Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Menjadi Pembicara, Panelis, Chairperson dan Moderator di LNG Asia Summit 2014 (24 & 25 April 2014)

Oleh: Habibie Razak, P. Eng – Project Manager & Seller Doer, Oil & Gas, Black & Veatch International Company

LNG Asia Summit 2014 kali ini diadakan di Swiss Belhotel Jl. Kartini Mangga Besar menyisakan kenangan yang tak pernah terlupakan di mana pada event ini saya diutus sebagai pembicara dan panelist diskusi oleh perusahaan saya dan sekaligus diminta menjadi Chairperson pada sesi pagi hari pertama dan menjadi moderator pada diskusi panel sesi pagi juga di hari pertama. Undangan menjadi chairperson dan moderator datang tak disangka-sangka minus satu hari H dari conference organizer meminta kesiapan saya hari esok. Apa daya saya memang orangnya suka menerima tantangan, ya sudahlah saya terima undangan itu dan melaksanakannya keesokan harinya.

???????????????????????????????

 

Acara ini berlangsung selama satu setengah hari di mana pada hari pertama lebih mengfokuskan kepada beberapa topik antara lain: Indonesian LNG Industry Outlook pada sesi pagi dan pada siang hari dilanjutkan dengan topik FSRU & FLNG Development in Asia. Pada sesi FLNG development saya mempresentasekan kapabilitas Black & Veatch dan aliansinya di dalam suatu tema: FLNG: Meeting the Domestic Demand in Indonesia’s Archipelago. Presentase berlangsung selama 25 menit dan diikuti babakan tanya jawab. Pembicara hari pertama menampilkan Nusantara Regas, PLN, Galway Group dan beberapa perusahaan terkemuka lainnya.

Sedikit berbicara tentang FLNG berikut beberapa kutipan dari slides deck saya:

  • Floating LNG monetizing stranded offshore reserves
  • Floating LNG applications – Export onshore pipeline gas
  • Near-shore or dock side application
  • Protected waters – benign (met ocean conditions)
  • Moored at jetty / wharf or sea-island
  • Small to mid-scale LNG supply volumes – 0.5 – 2+ MMTPA
  • Move away from traditional onshore plants

Why do we need to move floating LNG production unit?

  • Fit for small to mid scale  production plants
  • Less complex
  • Low capital and operating costs
  • Faster schedule

SELECTION OF LIQUEFACTION TECHNOLOGY FOR OFFSHORE APPLICATION

  • Most important criteria – minimize the footprint
  • Simple to operate
  • Efficiency
  • Mitigating vessel motion – marinization
  • Flexibility to expand – scalability
  • Flexibility to changes in Feed gas
  • Turndown and rapid startup

Based on the above selection criterias, Black & Veatch PRICO SMR LNG Process  is the only one patented technology which met all requirements for offshore applications

???????????????????????????????????????

 

 

Hari kedua lebih fokus pada LNG Shipping & Transport and Current LNG Market Trends from Legal Perspective. Pembicara hari kedua menampilkan beberapa perusahaan transportasi LNG seperti PT Humpuss Intermoda, Mann Teknik AB dan beberapa perwakilan perusahaan lokal dan internasional lainnya.

Konferensi seperti ini tidak hanya melahirkan wawasan dan pengetahuan baru tentang dunia LNG secara umum tapi juga sebagai wadah untuk networking di antara pada pelaku bisnis LNG dimulai dari pemerintah, pengusaha dan investor untuk pembangunan liquefaction process, regasification, transportation and distribution sampai pada end user. Tak ketinggalan Black & Veatch sebagai LNG industry pioneer yang telah bermain di ranah ini selama 50+ tahun dengan lebih dari 50 proyek LNG di seluruh dunia menggunakan teknologi patent PRICO LNG process membuat posisi Black & Veatch tak terkalahkan dari engineering & EPC contractor lainnya di dunia. B&V lebih fokus dan terdepan untuk small to mid scale LNG development, tak terkalahkan.

???????????????????????????????

 

 

Kesimpulan akhir dari slides deck presentation saya antara lain adalah:

????????

  • Barge LNG moving forward – The world’s first FLNG will be LNG barge (PRE-EXMAR FLRSU – Q1 2015)
  • Cost effective and shorter schedule;
  • Bankability
  • Integrated WISON-Black & Veatch solution – Simple process and simple barge
  • Barge LNG proving to be good option for small to midscale facility

Saya merasa bangga dengan pencapaian yang saya miliki selama ini masih terus diberi kesempatan mewakili perusahaan di dalam mempromosikan B&V LNG qualification and experiences. Menjadi pembicara dari Indonesia bersanding dengan pembicara internasional yang sudah malang melintang di bisnis ini. Maju terus Habibie Razak menjadi pioneer LNG business di Indonesia dan Asia Tenggara.

 

 

 

 

 

 

 

Diutus sebagai Delegasi pada World Clean Coal Conference di Bali 9-10 April 2014

Konferensi internasional tentang pemanfaatan batubara yang dilaksanakan di Hotel Pan Pacific Tanah Lot, Kab. Tabanan, Bali berlangsung sesuai direncanakan melibatkan delegasi dari berbagai negara, technology licensor, pengusaha batubara, sampai pada delegasi pemerintah. Acara berlangsung selama 2 hari, Tanggal 9 – 10 April 2014 di Grand Balroom salah satu hotel sekaligus resort terkenal di Pulau Dewata ini.

