manager sampai pada level direksi perusahaan ini.

 

Sapri

Ir. Rudianto Handojo membuka acara PPPI dan sekaligus memaparkan materi Sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Terlihat Direktur Utama Nindya Karya, Ir. Indradjaja Manopol intens mendengarkan pemaparan Ir. Rudianto selama sesi ini.

 

 

 

 

Tjipto

Materi Etika dan Hukum Profesi Insinyur disampaikan oleh Ir. Sapri Pamulu, Ph.D dan kemudian dilanjutkan materi Pengenalan Sertifikasi Insinyur Profesional oleh Ir. Tjipto Kusumo. Bapak Tjipto pada beberapa slides menggambarkan perbandingan antara proses mendapatkan sertifikasi Insinyur di Indonesia dan di negara maju seperti Amerika. Seperti yang disampaikan Beliau, Sarjana Teknik yang telah mengikuti Program Profesi Insinyur disebut Insinyur sedangkan Sarjana Teknik di US setelah lulus Fundamental Engineering diberi gelar Engineer-in-Training atau Engineer Intern kemudian kedua-duanya baik di Indonesia maupun di US mereka akan berhak mendapatkan lisensi Insinyur Profesional setelah mengikuti uji kompetensi keinsinyuran. Uji kompetensi keinsinyuran bisa dilakukan setelah Engineer memiliki pengalaman keinsinyuran lebih dari 4 tahun.

My show time

Materi pengenalan Bakuan Kompetensi dipaparkan oleh Ir. Habibie Razak kemudian dilanjutkan panduan pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional oleh Ir. Wahyu Hendrastomo. Habibie dalam paparannya memberikan contoh isian FAIP kepada peserta dan menyatakan akan siap membantu profesional-profesional Nindya Karya apabila dibutuhkan pada saat pengisian FAIP setelah workshop PPPI.

 

 

Wahyu

Salam Insinyur, Bravo PII.

Reportase oleh Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat

 

 

 

Program Pembinaan Profesi Insinyur PII Kerjasama IKATEK dan ISP Unhas, 16 April 2016

Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin (IKATEK-UH) dan Ikatan Sarjana Perkapalan Unhas (ISP-UH) untuk yang kesekian kalinya bekerjasama dengan Persatuan Insinyur Indonesia menggelar Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) yang diadakan pada Hari Sabtu, 16 April 2016 di Gedung BPPT, Jl. MH Thamrin. Peserta seperti biasa didominasi oleh Alumni Unhas sebagaimana target program kerja Ikatan Alumni untuk menginsinyurkan lebih dari 1000 alumni Teknik Unhas yang saat ini kebanyakan bekerja di sektor keinsinyuran yan mencakup konstruksi infrastruktur publik, minyak dan gas, galangan kapal dan industri manufaktur.

Pembukaan.jpgAcara dibuka oleh Ir. Ngadiyanto, IPM sekaligus memberikan sambutan kepada peserta PPPI ini. Beliau menyampaikan bahwa Alumni Universitas Hasanuddin dan PII Cabang Makassar adalah termasuk yang paling proaktif di dalam mengikuti program PPPI dan workshop sertifikasi ini. Kesadaran mereka akan sertifikasi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN patut diapresiasi dan dijadikan contoh supaya alumni lain juga mengikuti jejak alumni Unhas ini. Sosialisasi UU Keinsinyuran adalah materi pertama seperti biasa yang juga dibawakan oleh Ir. Ngadiyanto.

Roby

Ir. Habibie Razak, IPM., ACPE pada kesempatan kali ini diminta membawakan dua materi yaitu Organisasi PII dan Pengenalan Sertifikasi Insinyur Profesional. Habibie sedikit bercerita tentang benefit yang dimiliki oleh Insinyur yang bersertifikasi. Beberapa bulan yang lalu, suatu perusahaan EPC India membutuhkan seorang Professional Engineer untuk melakukan verifikasi invoice yang disubmit oleh beberapa subkontraktor yang bekerja di bawah kontraktor EPC ini. Main EPC contractor ini ternyata mendapatkan pembiayaan proyek dari Bank India termasuk membayarkan segala tagihan atau invoice dari subkon mereka. Teman yang bekerja di sana menghubunginya dan meminta melakukan peer-review terhadap payment milestone termasuk scope of works dan Bill of Quantities yang diklaim telah dilakukan oleh subkon mereka. Setelah mereview dokumen invoice itu Habibie diminta bertanda tangan di atas kertas invoice menyatakan bahwa subkon memenuhi syarat untuk dibayarkan oleh pihak Kontraktor EPC. Habibie dibayar oleh Kontraktor India ini sebagai independent verificator sebagai syarat untuk mendapatkan pembiayaan dari Bank India.

materi Sapri.jpg

Ir. Sapri Pamulu, PhD sebagai perwakilan dari IKATEK Unhas menutup acara PPPI ini setelah membawakan materi Etika Profesi dan Advokasi Insinyur. Beliau dalam pemaparannya menyampaikan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Komite Advokasi di dalam mengupayakan Insinyur Profesional mendapatkan Professional Indemnity Insurance sebagai upaya perlindungan terhadap Insinyur terhadap resiko malpraktek keinsinyuran.

