Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Project Management Training di Bangkok, 26 Oktober – 1 November 2014

Salah satu training program yang dilaksanakan oleh perusahaan saya beberapa minggu lalu adalah Pelatihan Manajemen Proyek untuk Project Manager dan Engineering Manager. Tahun ini training diselenggarakan di Beijing dan Bangkok menghadirkan Instruktur dari internal perusahaan yang juga sampai saat ini masih menjabat sebagai Senior Project Manager untuk proyek-proyek EPC.

In front of HotelSaya pernah mengunjungi kota Bangkok di Bulan Nopember 2008 waktu itu menghadiri acara Konferensi Insinyur Asia Tenggara yang diselenggarakan di Hotel Sofitel Centara Grand selama 3 hari. Kami dari Delegasi Indonesia dan negara-negara lainnya akhirnya harus balik ke negara masing-masing melalui jalur darat karena semua Bandara di Thailand ditutup oleh Demonstran yang terdiri dari unsur masyarakat dan mahasiswa yang meminta Perdana Menteri segera diturunkan. Demo berlangsung beberapa hari sampai akhirnya keinginan mereka terpenuhi yakni Perdana Menteri Thailand akhirnya betul-betul turun dari jabatannya. Pengalaman menarik melewati perbatasan Thailand dan Malaysia, passport  check out di bagian imigrasi Thailand dan check in lagi ke bagian Imigrasi Malaysia. Perjalanan menggunakan bis memakan waktu lebih dari 24 Jam dari kota Bangkok ke Kuala Lumpur.

Kunjungan ke Bangkok kedua kali ini untuk training cukup mengasyikkan buatku, saya dan beberapa teman lainnya menginap di Novotel Hotel area Ploenchit dan lokasi training dilakukan di Thailand representative office di Bangkok yakni di Rasa Tower area Phahon Yotin. Dari Ploenchit ke Phahon Yotin menggunakan kombinasi BTS sky train dan kemudian dilanjutkan dengan subway train dan berjalan kaki dari stasiun subway ke kantor dengan lama perjalanan sekitar 45 menit. Selama 5 hari dari Senin sampai Jumat berangkat dan pulang cukup membuat kami berkeringat dan sehat he he he…

In front of BTSTidak jauh dari hotel kami, di Daerah Nana sekitar 10 menit berlajan kaki bisa ditemui banyak restauran, bar dan tempat hiburan malam. Kami menyempatkan menikmati dinner di daerah ini dan menghabiskan malam dengan suguhan makanan, minuman dan alunan musik yang melantun tak henti-hentinya.

Training manajemen proyek kali ini sangat padat dan menarik sehingga peserta cukup antusias mengikutinya selama 5 hari. Kombinasi antara slides deck presentation dan studi kasus, questions and answers, dst. membuat semua peserta terlibat aktif di dalam diskusi dan tanya jawab. Semenjak training ini juga dihadiri oleh professionals dari Hong Kong, Australia, Singapura, China, Malaysia, Indonesia dan tuan rumah Thailand, saya meyakini bahwa event ini adalah media untuk saling kenal sesama professional, networking activities dan sharing pengalaman masing-masing.

B&V team

 

Beberapa materi PM training yang akan selalu diimplementasikan pada setiap proyek adalah bagaimana menghitung total forecasted PGM, earned PGM, financial completion dan formula-formula lainnya. Sebagaimana yang dikatakan Instruktur, sangatlah penting menyimpan semua komunikasi dan korespondensi yang berhubungan dengan proyek pada satu tempat penyimpanan sesuai dengan standard penyimpanan proyek yang diatur di Project Execution Manual. Selain itu, seorang project manager dituntut untuk bisa menjalankan proyek  dalam kondisi positive cashflow sampai proyek betul-betul closing-out.

IMG_0033

 

Overall, I am happy with training contents dan juga happy berada di Bangkok selama 7 hari menikmati hospitality orang Thailand, foods, night event dan masih banyak lagi yang belum sempat saya tuliskan di reportase saya ini qiqiiqiq…sorry ces, ada beberapa yang sifatnya confidential. Hari sebelum balik ke tanah air seperti biasa saya selalu menyempatkan mengunjungi hard rock cafe dan berpose di sana, ini adalah suatu yang wajib sepertinya buat saya dalam kurun waktu 10 tahun ini.
Bangkok Hard Rock Cafe

 

 

Narasumber di Hasanuddin Petro Club Tentang Teknologi LNG dan Eksekusi Proyek EPC Migas Tanggal 2 November 2014

Tanggal 2 November 2014 saya kesekian kalinya diundang menjadi narasumber membawakan kuliah tentang Teknologi LNG dan Strategi Eksekusi Proyek EPC di dunia Migas. Forum diskusi dan komunitas engineering migas berdiri beberapa bulan lalu dipelopori oleh Asbar Amri dan kawan-kawan, mahasiswa(i) dari Fakultas Teknik berbagai jurusan. Selain saya, Bapak Ilham Hasan, Head of HSE, Energy Equity Epic Sengkang juga diundang membawakan kuliah tentang Health, Safety and Environment (HSE) di dunia minyak dan gas. Acara berlangsung cukup seru dihadiri lebih dari 50 mahasiswa (i) dari Pukul 10.00 pagi sampai dengan Pukul 16.30 sore.

Sebenarnya materi teknologi LNG dan strategi eksekusi EPC migas sudah pernah saya presentasekan di acara Knowledge Sharing PLN Unit V Manajemen Konstruksi bulan April lalu di Makassar dan kali ini saya memodifikasi beberapa slide menyesuaikan tingkat pengalaman peserta Brochurediskusi yang 90 persen dihadiri oleh mahasiswa dan 10 persen sisanya dihadiri oleh Fresh Graduate dan Professional yang bekerja di seputaran Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

LNG adalah kajian yang cukup baru buat komunitas Hasanuddin Petro Club (HPC) ini oleh karena itu saya mulai memberikan penjelasan tentang definisi LNG dan aplikasinya termasuk kelebihan-kelebihan yang dimiliki LNG dibanding sumber energi lainnya seperti diesel. Indonesia sebagai negara archipelago yang terdiri dari pulau-pulau besar dan kecil sangat membutuhkan LNG sebagai sumber energi murah dan juga environmentally friendly. Benefit-benefit beralih ke LNG antara lain:

  • LNG adalah portable pipeline karena dengan LNG kita bisa dengan mudah mentransportasi gas alam kita dari pulau yang satu ke pulau yang lain dengan menggunakan LNG carrier (ship shape) dan barge.
  • Dengan LNG, ada fleksibilitas untuk menambah pelanggan baru yang membutuhkan gas. Pelanggan LNG ini tediri dari PLN yang memiliki PLTD yang akan mereka konversi bahan bakarnya ke LNG/gas. Pelanggan kedua adalah industri-industri yang masih mengoperasikan pabriknya menggunakan genset.
  • LNG bisa menjangkau remote suppliers bahkan sampai-sampai ke pulau kecil yang belum pernah terjangkau sebelumnya.
  • LNG dalam aplikasinya bisa untuk kebutuhan rumah tangga, pembangkit listrik, bahan bakar kendaraan, dan industri.