Mungkin ada yang bertanya, Tanggal 9 kan bertepatan dengan jadwal Pemilu? Iya betul sekali karena acara ini saya dan teman-teman delagasi lainnya tidak menggunakan hak pilih di Pemilu legislatif kali ini.

Sitting down and listening Conference Situation

 

Perjalanan ke Bali dari Bandara Soekarno atta, Cengkareng hanya menempuh kurang lebih 1.5 jam dan mendarat di Bandara Gusti Ngurah Rai. Lokasi bandara tidak jauh dari Pantai Kuta, Bali, pantai terpopuler di Bali dan Indonesia umumnya. Hari Selasa, Tanggal 8 April tepatnya Pukul 13.30 PM dari Bandara kami langsung menuju Tanah Lot, salah satu lokasi wisata di Bali yang berada di sisi tepi pantai barat arah utara pulau Dewata. Perjalanan menempuh 1.5 jam dengan kondisi lalulintas ramai lancar dengan jarak tempuh kurang lebih 60 km dan selama itu pula kami banyak mendapatkan outlet-outlet di pinggir jalan yang menghadirkan kerajinan tangan dan seni pahat khas Bali. Dari dalam mobil kami melewati beberapa tempat peribadatan umat Hindu seperti Pura dan sejenisnya, sungguh mengesankan.

ID Card Sponsorship view

 

 

Hari pertama konferensi World Clean Coal menghadirkan Bob Kamandanu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia berbicara tentang coal policy and investment climate in Indonesia di mana Beliau mendorong sektor swasta dan BUMN untuk berinvestasi di sektor coal gasification dan coal upgrading dan bersama-sama mempresentasekan business case mereka di depan pemerintah.  Pupuk Kaltim tidak ketinggalan menghadirkan beberapa slides tentang Coal related Projects for Fertilizing Production. Yang menarik buat saya adalah presentase project portfolio dan technology overview of UHDE gasifier dibawakan oleh Claudio Marsico, Thyssen Krupp Industrial Solutions. Konferensi 2 hari kali ini menghadirkan Prof. Bukin Daulay, peneliti dari TEKMIRA kementerian ESDM sebagai host. Beliau sangat intens mengkampanyekan pemanfaatan batubara kalori rendah di Indonesia untuk memberikan nilai tambah buat sektor energi dan industri.

Pembicara dan topik pembahasannya di hari kedua tidak kalah menariknya dengan hari pertama menampilkan Muhammad Khayam mewakili Kementerian Perindustrian dan Pak Unggul Priyanto dari BPPT.  Pertamina yang diwakili oleh Djauhari Kunsetyanto memaparkan project mereka yaitu coal based fuel and chemical project di mana Pertamina saat ini bekerja sama dengan Celanese, USA di dalam pengembangan ethanol dan E10 gasoline dari batubara.

Finally, giliran perwakilan dari Black & Veatch, George Gruber, PE Technology Manager untuk gasification and chemicals memberikan kuliah dan ceramah tentang Indonesia Coal Gasification Opportunities. Beliau di dalam pemaparannya menjelaskan bahwa batubara kalori rendah dapat dikonversi menjadi high value products seperti: ammonia and urea, methanol and DME, SNG and LNG, diesel dan gasoline. Beliau juga memaparkan studi kasus tentang Indonesian low rank coal menggunakan teknologi Shell, Siemens dan Uhde di mana Beliau memaparkan keunggulan-keunggulan dari 3 teknologi ini dari sisi capital dan operating expenditures. Menurut George Gruber, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan teknologi gasifikasi antara lain: karakteristik batubara seperti nilai kalori, ash content dan kadar air, produk akhir yang dihasilkan dan aplikasinya, skala pabrik dan ekspektasi reliabilitasnya, capital investment (CAPEX), operating expenditure (OPEX) dan faktor-faktor lainnya. Di ujung presentase Mr. Gruber menampilkan product case economics dengan asumsi harga batubara adalah masing-masing 20 USD/ton dan 30 USD/ton untuk menghasilkan methanol, DME, gasoline, diesel dan naphtha, SNG, ammonia dan urea. Dari tabel yang ditampilkan menyimpulkan bahwa batubara sudah sangat feasible, economically viable untuk menghasilkan produk-produk di atas.

Presentation by George

 

Dua hari konferensi menyimpulkan bahwa gasifikasi batubara adalah layak berdasarkan pendekatan teknis dan ekonomis dan diharapkan kerjasama yang apik antara pihak akademisi, businessman dan government untuk membuat investasi ini terwujud di masa depan.

