Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Diundang Himpunan Mahasiswa Sipil Sesi Kedua Effective Career Planning dan Memenuhi Undangan PPDA Himpunan Mahasiswa Elektro Universitas Hasanuddin

Awal bulan Pebruari 2014 tepatnya Tanggal 1 Pebruari saya kembali diundang menjadi pembicara pada Kuliah Tamu Himpunan Mahasiswa Sipil sesi kedua “Effective Career Planning; Focus Group Discussion & Behavioral Event Interview”.  Pengurus Himpunan Mahasiswa Sipil  yang diwakili Ketua Umumnya Muhammad Asrul Ansar meyakini sesi kedua yang terdiri dari pendalaman tentang materi Focus Group Discussion (FGD) dan Behavioral Event Interview (BEI) adalah sangat perlu diketahui dan mulai dipraktekkan jauh hari sebelum mereka melalui proses seleksi menjadi karyawan di perusahaan industri pertambangan, minyak dan gas nantinya.

Spanduk Kuliah Umum

Tujuan dari sesi kedua ini saya kutip dari power point slides antara lain: 

—Industry requirements on candidate of employees to enter as professionals – Implementation of Engineers Required Competency Dictionary
—Practice effective Focus Group Discussion (FGD)
—Practice effective Behavioral Event Interview (BEI)
 
Literatur yang membahas tentang FGD dan BEI mendifinisikan bahwa Focus Group Discussion (FGD) adalah an in depth field method that brings together a small homogeneous group (usually six to twelve persons) to discuss topic(s). The purpose of this discussion is to use the social dynamics of the group, with the help of a moderator/ facilitator, to stimulate participants to reveal underlying opinions, attitudes, and reasons for their behaviors.  In short, a well facilitated group can be helpful in finding out the “hows” and “whys” of human behavior. Sedangkan Behavioral Event Interview (BEI) didefinisikan sebagai one of interview model with the objective: the Interviewer gather factual information about actual behavior from the past experiences. Philosophy: past behaviors predict future behaviors. Nah, kedua jenis ujian atau tes ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing setelah proses ujian teknis tertulis (technical test) dan psychology test. Kedua jenis tes ini tidak kalah pentingnya di dalam menentukan apakah calon karyawan(i) bisa lulus dalam seleksi rekrutmen pada suatu posisi atau jabatan.
 
Penerimaan Plakat
 
Menurut pembicara, penilaian utama dari Focus Group Discussion (FGD) ini adalah peserta FGD sangat memahami topik permasalahan yang diangkat dan proaktif di dalam memberikan kontribusi pemikiran dengan cara mengemukakan pendapat dengan elegan dan memberikan solusi sesuai dengan metode penyelesaian masalah (problem solving) dan tidak pernah menentang atau menyalahkan pendapat orang lain. Peserta juga diharapkan membagi pengalaman, concerns, perasaan, opini dan harapan-harapan yang spesifik pada issue yang berkembang yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas di FGD. Diupayakan peserta tidak bereaksi  secara langsung terhadap opini peserta lainnya tanpa terlebih dahulu mengevaluasi lebih dalam tentang apa yang disampaikan. 
 
   
Behavioral Event Interview (BEI) berdasarkan pada STAR questions yang tidak lain adalah Situation, Tasking, Action dan Result. Interviewee diharapkan memaparkan pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya dengan menggunakan metode ini dan interviewer tetap mengarahkan proses diskusi dan mencatat score setiap kompetensi yang disyaratkan. Adapun kompetensi-kompetensi yang disyaratkan terdiri dari 2 garis besar yakni technical competency dan behavioral competency.  Untuk perekrutan posisi engineer, technical competency yang disyaratkan antara lain mencakup project management, process improvement and cost reduction, time management, presentation skills, technical specialization, report writing dan english.  Behavioral competency mencakup achievement motivation, impact and ifluence, teamwork and cooperation, innovative thinking, problem solving and commitment to continuous learning.
 
Sertifikat
 
Peserta kuliah umum ini dihadiri sekitar 25 orang mahasiswa (i) dari beberapa jurusan di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin berlangsung dari Pukul 13.30 sampai dengan Pukul 17.00 waktu Makassar. Mahasiswa sangat intens di dalam mengikuti sesi ini dan mereka berharap bisa segera mempelajari lebih dalam tentang materi focus group discussion dan behavioral event interview (BEI) demi persiapan masa depan mereka kelak.
 
Di hari yang sama tepatnya Pukul 19.30 Saya juga diundang ke acara Program Pengembangan Diri Paket A (PPD-A) Himpunan Mahasiswa Elektro (HME-FTUH) dan membawakan materi tentang Konsep Mahasiswa Ideal dan Effective Career Planning. Peserta PPD-A adalah mahasiswa dan mahasiswi Elektro Angkatan 2012 yang setidaknya berjumlah 150 orang.
 
Pembicara dalam pemaparannya mengharapkan mahasiswa menjalankan fungsi dan peranannya sebagai antara lain: 

1) Direct of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan secara langsung, frontal dan revolusioner.
2) Agent of Change, mahasiswa adalah agen perubahan, mempioneeri perubahan menuju ke arah yang lebih baik.
3) Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa tidak akan pernah habis karena mahasiswa adalah penerus generasi sekarang dan masa akan datang.
4) Moral Force, mahasiswa itu kumpulan orang bermoral dan beretika.

5) Social Control, mahasiswa itu pengontrol kehidupan sosial termasuk menjadi pengontrol kehidupan sosial kemasyarakatan

 
Di samping sebagai intelektual muda yang meraih ilmu pengetahuan di bangku perkuliahan mahasiswa juga diharapkan bisa membagi waktu untuk mengikuti program pengembangan diri di lembaga kemahasiswaan karena melalui lembaga kemahasiswaan mahasiswa bisa meningkatkan kompetensi perilaku (behavioral competency) atau biasa juga disebut sebagai soft skills. Pembicara berharap mahasiswa sebagai calon Sarjana Teknik ketika menjadi alumni kelak lebih memilih untuk menapaki profesi keinsinyuran karena negeri ini masih butuh sumber daya Insinyur untuk membangun Indonesia yang dituangkan dalam kerangka Masterplan Perencanaan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Foto bareng
 
 
Bravo mahasiswa Indonesia dan sampai bertemu lagi di sesi kuliah tamu selanjutnya.

Diundang Himpunan Mahasiswa Sipil FT-UH menjadi Pembicara Kuliah Tamu “Effective Career Planning for Students & Fresh Graduates”

Penghujung Tahun 2013 tepatnya Tanggal 31 Desember saya diundang ke kampus oleh Panitia Kuliah Tamu Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Unhas untuk menjadi Dosen Kuliah Tamu dengan judul “Effective Career Planning for Fresh Graduates & Students”. Acara yang berlangsung mulai Pukul 14.00 sampai dengan 17.00 ini membahas lebih banyak tentang perencanaan karir yang efektif bagi mahasiswa yang akan menjadi Sarjana Teknik maupun alumni yang baru menyelesaikan studi di kampus.

Spanduk

 

Acara kuliah tamu ini dihadiri setidaknya 40 mahasiswa Fakultas Teknik dari berbagai jurusan seperti Sipil, Arsitektur, Geologi, Perkapalan dan Mesin. Selama 3 jam presentase dan diikuti tanya jawab mahasiswa dan beberapa fresh graduates cukup menikmati suguhan slides dari pembicara bahkan pada sesi tanya jawab mereka lebih fokus bertanya tentang strategi mencari kerja yang efektif, perencanaan jenjang karir dan ada juga yang bertanya tentang alur karir pembicara mulai dari menjadi Assistant Engineer dan Project Engineer di beberapa project di suatu perusahaan tambang kemudian berpindah ke perusahaan energi sampai akhirnya menduduki jabatan project manager di perusahaan sekarang.

Suasana Kuliah Tamu Suasana Kuliah Tamu1

Slides yang berisikan tentang beberapa pemaparan antara lain: Key Steps in Career Planning, Effective Employment Search Strategies, Engineer’s Required Competencies, & Good Habits on Career Planning. Dosen tamu juga menekankan betapa pentingnya merencanakan karir dan masa depan sedini mungkin sehingga ketika tiba waktunya para mahasiswa atau calon sarjana teknik bisa meraih pekerjaan yang mendukung secara finansial dan selaras dengan jenjang karir yang dicita-citakan. Sebutlah dosen tamu bercerita tentang career pathnya dimana dia memulai profesinya sebagai assistant engineer dalam 2 tahun kemudian dipromosikan menjadi civil engineer. Semasa menjadi civil engineer dia juga pernah diberi tantangan sebagai acting project manager dan berhasil menyelesaikan 2 capital project sebelum akhirnya dia memutuskan untuk resign di perusahaan pertama dalam masa kerja kurang dari 7 Tahun. Di perusahaan kedua dia bekerja sebagai senior engineer yang tentunya tanggung jawabnya lebih besar dari posisi engineer. Kurang dari setahun di perusahaan kedua dia kemudian ditawari menjadi project manager di perusahaan ketiga dan setelah beberapa bulan akhirnya memutuskan berpindah lagi ke perusahaan keempat yang bergerak di sektor pembangkit listrik dan kilang LNG. Selama hampir 2 tahun menjabat sebagai project manager dan sekaligus engineering manager dia membangun perusahaan EPC contractor ini di Tahun 2011 dan di pertengahan Tahun 2012 dia memutuskan pindah lagi ke perusahan kelima yakni perusahaan saat ini di mana dia sudah bekerja selama 2 tahun sebagai Project Manager, Oil & Gas group, divisi Energy.