 

 

Penyerahan simbolis.jpg

Hadir sebagai peserta dalam acara ini adalah Ir. Trigunawan Wardana alumni Perkapalan Unhas yang bekerja di Industri Perkapalan di area Jakarta Utara. Ali Mahmudi, peserta yang bekerja di British Petroleum penugasan LNG Tangguh Papua juga tampak aktif bertanya dan mengemukakan pendapat selama program ini berlangsung. Ir. Ali Mahmudi mendapatkan mandat dari PII Pusat untuk segera membentuk PII Cabang Batang di mana Beliau berdomisili. Sebagaimana diketahui bersama, tidak lama lagi Kabupaten Batang akan menjadi daerah strategis untuk pengembangan industri termasuk dibangunnya Pembangkit Listrik berkapasitas 2×1000 MW yang akan menjadi pembangkit listrik terbesar di Asia Tenggara yang akan rencana beroperasi Tahun 2019 nanti.

Di luar ruangan berlangsungnya PPPI ini, di depan meja registrasi bertugas staff PII Pusat dan IKATEK Unhas terdiri dari Ibu Ita Sulistiawaty, Bapak Zul, Bapak Jafar dan Ibu Titi Tri Kuntarti.

Foto bersama.jpg

Kegiatan ini ditutup dengan sesi foto bersama peserta, panitia dan Pengurus Pusat PII.

Panitia.jpg

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia.

Reportase oleh: Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas

 

 

 

Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI), Medan, 5 April 2016

Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) kembali dilaksanakan di Medan, Selasa, 5 April lalu. Kegiatan sehari yang diselenggarakan oleh PII Wilayah Sumatera Utara berlokasi di Ruang Nuri Hotel Garuda Plaza dihadiri lebih dari 30 peserta dari berbagai instansi dan perusahaan yang beroperasi di Kota Medan dan sekitarnya.

Ngadiyanto

Acara dibuka secara resmi oleh Ir. Ngadiyanto, SE., IPM sekaligus membawakan materi sosialiasi UU No. 11 Tahun 2014. Hadir pada pembukaan ini adalah Ir. Ricson Simarmata – Ketua Wilayah Sumut beserta pengurus lainnya. Ir. Ricson dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada perwakilan PII Pusat yang menyempatkan hadir dan membuka acara PPPI ini. Kata Beliau “Diharapkan ke depannya Pengurus Wilayah minimal akan bisa mengkoordinir lebih dari 10 Cabang di wilayah Sumatera Utara untuk lebih menguatkan peran serta PII dalam pembangunan infrastruktur dan sarana prasarana di Propinsi ini”.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Pusat memberikan mandat kepada Ir. Ngadiyanto dan Ir. Habibie Razak sebagai Instruktur pada PPPI kali  ini. Di antara peserta yang hadir, Ibu Murniati Pasaribu Ketua LPJK Daerah Sumatera Utara dan Rikardo B. Manurung Ketua INKINDO Sumatera Utara bersama rekan-rekannya tampil sangat proaktif bertanya dan berpendapat di sesi pemaparan sosialisasi UU Keinsinyuran yang dibawakan oleh Ir. Ngadiyanto dan sesi Etika Profesi dan Advokasi yang dipaparkan oleh Ir. Habibie Razak.

Habibie show time

Malam sebelum pelaksanaan acara, Ir. Budhi Santri, IPM dan Ir. Abdul Rojak Pengurus PII Sumut menjemput perwakilan Pengurus Pusat PII di Bandara Kualanamu yang kemudian dijamu dengan makan malam di salah satu restoran Padang tidak jauh dari Bandara. Tidak jauh sebelum diantar ke Hotel Garuda Plaza tempat mereka menginap, mereka menyempatkan singgah di Warung Durian Pelawi. Durian pun akhirnya menjadi makanan penutup malam itu. “Kami sangat menikmati jamuan Pengurus Wilayah Sumatera Utara ini dan berharap akan mendapatkan undangan lagi supaya bisa menikmati durian medan untuk kesekian kalinya” Kata Habibie kepada salah seorang panitia PPPI ini.