Presentation Showcase

 

Pada kesempatan ini, saya juga membahas simple block flow diagram teknologi PRICO milik Black & Veatch yang sukses diaplikasikan lebih dari 30 pabrik LNG skala kecil dan menengah di China bahkan saat ini perusahaan US ini sementara tahap penyelesaian Floating LNG Production Unit dan akan menjadi first FLNG di dunia.

Tiba saatnya saya memperkenalkan strategi eksekusi proyek EPC di dunia Migas pada umumnya dan proyek-proyek LNG khususnya. Sebelum memasuki fase Engineering, Procurement dan Construction (EPC) ada satu fase engineering yang dikenal dengan istilah Front-End Engineering Design (FEED) di mana pada fase ini engineering consultant yang melakukan FEED ditargetkan menghasilkan estimasi biaya proyek dengan akurasi plus minus 10% dan beberapa deliverables antara lain:

  • Block flow diagram
  • Plot Plan
  • Process  Flow Diagram
  • Utility Flow Diagram
  • Piping & Instrumentation Diagram (P&ID)
  • Heat & material balance (HMB)
  • Utility Equipment List
  • Electrical  One Line
  • Dan beberapa lainnya

Handover the cinderamata

 

Untuk tipikal proyek EPC LNG beberapa equipment akan dibeli dari Luar Negeri seperti Coldbox, Refrigerant Compressor dan beberapa critical equipment lainnya sedangkan  bulk commodities dan konstruksi bisa berkonsorsium atau disubkonkan ke kontraktor  lokal EPC. Project Manager EPC bukan hanya dituntut untuk bisa memanage internal resources perusahaan di mana dia bekerja tapi juga diharapkan bisa memanage external resources seperti vendor, subkontraktor, dan konsultan yang bekerja di bawah Black & Veatch.

 

HPC Event

Di akhir sesi knowledge sharing ini saya diundang naik kembali untuk menerima cindera mata dari ketua Komunitas HPC ini, sebuah botol kecil di dalamnya ada miniatur kapal Phinisi khas Makassar.

Salam INSINYUR.

Delivering the Speech “LNG & Electricity Coproduction from Coal” at IBC 2nd LNG Conference, October 14, 2014

??????????????????????LNG Conference yang diadakan oleh IBC Singapore pada Tanggal 14-15 Oktober 2014 adalah kali kedua di Indonesia dan menghadirkan para delegate dari berbagai perusahaan lokal maupun asing. Event kali ini lebih banyak menghadirkan pembicara-pembicara handal dari dalam dan luar negeri dan tidak ketinggalan pembicara dari perusahaan BUMN seperti PGN, Pertamina, PLN, Nusantara Regas dan Perta Arun Gas. Konten lokalnya kini jauh lebih banyak dari konferensi sebelumnya bahkan IBC tetap mengundang SKK Migas untuk mengisi slot materi hari pertama.

Perusahaan produsen LNG di Indonesia pun diundang hadir meramaikan suasana dua hari konferensi ini, yakni Donggi Senoro LNG memaparkan tentang perkembangan proyek DSLNG, estimasi penyelesaiannya dan commercial operation awal Tahun 2015. Delegasi dari Tangguh LNG juga hadir membawakan sekilas update tentang ekspansi kedua 3.8 MTPA dan strategi produksinya termasuk status perkembangan proyeknya saat ini dan target penyelesaiannya. Seperti biasa, IBC sebagai organizer menyiapkan panel diskusi pada hari pertama dan kedua menambah suasana diskusi dan tanya jawab semakin seru dan informatif.

 

 

Event kali ini, saya bertemu beberapa pelaku industri LNG termasuk LNG technology providers dan suppliers. Sebutlah salah satu Direktur Pemasaran perusahaan desain dan fabrikasi tangki LNG termasuk LNG isotainers. Perusahaan saya baru saja memenangkan Feasibility Study dari salah satu perusahaan lokal yang akan membangun small scale LNG Liquefaction Plant dan mereka rencananya akan mentransportasi dan mendistribusikan LNG menggunakan kombinasi LNG truck dan kereta api. Ya sudah, sekalian saja saya undang Client saya bertemu dengan LNG storage solution provider ini. Mungkin inilah yang dinamakan sambil menyelam minum susu he he he…

???????????????????????????????Kesempatan kali ini perusahaan kami diwakili saya sendiri menjadi presentation sponsorship dengan judul “LNG and Electricity Coproduction from Coal”. Chairman pada event ini memperkenalkan saya dan menyebutkan posisi saya sebagai project manager dan seller doer. Sambil tersenyum, dia menanyakan apa arti dari titel sebagai Seller Doer ini. Seller Doer adalah posisi dan role tipikal di mana seorang project manager (doer) juga dituntut untuk menjadi seorang seller (salesman), proposal manager dan setelah dapat proyeknya dia harus mengeksekusi proyek itu sampai selesai dan hand over ke Client. Role ini banyak diimplementasikan oleh perusahaan-perusahaan engineering dan EPC Amerika. Beratkan kerjaanya? Iya yang menjalani posisi ini harus punya bakat menjual bukan bakat project management saja. It’s a challenging role, indeed.

Mengapa saya pribadi ketika menawarkan ke atasan harus mengambil tema ini? Pertama, mengisyaratkan kepada pemerintah bahwa batubara kita lebih dari 160 Milyar Ton dan 50% di antaranya dikategorikan sebagai kalori rendah. Untuk bisa mengutilisasi kalori rendah ini saat ini dikenal teknologi gasifikasi batubara untuk mengkonversi menjadi fuels, chemicals bahkan electricity. Pada kesempatan kali ini saya mempresentasekan bagaimana batubara Indonesia dikonversi menjadi SNG yang kemudian dialirkan pipa gas menuju PLTGU untuk menghasilkan listrik, sebagian lagi dalam kondisi offpeak of electricity bisa dibuat LNG dan kemudian ditransportasi dengan barge maupun truck.