Foto Bersama

 

 

 

 

 

 

Penyerahan Perahu PinisiSeorang manager yang pernah bekerja di suatu perusahaan lokal yang berdiri dan beroperasi di Makassar dimana dia menjadi karyawan pertama dan berhasil mengembangkan perusahan ini menjadi perusahaan EPC contractor yang cukup disegani di Indonesia dan sukses mengembangkan sayap ke negara lain dengan mulai membangun pembangkit listrik dan kilang LNG di Philipina dan Papua Nugini dengan modal engineer-engineer lokal, engineer-engineer terbaik Indonesia. Perusahan ini pun sukses membangun serangkaian 3×60 MW combined-cycle dan sementara membangun kilang LNG di Sulawesi dengan kapasitas 4 Train x 500 Ribu Ton LNG per Tahun. Ini merupakan prestasi yang cukup mengesankan selama bekerja kurang dari 2 tahun di perusahaan ini.

“Seperti layaknya seorang Guru Kung Fu Shaolin, saya berharap junior-junior sekarang ini yang menjadi murid di perguruan Shaolin tidak akan pernah diijinkan turun gunung apabila belum memiliki kesiapan pengetahuan silat di dalam menghadapi tantangan dunia luar yang jauh lebih kejam dibanding yang sang guru ajarkan. Kriteria sukses sang guru ketika murid-muridnya sudah lebih hebat dan lebih jago dari gurunya sendiri” Demikian yang disampaikan Habibie Razak kepada peserta kuliah tamu sebelum menutup 3 jam sesi perencanaan karir efektif di Ruang Seminar Lantai 3 Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

Perahu Pinisi

 

Penyerahan cendera mata berupa Perahu Pinisi ciri khas souvenir Makassar diberikan langsung oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) FT-UH Periode 2013/2014 yang dilanjutkan dengan foto bersama peserta kuliah tamu dengan dosen tamu kali ini. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sipil sebagaimana dalam kata sambutannya juga mengharapkan kuliah tamu seperti ini akan lebih digiatkan lagi dan khusus untuk topik perencanaan karir efektif bisa lebih dikupas lagi tentang focus group discussion (FGD) dan job interview sebagai lanjutan dari sesi ini.

Bagi yang berminat dengan power point slides sesi ini bisa menghubungi Saudara Muhammad Asrul Ansar – Ketum Himpunan Mahasiswa Sipil Periode 2013/2014

Menjadi Peserta Focus Group Discussion tentang Penyiapan Regulasi Pemanfaatan Teknologi Gasifikasi Batubara di Indonesia

Follow up dari Konferensi Underground Coal Gasification dan Coal Gasification yang dilaksanakan oleh IBC Singapore bulan lalu, saya diundang oleh Puslitbang Tekmira, MINERBA Kementerian ESDM pada Tanggal 10 Desember 2013 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Pembicara dan fasilitator yang diundang hadir tidak hanya dari perwakilan Dirjen Minerba tapi juga dari perwakilan Dirjen Minyak dan Gas Bumi.

ID FGD

FGD CG&UCG 10 Des 2013 - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada kesempatan FGD ini terjadi pertukaran informasi tentang kesiapan bahan baku, regulasi feedstock dan pengusahaan teknologi pemanfaatan batubara yang dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia dengan sasaran sebagai berikut:

  1. Mengetahui perkembangan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  2. Mengetahui kesiapan feedstock untuk implementasi teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  3. Tersusunnya masukan bagi regulasi pemerintah untuk pengusahaan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  4. Mengetahui usulan tataniaga produk gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  5. Mempercepat penerapan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.

Acara yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Kementrian ESDM, Ibu Dra. Retno Damayanti Dipl. EST dan juga dimoderasi oleh Bapak Prof. Bukin Daulay melahirkan beberapa pembahasan yang akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya antara lain:

  1. Permitting issues. The processing permit of UCG & coal gasification to produce syngas will be under the department of coal & mineral.
  2. Permitting issues. The permit for trading & specification of coal gasification products consist of SNG, DME, & all other type of fuels will be by the department of oil & gas.
  3. Permitting issues. The permit for trading & specification of all petrochemical products will be by department of industry.
  4. Permitting issues. The permit for trading & specification of the coal gasification products for public electricity by the electricity department.
  5. The law and regulation pushing to utilize the coal and mineral resources to add value for domestic need, Law No. 4 Year 2009 will be released starting January 2014. The requirement is to build smelter and processing plant in Indonesia instead of just exporting in raw materials form.
  6. The background on why the government utilized the coal as fuel and raw material for petrochemicals
  • Coal resource is abundant
  • The decrease of domestic oil lifting production.
  • The increase of fuel consumption
  • The increase of import of fuel for domestic consumption
  • President Instruction No. 5/2006, the target for coal to liquids utilization in 2025 shall be over or equal to 2% of energy mix

7. Challenges on coal gasification

  • High investment
  • Limited infrastructures for coal to liquids and coal gasification supply chain
  • CO2 control

8. Government policy to push forward on coal gasification

  • Study and research on coal gasification and coal liquefaction
  • Facilitate the cooperation and joint study for this type of project
  • Facilitate the cooperation for supply guarantee of coal for petrochemical raw materials
  • Possibility to give investment incentives for this type of projects
  • Develop supply chain and specification on coal gasification products.

      9.  The coal price is estimated USD 14/Ton (I think this is low rank coals) for coal gasification sectors to produce fuels and chemicals. This will be added on the regulation.

     10.  Coal to DME will also be the option to displace the need for LPG for community and housing needs.

     11.  CWM is used to substitute the MFO in the industry.

     12.  Concerns from several companies such as MEDCO, Bukit Asam, Pupuk Indonesia & subsidiaries regarding the complexity of the permitting and licensing since all these business will involve both department of coal and mineral & oil and gas. The permitting for mining exploration and exploitation themselves are complicated.

     13.  Black & Veatch added the concerns on environment regulations and standards included in the new regulation to support & trigger the investment. The world bank and some international financing institution provided several requirement on environmental things. For example: Carbon capture mechanism to control emission, UCG EHS, etc. All requirements with regard to this concern have been sent to ministry ESDM.

Semoga dengan inisiatif yang dilakukan oleh Kementerian ESDM ini membuahkan hasil yang mumpuni dalam rangka mewujudkan regulasi coal gasification, underground coal gasification dan coal water mixture sehingga kebijakan ini menjadi dasar tumbuhnya iklim investasi industri di sektor ini. Dengan pemanfaatan batubara kita yang berkalori rendah melalui proyek-proyek gasifikasi akan meningkatkan ‘value added’ dan neraca kerja Insinyur Indonesia, multiplier effect sampai ke masyarakat lokal, meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi sektor riil domestik Indonesia.

Ikutan Nimbrung di International Coal Gasification Conference di Singapura (19 – 22 Nopember 2013)

Konferensi coal gasification kali ini menghadirkan various speakers dari beberapa perusahaan multinasional yang bergerak di bidang energi, oil & gas. Masing-masing pembicara adalah professional and networker mengupas perkembangan proyek-proyek coal gasification dan underground coal gasification (UCG) yang sementara bergulir. Tak ketinggalan pembicara dari Indonesia mewakili beberapa instansi dan institusi pemerintah seperti Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Coal gasification adalah suatu proses di mana raw carbonaceous fuels dioksidasi secara parsial untuk menghasilkan gaseous combustible products lainnya. Produk utama dari  gasifikasi adalah synthesis gas atau syngas, umumnya terdiri dari carbon monoxide (CO), hydrogen, methane, carbon dioxide, and nitrogen. sedangkan kategori teknologi gasifikasi batu-bara saat ini adalah fixed bed, fluidized bed, entrained flow – slurry feed dan entrained flow – dry feed.