Pan Pacific nameplate background Hard Rock Cafe

 

 

 

Oh iya, mungkin ini petualangan yang tak kalah menariknya buat saya, Hari Jumat pagi Tanggal 11 April saya check out dari Hotel Pan Pacific dan bergegas menuju Kuta dan check in di salah satu Hotel dekat Pantai Kuta. Di hari itu kami menyempatkan berwisata ke Bali Safari, Monkey Forest di Ubud, Pantai Kuta dan beberapa obyek wisata lainnya. Tak lupa saya berfoto gagah di depan Hard Rock Hotel dan Cafe yang lokasinya berada tepat di depan Pantai Kuta. You know me lah saya fans berat Hard Rock. Hari Sabtu siang saya menuju Bandara Gusti Ngurah Rai dan terbang ke kota Daeng dengan pesawat Garuda Airlines. Kenapa harus Garuda? Iya karena saya adalah member setianya Garuda Miles ha ha ha…

 

 

 

Jalan-jalan ke Kota Pempek Palembang dan Kota Tambang Muara Enim

Siang hari Tanggal 18 Maret 2014, saya dan dua teman berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta menuju Palembang. Pesawat Garuda GA0012 berangkat Pukul 16.15 menuju Sultan Muhammad Badaruddin II dan mendarat Pukul 17.25. Kami menginap di Hotel Arya Duta Jalan POM IX tepatnya di tengah kota Palembang.

Kami berangkat ke Palembang dalam rangka tugas kantor dan menginap selama 3 hari di sana dan juga berkunjung ke lokasi tambang Batubara Bukit Asam di Muara Enim. Malam pertama kami menikmati makan malam di Restoran River Side yang lokasinya dekat dengan Jembatan Ampera. Di hari kedua, Tanggal 19 Maret 2014 kami juga mengunjungi salah satu pabrik Pupuk di Palembang.

Caterpillar Heavy Equipment Site Visit Team

Kota Palembang yang terkenal dengan kota Pempek dan Kerupuk khas Palembang menyimpan sejarah perjuangan masyarakat Palembang sebagai pejuang kemerdekaan dan memiliki beberapa pahlawan yang terkenal. Salah satunya adalah Kapten Ahmad Rifai yang sekarang namanya diberi nama jalan di tengah kota Palembang. Kapten A. Rifai ini dengan warga dan pejuang-pejuang Palembang berhasil menahan serangan Belanda selama lebih dari 2 minggu berperang tanpa henti.

Conveyor Belt from Mining site to Railway station - Copy

 

Tanggal 20 Maret kami dari Palembang menuju Tanjung Enim, lokasi tambang batubara berada. Perjalanan menempuh 5 Jam menuju lokasi tambang melalui jalan darat. Tanjung Enim masuk ke dalam area Kabupaten Muara Enim, salah satu kabupaten yang berlokasi di bagian barat selatan, 190 Km dari Kota Palembang. Kota ini kaya akan deposit batubara dan termasuk daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Di sinilah PT Tambang Batubara Bukit Asam beroperasi.

Mining Hopper Station - Copy

Selama 2 jam di lokasi tambang kami menyempatkan melihat lokasi tambang dan melihat beberapa caterpillar engine lalu-lalang di depan kami. Sepertinya tambang ini tetap beroperasi seperti biasa walaupun harga batubara saat ini lagi tidak bersahabat. Crushing station dan conveyor sepanjang beberapa kilometer pun menjadi pemandangan attraktif selama kunjungan kami. PT Bukit Asam mengirim batubara dari lokasi tambang menuju pelabuhan melalui jalur rel kereta api dengan jarak lebih dari 1oo Km.

Sore harinya pun di Tanggal 20 kami harus balik lagi ke Palembang dan menginap satu malam di Hotel Arya Duta dan balik ke Jakarta keesokan harinya. Palembang adalah kota pertama di Pulau Sumatera yang pernah saya kunjungi saya berharap bisa berkunjung lagi ke kota-kota besar lainnya seperti Medan dan Padang.

 

Diundang Himpunan Mahasiswa Sipil Sesi Kedua Effective Career Planning dan Memenuhi Undangan PPDA Himpunan Mahasiswa Elektro Universitas Hasanuddin

Awal bulan Pebruari 2014 tepatnya Tanggal 1 Pebruari saya kembali diundang menjadi pembicara pada Kuliah Tamu Himpunan Mahasiswa Sipil sesi kedua “Effective Career Planning; Focus Group Discussion & Behavioral Event Interview”.  Pengurus Himpunan Mahasiswa Sipil  yang diwakili Ketua Umumnya Muhammad Asrul Ansar meyakini sesi kedua yang terdiri dari pendalaman tentang materi Focus Group Discussion (FGD) dan Behavioral Event Interview (BEI) adalah sangat perlu diketahui dan mulai dipraktekkan jauh hari sebelum mereka melalui proses seleksi menjadi karyawan di perusahaan industri pertambangan, minyak dan gas nantinya.

Spanduk Kuliah Umum

Tujuan dari sesi kedua ini saya kutip dari power point slides antara lain: 

—Industry requirements on candidate of employees to enter as professionals – Implementation of Engineers Required Competency Dictionary
—Practice effective Focus Group Discussion (FGD)
—Practice effective Behavioral Event Interview (BEI)
 
Literatur yang membahas tentang FGD dan BEI mendifinisikan bahwa Focus Group Discussion (FGD) adalah an in depth field method that brings together a small homogeneous group (usually six to twelve persons) to discuss topic(s). The purpose of this discussion is to use the social dynamics of the group, with the help of a moderator/ facilitator, to stimulate participants to reveal underlying opinions, attitudes, and reasons for their behaviors.  In short, a well facilitated group can be helpful in finding out the “hows” and “whys” of human behavior. Sedangkan Behavioral Event Interview (BEI) didefinisikan sebagai one of interview model with the objective: the Interviewer gather factual information about actual behavior from the past experiences. Philosophy: past behaviors predict future behaviors. Nah, kedua jenis ujian atau tes ini dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asing setelah proses ujian teknis tertulis (technical test) dan psychology test. Kedua jenis tes ini tidak kalah pentingnya di dalam menentukan apakah calon karyawan(i) bisa lulus dalam seleksi rekrutmen pada suatu posisi atau jabatan.
 