???????????????????????????????Investasi ini kemudian menjadi sangat menarik dan menantang dengan beberapa alasan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Gasification can produce high value, clean energy products from low quality Indonesian coal
  • Economics favor large scale projects, over US$1 billion which requires foreign direct investment (FDI)
  • Indonesian government support is needed to attract this investment
  • Removal of Indonesia subsidies for oil and electricity (forced by decreased oil and gas production) will increase the need for producing internationally competitive alternative energy in Indonesia. Coal gasification to electricity, clean fuels, and high value chemicals has the potential to mitigate this problem and invest in Indonesia

WP_001940

Tak luput juga saya menghadirkan keunggulan teknologi PRICO® patent Black & Veatch dan portfolio proyek yang sudah dikerjakan dan sementara progress di seluruh dunia. Berikut ini sekilas tentang 50 tahun pengalaman bergelut di LNG Liquefaction Project.

 

 

 

 

 

 

  • 30 plants in operation
  • Experience with SMR, Expander, Cascade, N2
  • 160 MM tons of LNG
  • Focus on PRICO® SMR
  • 26 plants in operation
  • 16 new plants in development worldwide
  • Broad range of sizes (3 to 150 MMSCFD)
  • Covered by 3 U.S. and international patents / 3 new filings
  • LNG without limits, on-shore, near-shore and off-shore

Dan salah satu profil floating LNG Liquefaction Unit yang sementara dibangun dan akan mulai commercial operation awal tahun depan adalah WISON/EXMAR CARIBBEAN FLNG

  • PRICO® LNG technology – 72 MMSCFD
  • LM2500+ turbine drive
  • Water cooled interstage
  • PRICO® detailed design in China
  • Onboard storage 16,000 m3 – 140,000 m3 FSU along side
  • Regasification capacity – 400 MMSCFD
  • 140m x 32m x 18m
  • Draft 4.98m
  • B&V PROC Certified

Presentase ini berlangsung 30 menit dan diikuti oleh babakan tanya jawab. Karena waktu yang terbatas Chairman hanya membatasi pada  satu pertanyaan. Seorang penanya menanyakan biaya produk SNG dan LNG dari batubara cukup mahal dibandingkan harga gas dari upstream. Betul sekali, harganya memang mahal dan investasinya pun cukup mahal, tapi kembali lagi ini biasa disiasati dengan mengatur harga batubara termasuk biaya penambangan menjadi lebih kompetitif dan yang kedua untuk CAPEX bisa dikurangi dengan menerapkan strategi procurement yang biasa disebut Chinese Procurement Model dan juga memperbanyak local content. Asumsi harga keekonomian dan investasi kapital pada slides yang dipresentasekan belum mempertimbangkan aspek-aspek yang saya sebutkan di atas.

Demikian reportase saya kali ini semoga bisnis LNG untuk domestik terutama small to mid scale menjamur di masa depan dan juga upaya mengutilisasi batubara kalori rendah kita menjadi kenyataan di Pemerintahan yang baru dilantik hari ini oleh MPR.

Salam Insinyur, Salam Gasifikasi dan salam LNG untuk Rakyat Indonesia

Mengajar Cost Planning & K3L di KPP Diselenggarakan oleh PII Cabang Sukabumi, 19 September 2014

Jumat malam Tanggal 18 September 2014 Pukul 20.00 saya ditemani 2 junior kampus saya, Arno dan Madin berangkat menuju Sukabumi, tempat di mana diadakannnya Kursus Pembinanaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Sukabumi. Ini adalah kali pertama KPP diadakan di Sukabumi sebagai followup baru terbentuknya Pengurus Cabang salah satu Kabupaten di Jawa Barat ini.

Menunggu Peserta

Perjalanan menempuh kurang lebih 4 jam kami akhirnya tiba dinihari di lokasi acara, Hotel Anugrah Jl Surya Kencana No. 38 Kota Sukabumi. Hotel diadakannya kegiatan ini adalah juga ternyata milik dari Pak Willy, ketua cabang, saya surprise ketika check-in ternyata Beliau juga sudah menyiapkan kamar buat kami.

Kursus Pembinaan Profesi kali ini, saya diberi tanggung jawab untuk membawakan 2 materi sekaligus pada Hari Sabtu, 19 September 2014 yaitu: Construction Cost Management dan K3L. Saya diberi waktu masing-masing 1.5 jam untuk kedua materi ini. Peserta yang hadir sekitar 25 orang dan kebanyakan dari mereka bergelut di dunia konstruksi bangunan seperti bangunan kantor dan hotel. Selain itu, beberapa dari mereka berasal dari dinas PU yang banyak mengurusi jalan dan jembatan. Saya lebih banyak memberikan beberapa studi kasus di mana cost planning sangat memegang peranan penting dalam mensukseskan proyek dan juga pengenalan tentang K3L di industri minyak, gas dan pertambangan sebagai bahan informasi mereka tentang betapa pentingnya K3L bagi profesional dan perusahaan yang bekerja di bidang tersebut.

KPPPII 200915

Saya melihat ada lack of knowledge dan experiences oleh para pengusaha konstruksi  dan juga konsultan jasa engineering di daerah ini dan sangat perlu dilakukan sesi khusus tentang cost management oleh PII selama 2 sampe 3 hari supaya mereka bisa lebih paham dan terlatih dengan perencanaan, estimasi dan pengontrolan biaya proyek. Mereka juga diharapkan bisa langsung menerapkannya dalam aktifitas proyek-proyek mereka supaya target proyek hubungannya dengan anggaran dan biaya bisa dicapai.

 

 

Foto bareng bung KumisPerjalanan kali ini cukup mengesankan buat saya, tanpa direncanakan alias tak terduga pada sabtu malam, teman saya di Inco Sorowako dulu Pak Firman Wahyudi juga baru tiba di Sukabumi dan walhasil kami menikmati obrolan warung kopi di warkop Mamih Ungu, Jl. Brawijaya No. 16 Sukabumi. Diskusi lepas selama hampir 2 jam mengingatkan saya nostalgia Sorowako di mana saya memulai karir sebagai engineer di sana dari Tahun 2003 sampai akhirnya resign pada pertengahan 2010.

 

Foto Bareng

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu malam sehabis ngopi dengan Pak Firman kami diajak makan malam sama Pak Willy, Pak Yoseph dan kawan-kawan dari PII Pusat Jakarta. Di samping saya ada Pak Andi Taufan Marimba juga akan membawakan materi project management keesokan harinya.