21 Nov 2013

21 Nov 2013 (2)

 

 

 

 

 

 

 

 

In this today’s global energy mix, gasification has been processed to many downstream products such as:

  • Ammonia, urea for fertilizing
  • Methanol/DME/Gasoline/Olefins
  • Carbon dioxide together with methanol can produce acetic acid, phosgene to polyurethane
  • Hydrogen
  • Oxo alcohols to detergents, plasticizers.
  • Fischer tropsch to fuels (diesel, jet fuel, naphtha), lubricant base oils, drilling fluids, specialty waxes and others
  • Synthesis natural gas (SNG)
  • Town gas
  • Reduction gas for metals production
  • Gas turbines to electric power

 Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan di dalam memilih teknologi gasifikasi antara lain:

  • Karakteristik batubara seperti moisture content, flyash content, calorific value (CV), dan seterusnya
  • Produk yang akan dihasilkan (downstream products) dan aplikasinya. Syngas yang dihasilkan apakah akan dibuat methanol, fertilizer, SNG atau untuk pembangkit listrik. Setiap teknologi memiliki keunggulan pada aplikasi tertentu seperti MHI dryfeed entrained flow lebih banyak digunakan pada aplikasi IGCC dan SNG sebagai produk akhir.
  • Capital expenditure (CAPEX) yaitu biaya investasi keseluruhan proyek.
  • Operating expenditure (OPEX). Biaya operasional dan pemeliharaan dari suatu pabrik gasifikasi sebagai hasil dari pemilihan suatu teknologi.
  • Skala pabrik dan tingkat reliabilitasnya. Untuk skala besar (higher throughput) entrained-flow gasifier adalah opsi yang tepat.
  • Dan berbagai aspek lainnya.

Untuk tipikal low rank coal di Indonesia berdasarkan hasil beberapa studi, dryfeed entrained flow gasifier memiliki efisiensi yang lebih tinggi dan biaya investasi yang lebih murah.  The Shell Coal Gasification Process (SCGP) dengan high temperature heat recovery (HTHR) memiliki efisiensi tertinggi dan ideal untuk aplikasi IGCC. Teknologi bottom water quench kolaborasi antara Shell dan Wison juga fit untuk menghasilkan ammonia dan urea plant. Mitsubishi Heavy Industries (MHI) pun memiliki teknologi gasifikasi yang reliable untuk menghasilkan SNG dengan higher throughput.

Konferensi kali ini didominasi pembicara dari Australia antara lain wakil dari Latrobe Fertilizer Limited yang memberikan update tentang Latrobe Valley Coal Gasification to Urea Development, Liberty Resources tentang Denison Coal Gasification to Fertilizer Project & Development in Queensland, Australia. Salah seorang pembicara dari Mitsubishi Heavy Industries (MHI) juga memberikan paparan tentang Coal Gasification Technology and Business Approach: Power in Indonesia. Tak ketinggalan wakil dari Korea Western Power Corporation (KOWEPO) memberikan update tentang Korea’s First Integrated Gasification Combined-Cycle (IGCC) Plant.

Workshop time

 

Seperti biasa, pada setiap konferensi yang diadakan IBC Singapore, mereka juga mengadakan pre-conference sehari sebelumnya dan post-conference sehari setelahnya. Black & Veatch mengambil peranan signifikan di event ini dengan menghadirkan George Gruber, PE – Gasification Technology Manager membawakan workshop tentang Coal Gasification to LNG setelah sehari sebelumnya di konferensi Beliau memaparkan tentang Asia’s Coal Gasification to Methanol & Ethanol Market: Key Projects & Progress. Pada workshop ini Beliau dibantu oleh Habibie Razak, P.Eng (Assistant to Instructor) juga sekaligus mewakili Black & Veatch Jakarta office selama 2 hari konferensi dan 1 hari workshop.

 

 

 

Pada diskusi panel hari kedua konferensi mengangkat topik tentang Coal Gasification Financing, Partnerships & Joint Ventures. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti: 

  • What makes a coal gasification project bankable?
  • An investor perspective on coal gasification projects
  • What are the risks involved with coal gasification projects?
  • What’s an effective risk mitigation strategy for coal gasification projects?
  • What are the expectations from the financers?
  • What finances options and structures are available?

Khusus untuk Indonesia project development, coal gasification diprediksi akan menjadi opsi di dalam pemenuhan kebutuhan energi domestik Indonesia dengan beberapa kondisi antara lain:   

  • The incentive from the government shall be available to support the attractiveness on this kind of investment.
  • The gradual removal on subsidy for oil and electricity in the near future will gradually increase the need on developing the alternative fuels in Indonesia. Coal to synthesis fuels will be the best option to go with.
  • The decrease of oil and gas lifting production in Indonesia is also a big concern since the production capacity is less than 850,000 barrel a day and if there’s no additional proven reserves the oil reserves will be out of supply less than 18 years from now.    
  • Harga natural gas akan menjadi lebih mahal di atas USD 10/MMBTU dari sumur eksplorasi gas, ini bisa diakibatkan karena menurunnya production lifting dan kurangnya penemuan-penemuan baru (new discovery).

Hasil diskusi di konferensi ini memberikan sedikit rough figure bahwa harga USD 9-10/MMBTU bisa dijadikan sebagai harga jual synthetic natural gas (SNG) yang dihasilkan dari coal gasification plant. Ini bisa menandakan bahwa biaya investasi dan OPEX bisa lebih rendah dari harga jual tadi, ini menarik untuk diinvestigasi lebih lanjut, however siapa pun yang memiliki deposit batubara low rank coal yang besar di Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis ini. Perusahaan Engineering dan EPC seperti Black & Veatch dan Wison bisa memberikan informasi lebih banyak tentang coal gasification ini mulai dari sisi teknikal sampai pada aspek bisnisnya. Salam sejahtera buat kita semua.

 

 

Kembali Menjadi Pembicara di Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara tentang Teknologi Gasifikasi Batubara dan Peluang Bisnis di Indonesia

Pelaksanaan konferensi Insinyur se-Asia Tenggara dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada Tanggal 11-13 Nopember 2013 meninggalkan kesan impresif buat Habibie Razak sebagai salah seorang Insinyur Indonesia. Pada event kali ini saya membawakan kuliah dengan judul “The Application of Coal Gasification Technology & Its Business Opportunity for Indonesian Low Rank Coal Utilization” dengan durasi 20 menit diikuti sesi tanya jawab selama 10 menit yang diadakan pada Hari Selasa, 12 Nopember 2013, sesi technical paper, CAFEO-31, Jakarta.

Pada sesi tanya jawab,  saya mendapatkan banyak respon dan pertanyaan dari beberapa delegasi yang dihadiri oleh 50 peserta/delegasi dan kebanyakan dari mereka mempertanyakan sisi teknis dan juga aspek bisnis dari gasifikasi batubara di Indonesia seperti payback period & ROI, efek lingkungan selama pabrik dibangun dan selama beroperasi, sampai pada efek sosialnya (masyarakat sekitarnya). Pada akhir sesi ini saya menyimpulkan beberapa bullet points dari isi kuliah saya antara lain:

  • The coal reserves in Indonesia are abundant and more than 50 percent of those are categorized as low rank coals. The best solution to utilize these low rank coals is to go with gasification process.
  • There are three major types of gasification technology in the world, fixed bed, fluidized bed and entrained-flow technology.
  • Black & Veatch has over 30 years of experience  in coal gasification and other oil & gas technologies Black & Veatch performs feasibility studies (FS), front-end and engineering design (FEED), and engineering, procurement and construction (EPC) services to clients throughout the world.
  • Black & Veatch has performed studies on Indonesian coal gasification. B&V expertise and know-how is available to serve Indonesian clients and their future coal gasification and coal to chemical projects.
  • Building coal gasification and coal to chemicals plants in Indonesia are promising considering the coal will be the alternative future energy to substitute for oil and natural gas for vehicle fuels, chemical products and electricity generation. 

 4-During presentation3-During Presentation(3)Sehari sebelumnya, rekan saya dari Black & Veatch, mempresentasekan seputar floating LNG technology dengan judul “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago” pada sesi technical paper dan mendapatkan respon hangat dari beberapa delegasi negara-negara ASEAN di antaranya adalah dari Direktur Engineering salah satu perusahaan BUMN di Myanmar. Presentation showcase ini berlangsung selama 20 menit dan diikuti sesi tanya jawab. 

 

 

 

 

Beberapa kesimpulan presentasi floating LNG technology ini antara lain:

  • Black & Veatch has over 50 years of experiences in LNG liquefaction and regasification terminal. Black & Veatch performs feasibility studies (FS), front-end and engineering design (FEED), and engineering, procurement and construction (EPC) services to clients throughout the world.
  • Barge LNG is proving to be a good solution for small to mid-scale LNG solution. Black & Veatch has now developed many configurations through several feasibility and Pre-FEED studies and completed FEED in liquefaction capacities ranging from 0.5 MMTPA to 2.0+ MMTPA, using gas turbine and motor drivers with aerial or water cooling for refrigeration interstage cooling. Exmar-Pacific Rubiales FLRSU barge is already in advanced stages of construction, slated for 1Q2015 commercial operation at Colombia becoming world’s first floating LNG project. This offers a wide range of choices for customers for an expedited project development. 
  • Barge LNG can efficiently be used for continuous gas supply through LNG distribution. Black & Veatch has achieved significant progress in the development and implementation of Barge LNG solution. This work by Black & Veatch can form an excellent   basis to develop an expedited and economical solution for gas supply from one island to other islands for Indonesian archipelago.