 

Suasana Kegiatan

Reportase oleh: Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Makan Durian

Kunjungan Teknis Tim Persatuan Insinyur Indonesia pada Proyek Pembangunan MRT

Hari Kamis, 31 Maret 2016, Ir. Heru Dewanto Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Ir. Bobby Gafur Umar Mantan Ketum PII Periode lalu yang saat ini menjabat Ketua Dewan Pakar PII bersama  Pengurus Pusat Persatuan Insinyur Indonesia lainnya melakukan kunjungan teknis pada Proyek Pembangunan MRT yang sudah memasuki tahap konstruksi kira-kira pertengahan tahun lalu. Saat ini, Terowongan kereta bawah tanah pertama di Jakarta telah mencapai setengah dari jarak 6 kilometer, meningkatkan harapan bahwa proyek Mass Rapid Transit (MRT) senilai 1,6 miliar dolar (atau setara Rp 16 triliun) yang sempat tertunda lama ini bisa diselesaikan.

IMG-20160401-WA001

MRT Jakarta  (Mass Rapid Transit Jakarta) yang berbasis rel  rencananya akan membentang kurang lebih 110.8 km, yang terdiri dari Koridor Selatan – Utara (Koridor Lebak Bulus – Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih 23.8 km dan Koridor Timur – Barat  sepanjang kurang lebih 87 km.

Pembangunan koridor Selatan – Utara dari Lebak Bulus – Kampung Bandan dilakukan dalam 2 tahap:
Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15.7 km dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah) ditargetkan mulai beroperasi pada 2018.
Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan sepanjang 8.1 Km yang akan mulai dibangun sebelum tahap I beroperasi dan ditargetkan beroperasi 2020. Studi kelayakan untuk tahap ini sudah selesai.

 

 

IMG-20160331-WA003Koridor Timur – Barat saat ini sedang dalam tahap studi kelayakan. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2027 sebagaimana diinfokan oleh PT Jakarta MRT.

Proyek Pembangunan MRT dibiayai oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta serta didukung oleh Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA). Dukungan JICA diberikan dalam bentuk penyediaan dana pembangunan dalam bentuk pinjaman.

Pelaksanaan Pembangunan MRT melibatkan beberapa instansi, baik pada tingkatan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan PT. MRT Jakarta. Oleh karena itu, Dokumen Anggaran yang diperlukan juga melibatkan lembaga-lembaga tersebut dengan nama program dan kegiatan berbeda namun dengan satu output yang sama, pembangunan MRT.

Rute MRT

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai implementing agency, telah menunjuk PT. MRT Jakarta sebagai sub implementing dari program pembangunan MRT Jakarta.

Agenda kunjungan tim PII kali ini diantaranya, mereka mendapat penjelasan tentang proyek pembangunan MRT Jakarta mulai dari nilai proyeknya, status pekerjaan konstruksi, skema kerjasama dan pihak-pihak mana saja yang terlibat dalam proyek ini termasuk informasi-informasi teknis desain, spesifikasi dan standard yang digunakan pada proyek ini. Tim PII juga menyempatkan meninjau progress pengeboran dan pembangunan terowongan (tunneling) sampai pada kedalaman 20 meter.

Pengurus PII memberikan beberapa rekomendasi kepada pihak project developer antara lain dengan melihat ke depan bahwa kota-kota besar lainnya di Indonesia akan mengikuti rencana jangka panjang Jakarta terkait dengan pengembangan MRT maka diharapkan Kontraktor Nasional kita diberikan porsi yang lebih besar lagi pada proyek sejenis termasuk penggunaan bahan baku dan material konstruksi dalam negeri akan lebih termaksimalkan lagi (local content maximization).

IMG-20160331-WA004

Rekomendasi yang lebih penting lagi adalah dengan adanya proyek Pembangunan MRT ini bisa memberikan kesempatan lebih besar kepada Insinyur-Insinyur Indonesia mengisi posisi-posisi strategis di proyek sejenis seperti sebagai design engineer, construction manager, quality assurance/quality control bahkan sebagai project manager dan project director. Bobby dalam kunjungannya mengatakan “Inilah waktunya Insinyur kita terlibat lebih dalam di proyek ini dan mengambil ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya sehingga untuk proyek selanjutnya Indonesia sudah bisa melakukan secara mandiri baik dari sisi sumber daya Insinyur, bahan baku maupun teknologi yang digunakan”.

Hadir pada Kunjungan Teknis ini antara lain Ir. Rauf Purnama, Ketum PII Periode  2004-2006, Ir. Airlangga Hartarto, Ketum PII Periode 2006-2009 dan beberapa pengurus senior PII lainnya.