Foto dinner bersama pengurus Sukabumi

 

Malam semakin larut, tak terasa Pukul 11.00 malam sesuai rencana kami harus balik lagi ke Jakarta. Perjalanan menempuh 2.5 jam dari Sukabumi ke Jakarta malam itu Honda CRV DD 313 IE melesat bagai bayangan menembus kegelapan malam ha ha ha sampe-sampe si Arno dan Madin susah tidur.

Diundang Membawakan Kuliah Umum Effective Career Planning for Students & Fresh Graduates oleh Himpunan Mahasiswa Geologi FT-UH

Hari Sabtu Tanggal 6 September 2014 saya kembali masuk kampus membawakan Kuliah Tamu  dan kali ini yang mengundang adalah Himpunan Mahasiswa Geologi (HMG) FT-UH. Kuliah Tamu ini bertemakan Perencanaan Karir Efektif bagi Mahasiswa dan Lulusan baru. Materinya hampir sama secara substansial dengan materi yang pernah dipresentasekan di depan mahasiswa Sipil FT-UH Desember tahun lalu. Namun diskusi yang dibangun selama kuliah adalah  mahasiswa Geologi setelah alumni nanti bakalan masuk ke perusahaan tambang nasional maupun multinasional seperti Freeport, Vale, KPC, Adaro dan beberapa perusahaan besar lainnya.

Spanduk

Sesi kuliah tamu ini juga dihadiri oleh Bapak Dr. Eng. Asri Jaya, Ketua Jurusan Mahasiswa Geologi FTUH dan pada sambutannya Beliau mengingatkan mahasiswa untuk lebih fokus pada kegiatan kemahasiswaan yang sifatnya pengembangan diri (personality) dan academic oriented. Beliau mengharapkan mahasiswa(i) yang menghadiri kuliah tamu ini bisa membuat CV yang menarik, berisi dan padat termasuk trik-trik wawancara yang tepat. Dengan adanya kegiatan kemahasiswan termasuk program Himpunan Mahasiswa geologi mahasiswa(i) bisa memasukkannya ke dalam CV sebagai klaim pengalaman organisasi dan pengalaman kerjanya. Magang dan kerja praktek juga diharapkan dilaksanakan dengan baik dan diklaim sebagai pengalaman berharga mahasiswa untuk masa depan mereka.

Penyerahan Plakat

 

 

Pada kesempatan kali ini, saya kembali menitikberatkan pada pentingnya memahami perencanaan karir dari awal untuk bisa meraih cita-cita atau aspirasi karir mahasiswa dan fresh graduates. Langkah-langkah kunci perencanaan karir sebagai berikut:

 

 

 

 

1. Create your Career Goal or Career Planning. Career planning contains tasks that students should achieve before completion of their college studies. This is consisting: —What’s your present status, —your career ambition, —Personal development plan.

2. Review your: —Attitudes/Behaviors (interpersonal skills related), —Abilities(Professional abilities, Aptitudes), —Experiences, —Education and professional training

3. Identify your values. —Values: Principles, standards, or qualities, that you consider desirable.

4. Consider costs, benefits, and lifestyle trade-offs.

5. Align yourself with tomorrow’s employment trends.

6. Take advantage of networking.  Professional Networking: Making and using contacts with individuals, groups, and other firms to exchange career information.

7. Target preferred employers.  Preferred Employer: Employers that would suit you best.

Plakat

 

Pada slides selanjutnya, saya juga memaparkan tentang effective employment search strategies and application preparation antara lain:

a. Assemble a resume.  Resume or usually called CV consist of but not limited to: —Personal strength such as able to work both as individual and teamwork, specialized in foundation engineering, problem solver, etc., —Professional experiences, Organizational experiences, —Training, workshop &seminars attendance, —Oral presentation, —Languages capabilities, —Technical papers & articles, —References.

b. Identify job opportunities, such as: —Career Fairs, —Classified Advertisements, —Employment Agencies, —The Internet.

c. Write an effective cover letter.  Cover Letter: Letter of introduction sent to a prospective employer to get an interview.

d. Obtain strong reference letters.

e. Apply!

 

 

 

Presentase yang kemudian dilanjutkan dengan babakan tanya jawab berlangsung lebih dari 2.5 Jam dan pada sesi terakhir ditutup dengan penyerahan plakat oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Geologi. Di HMG sebutan ketua Himpunan adalah Jenderal Geologi yang terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung oleh Anggota Himpunan Mahasiswa Geologi.

Foto Bersama HMG

 

Apabila ada pertanyaan atau komentar bisa menghubungi saya melalui email: habibie.razak@gmail.com

Sukses selalu buat semua.

 

 

 

Faktor-faktor yang Dipertimbangkan pada Studi Kelayakan Gasifikasi Batubara Menjadi Ammonia dan Urea

Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia setelah Australia. Batu bara dengan jumlah berlimpah tersebar di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Deposit batubara Indonesia lebih dari 21 Miliar Ton (2011; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Total sumber daya batubara di Indonesia sebesar 105 Milyar Ton (2011; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Diperkirakan lebih dari 50% dari deposit batubaradi Indonesia adalah batubara berkalori rendah.

Sebagian besar batubara yang diekspor, berkalori menengah dan tinggi, digunakan untuk memproduksi baja dan sebagai bahan pembangkit listrik. Nilai kalor (CV) lebih dari 4.500 kkal / kg dengan kadar air lebih dari 30%. Seperti disebutkan di atas, jenis batubara lainnya adalah batubara berkalori rendah yang disebut lignit. Karena batubara kalori rendah ini tidak ekonomis untuk diekspor, sekarang ini, dimanfaatkanuntuk kepentingan dalam negeri. Solusi untuk memanfaatkan batubara berkalori rendah ini adalah dengan melakukan gasifikasi batubara.

Salah satu program pemerintah melalui Pupuk Indonesia, salah satu BUMN, adalah upaya memanfaatkan batubara sebagai bahan baku untuk memproduksi Amonia dan Urea. Saat ini, di Indonesia, harga gas alam lebih dari 10 Dolar / MMBTU dan pasokannya cenderung berkurang dalam jangka pendek karena penurunan kapasitas lifting minyak dan gas di Indonesia. Sekarang, BUMN ini mulai melakukan beberapa Studi Kelayakan Gasifikasi Batubara untuk Amoniak & Urea.