Eddy starts the presentation

 

Konferensi Insinyur se-ASEAN kali ini dihadiri oleh lebih dari 500 peserta terdiri dari delegasi 9 negara ASEAN, dosen dan peneliti dari perguruan tinggi, professional, dan tak ketinggalan tamu undangan dari Jepang, Taiwan, dan Australia dari berbagai lembaga unsur pemerintah maupun swasta. Pembukaan CAFEO-31 oleh Bapak Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Djoko Kirmanto pada Tanggal 11 Nopember 2013 dan acara perpisahan dihadiri oleh Bapak Menteri ESDM, Ir. Jero Wacik.

 

 

 

Selain technical paper sessions yang dibagi ke dalam beberapa ruangan CAFEO ada meeting khusus untuk ASEAN Energy Business Networking, Woman Engineers Session, Young Engineer of ASEAN session, dan sesi seminar yang salah satu pembicaranya adalah Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak, Wakil Menteri PU juga sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PII.

5-Habibie receives certificate 

WP_001456

Hari ketiga pelaksanaan CAFEO-31, 13 Nopember 2013 penyelenggara mengadakan technical tour ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Gunung Salak. Peserta tour ini dihadiri oleh beberapa delegasi dan peserta dari Myanmar, Vietnam dan Malaysia. Mereka berangkat mulai Pukul 08.00 pagi dan tiba di Gunung Salak tepat tengah hari. Di sana mereka mengunjungi lokasi PLTP dan ditemani oleh beberapa karyawan(i) dari Indonesia Power. Setelah berkeliling selama 5-6 Jam mereka memutuskan kembali ke Jakarta karena keesokan harinya delegasi dan peserta dari negara lain harus kembali ke negara masing-masing. Secara keseluruhan acara berjalan sesuai rencana dan menikmati keramahtamahan tuan rumah.

Sampai ketemu lagi di CAFEO-32 yang akan diselenggarakan di Myanmar akhir tahun 2014. Salam Insinyur ASEAN.

 

Pembicara di Ajang Bergengsi Konferensi LNG Internasional dengan Judul “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago”

Menjadi peserta pada suatu konferensi atau seminar adalah suatu hal yang biasa-biasa saja buat saya tapi ketika diberi amanah menjadi pembicara pada suatu event bergengsi seperti International LNG Conference yang diadakan oleh IBC Singapore adalah suatu hal yang luar biasa. Sejujurnya ini bukan pengalaman pertama saya menjadi pembicara (speaker) pada acara konferensi, seminar atau workshop yang bertaraf nasional, regional maupun internasional saya juga hampir setiap tahunnya menjadi technical paper presenter di acara Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara, pernah diundang menjadi pembicara pada workshop Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK – PII), menjadi Instruktur pada workshop pada Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia (KPP-PII) sampai dengan memenuhi undangan dari mahasiswa menjadi penBV3yaji kuliah tamu.

BV3BV3BV3Tanggal 22 Oktober 2013 kemarin saya membawakan kuliah tentang teknologi Floating LNG Production Plant mewakili perusahaan saya. “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago” adalah judul presentation slides saya dan dengan melihat trend sekarang, small to medium scale LNG plant akan menjadi primadona bisnis di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Berikut sedikit penggalan abstrak tentang topik Floating LNG Plant ini begitu relevan dan suitable untuk diaplikasikan di Indonesia sebagai Negara yang terkenal dengan julukan archipelagonya.

Indonesia is the archipelago country consists of many islands starting from 7 big islands to smaller islands throughout Indonesia. In order to meet the energy demand especially gas supply from one island that has a lot of gas reserves to other islands that haven’t got any reserves then the LNG is the best option to go instead of building the gas pipeline. LNG will benefit in term of economic viability to meet the gas supply and demand for energy need such as power generations and transportation fuel.

LNG Presentation-1The world-wide market for LNG continues to grow rapidly, many countries that are rich of gas reserves have built many LNG plants starting from base-load type to mid and small scale liquefaction facilities. Traditionally, base load LNG plants have provided the majority of this LNG supply. As the industry has grown, base load plants have grown increasing larger and more difficult to site. Owners are turning to developing mid-scale projects with Floating LNG production systems. A variety of configurations have been put forth and a few are progressing.

One of the floating LNG production unit application is a barge-based LNG production facility requires the application of liquefaction technology that is simple, foot-print efficient and energy efficient. The technology of choice for these applications is the single Mixed Refrigerant (SMR) process. The simplicity, flexibility, and scalability of the SMR process can provide a wide range of liquefactions capacities in a unique single or multiple-trains configuration on the barge. There are several system options from which any configuration can be built around depending up on the location, power availability, permitting constraints for use of water cooling and the LNG offloading/export strategy. The barge could be self sufficient or be integrated with onshore support systems at dockside. The barge and its topsides production facility can be built in Indonesia or China or anywhere in the world competitively and towed to project location.

BV4

 BV5 - Copy

Pada acara konferensi ini hadir juga pembicara dari beberapa instansi dan perusahaan baik dalam maupun luar negeri seperti Pertamina, PLN, SKK Migas, Donggi Senoro, Hoegh LNG Asia, Humpuss Intermoda Transportasi, Dart Energy, Lloyd’s Register, dan Rekayasa Industri. Materi konferensi yang disajikan sangatlah menarik seperti: Balancing LNG exports with domestic needs, global LNG and LNG’s market in Indonesia, LNG as transportation fuel, floating LNG production unit, LNG shipping trends, current challenges and future prospects, small LNG ships market challenge and opportunity dan beberapa materi menarik lainnya.

Konferensi ini diadakan di Hotel Grand Hyatt selama 2 hari dari Tanggal 22-23 Oktober 2013. Pra-konferensi diadakan Tanggal 21 Oktober 2013 di tempat yang sama dan Pasca-konferensi pada Tanggal 24 Oktober 2013. Konferensi dihadiri lebih dari 100 peserta dari perusahaan-perusahaan yang bergelut di dunia minyak dan gas, investor asing dari USA, China dan Jepang. Tak ketinggalan juga beberapa perusahaan minyak dan gas yang mensponsori event ini dan tentunya Black & Veatch adalah salah satu diantaranya.

Event berikutnya yang saya mesti hadiri adalah Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara (CAFEO31) yang diadakan di Jakarta Convention Center, Tanggal 10-14 Nopember 2013 di mana saya mewakili Persatuan Insinyur Indonesia untuk membawakan materi tentang coal gasification technology dan its business opportunity in Indonesia.

Sampai ketemu di acara CAFEO31. Keep on Fighting till The End, terus menulis dan terus berkarya demi kemajuan bangsa dan Negara.

US Trip, 3 Days in Chicago (US Assignment May to September 2013 Part 4)

Hari Jumat Tanggal 20 September 2013 Pukul 04.30 pagi saya menuju Kansas City International Airport. Hari itu sungguh senang hatiku karena setelah melewati 4 bulan assignment di Kansas saya akhirnya bisa balik tanah air. Namun apa daya, setibanya di airport saya menuju check in desk salah satu perusahaan penerbangan domestik US, schedule pesawatku Pukul 06.45 pagi ternyata dicancel secara sepihak oleh maskapai penerbangan tanpa pemberitahuan lebih awal. Alasannya, katanya cuaca lagi tidak bersahabat demi keselamatan penerbangan akhirnya mereka harus mengcancel flight pertama di hari itu.

Saya kemudian meminta dicarikan penerbangan lain setelahnya namun mereka tidak bisa memastikan saya akan terbang pada pesawat berikutnya melainkan harus berada pada daftar antrian sama halnya dengan penumpang-penumpang lainnya. Di pikiranku, pokoknya saya harus berada di Chicago O’Hare International Airport sebelum Pukul 11 siang karena connecting flight  Asiana Airlines dischedulekan take-off dari Chicago menuju Seoul Incheon International Airport pada Pukul 12.00. Setelah antrian sekian jam saya akhirnya kebagian pesawat berangkat Pukul 03.15 sore dan akhirnya tiba di Bandara Chicago sekitaran Pukul 04.30 sore. Hasilnya, saya harus info ke Travel Agent untuk reservasi flight besok atau lusanya menuju tanah air. Walhasil saya baru mendapatkan flight hari Minggu, 22 September 2013.