Penerimaan Plakat
 
Menurut pembicara, penilaian utama dari Focus Group Discussion (FGD) ini adalah peserta FGD sangat memahami topik permasalahan yang diangkat dan proaktif di dalam memberikan kontribusi pemikiran dengan cara mengemukakan pendapat dengan elegan dan memberikan solusi sesuai dengan metode penyelesaian masalah (problem solving) dan tidak pernah menentang atau menyalahkan pendapat orang lain. Peserta juga diharapkan membagi pengalaman, concerns, perasaan, opini dan harapan-harapan yang spesifik pada issue yang berkembang yang relevan dengan topik permasalahan yang dibahas di FGD. Diupayakan peserta tidak bereaksi  secara langsung terhadap opini peserta lainnya tanpa terlebih dahulu mengevaluasi lebih dalam tentang apa yang disampaikan. 
 
   
Behavioral Event Interview (BEI) berdasarkan pada STAR questions yang tidak lain adalah Situation, Tasking, Action dan Result. Interviewee diharapkan memaparkan pengalaman-pengalaman yang telah dilaluinya dengan menggunakan metode ini dan interviewer tetap mengarahkan proses diskusi dan mencatat score setiap kompetensi yang disyaratkan. Adapun kompetensi-kompetensi yang disyaratkan terdiri dari 2 garis besar yakni technical competency dan behavioral competency.  Untuk perekrutan posisi engineer, technical competency yang disyaratkan antara lain mencakup project management, process improvement and cost reduction, time management, presentation skills, technical specialization, report writing dan english.  Behavioral competency mencakup achievement motivation, impact and ifluence, teamwork and cooperation, innovative thinking, problem solving and commitment to continuous learning.
 
Sertifikat
 
Peserta kuliah umum ini dihadiri sekitar 25 orang mahasiswa (i) dari beberapa jurusan di Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin berlangsung dari Pukul 13.30 sampai dengan Pukul 17.00 waktu Makassar. Mahasiswa sangat intens di dalam mengikuti sesi ini dan mereka berharap bisa segera mempelajari lebih dalam tentang materi focus group discussion dan behavioral event interview (BEI) demi persiapan masa depan mereka kelak.
 
Di hari yang sama tepatnya Pukul 19.30 Saya juga diundang ke acara Program Pengembangan Diri Paket A (PPD-A) Himpunan Mahasiswa Elektro (HME-FTUH) dan membawakan materi tentang Konsep Mahasiswa Ideal dan Effective Career Planning. Peserta PPD-A adalah mahasiswa dan mahasiswi Elektro Angkatan 2012 yang setidaknya berjumlah 150 orang.
 
Pembicara dalam pemaparannya mengharapkan mahasiswa menjalankan fungsi dan peranannya sebagai antara lain: 

1) Direct of Change, mahasiswa bisa melakukan perubahan secara langsung, frontal dan revolusioner.
2) Agent of Change, mahasiswa adalah agen perubahan, mempioneeri perubahan menuju ke arah yang lebih baik.
3) Iron Stock, sumber daya manusia dari mahasiswa tidak akan pernah habis karena mahasiswa adalah penerus generasi sekarang dan masa akan datang.
4) Moral Force, mahasiswa itu kumpulan orang bermoral dan beretika.

5) Social Control, mahasiswa itu pengontrol kehidupan sosial termasuk menjadi pengontrol kehidupan sosial kemasyarakatan

 
Di samping sebagai intelektual muda yang meraih ilmu pengetahuan di bangku perkuliahan mahasiswa juga diharapkan bisa membagi waktu untuk mengikuti program pengembangan diri di lembaga kemahasiswaan karena melalui lembaga kemahasiswaan mahasiswa bisa meningkatkan kompetensi perilaku (behavioral competency) atau biasa juga disebut sebagai soft skills. Pembicara berharap mahasiswa sebagai calon Sarjana Teknik ketika menjadi alumni kelak lebih memilih untuk menapaki profesi keinsinyuran karena negeri ini masih butuh sumber daya Insinyur untuk membangun Indonesia yang dituangkan dalam kerangka Masterplan Perencanaan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Foto bareng
 
 
Bravo mahasiswa Indonesia dan sampai bertemu lagi di sesi kuliah tamu selanjutnya.

Diundang Himpunan Mahasiswa Sipil FT-UH menjadi Pembicara Kuliah Tamu “Effective Career Planning for Students & Fresh Graduates”

Penghujung Tahun 2013 tepatnya Tanggal 31 Desember saya diundang ke kampus oleh Panitia Kuliah Tamu Himpunan Mahasiswa Sipil Fakultas Teknik Unhas untuk menjadi Dosen Kuliah Tamu dengan judul “Effective Career Planning for Fresh Graduates & Students”. Acara yang berlangsung mulai Pukul 14.00 sampai dengan 17.00 ini membahas lebih banyak tentang perencanaan karir yang efektif bagi mahasiswa yang akan menjadi Sarjana Teknik maupun alumni yang baru menyelesaikan studi di kampus.