Ada beberapa faktor penting yang harus diperhitungkan sebagai bagian dari laporan Kelayakan Study terutama untuk proyek gasifikasi batubara untuk amonia dan urea, seperti basis desain proyek, pemilihan teknologi gasifier, konversi syngas dan pengelolaan gas, amonia & urea. Penelitian ini juga termasuk studi pasar amonia & urea, lokasi pabrik, evaluasi pendanaan proyek, perencanaan awal pelaksanaan proyek EPC, evaluasi produk transportasi dan beberapa faktor lain:

1. Basis Desain Proyek

Basis desain proyek untuk Studi Kelayakan mempertimbangkan beberapa hal antara lain:

  1. Kapasitas Pabrik (jumlah batubara atau produk ammonia dan urea)
  2. Mendesain analisis feedstock batubara, ukuran yang dikirim dari lokasi tambang, dan lokasi transfer.
  3. Peta survey batas lokasi termasuk jalan dan rute akses rel
  4. Mendesain analisis supply air dan hambatan-hambatan supply lainnya
  5. Spesifikasi produk ammonia dan urea
  6. Diagram alir blok.

 2.   Evaluasi Lisensor-Lisensor Teknologi Proses dan Supplier-supplier Boiler Batubara

Studi juga akan membuat perbandingan antara teknologi gasifikasi batubara dengan membandingkan antara keunggulan entrained flow dibandingkan dengan tipe fluidized bed dan fixed bed.

Evaluasi teknologi proses gasifikasi berdasarkan performa, biaya (capital, operasi, dan lisensi), pengalaman, dan karakteristik kontraknya (seperti kontraktor-kontraktor EPC yang qualified, supply peralatan).

  1. Shell
  2. Siemens
  3. Uhde

Evaluasi teknologi juga akan meliputi:

  1. Kehandalan pengoperasian dan pemeliharaan
  2. Pengalaman komersial dalam kurun waktu 15 tahun ini
  3. Kelayakan ekonomi terhadap produksi ammonia/urea.

 

Hal yang sama juga akan dilakukan pada evaluasi teknologi ammonia yang terdiri dari beberapa lisensor antara lain KBR, Topsoe dan Uhde. Evaluasi teknologi urea juga setidaknya mempertimbangkan beberapa lisensor seperti Toyo, Snamprogetti dan Stamicarbon.

 

Selain itu studi kelayakan juga diharapkan akan mengevaluasi supplier paket boiler batubara secara komersil berdasarkan performa, biaya (capital dan operasi), pengalaman, lingkup pekerjaan, dan akan memasukkan pengalaman Pemilik Proyek, Evaluasi Teknologi Penyiapan Batubara dan Suppliernya, Evaluasi Teknologi Unit Pemisahan Udara dan Suppliernya (Linde, Air Liquide, Air Products), Evaluasi Teknologi Pembersihan dan Pengkondisian Gas dan Suppliernya (Linde, Lurgi) , Evaluasi Treatment yang Optimum dan Penggunaan produk samping dan Limbah/Buangan, Evaluasi Supplier-supplier Utilitas,

 

3. Evaluasi Lokasi Pabrik

Evaluasi lokasi pabrik yang ditawarkan dan menyarankan kepada Pemilik Proyek lokasi alternatif yang akan mengurangi biaya proyek termasuk pengetesan tanah dan membuat penentuan dasar pada tipe pondasi dan pengaturan lokasi, Pihak konsultan FS akan menggunakan peta topografi yang disediakan oleh Pemilik Proyek untuk mengembangkan denah pabrik. Data lokasi yang ada seperti arah angin dan kecepatannya, temperature ambient wet bulb dan dry bulb juga akan disediakan oleh Pemilik Proyek.

 

4. Studi Transportasi Pengiriman Peralatan dan Material

Studi kelayakan juga menentukan bagaimana equipment dan material dapat ditransportasi ke lokasi proyek dan batas ukuran dan beratnya. Jalan raya dan jalan rel ke lokasi proyek akan dievaluasi berdasarkan pada pelabuhan yang paling ekonomis untuk pengiriman dari luar negeri.

 

5. Studi Transportasi Produk

Opsi transportasi produk seperti truk dan rel produk ammonia dan urea berdasarkan pengiriman pada terminal pupuk yang ada yang dimiliki oleh pemilik proyek.

 

6. Rencana Awal Eksekusi Proyek dan Jadwalnya

Rencana eksekusi proyek akan memasukkan strategi kontrak EPC. Jadwal proyek akan memasukkan aktifitas mulai dari studi kelayakan sampai pada operasi awal pabrik termasuk proses negosiasi lisensi teknologi, kontrak paket desain proses lisensor, seleksi kontraktor EPC, FEED, negosiasi kontraktor EPC, sampai pada penutupan keuangan.

7. Estimasi Biaya EPC

Basis estimasi biaya proyek EPC yang akan digunakan antara lain:

  1. Pengaturan lokasi
  2. Daftar equipment yang sudah memiliki ukuran
  3. Jadwal dan rencana eksekusi proyek

Estimasi biaya EPC pabrik akan menggunakan data yang diterima dari penawaran-penawaran dan sumber-sumber internal konsultan FS termasuk proyek-proyek saat ini. Estimasi akan dipecah menjadi area pabrik besar dan paket peralatan, material, konstruksi, sipil, engineering dan harga lisensi/pihak ketiga. Biaya total peralatan dan jam kerja konstruksi juga akan didaftarkan untuk setiap area pabrik besar. Harga-harga supplier untuk peralatan/paket akan disediakan selain harga peralatan yang sifatnya bebas.

Akurasi estimasi biaya EPC untuk FS adalah di kisaran +/-25% dan berada pada batas +/-30%.

 

8. Estimasi biaya Proyek Pemilik

Biaya estimasi proyekPemilik terdiri dari biaya pengembangan proyek termasuk lisensi proses, engineering awal sebelum kontrak EPC, perijinan, dan cadangan Pemilik.

9. Biaya Material Massal Pemilik

Jumlah dan biaya isian pertama dan inventori katalis-katalis, bahan Kimia, dan konsumebel akan diestimasi. Spare part utama akan didaftar dan ada cadangan biaya yang diestimasi berdasarkan pengalaman industri. Laboratorium dan peralatan pemeliharaan pabril akan didaftar dan cadangan biaya diestimasi berdasarkan pengalaman industri. Isian awal dan biaya-biaya inventori akan dimasukkan pada estimasi biaya proyek Pemilik.

10. Fee Royalti dan Lisensi Pemilik

Fee royalty dan lisensi akan dikumpulkan dari proposal lisensor proses untuk teknologi proses terpilih dan dimasukkan ke dalam estimasi biaya proyek Pemilik.