Ya sudahlah, saya check in di Hilton International Hotel di area Bandara Chicago dan menghabiskan waktu dua hari di sana. Hotelnya bagus tapi harganya juga bagus pastinya ha ha ha, karena dibayarin kantor saya tinggal menikmati saja pastinya he he… Bandara Chicago ini termasuk bandara yang lalulintas udaranya padat baik penerbangan domestik maupun International route selain Los Angeles, New York, Houston dan Dallas. Ini pengalaman menarik buat saya berada di dua Bandara Besar yaitu Chicago dan Houston International Airport.

Hari Sabtu Tanggal 21 Oktober 2013 saya memulai petualangan saya menyusuri Kota Chicago. Saya menyewa taksi yang kebetulan sopirnya berasal dari India namun sudah menjadi US citizen. Di perjalanan menuju Downtown kami ngobrol banyak tentang kota besar ini mulai dari living cost, penghasilan jadi taxi driver, sampai pada tingkat kriminalitas di kota ini. Sepertinya kota ini tidak jauh beda dengan Kota Jakarta, Indonesia, masih banyak kasus perampokan, copet dan lain sebagainya. Namanya juga kota besar di mana-mana pasti tinggi tingkat kriminalitasnya. Setelah hampir 45 menit perjalanan, tibalah saya di tempat yang dituju yakni Hard Rock Cafe Chicago di  63 W Ontario St, Chicago. Argonya memperlihatkan USD 38 saya serahkan saja USD 4o buat Jacob Abraha, nama sopir taksi India ini dan tidak lupa meminta nomor HPnya untuk dijemput lagi nantinya.

Hard Rock Cafe Chicago tidak jauh beda dengan Hard Rock Cafe lainnya seperti di Saint Louis & Dallas seperti dekorasi ruangannya, tata cahaya, termasuk beberapa gitar listrik yang dipajang di dinding. Karena sangat lapar saya menuju bar dan restaurant untuk mencicipi makan siang dengan menu Honey Chic Sand Burger and Lite Italian Salad dan Goose Island, minuman khas lokal Chicago. Wuihhh, enak gila makan dan minumnya serasa membuatku pingin balik ke sana lagi. Sehabis menikmati makan siang diiringi hard rock music saya membayar tagihan dan menuju ke area Hard Rock Shop. Di area Hard Shop saya menengok ke kiri ke kanan, depan belakang bergantungan T-Shirt, Sweater, dan beberapa product lainnya. Saya akhirnya membeli beberapa T-Shirt laki dan perempuan dan gelas bertuliskan Hard Rock Cafe Chicago.

Chicago-20130921-01100 Chicago-20130921-01092

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah 2 jam di Hard Rock Cafe saya menyempatkan jalan-jalan di sekitaran pusat kota Chicago dan sekali-sekali menjepret dengan menggunakan HP Blackberry dan Nokia Lumiaku. Cuaca kota sudah mulai dingin karena tidak lama lagi masuk musim dingin dan saya hanya menggunakan 2 lapis baju tanpa jaket atau sweater. Saya sungguh menikmati kota ini walaupun saya berjalan sendiri tanpa ditemani teman kantorku, Si Edward dari B&V Beijing office. Pukul 03.30 sore saya memutuskan menghubungi Mr. Jacob si taxi driver dan menuju balik ke Hotel Hilton.

 

Chicago-20130921-01096 IMG-20130921-01095

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya Minggu, 22 September 2013 setelah sarapan di restoran hotel saya kemudian check-out dan bergegas menuju Check-in Desk Asian Airlines di Area Terminal 5 dan berangkat menuju Korea Pukul 12.00. 13 Jam perjalanan dari Chicago menuju Seoul, transit selama 1,5 Jam di Seoul dan berangkat lagi menuju Jakarta dengan lama tempuh 6 Jam. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan mengasyikkan. Walaupun sempat stuck selama 2 hari di Chicago karena flight cancellation oleh salah satu maskapai penerbangan domestik US saya menganggap itu suatu anugerah di mana saya bisa menikmati the Hospitality of Chicago downtown ha ha ha….

 

 

Long Trip to Dallas, Texas untuk Hard Rock Cafe T-Shirt (US Assignment, May to September 2013)

Hari Sabtu, 31 Agustus 2013, saya dan Edward, my Chinese folk  berangkat dari Overland Park Kansas menuju Dallas, Texas State, kota di sebelah Selatan Barat Kansas City. Kami berangkat Pukul 09.00 pagi melewati highway road dengan jarak tempuh kurang lebih 500 Miles atau sekitar 850 Km dari Kansas City. Di tengah perjalanan, Kami menyempatkan makan siang di suatu restoran yang menyediakan masakan khas Mexico di sebuah kota kecil dekat dari Kota Tulsa, Oklahoma State. Sepanjang perjalanan di sebelah kiri dan kanan jalan terbentang kebun jagung dan beberapa peternakan sapi dan juga melewati beberapa kota kecil di Kansas State dan Oklahoma State. Perjalanan dari Kansas City ke Dallas memakan waktu kurang lebih 8 Jam dengan kecepatan rata-rata 60 Mile/Jam. 

 Indian @Oklahoma

  IMG-20130831-00970

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setibanya di Dallas kira-kira Pukul 05.00 sore kami  mengunjungi  Hard Rock Cafe Dallas yang terletak di tengah downtown. Tanpa terelakkan lagi, kami langsung memesan makanan dan minuman untuk dinner kami sambil mendengarkan lantunan musik rock dari beberapa rocker terkenal di US, Inggris dan Irlandia. Saya juga  tak menyia-nyiakan waktu dengan menyempatkan berfoto di beberapa spot-spot menarik di dalam gedung Hard Rock Cafe and Restaurant di Dallas ini. Setelah menikmati makan malam selama kurang lebih 1.5 jam saya mewajibkan diri berpindah ke sisi sebelah bangunan yaitu hard rock shop untuk membeli beberapa T-Shirt dan souvenir sebagai bahan koleksi Hard Rock saya selama beberapa tahun ini. Selain T-Shirt Saint Louis dan Dallas saya juga sudah mempunyai T-Shirt Hard Rock dari New York dan Washington DC ha ha ha….

 IMG-20130831-00973

 Hard Rock Cafe Dallas-2

 

 IMG-20130831-00971

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 06.30 sore kami meninggalkan Hard Rock Cafe Restaurant dan mulai menyisir Downtown Dallas dengan berjalan kaki dan sekali-sekali menyempatkan berpose dengan latar bangunan-bangunan bersejarah dan bangunan pencakar langit seperti perkantoran dan hotel bintang lima, museum,  patung pahlawan Dallas dan Texas state, Union Train Station, dan beberapa bangunan menarik lainnya. Setelah berjalan kurang lebih 2 Jam menyusuri kota kami mengalami sedikit dehidrasi dan memutuskan masuk ke restoran  ‘The Hooters” yang lokasinya tepat di sebelah Hard Rock Cafe Dallas. Wauw, ternyata pelayan-pelayan di restoran ini mengenakan kostum seksi dan beberapa dari mereka sangat ramah menyapa kami dengan santunnya. Setelah hampir sejam menikmati suasana ‘The Hooters’ kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke kota Fort Worth 45 menit perjalanan, sebuah kota sebelah barat Dallas.

Dallas Museum Dallas Police Car Dallas Union Station 

 

 

 

 

 

 

Fort Worth adalah kota yang lebih kecil dari Dallas merupakan kota tua yang dijuluki kota Cowboy karena kota ini bangunan-bangunannya masih bercirikan peninggalan masa Cowboy beberapa puluh tahun silam. Setelah lelah seharian, kami check in di sebuah hotel di Fort Worth dan melewati malam minggu sampai keesokan paginya. Hari Minggu Pukul 10.00 pagi, kami check-out dan mulai petualangan baru di kota ini dengan mengunjungi suatu kawasan yang diberi nama ‘Stockyard Stations’. Di kawasan ini kami menemukan ciri khas kota Cowboy seperti yang sering kita lihat di bioskop dan TV. Bangunan-bangunannya yang terbuat dari kayu seperti bar, toko-toko, dan peternakan kuda dan sapi. Di kawasan ini juga ada museum yang menyimpan peninggalan bersejarah budaya Cowboy seperti kereta kuno, pistol, sepatu, ikat pinggang, dan barang antik lainnya. Di kawasan ini kita bisa melihat beberapa orang berkostum Cowboy dan mengendarai kuda dengan santainya. Kami juga menyempatkan menyaksikan pertunjukan ‘Cowboys gun shot’ yang berlangsung selama 30 menit. Sheriff menembak mati 2 perampok yang berusaha melarikan diri setelah merampok sebuah bank ha ha ha…wah ini betul-betul seperti di film-film itu. Hari itu kami juga menyempatkan membeli ‘Cowboy stuff’ seperti t-shirt, boots (sepatu), cup, dan baju kemeja.   