Spanduk

 

Acara kuliah tamu ini dihadiri setidaknya 40 mahasiswa Fakultas Teknik dari berbagai jurusan seperti Sipil, Arsitektur, Geologi, Perkapalan dan Mesin. Selama 3 jam presentase dan diikuti tanya jawab mahasiswa dan beberapa fresh graduates cukup menikmati suguhan slides dari pembicara bahkan pada sesi tanya jawab mereka lebih fokus bertanya tentang strategi mencari kerja yang efektif, perencanaan jenjang karir dan ada juga yang bertanya tentang alur karir pembicara mulai dari menjadi Assistant Engineer dan Project Engineer di beberapa project di suatu perusahaan tambang kemudian berpindah ke perusahaan energi sampai akhirnya menduduki jabatan project manager di perusahaan sekarang.

Suasana Kuliah Tamu Suasana Kuliah Tamu1

Slides yang berisikan tentang beberapa pemaparan antara lain: Key Steps in Career Planning, Effective Employment Search Strategies, Engineer’s Required Competencies, & Good Habits on Career Planning. Dosen tamu juga menekankan betapa pentingnya merencanakan karir dan masa depan sedini mungkin sehingga ketika tiba waktunya para mahasiswa atau calon sarjana teknik bisa meraih pekerjaan yang mendukung secara finansial dan selaras dengan jenjang karir yang dicita-citakan. Sebutlah dosen tamu bercerita tentang career pathnya dimana dia memulai profesinya sebagai assistant engineer dalam 2 tahun kemudian dipromosikan menjadi civil engineer. Semasa menjadi civil engineer dia juga pernah diberi tantangan sebagai acting project manager dan berhasil menyelesaikan 2 capital project sebelum akhirnya dia memutuskan untuk resign di perusahaan pertama dalam masa kerja kurang dari 7 Tahun. Di perusahaan kedua dia bekerja sebagai senior engineer yang tentunya tanggung jawabnya lebih besar dari posisi engineer. Kurang dari setahun di perusahaan kedua dia kemudian ditawari menjadi project manager di perusahaan ketiga dan setelah beberapa bulan akhirnya memutuskan berpindah lagi ke perusahaan keempat yang bergerak di sektor pembangkit listrik dan kilang LNG. Selama hampir 2 tahun menjabat sebagai project manager dan sekaligus engineering manager dia membangun perusahaan EPC contractor ini di Tahun 2011 dan di pertengahan Tahun 2012 dia memutuskan pindah lagi ke perusahan kelima yakni perusahaan saat ini di mana dia sudah bekerja selama 2 tahun sebagai Project Manager, Oil & Gas group, divisi Energy.

Foto Bersama

 

 

 

 

 

 

Penyerahan Perahu PinisiSeorang manager yang pernah bekerja di suatu perusahaan lokal yang berdiri dan beroperasi di Makassar dimana dia menjadi karyawan pertama dan berhasil mengembangkan perusahan ini menjadi perusahaan EPC contractor yang cukup disegani di Indonesia dan sukses mengembangkan sayap ke negara lain dengan mulai membangun pembangkit listrik dan kilang LNG di Philipina dan Papua Nugini dengan modal engineer-engineer lokal, engineer-engineer terbaik Indonesia. Perusahan ini pun sukses membangun serangkaian 3×60 MW combined-cycle dan sementara membangun kilang LNG di Sulawesi dengan kapasitas 4 Train x 500 Ribu Ton LNG per Tahun. Ini merupakan prestasi yang cukup mengesankan selama bekerja kurang dari 2 tahun di perusahaan ini.

“Seperti layaknya seorang Guru Kung Fu Shaolin, saya berharap junior-junior sekarang ini yang menjadi murid di perguruan Shaolin tidak akan pernah diijinkan turun gunung apabila belum memiliki kesiapan pengetahuan silat di dalam menghadapi tantangan dunia luar yang jauh lebih kejam dibanding yang sang guru ajarkan. Kriteria sukses sang guru ketika murid-muridnya sudah lebih hebat dan lebih jago dari gurunya sendiri” Demikian yang disampaikan Habibie Razak kepada peserta kuliah tamu sebelum menutup 3 jam sesi perencanaan karir efektif di Ruang Seminar Lantai 3 Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin.

Perahu Pinisi

 

Penyerahan cendera mata berupa Perahu Pinisi ciri khas souvenir Makassar diberikan langsung oleh Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sipil (HMS) FT-UH Periode 2013/2014 yang dilanjutkan dengan foto bersama peserta kuliah tamu dengan dosen tamu kali ini. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sipil sebagaimana dalam kata sambutannya juga mengharapkan kuliah tamu seperti ini akan lebih digiatkan lagi dan khusus untuk topik perencanaan karir efektif bisa lebih dikupas lagi tentang focus group discussion (FGD) dan job interview sebagai lanjutan dari sesi ini.