 11. Biaya Pemeliharaan dan Pengoperasian Pabrik oleh Pemilik

Staff pabrik dan biaya tetap tahunan dan biaya pengoperasian tidak tetap akan diestimasi awal berdasarkan pada pengalaman industry dan jadwal rencana pemeliharaan dasar yang akan menggambarkan frekuensi shutdown, durasi, dan kerja pabrik yang dilakukan. Estimasi-estimasi ini akan dikaji dengan Pemilik dan kemudian direvisi untuk merefleksikan filosofi dan pengalaman Pemilik.

 

12. Kajian Pasar

Kajian pasar akan memperkirakan harga ammonia dan urea untuk periode operasi pabrik selama 25 Tahun berdasarkan proyeksi harga gas alam.

 

13. Evaluasi Pendanaan

Evaluasi ini mencakup mengevaluasi sumber konvensional dan alternatif untuk investasi proyek di dalam dan luar negeri. Sumber ini dikategorikan oleh ketertarikan mereka pada investasi perpupukan dan energi, ukuran investasi yang biasanya mereka lakukan, dan harapan mereka terhadap term dan kondisi termasuk lama utang dan biaya-biaya terkait. Sebuah laporan akan disiapkan mempresentasekan hasil-hasil evaluasi dan suatu rencana untuk mendapatkan pendanaan proyek.

 

14. Model Keekonomian

Konsultan FS juga diharapkan akan membuat model keekonomian dalam kertas Excel untuk proyek berdasarkan pada:

  1. Harga batubara lebih dari periode 25 Tahun yang disiapkan oleh Pemilik
  2. Harga Amonia dan Urea selama lebih dari periode 25 Tahun
  3. Estimasi biaya capital dan biaya-biaya pendanaan proyek dibuat oleh Konsultan FS berdasarkan kemampuan dan pengalaman Konsultan FS dan input dari Pemilik
  4. Estimasi biaya pemeliharaan dan pengoperasian yang dibuat oleh Konsultan FS berdasarkan pada kemampuan dan pengalaman mereka dan input dari Pemilik
  5. Tingkat eskalasi dari Konsultan FS berdasarkan input dari Pemilik Proyek.
  6. Tingkat pajak dan biaya administratif dan umum yang secara bersama-sama dibuat oleh Konsultan dan Pemilik.

Model akan menghitung NPV, Periode Pengembalian dan IRR melewati periode 25 Tahun mulai dengan award kontrak EPC.

15. Faktor-faktor Resiko Proyek

Konsultan FS akan membuat dan meranking sebuah daftar resiko proyek antara lain:

  1. Resiko-resiko bisnis
  2. Resiko pengoperasian
  3. Resiko regulasi
  4. Resiko lingkungan

 

Penulis kajian ini adalah salah seorang profesional kontraktor teknik dan EPC yang telah melakukan penilaian kelayakan untuk gasifikasi, pengolahan dan produksi syngas dan bahan bakar sintetis. Penulis juga membantu memilih teknologi terbaik untuk kebutuhan khusus, termasuk produk amonia dan urea. Selain itu juga melakukan analisis ekonomi dan evaluasi pendanaan proyek sebagai bagian dari studi kelayakan. Setelah pemilihan teknologi, perusahaan tempat Penulis menyediakan rekayasa yang tepat. Perusahan Penulis telah melakukan penelitian, penilaian dan proyek EPC untuk gasifikasi lebih dari 30 klien. Pengalaman ini meliputi teknologi gasifikasi di permukaan dan bawah tanah. Dalam semua kasus, Penulis mendengarkan dulu kemudian menyelaraskan solusi teknologi terbaik yang cocok dengan kebutuhan bisnis.

The Key Factors Considered on Development of Feasibility Study for Coal Gasification to Ammonia & Urea Project (An Abstract)

By Habibie Razak, P.Eng., ASEAN Eng*

Abstract**

Indonesia is the second largest coal exporter in the world after Australia. Coal is abundant spreading over major islands such as Sumatera, Kalimantan, Sulawesi and Papua. Indonesian coal deposit is more than 21 Billion Ton (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). Total coal resources is 105,187.44 Tons throughout Indonesia (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). It is estimated over 50% of total coal deposit are categorized as low-rank coal.

Most of exported coals are used for steel manufacturing and power plant fuel and these are categorized as high and medium rank coals. The calorific value (CV) is more than 4500 kcal/kg and the water content is less than 30%. As mentioned above, other coal types are low rank coal called lignite. Since this low rank coal is not economical for exports due to the low CV and high water content, this is now emphasized by Indonesian government to be utilized locally. The solution for utilizing this low rank coal is coal gasification.

One of the government programs through Indonesian Fertilizer State-Owned Holding Company is trying to utilize the coal as the raw material to produce Ammonia & Urea. Currently, in Indonesia, price of natural gas from the well is over 10 Dollars/MMBTU and tend to be in short supply in the near future due to the decrease of oil and gas lifting capacity in Indonesia. Now, they start doing several Feasibility Studies on Coal Gasification to Ammonia & Urea.

There are several key factors shall be taken into account as part of Feasibility Study report especially for coal gasification to ammonia and urea project such as the technology selection of gasifier, syngas conversion and gas treating, ammonia & urea. The study shall also include market study of ammonia & urea, plant location, project funding evaluation, preliminary EPC project execution plan, products transportation evaluation and other several factors.

Black & Veatch, an engineering and EPC Contractor, has been performing feasibility assessments for gasification, syngas processing and synthetic fuels production. We help select the best technology for specific feed and product requirements including ammonia and urea product. We also perform economic analysis and project funding evaluation as part of feasibility study. Following technology selection, we provide seamless engineering. We’ve performed studies, assessments and EPC for more than 30 gasification clients. Our experience includes above-ground and underground gasification technologies. In all cases, we listen first. Then we align best-fit technology solutions that match the business need.

Key words: coal gasification, low rank coal, syngas, entrained-flow, feasibility study, engineering, EPC, and gasification technology.

*The author is currently working on one of Feasibility Studies in Indonesia for Coal Gasification to Ammonia & Urea. He is a Project Manager licensed as Professional Engineer by the Institution of Engineers, Indonesia (PII).

**This abstract is being developed to technical paper and will be presented in front of Conference of ASEAN Engineers (CAFEO32) in Yangon, Myanmar, 12th of November 2014.