 IMG-20130901-01003

 IMG-20130901-01017 IMG-20130901-01004 

 

 

 

 

 

 

 

Tak terasa 3 jam di kawasan Stockyards Station kami pun akhirnya menuju downtown Fort Worth dan memutuskan untuk masuk ke sebuah restoran yang bernama Ricky’s Barbeque. Di sana kami disuguhi Texan Beef Ribs dan Bloody Mary, makanan dan minuman khas Texas, si Edward menghabiskan 7 potong Ribs dan saya hanya bisa menikmati 5 potong saja. Harga makan dan minum tidak begitu mahal dibandingkan dengan restoran-restoran di Jakarta, cuma USD 35 berdua dan kami sudah sangat kenyang. Sehabis makan siang, sekitar Pukul 02.30 siang kami kemudian berjalan di tengah panas terik matahari di suhu sekitar 38 derajat celcius dan menyempatkan berfoto di beberapa tempat di antaranya di depan gedung museum, gedung gereja katolik, dan Fort Worth convention center. Kami sungguh menikmati suasana kota Fort Worth yang menyimpan banyak budaya barat terutama masa-masa di mana Cowboy exist dan berjaya di daerah ini.

Fort Worth Restaurant IMG-20130901-01039

 WP_001306  

 

 

 

 

 

 

 

 

Pukul 04 sore dari downtown Fort Worth kami akhirnya bergegas kembali ke mobil rental yang disiapkan kantor, sebuah Ford Focus wana biru, menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam menuju Oklahoma City. Saya berusaha berbagi lelah dengan Edward dengan mengambil alih kemudi perjalanan menuju Oklahoma City. Saya juga mengambil posisi sebagai driver setengah perjalanan dari Kansas City ke Dallas. Kami tiba di Oklahoma City sekitar jam 7.00 malam dan check-in di suatu hotel dan kemudian mulai menghabiskan malam di sebuah kawasan di Oklahoma City yang bernama ‘Brick Town’. Mengapa diberi nama Brick Town? Karena semua gedung-gedung di kawasan ini dicat menyerupai batubata berwarna merah. Sungguh beruntung berada di kawasan ini karena di sini banyak bar dan restoran dan salah satu restorannya menampilkan live performance sebuah band lokal Oklahoma dan kami pun memutuskan untuk mengisi waktu di restoran ini. Sembari menikmati suguhan musik dari band ini kami memesan minuman dan sekali-sekali menyapa pengunjung restoran di samping kiri kanan kami. Mungkin mereka terheran-heran saja kok bisa ada 2 orang Asia, satunya China dan satunya lagi seperti orang Indonesia/Malaysia yang tersesat di kota mereka he he he…Tak puas dengan suguhan musik dan minuman dari restoran ini kami bergerak menuju movie cinema atau bioskop terdekat di  Brick Town dan membeli tiket seharga USD 18 untuk 2 orang untuk menonton film terbaru Denzel Washington dan Mark Wahlberg yang berjudul ‘2 Guns’. Sebuah film action yang menampilkan perampokan USD 34 Juta di sebuah bank yang ternyata merupakan duit dari hasil transaksi narkotika dari seorang Mafia Mexico yang bekerja sama dengan beberapa orang korup dari CIA, what a great movie….sempatkan waktu untuk menontonnya di XXI atau Megaplex di Jakarta atau pun kota-kota besar lainnya di tanah air. Film berdurasi hampir 2 jam ini akhirnya menghabiskan malam kami di Brick Town ini sebelum akhirnya kami harus balik ke hotel.

 Oklahoma City (1)

  Oklahoma City Kansas Aviation Museum

 

 

 

 

 

 

 

Hari Senin pagi, hari libur nasional, US labor day, kami terbangun dan setelah menikmati sarapan kami check-out Pukul 10.00 pagi dan menuju balik  ke Overland Park. Di perjalanan menuju KC kami menyempatkan waktu menikmati makan siang di sebuah restoran Thailand di suatu kota kecil bernama Wichita, Kansas State dan juga menyempatkan mengunjungi Kansas Aviation Museum. Saya membeli sebuah T-Shirt hitam yang bertuliskan tempat ini dan berpose di depan museum sebagai bukti otentik bahwa saya pernah mengunjungi tempat ini. Foto terusss….yeahhh..kan ada Edward yang motoin ha ha…Pukul 03.30 sore kami meninggalkan Wichita dan melanjutkan perjalanan menuju Overland Park, Kansas dan tiba di apartment Clear Creek sekitaran Pukul 07.00 malam. Sungguh perjalanan yang menarik dan sangat melelahkan dengan total jarak tempuh lebih dari 1100 mile (1848 Km), satu hal yang nyata bahwa ini adalah perjalanan pertama saya ke Dallas dan Fort Worth dan bisa jadi akan ada perjalanan-perjalanan yang lebih menarik lagi setelahnya.  

 

 

PII & Kode Etik Insinyur Indonesia; Peranannya terhadap Profesi Keinsinyuran & Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

oleh:

Ir. Habibie Razak, MM., IPM., ASEAN Engineer – Praktisi Keinsiyuran, Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Periode 2012 – 2015

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) adalah organisasi yang berdiri sejak Tahun 1952 didirikan oleh Bapak Ir. Djuanda Kartawidjaja dan Bapak Ir. Rooseno Soeryohadikoesoemo  di Bandung, merupakan organisasi profesi tertua kedua di Indonesia setelah Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Dalam sejarahnya PII telah banyak menelurkan cendekiawan-cendekiawan dan profesional-profesional yang memegang peranan penting di tanah air kita dalam beberapa dekade ini. PII di dalam menjalankan proses kaderisasi insinyur melalui continuous development program (CPD) yang isi programnya selain berisikan pengetahuan keinsinyuran (sains dan teknologi) juga menitikberatkan pada pengenalan dan pemantapan pembahasan mengenai ‘etika profesi Insinyur’. Sarjana Teknik diharapkan setelah menjadi Anggota PII diwajibkan memegang teguh etika profesi keinsinyuran yang dituliskan dalam Kode Etik Insinyur Indonesia, Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia*.

Catur karsa adalah 4 prinsip dasar yang wajib dimiliki oleh Insinyur Indonesia antara lain: (1) mengutamakan keluhuran budi, (2) menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk kepentingan kesejahteraan umat manusia, (3) bekerja secara sungguh-sungguh untuk kepentingan masyarakat sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya dan (4) meningkatkan kompetensi dan martabat berdasarkan keahlian profesional keinsinyuran. Saya membaca 4 prinsip dasar ini menyimpulkan Insinyur Indonesia dituntut menjadi insan yang memiliki integritas (budi pekerti luhur) dan semata-mata bekerja mendahulukan kepentingan masyarakat dan umat manusia dari kepentingan pribadi dengan senantiasa mengembangkan kompetensi dan keahlian engineeringnya.    

Sapta Dharma adalah 7 tuntunan sikap dan perilaku Insinyur yang merupakan pengejawantahan dari catur karsa tadi antara lain: (1) mengutamakan keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, (2) bekerja sesuai dengan kompetensinya, (3) hanya menyatakan pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, (4) menghindari pertentangan kepentingan dalam tanggung jawab tugasnya, (5) membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing, (6) memegang teguh kehormatan dan martabat profesi dan (7) mengembangkan kemampuan profesional. Apabila kita baca lagi lebih seksama, sapta dharma substansinya adalah sama dan seiring dengan catur karsa, bahwa Insinyur Indonesia dituntut untuk memegang teguh etika dan integritas di dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya di mana pun dia bekerja sehingga dia bisa tetap mempertahankan reputasi profesinya dari waktu ke waktu. Substansi utama kode etik Insinyur menurut saya tidak lain adalah etika dan integritas. Apa pun yang Insinyur lakukan entah itu dalam rangka pengembangan kompetensi keinsinyuran atau pun dalam rangka membangun hasil karya keinsinyuran tetap saja selalu mengacu pada prinsip etika dan integritas.

Penulis lebih dalam lagi mengupas salah satu tuntunan sikap dan perilaku Insinyur yakni membangun reputasi profesi berdasarkan kemampuan masing-masing. Beberapa uraian dari sikap dan perilaku ini adalah antara lain: memprakarsai pemberantasan praktek-praktek kecurangan dan penipuan; tidak menawarkan, memberi, meminta atau menerima segala macam bentuk perlakuan yang menyalahi ketentuan dan prosedur yang berlaku, baik dalam rangka mendapatkan kontrak atau untuk mempengaruhi proses evaluasi penyelesaian pekerjaan. Dua uraian ini memaparkan betapa perlunya seorang Insinyur di dalam menjalankan praktek-praktek keinsinyuran mengikuti etika dan aturan hukum yang berlaku, on how the engineers should act. Insinyur dituntut untuk tidak tergoda dengan segala bentuk penyuapan atau gratifikasi atau bribe dalam istilah Inggris. Bahkan Insinyur dituntut untuk memkampanyekan anti-kecurangan, anti-penipuan termasuk anti-penyuapan dan berbagai bentuk korupsi dalam ruang lingkup organisasi di mana dia berada,  ruang lingkup masyarakat, bangsa dan negara bahkan dalam ruang lingkup proyek-proyek internasional yang melibatkan banyak negara.