Bagi yang berminat dengan power point slides sesi ini bisa menghubungi Saudara Muhammad Asrul Ansar – Ketum Himpunan Mahasiswa Sipil Periode 2013/2014

Menjadi Peserta Focus Group Discussion tentang Penyiapan Regulasi Pemanfaatan Teknologi Gasifikasi Batubara di Indonesia

Follow up dari Konferensi Underground Coal Gasification dan Coal Gasification yang dilaksanakan oleh IBC Singapore bulan lalu, saya diundang oleh Puslitbang Tekmira, MINERBA Kementerian ESDM pada Tanggal 10 Desember 2013 di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan. Pembicara dan fasilitator yang diundang hadir tidak hanya dari perwakilan Dirjen Minerba tapi juga dari perwakilan Dirjen Minyak dan Gas Bumi.

ID FGD

FGD CG&UCG 10 Des 2013 - Copy

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada kesempatan FGD ini terjadi pertukaran informasi tentang kesiapan bahan baku, regulasi feedstock dan pengusahaan teknologi pemanfaatan batubara yang dilakukan oleh berbagai pihak di Indonesia dengan sasaran sebagai berikut:

  1. Mengetahui perkembangan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  2. Mengetahui kesiapan feedstock untuk implementasi teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  3. Tersusunnya masukan bagi regulasi pemerintah untuk pengusahaan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  4. Mengetahui usulan tataniaga produk gasifikasi batubara, UCG dan CWM.
  5. Mempercepat penerapan teknologi gasifikasi batubara, UCG dan CWM.

Acara yang dibuka oleh Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, Kementrian ESDM, Ibu Dra. Retno Damayanti Dipl. EST dan juga dimoderasi oleh Bapak Prof. Bukin Daulay melahirkan beberapa pembahasan yang akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya antara lain:

  1. Permitting issues. The processing permit of UCG & coal gasification to produce syngas will be under the department of coal & mineral.
  2. Permitting issues. The permit for trading & specification of coal gasification products consist of SNG, DME, & all other type of fuels will be by the department of oil & gas.
  3. Permitting issues. The permit for trading & specification of all petrochemical products will be by department of industry.
  4. Permitting issues. The permit for trading & specification of the coal gasification products for public electricity by the electricity department.
  5. The law and regulation pushing to utilize the coal and mineral resources to add value for domestic need, Law No. 4 Year 2009 will be released starting January 2014. The requirement is to build smelter and processing plant in Indonesia instead of just exporting in raw materials form.
  6. The background on why the government utilized the coal as fuel and raw material for petrochemicals
  • Coal resource is abundant
  • The decrease of domestic oil lifting production.
  • The increase of fuel consumption
  • The increase of import of fuel for domestic consumption
  • President Instruction No. 5/2006, the target for coal to liquids utilization in 2025 shall be over or equal to 2% of energy mix

7. Challenges on coal gasification

  • High investment
  • Limited infrastructures for coal to liquids and coal gasification supply chain
  • CO2 control

8. Government policy to push forward on coal gasification

  • Study and research on coal gasification and coal liquefaction
  • Facilitate the cooperation and joint study for this type of project
  • Facilitate the cooperation for supply guarantee of coal for petrochemical raw materials
  • Possibility to give investment incentives for this type of projects
  • Develop supply chain and specification on coal gasification products.

      9.  The coal price is estimated USD 14/Ton (I think this is low rank coals) for coal gasification sectors to produce fuels and chemicals. This will be added on the regulation.

     10.  Coal to DME will also be the option to displace the need for LPG for community and housing needs.

     11.  CWM is used to substitute the MFO in the industry.

     12.  Concerns from several companies such as MEDCO, Bukit Asam, Pupuk Indonesia & subsidiaries regarding the complexity of the permitting and licensing since all these business will involve both department of coal and mineral & oil and gas. The permitting for mining exploration and exploitation themselves are complicated.

     13.  Black & Veatch added the concerns on environment regulations and standards included in the new regulation to support & trigger the investment. The world bank and some international financing institution provided several requirement on environmental things. For example: Carbon capture mechanism to control emission, UCG EHS, etc. All requirements with regard to this concern have been sent to ministry ESDM.

Semoga dengan inisiatif yang dilakukan oleh Kementerian ESDM ini membuahkan hasil yang mumpuni dalam rangka mewujudkan regulasi coal gasification, underground coal gasification dan coal water mixture sehingga kebijakan ini menjadi dasar tumbuhnya iklim investasi industri di sektor ini. Dengan pemanfaatan batubara kita yang berkalori rendah melalui proyek-proyek gasifikasi akan meningkatkan ‘value added’ dan neraca kerja Insinyur Indonesia, multiplier effect sampai ke masyarakat lokal, meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan, dan pada akhirnya meningkatkan pertumbuhan ekonomi sektor riil domestik Indonesia.

Ikutan Nimbrung di International Coal Gasification Conference di Singapura (19 – 22 Nopember 2013)

Konferensi coal gasification kali ini menghadirkan various speakers dari beberapa perusahaan multinasional yang bergerak di bidang energi, oil & gas. Masing-masing pembicara adalah professional and networker mengupas perkembangan proyek-proyek coal gasification dan underground coal gasification (UCG) yang sementara bergulir. Tak ketinggalan pembicara dari Indonesia mewakili beberapa instansi dan institusi pemerintah seperti Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Coal gasification adalah suatu proses di mana raw carbonaceous fuels dioksidasi secara parsial untuk menghasilkan gaseous combustible products lainnya. Produk utama dari  gasifikasi adalah synthesis gas atau syngas, umumnya terdiri dari carbon monoxide (CO), hydrogen, methane, carbon dioxide, and nitrogen. sedangkan kategori teknologi gasifikasi batu-bara saat ini adalah fixed bed, fluidized bed, entrained flow – slurry feed dan entrained flow – dry feed.