 

Pembicara Construction Cost Management, KPP PII di Makassar, 8 Juni 2014

Hari Minggu, 8 Juni 2014 saya memenuhi undangan Pengurus PII Cabang Makassar Bapak Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT membawakan materi Construction Cost Management di acara Kursus Pembinaan Profesi (KPP) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Hotel Clarion Makassar. Peserta dihadiri lebih dari 40 calon Insinyur yang bekerja di dinas Pekerjaan Umum, Kontraktor Lokal dan beberapa perusahaan tambang, minyak dan gas di seputaran Sulawesi. Acara ini dilaksanakan selama 2 hari , Tanggal 8 – 9 Juni 2014.

(3) SLIDE PERTAMA

Seperti biasa saya diminta membawakan materi yang memang saya selalu presentasekan di KPP sebelumnya. Pengurus PII Pusat juga sering meminta untuk membawakan materi ini di Jakarta menggantikan Bapak Ir. Asiyanto, MBA., IPU mengingat materi cost planning/construction cost management ini membutuhkan pengalaman dan pendalaman lebih dalam dari Pembicara yang akan menyajikan.

Alhamdulillah, saya adalah dari sedikit orang yang bisa mendeliver materi ini dengan enteng karena materi ini sangat berhubungan dengan aktifitas sehari-hari saya sebagai project manager pada sebuah multionational engineering and EPC contractor. Saya juga pernah mengikuti beberapa training yang berhubungan dengan cost engineering yang meliputi 2 bagian besar yakni: cost estimating and cost control.

(2) DEPAN SAMPING

Slide pertama saya diawali dengan definisi proyek adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu, yang dalam prosesnya dibatasi oleh waktu dan sumberdaya yang diperlukan dan persyaratan-persyaratan tertentu lainnya. Proyek konstruksi, hasil fisiknya, berupa: bangunan gedung, Jembatan, Jalan, Bendungan, Kilang LNG dan Pabrik Gasifikasi Batubara.

Slide selanjutnya memberikan pemaparan tentang latar belakang pada saat cost engineering belum berkembang perhitungan biaya konstruksi selalu mengalami penyimpangan yang cukup besar. Contohnya pada saat pembangunan torowongan “Great Bore “di Massachussets pada kurun waktu tahun 1851 – 1875. Penggunaan peralatan terowongan yang pertama kali, dibuatoleh John Wilson ( thn 1856). Rencana biaya awalnya sebesar USD 3,88 juta, dan realisasinya membengkak menjadi USD 17,30 juta. Hal inilah kemudian melatar belakangi berdirinya the American Association of Cost Engineer (AACE).

(1) DEPAN DEKAT

Menurut AACE ( American Asociation of Cost Engineer ), Cost Engineering adalah suatu bidang engineering, yang meliputi penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan teknik, dengan menggunakan pengalaman dan pertimbangan engineering dalam masalah estimasi biaya, pengendalian biaya dan ekonomi teknik.

Hadir pada acara ini Ketua PII Wilayah Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ir. H. M. Saleh Pallu, M.Eng., IPM yang juga kebagian materi Etika Profesi Insinyur Indonesia. Rombongan PII Pusat dari Jakarta dipimpin Ketua Umum PII Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, MM., IPM menutup acara sekaligus melantik anggota PII dan Insinyur-insinyur baru.

(4) PENYERAHAN PLAKAT(5) PROF SALEH

 

 

Kembali Menjadi Pemateri Cost Planning pada Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia, 21 May 2014

Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia (KPP PII) yang diadakan pada Hari Selasa, Rabu dan Kamis bertepatan 20, 21 dan 22 Mei 2014 di Menara Kadin Kuningan kembali memberi pengalaman bermakna khususnya buat diriku. Hari Selasa seharian penuh saya diberi amanah menjadi moderator dan pada hari kedua diminta menjadi pemateri menggantikan salah satu pemateri senior untuk topik Cost Planning pada Proyek-Proyek Konstruksi.

Front viewSejujurnya materi Cost Planning ini cukup berat untuk disajikan karena bidang cost engineering ini adalah salah satu disiplin ilmu engineering yang spesifik dan tidak banyak yang bergelut di bidang ini. Pemateri yang sekiranya direncanakan mengisi materi ini berhalangan hadir karena ada acara keluar kota dan beberapa hari sebelumnya pihak panitia KPP tidak mendapatkan pemateri pengganti. Pucuk di cinta ulam pun tiba mereka akhirnya meminta saya untuk menyajikan materi ini karena dianggap bisa menggantikan pemateri senior PII dan melihat latar belakang saya sebagai manajer proyek di beberapa proyek besar minyak dan gas yang tentunya ada aspek biaya yang sudah menjadi sarapan sehari-hari saya di proyek.

Definisi Cost Engineering menurut AACE ( American Asociation of Cost Engineer ) adalah “suatu bidang engineering, yang meliputi penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan teknik, dengan menggunakan pengalaman dan pertimbangan engineering dalam masalah estimasi biaya, pengendalian biaya dan ekonomi teknik“

Q&A SessionPada saat cost engineering belum berkembang perhitungan biaya konstruksi selalu mengalami penyimpangan yang cukup besar, salah satu contoh adalah pembangunan torowongan “Great Bore“ di Massachussets pada kurun waktu Tahun 1851 – 1875. Penggunaan peralatan terowongan yang pertama kali dibuat oleh John Wilson ( thn 1856). Rencana biaya awalnya sebesar USD 3,88 juta, realisasinya membengkak menjadi USD 17,30 juta. Merespon semua kondisi yang terjadi pada perencanaan dan pelaksanaan proyek maka dibentuklah Asosiasi Cost Engineer th.1956 di USA, dengan nama “the American Association of Cost Engineer – AACE”.

Salah satu kunci di dalam menghasilkan proyek yang sukses baik dari segi biaya maupun schedule adalah dengan melakukan proses yang dinamakan pre-project planning. Pre-project planning adalah suatu proses yang dilakukan oleh project owner dimulai dari pre-FS, pre-FEED, sebelum melakukan proses FEED dan EPC. Ketika pre-project planning ini dilakukan dengan benar sesuai dengan data statistik dari CII hasilnya adalah biaya proyek bisa kurang 4% dari budget dan schedule pekerjaan bisa lebih cepat 13% dari schedule awal.

Sides View FarPeserta KPP PII kali ini berjumlah 30 calon Insinyur berasal dari beberapa perusahaan nasional dan multinasional seperti McConnel Dowell,  Holcim, Krakatau Engineering dan lainnya. Mereka sangat antusias dengan materi Cost Planning ini karena di awal materi Pembicara sudah memberikan pesan positif kepada peserta untuk bisa memahami cost engineering ini dan apabila perlu menguasai bidang ilmu ini dan kemudian tersertifikasi sebagai Certified Cost Engineer (CCE).