Kode etik profesi keinsinyuran yang dikeluarkan oleh Persatuan Insinyur  Indonesia adalah sangat relevan dengan cita-cita Pancasila dan UUD 1945, seiring sejalan dengan program-program yang dicanangkan oleh lembaga -lembaga anti-korupsi di dalam mengurangi bahkan memberantas praktek-praktek korupsi di bumi nusantara. Korupsi, suap dan segala bentuk lainnya bukan hanya mengganggu keberlanjutan pembangunan nasional Indonesia tetapi juga bisa menjadi contoh buruk dan tidak terpuji yang akan kita tularkan ke generasi penerus selanjutnya, sehingga menjadi tugas kita bersama, korupsi dan segala bentuknya ini harus diberantas dan dibumihanguskan dari tanah air tercinta. Kode etik Insinyur ini memang hanya berlaku untuk Insinyur Indonesia saja tetapi apabila semua anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang selanjutnya diberi gelar sebagai Insinyur bisa memberikan keteladanan kepada profesi-profesi lainnya di Indonesia saya yakin ini bisa menjadi preseden positif di dalam menggiring bangsa ini menuju bangsa yang lebih sejahtera dan bermartabat.

Tahun 2011 lalu Pemerintah mencanangkan program MP3EI dengan tujuan mempercepat dan memperluas pembangunan ekonomi melalui pengembangan delapan (8) program utama meliputi sektor industri manufaktur, pertambangan, pertanian, kelautan, pariwisata, telekomunikasi, energi dan pengembangan kawasan strategis nasional. Target yang ingin diraih bukanlah main-main. Tahun 2011 PDB kita US$846 miliar dengan PDB per kapita US$3.495 dan menjadikan Indonesia peringkat ke-16 dunia, maka pada 2025 PDB Indonesia diperkirakan akan mencapai US$4.000 miliar dengan PDB per kapita US$14.250 dan berada di peringkat ke-11 dunia. Prediksi yang lebih jauh lagi pada 2045, saat 100 tahun kemerdekaan Indonesia, PDB ditargetkan akan mencapai US$15.000 atau berada di peringkat ke-6 dunia dengan PDB per kapita US$44.500. Untuk mengarah kesana ada beberapa hal yang bisa menjadi pendorong percepatan, yakni: (1) investasi berbagai kegiatan ekonomi di 6 koridor ekonomi: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa Tenggara dan Papua-Kepulauan Maluku, semuanya senilai Rp2.226 triliun; (2) konektivitas yang sejatinya adalah pelengkapan infrastruktur senilai Rp1.786 triliun; dan (3) penyiapan SDM nasional dan penguasaan Iptek.

Insinyur dalam kerangka MP3EI adalah sebagai aktor utama pembangunan, menjalankan profesi keinsinyuran pada proyek-proyek infrastruktur mulai terlibat dari fase inisiasi, fase perencanaan, fase eksekusi dan monitoring dan fase project close-out dan ini tidak main-main, pemerintah membutuhkan insinyur-insinyur handal yang mengedepankan profesionalisme, etika dan integritas dengan menjunjung tinggi dan menjalankan kode etik profesi Insinyur. “Insinyur-insinyur Indonesia diharapkan menjamin kehandalan serta keunggulan mutu, biaya dan waktu penyerahan hasil dari setiap pekerjaan dan karyanya”, salah satu uraian dari tuntunan sikap dan perilaku Insinyur. Output dari proyek-proyek MP3EI ini sangat bergantung pada kualitas Insinyur-insinyur kita, semakin mature mereka (from technical and attitudes stand point) maka semakin bagus pula product deliverables proyek-proyek yang terselesaikan. Ini juga menjawab betapa pentingnya eksistensi organisasi PII di dalam mendidik dan membina Insinyur-insinyur pembangunan yang juga pastinya akan memegang peranan strategis pada segala lini kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.

Muncul satu pertanyaan pamungkas seorang mahasiswa kepada saya beberapa waktu lalu “Bagaimana dengan Insinyur-insinyur yang bekerja pada suatu lembaga kementerian atau lembaga pemerintahan misalnya, walaupun sudah tidak terlibat langsung dalam pelaksanaan proyek di lapangan apakah mereka masih diikat oleh kode etik Insinyur tadi?”. Jawabannya iya, di mana pun mereka berada, apa pun posisi dan jabatannya, sekali insinyur dia tetap adalah Insinyur dan akan tetap memegang teguh kode etiknya sebagai insinyur bahkan ketika menduduki posisi strategis di negeri ini mereka harusnya diharapkan lebih leluasa mengkampanyekan program pemberantasan praktek-praktek kecurangan, penipuan, bahkan praktek korupsi. Mereka harus menjadi leader yang memberikan keteladanan tentang bagaimana Insinyur bersikap dan berperilaku sesuai dengan catur karsa sapta dharma Insinyur Indonesia.

Penulis berandai-andai, seandainya periode depan ternyata yang terpilih menjadi Presiden Indonesia adalah Insinyur maka sepantasnyalah dia terus bersikap dan berperilaku sebagai Insinyur Indonesia dengan mengimplementasikan kode etik Insinyur di dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara dan teladan rakyat. Mungkinkah ini terjadi lagi setelah Ir. Soekarno dan Ing. BJ Habibie? Saya mengharapkan demikian.  

Bravo Insinyur Indonesia.

*Catur Karsa Sapta Dharma Insinyur Indonesia bisa ditelaah lebih lanjut di http://pii.or.id/profil/kode-etik 

 

 

Insinyur-Insinyur Terbaik Indonesia; Antara Idealisme-Nasionalisme atau Sekedar untuk Kualitas Hidup Lebih Baik?

Habibie Razak, P. Eng., MM., ASEAN Engineer

Praktisi Mining, Power, Oil & Gas, Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan Persatuan Insinyur Indonesia

Insinyur atau Engineer adalah lulusan sarjana teknik yang memiliki pengetahuan dasar sistematik dan pengalaman di dunia keinsinyuran. Definisi Insinyur yang dikeluarkan Persatuan Insinyur Indonesia adalah seseorang yang melakukan rekayasa teknik atau teknologi dengan menggunakan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya guna yang dilakukan lulusan tinggi teknik atau teknologi yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi dan Program Pendidikan Profesi Insinyur. Kira-kira definisi ini juga yang dimasukkan dalam Rancangan Undang-undang Keinsinyuran yang sementara digodok di DPR.

Istilah lain yang tidak asing kita dengar adalah, Insinyur Profesional, adalah Insinyur yang sudah memiliki sertifikasi Insinyur Profesional dari Persatuan Insinyur Indonesia. Insinyur Profesional dibagi dalam 3 tahapan yaitu Insinyur Profesional Pratama (IPP), Insinyur Profesional Madya (IPM) dan Insinyur Profesional Utama (IPU). Syarat mutlak untuk meraih gelar IP ini adalah Insinyur yang memiliki pengalaman yang terukur dalam dunia keinsinyuran melalui gemblengan proyek-proyek konstruksi baik proyek-proyek publik maupun untuk industri dengan minimal pengalaman  3,5 Tahun untuk IPP dan minimal 6 Tahun untuk IPM. Seorang Insinyur Profesional Madya (IPM) sudah mendapatkan penyetaraan di tingkat Internasional yaitu di tingkat ASEAN dan APEC. Penulis adalah seorang Insinyur Profesional Madya dan sudah teregistrasi sebagai ASEAN Engineer dan sementara proses registrasi di tingkat APEC Engineer Registration.

Indonesia, adalah negara yang bukan hanya memiliki potensi kekayaan alam yang besar dan berlimpah tapi juga memiliki persediaan sumber daya manusia yang cerdas dan bisa diandalkan. Meskipun kualitas pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat SD sampai tingkat perguruan tinggi tidak sebagus kualitas pendidikan di negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, China dan negara-negara Eropa namun kenyataannya keluaran-keluaran sarjana dari Perguruan Tinggi di Indonesia tidak kalah bersaing dengan sarjana-sarjana dari luar negeri. Sebutlah Insinyur-insinyur kita tidak kalah hebatnya dari insinyur asing ketika mereka sama-sama berada dalam satu penugasan proyek baik itu proyek-proyek pemerintah maupun swasta. Saking hebatnya Insinyur-insinyur Indonesia melanglang buana berkarir sampai  di negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab, Qatar dan Saudi Arabia, dan banyak juga yang bekerja di Eropa, Australia, Afrika dan Amerika. Inilah bukti otentik sesungguhnya kita sebagai bangsa adalah cerdas dan yakin bahwa kita mampu membangun negeri sendiri apabila semua Insinyur-insinyur cerdas ini dikumpulkan menjadi satu kesatuan yang utuh dan kokoh.