21 Nov 2013

21 Nov 2013 (2)

 

 

 

 

 

 

 

 

In this today’s global energy mix, gasification has been processed to many downstream products such as:

  • Ammonia, urea for fertilizing
  • Methanol/DME/Gasoline/Olefins
  • Carbon dioxide together with methanol can produce acetic acid, phosgene to polyurethane
  • Hydrogen
  • Oxo alcohols to detergents, plasticizers.
  • Fischer tropsch to fuels (diesel, jet fuel, naphtha), lubricant base oils, drilling fluids, specialty waxes and others
  • Synthesis natural gas (SNG)
  • Town gas
  • Reduction gas for metals production
  • Gas turbines to electric power

 Ada beberapa hal yang mesti diperhatikan di dalam memilih teknologi gasifikasi antara lain:

  • Karakteristik batubara seperti moisture content, flyash content, calorific value (CV), dan seterusnya
  • Produk yang akan dihasilkan (downstream products) dan aplikasinya. Syngas yang dihasilkan apakah akan dibuat methanol, fertilizer, SNG atau untuk pembangkit listrik. Setiap teknologi memiliki keunggulan pada aplikasi tertentu seperti MHI dryfeed entrained flow lebih banyak digunakan pada aplikasi IGCC dan SNG sebagai produk akhir.
  • Capital expenditure (CAPEX) yaitu biaya investasi keseluruhan proyek.
  • Operating expenditure (OPEX). Biaya operasional dan pemeliharaan dari suatu pabrik gasifikasi sebagai hasil dari pemilihan suatu teknologi.
  • Skala pabrik dan tingkat reliabilitasnya. Untuk skala besar (higher throughput) entrained-flow gasifier adalah opsi yang tepat.
  • Dan berbagai aspek lainnya.

Untuk tipikal low rank coal di Indonesia berdasarkan hasil beberapa studi, dryfeed entrained flow gasifier memiliki efisiensi yang lebih tinggi dan biaya investasi yang lebih murah.  The Shell Coal Gasification Process (SCGP) dengan high temperature heat recovery (HTHR) memiliki efisiensi tertinggi dan ideal untuk aplikasi IGCC. Teknologi bottom water quench kolaborasi antara Shell dan Wison juga fit untuk menghasilkan ammonia dan urea plant. Mitsubishi Heavy Industries (MHI) pun memiliki teknologi gasifikasi yang reliable untuk menghasilkan SNG dengan higher throughput.

Konferensi kali ini didominasi pembicara dari Australia antara lain wakil dari Latrobe Fertilizer Limited yang memberikan update tentang Latrobe Valley Coal Gasification to Urea Development, Liberty Resources tentang Denison Coal Gasification to Fertilizer Project & Development in Queensland, Australia. Salah seorang pembicara dari Mitsubishi Heavy Industries (MHI) juga memberikan paparan tentang Coal Gasification Technology and Business Approach: Power in Indonesia. Tak ketinggalan wakil dari Korea Western Power Corporation (KOWEPO) memberikan update tentang Korea’s First Integrated Gasification Combined-Cycle (IGCC) Plant.

Workshop time

 

Seperti biasa, pada setiap konferensi yang diadakan IBC Singapore, mereka juga mengadakan pre-conference sehari sebelumnya dan post-conference sehari setelahnya. Black & Veatch mengambil peranan signifikan di event ini dengan menghadirkan George Gruber, PE – Gasification Technology Manager membawakan workshop tentang Coal Gasification to LNG setelah sehari sebelumnya di konferensi Beliau memaparkan tentang Asia’s Coal Gasification to Methanol & Ethanol Market: Key Projects & Progress. Pada workshop ini Beliau dibantu oleh Habibie Razak, P.Eng (Assistant to Instructor) juga sekaligus mewakili Black & Veatch Jakarta office selama 2 hari konferensi dan 1 hari workshop.

 

 

 

Pada diskusi panel hari kedua konferensi mengangkat topik tentang Coal Gasification Financing, Partnerships & Joint Ventures. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul seperti: 

  • What makes a coal gasification project bankable?
  • An investor perspective on coal gasification projects
  • What are the risks involved with coal gasification projects?
  • What’s an effective risk mitigation strategy for coal gasification projects?
  • What are the expectations from the financers?
  • What finances options and structures are available?

Khusus untuk Indonesia project development, coal gasification diprediksi akan menjadi opsi di dalam pemenuhan kebutuhan energi domestik Indonesia dengan beberapa kondisi antara lain:   

  • The incentive from the government shall be available to support the attractiveness on this kind of investment.
  • The gradual removal on subsidy for oil and electricity in the near future will gradually increase the need on developing the alternative fuels in Indonesia. Coal to synthesis fuels will be the best option to go with.
  • The decrease of oil and gas lifting production in Indonesia is also a big concern since the production capacity is less than 850,000 barrel a day and if there’s no additional proven reserves the oil reserves will be out of supply less than 18 years from now.    
  • Harga natural gas akan menjadi lebih mahal di atas USD 10/MMBTU dari sumur eksplorasi gas, ini bisa diakibatkan karena menurunnya production lifting dan kurangnya penemuan-penemuan baru (new discovery).