Reportase oleh: Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat Periode 2015-2018

Pembicara pada One Day EPC Contract Workshop, 23 Maret 2016

Workshop EPC Contract yang di-organize oleh EMLI training dihadiri oleh 8 peserta dari berbagai profesi antara lain legal consultant, inhouse legal officer, project engineer, quality engineer dan commercial project officer beberapa perusahaan di Jakarta dan sekitarnya. Workshop ini diadakan hari Rabu, 23 Maret 2016 di Hotel Amaris Jl. Prof. Soepomo Tebet Jakarta Selatan.

Show Case

Workshop ini adalah yang kedua kalinya oleh EMLI dan menghadirkan instruktur yang sama yakni Ir. Habibie Razak, MM., ASEAN Eng., ACPE project manager power, oil and gas yang juga saat ini menjabat sebagai Sekretaris Bidang Distribusi Gas Persatuan Insinyur Indonesia Pusat. Model kontrak EPC di Indonesia saat ini terutama di bidang power, oil and gas menjadi pilihan yang tepat untuk memberikan mutual solution antara kedua pihak yang berkontrak, owner dan kontraktor EPC. Owner membuat Term of Reference atau Instruction to Bidder untuk Kontraktor EPC memasukkan penawaran yang akan dinilai secara teknikal dan komersil oleh Project Owner.

 

 

Keuntungan EPC Contract bagi Project Owner antara lain:

  • Single Source Responsibility
  • Reduced Risk
  • Increased Efficiency With Reduced Transaction Costs
  • Improved Quality Of Completed Project
  • Reduced Time From Concept To Completion
  • Increased Value Of Construction
  • Reduced Project Administration Burden
  • Reduced Change Orders & Claims

Kenyataan yang dihadapi saat ini, bahwa banyak Kontraktor EPC yang dulunya adalah engineering consultant yang kemudian menjelma menjadi EPC contractor, di lain pihak banyak juga constructor yang kemudian menjelma menjadi EPC contractor. For instance, PT Tripatra Engineers and Constructors lahir dari kapabilitas engineering mereka sebagai perusahaan engineering yang kemudian menjelma menjadi perusahaan raksasa EPC di Indonesia dan ASEAN begitu pun dengan Rekayasa Industri. Kontraktor EPC seperti Wijaya Karya dan karya-karya lainnya berusaha menjadi kontraktor EPC di mana mereka lahir sebagai pure contractor yang banyak mengerjakan proyek infrastruktur publik selama beberapa dekade terakhir.

Foto2

Instruktur menyampaikan, pendekatan pertama di atas di mana perusahaan engineering menjelma menjadi EPC contractor memiliki opportunity lebih besar untuk menjadi lebih mature dikarenakan kontrak EPC ini mengharuskan suatu kontraktor EPC bertanggung jawab terhadap performance guarantee terhadap apa yang mereka kerjakan dalam posisinya sebagai one single point responsibility. Kontraktor seperti Tripatra dan Rekayasa Industri bisa lebih confident dengan apa yang mereka kerjakan dikarenakan bekal hitung-hitungan engineering seperti heat and mass balance, water steam cycle, dan perhitungan proses lainnya sehingga mereka bisa menggaransi output atau target capacity sesuai dengan isi dari kontrak EPC. Di sisi lain untuk porsi konstruksi, mereka lebih sering mengsubkonkan pekerjaan konstruksi dan instalasi pada kontraktor rekanan dan pada saat commissioning dan startup tetap yang menjadi key persons pada aktifitas ini adalah engineer-engineer yang merupakan internal resource capabilities Tripatra dan Rekayasa Industri.

Kontraktor EPC yang dulunya berasal dari spesialisasi konstruksi di dalam mengerjakan proyek EPC akan sangat membutuhkan engineering consultant sebagai subcontractor atau consortium partner yang memiliki capabilities yang mumpuni yang bisa menggaransi performance dari suatu pabrik yang dibangun kepada kontraktor EPC tadi dan si Kontraktor EPC menggaransi performance output kepada owner (back to back). Pada saat pekerjaan konstruksi, mereka akan lebih progresif karena mereka sudah familiar di bidangnya walaupun engineering consultant tetap harus melakukan construction management program memastikan Kontraktor EPC melakukan konstruksi dan instalasi sesuai dengan standard dan spesifikasi yang ditetapkan. Scope commissioning dan startup akan lebih banyak dikerjakan oleh engineering consultant karena mereka yang lebih paham sistemnya sebagaimana mereka yang melakukan design dari awal.

Foto Bersama2

Workshop EPC contract ini diharapkan bisa dilakukan minimal sekali sebulan agar dunia konstruksi termasuk pelaku-pelaku konstruksi bisa lebih memahami betapa besarnya benefit yang diberikan oleh model kontrak ini baik untuk project owner maupun kontraktor EPCnya.