Sebagai seorang insinyur saya melihat gejala-gejala yang mengindikasikan bahwa profesi insinyur itu adalah sangat dinamis, seksi dan menantang, mengapa demikian? Seorang insinyur bisa berpindah dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lainnya berkali-kali sampai dia berada di puncak karirnya sebagai insinyur. Biasanya, cita-cita akhir dari insinyur adalah menjadi seorang project manager atau bahkan sampai level project director. Tidak menutup kemungkinan seorang insinyur yang sudah berpengalaman di lapangan sebagai project execution leader dipadukan dengan business development experience sangat memungkinkan buat dia untuk bisa mencapai posisi sebagai senior executive vice president bahkan president director suatu perusahaan ternama. Hal seperti ini sesuatu yang biasa dan sudah banyak insinyur-insinyur kita yang membuktikan eksistensinya sebagai pemimpin di beberapa perusahaan nasional maupun internasional. Sebutlah Ir. Ucok (nama samaran), bekerja di dunia keinsinyuran dan sudah berpindah bendera perusahaan sebanyak 3 kali. Dia memulai karirnya sebagai assistant engineer, engineer, project engineer dan kemudian kurang dari 10 tahun bisa menduduki profesi sebagai project manager. Namun tidak kurang juga kita mendapatkan banyak insinyur, sebutlah salah seorang di antaranya Ir. Baco’ (nama samaran) yang menapaki karir seperti kuda yang sesak nafas yang larinya lamban sehingga dia baru bisa menduduki posisi sebagai pemimpin proyek pada usia senja yakni 5 tahun sebelum dia pensiun. Sekarang terserah Anda mau menjadi seperti Ucok atau Baco, it’s about the career path strategy planning

Saya melihat juga, ada tambahan kekurangan kita sebagai bangsa, bahwa posisi Insinyur Spesialis belum terlalu laris di Industri (swasta) maupun sektor proyek pemerintah sehingga pada akhirnya insinyur-insinyur yang punya keahlian atau spesialisasi khusus pada satu bidang harus berpindah ke jalur project management untuk bisa ‘naik pangkat’.  Hal ini juga membutuhkan lebih banyak perhatian yang mendalam untuk bisa lebih memberikan recognition kepada engineers yang betul-betul menguasai bidang keahliannya semisal, civil engineer yang memiliki spesialisasi di bidang konstruksi bendungan dan seterusnya.

Lanjut cerita, salah satu pertanyaan pamungkas yang sering dilontarkan mahasiswa(i) di kampus ketika saya membawakan beberapa sesi kuliah tamu di salah satu perguruan tinggi negeri adalah, mengapa katanya Insinyur-insinyur kita yang cerdas dan berpengalaman lebih banyak bekerja di luar negeri atau paling tidak senangnya bekerja di perusahaan swasta asing? Jawabannya simpel, karena compensation and benefitnya jauh lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang ada label pemerintahnya (BUMN) maupun insinyur yang bekerja di proyek pemerintah (pegawai negeri). Berapa perbedaannya? Perbedaannya bisa sampai berkali-kali lipat. Apalagi C&B seorang insinyur yang bekerja di perusahaan asing oil & gas di luar negeri misalnya bisa mendapatkan 2-3x lipat atau lebih dibandingkan insinyur yang bekerja di perusahaan asing oil & gas di Indonesia. Jadi sekaligus terjawab sudah mengapa mereka (Indonesian Engineers) lebih senang berkarya di negeri seberang atau negeri nan jauh di sana ketimbang berkarya di negeri sendiri.

Lebih canggih lagi, sepertinya Insinyur-insinyur kita ini banyak yang mengidolakan, banyak di antara mereka yang akhirnya bahasa kasarnya ‘dibajak’ berganti kewarganegaraan sebagai warga negara di tempat mereka bekerja. Karena ternyata Insinyur-insinyur kita merasa jauh lebih dihargai dan lebih dihormati di sana dibanding yang mereka dapatkan di kampung sendiri. Fenomena-fenomena seperti ini sudah terjadi dari beberapa dekade sebelumnya dan sepertinya kita sebagai bangsa hanya bisa membiarkan aset-aset terbaik kita diambil satu demi satu. Mungkinkah yang tersisa di dalam negeri adalah tinggal produk-produk yang tidak laku karena tidak berkualitas? Apakah kita sadar atau pura-pura tidak sadar, bukan hanya sumber daya alam kita yang terjamah oleh bangsa lain bahkan sumber daya manusia Indonesia pun sudah dijamah oleh negara lain sejak berpuluh-puluh tahun lalu. Apa yang dilakukan oleh pemerintah dan DPR selama ini di dalam memproteksi aset-aset kita? Untuk mengesahkan rancangan undang-undang keinsinyuran saja yang sudah digodok sekian tahun sampai sekarang belum ‘ketuk palu’. Padahal RUU ini adalah modal kita sebagai bangsa untuk bisa memperhatikan lebih seksama pengembangan profesi keinsinyuran, proteksi terhadap insinyur indonesia bahkan sampai pada peningkatan kesejahteraan insinyur Indonesia.

Bagaimana kita menyikapi keputusan Insinyur-insinyur Indonesia yang bekerja di luar negeri dan bahkan bersedia berganti kewarganegaraan? Apakah mereka tidak memiliki idealisme nasionalisme yang seharusnya mereka sudah pintar dan bahkan sangat cerdas terpanggil untuk kembali membangun bangsa dan negaranya? Ataukah kita menganggap ini adalah bagian dari suatu realita hidup untuk meningkatkan taraf kesejahteraan dan kualitas hidup mereka di seberang sana yang mereka tidak peroleh di negarinya? Beberapa bulan kemarin saya membaca di berita, seorang insinyur bertanya pada seorang menteri “Pak, saya pernah melamar ke suatu perusahaan BUMN dan ditawari gaji yang masih jauh di bawah yang saya terima sekarang, apakah mereka berani membayar dengan nilai yang sama seperti nilai saya sekarang?” Si Insinyur menyebut nilai. Sang menteri pun menjawab, “tidak usahlah kamu kembali ke Indonesia kamu bekerja saja di sana karena gaji yang kamu minta lebih tinggi dari gaji presiden dan gubernur bank Indonesia”. Nah, silahkan pembaca yang budiman menilai sendiri dech ketika gaji insinyur tidak boleh lebih tinggi dari gaji presiden dan gubernur bank Indonesia, ketika gaji lulusan sarjana teknik tidak boleh lebih tinggi dari gaji pensiunan tentara dan sarjana ekonomi misalnya. Lantas apa yang membuat Insinyur-insinyur terbaik kita mau kembali berkarya dan mengabdi buat bangsanya? Yang seharusnya Pak Menteri menjawab “Apabila saya bisa beri  gaji sesuai yang Anda minta kontribusi apa yang Anda bisa berikan buat bangsa ini? Bisakah Anda meningkatkan oil lifting production dari 850 Ribu Barrel menjadi 1 Juta Barrel per Hari?”. Saya kira wajar saja mereka dibayar mahal apabila mereka bisa memberikan ‘BETTER VALUE ADDED’ di tempat dia bekerja. Begitu pun dengan peneliti atau pakar teknologi yang menghasilkan suatu invention yang kemudian menjadi satu PATEN, bisa jadi patennya itu menghasilkan nilai materi yang lebih dibandingkan gaji presiden atau gubernur Bank Indonesia. Heran saja, kalo menterinya sudah ngomong gitu ya wajar saja Insinyur-insinyur kita pada melarikan diri ke negeri orang. Sepertinya di Indonesia saja kisahnya seperti ini, di Amerika, Barrack Obama pun tidak pernah complaint kalo ternyata banyak engineers yang gaji dan penghasilannya jauh lebih tinggi dari dia ha ha ha….

Kesimpulannya, silahkan dinilai sendiri lah apakah mereka Insinyur-insinyur Terbaik Indonesia sudah tidak memiliki idealisme nasionalisme atau mereka hanya ingin lebih meningkatkan kualitas hidup mereka, menjadi insan yang lebih dinamis dan produktif di mana pun mereka berkarya. Atau apakah memang mereka sudah tidak memiliki tempat yang layak di negeri tercinta ini? Quo vadis Insinyur Indonesia.

Salam Insinyur Indonesia.