Ini adalah kali ketiga saya membawakan materi Cost Planning setelah diundang oleh Pengurus PII Cabang Makassar di Tahun 2011 dan 2012 lalu. Saya tidak merasa canggung lagi membawakan materi karena apa yang diajarkan di kuliah ini juga saya selalu aplikasikan di dalam keseharian saya sebagai salah seorang Project Manager di sebuah perusahaan Engineering dan EPC Contractor yang berkantor pusat di Negeri Paman Sam yang jauh di sana.

 

Diundang PLN Unit Manajemen Konstruksi V Indonesia Timur Memberikan Kuliah LNG Project Management (8 Mei 2014)

Untuk kesekian kalinya, memenuhi undangan dari berbagai instansi negara maupun swasta dalam rangka knowledge sharing session tentang Teknologi LNG dan Manajemen Proyek EPC Minyak dan Gas. Peserta yang dihadiri oleh kurang lebih 40 professional dari unit 5 Manajemen Konstruksi yang bertanggung jawab terhadap wilayah Indonesia Timur meliputi Sulawesi, Maluku dan Papua.

Undangan ini diinisiasi oleh teman kuliah di Unhas, Bapak Ir. Sunandar Usman yang sekarang menjabat sebagai Asisten Manager Manajemen Konstruksi Unit 5 (UMK5) memberikan kesempatan selama 2 jam buat saya memperkenalkan teknologi paten LNG milik Black & Veatch, PRICO Single Mixed Refrigerant (SMR) Technology dan sekaligus memberikan pemaparan tentang strategi eksekusi model kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) untuk proyek-proyek Oil & Gas di Indonesia maupun di dunia.

PLN1 PLN

 

 

Presentase saya ini sangat relevan dengan PLN di dalam usahanya mengurangi subsidi BBM pada pembangkit listrik mereka melalui program Mini LNG Projects Business Schemes di mana mereka menawarkan 2 skenario yaitu: Skenario pertama; PLN membeli gas di sisi sumur (hulu) dan kemudian bersama-sama dengan mitra bisnisnya membangun LNG plant, LNG transportation, LNG regasification facility dan infrastruktur pendukung lainnya memastikan gas terkirim ke pembangkit-pembangkit listrik mereka. Skenario kedua; PLN membeli dan menerima gas dari plant gate (sisi pembangkit listrik) yang artinya gas developer dan mitranya yang akan membangun LNG plant, LNG transportation, LNG regasification facility dan infrastruktur pendukung lainnya.

PLN2

 

Studi kasus yang saya angkat pada sesi kali ini adalah proyek EXMAR FLSRU – Floating, Liquefaction, Storaging, and Regasification Unit yang sementara ini dikonstruksi di Nantong Cina, Wison fabrication yard. Proyek ini melalui beberapa tahapan pengembangan dimulai dari Pre-FEED, FEED dan EPC stage. EXMAR project saat ini onschedule dan akan mulai beroperasi pada kuarter pertama Tahun 2015 dan sekaligus menjadi the World First Floating LNG Production Unit di dunia.

Saya memberikan sedikit banyak penjelasan mengapa proyek-proyek Oil & Gas mengharuskan melakukan FEED stage sebelum lanjut ke EPC. Menurut AACE INT. RP #18R-97 tentang estimate classification, fase Class 3 yang biasa disebut FEL-3 Phase atau FEED, output dari fase ini akan menghasilkan estimasi -10% to 20% (typical B&V estimate: +/- 10-15%). Mengapa bisa demikian akuratnya? Karena pada fase FEED project definition sudah lebih jelas sampai pada level 40% clarity, deliverables FEED itu sendiri antara lain: Block Flow Diagram (BFD), Plot Plans, Process Flow Diagram (PFD), Utility Flow Diagram (UFDs), Piping & Instrument Diagrams (P&IDs), Heat & Material Balances, Process Equipment List, Utility Equipment List, Electrical One-Line Drwawings, Specifications & Datasheets dan termasuk Equipment Arrangement Drawings. Output atau deliverables ini memberikan informasi yang mumpuni untuk mendevelop estimasi akurasi +/- 10 to 15% dan memberikan kenyamanan yang lebih luas bagi client untuk melakukan Final Investment Decision (FID) dan moving to EPC stage.

PLN3Diskusi mengenai manajemen proyek yang dijalankan teman-teman PLN UMK. Mereka bertanggung jawab melakukan supervisi di lapangan selama fase konstruksi dan melakukan program quality control sampai pada commissioning dan startup. Ada beberapa proyek yang dikerjakan EPC contractor dari China dan permasalahan yang dihadapi kerap kali adalah kontraktor China ini tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan standar dan spesifikasi internasional seperti ASME, ANSI, NEMA, IEC dan lainnya. Kebanyakan material dan equipment yang disupply juga di bawah standard internasional. Lessons learnt yang bisa dipetik adalah memastikan kontrak antara PLN dan kontraktornya memasukkan code, spesifikasi dan standard termasuk material dan equipment yang disupply dan juga bagaimana mereka melakukan pekerjaan konstruksi. Sebaiknya pada saat melakukan evaluasi penentuan pemenang, tidak hanya melihat harga termurah tetapi lebih fokus pada penilaian teknis sehingga kontraktor yang terpilih bisa menghasilkan kualitas pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan oleh PLN.

PLN4

 

Bahan pembelajaran buat semuanya adalah  proyek adalah suatu investasi jangka panjang, jangan hanya terfokus pada sisi capital expenditure saja tapi juga harus melihat berapa lama ekspektasi ROI, payback period dan IRRnya. Mungkin CAPEXnya agak tinggi tetapi Operational  Expenditurenya (OPEX) jauh lebih murah karena kehandalan equipment dan material yang terpasang sehingga memungkinkan sistem pembangkit listrik bisa beroperasi sepanjang tahun tanpa mengalami down time yang signifikan. Gas turbine dari GE atau Siemens mungkin bisa lebih mahal dari gas turbine merek lain karena merek seperti ini bisa beroperasi sampai 345 hari per tahun dibandingkan gas turbine yang sering sesak nafas dan batuk-batuk dan beroperasi kurang dari 250 hari per tahun. Sekarang mana yang lebih cepat periode pengembaliannya? Proforma economic analysis akan menjadi referensi untuk memilih system yang lebih robust dan reliable.

Dua jam berlalu dan tibalah saatnya mengakhiri tanya jawab dan presentase ini, Pak Rachman Tinri sebagai host dari knowledge sharing session kali ini menutup sesi ini diikuti oleh tepuk tangan dari para peserta.