Hasil diskusi di konferensi ini memberikan sedikit rough figure bahwa harga USD 9-10/MMBTU bisa dijadikan sebagai harga jual synthetic natural gas (SNG) yang dihasilkan dari coal gasification plant. Ini bisa menandakan bahwa biaya investasi dan OPEX bisa lebih rendah dari harga jual tadi, ini menarik untuk diinvestigasi lebih lanjut, however siapa pun yang memiliki deposit batubara low rank coal yang besar di Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan bisnis ini. Perusahaan Engineering dan EPC seperti Black & Veatch dan Wison bisa memberikan informasi lebih banyak tentang coal gasification ini mulai dari sisi teknikal sampai pada aspek bisnisnya. Salam sejahtera buat kita semua.

 

 

Kembali Menjadi Pembicara di Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara tentang Teknologi Gasifikasi Batubara dan Peluang Bisnis di Indonesia

Pelaksanaan konferensi Insinyur se-Asia Tenggara dilaksanakan di Jakarta Convention Center (JCC) pada Tanggal 11-13 Nopember 2013 meninggalkan kesan impresif buat Habibie Razak sebagai salah seorang Insinyur Indonesia. Pada event kali ini saya membawakan kuliah dengan judul “The Application of Coal Gasification Technology & Its Business Opportunity for Indonesian Low Rank Coal Utilization” dengan durasi 20 menit diikuti sesi tanya jawab selama 10 menit yang diadakan pada Hari Selasa, 12 Nopember 2013, sesi technical paper, CAFEO-31, Jakarta.

Pada sesi tanya jawab,  saya mendapatkan banyak respon dan pertanyaan dari beberapa delegasi yang dihadiri oleh 50 peserta/delegasi dan kebanyakan dari mereka mempertanyakan sisi teknis dan juga aspek bisnis dari gasifikasi batubara di Indonesia seperti payback period & ROI, efek lingkungan selama pabrik dibangun dan selama beroperasi, sampai pada efek sosialnya (masyarakat sekitarnya). Pada akhir sesi ini saya menyimpulkan beberapa bullet points dari isi kuliah saya antara lain:

  • The coal reserves in Indonesia are abundant and more than 50 percent of those are categorized as low rank coals. The best solution to utilize these low rank coals is to go with gasification process.
  • There are three major types of gasification technology in the world, fixed bed, fluidized bed and entrained-flow technology.
  • Black & Veatch has over 30 years of experience  in coal gasification and other oil & gas technologies Black & Veatch performs feasibility studies (FS), front-end and engineering design (FEED), and engineering, procurement and construction (EPC) services to clients throughout the world.
  • Black & Veatch has performed studies on Indonesian coal gasification. B&V expertise and know-how is available to serve Indonesian clients and their future coal gasification and coal to chemical projects.
  • Building coal gasification and coal to chemicals plants in Indonesia are promising considering the coal will be the alternative future energy to substitute for oil and natural gas for vehicle fuels, chemical products and electricity generation. 

 4-During presentation3-During Presentation(3)Sehari sebelumnya, rekan saya dari Black & Veatch, mempresentasekan seputar floating LNG technology dengan judul “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago” pada sesi technical paper dan mendapatkan respon hangat dari beberapa delegasi negara-negara ASEAN di antaranya adalah dari Direktur Engineering salah satu perusahaan BUMN di Myanmar. Presentation showcase ini berlangsung selama 20 menit dan diikuti sesi tanya jawab. 

 

 

 

 

Beberapa kesimpulan presentasi floating LNG technology ini antara lain:

  • Black & Veatch has over 50 years of experiences in LNG liquefaction and regasification terminal. Black & Veatch performs feasibility studies (FS), front-end and engineering design (FEED), and engineering, procurement and construction (EPC) services to clients throughout the world.
  • Barge LNG is proving to be a good solution for small to mid-scale LNG solution. Black & Veatch has now developed many configurations through several feasibility and Pre-FEED studies and completed FEED in liquefaction capacities ranging from 0.5 MMTPA to 2.0+ MMTPA, using gas turbine and motor drivers with aerial or water cooling for refrigeration interstage cooling. Exmar-Pacific Rubiales FLRSU barge is already in advanced stages of construction, slated for 1Q2015 commercial operation at Colombia becoming world’s first floating LNG project. This offers a wide range of choices for customers for an expedited project development. 
  • Barge LNG can efficiently be used for continuous gas supply through LNG distribution. Black & Veatch has achieved significant progress in the development and implementation of Barge LNG solution. This work by Black & Veatch can form an excellent   basis to develop an expedited and economical solution for gas supply from one island to other islands for Indonesian archipelago.

Eddy starts the presentation

 

Konferensi Insinyur se-ASEAN kali ini dihadiri oleh lebih dari 500 peserta terdiri dari delegasi 9 negara ASEAN, dosen dan peneliti dari perguruan tinggi, professional, dan tak ketinggalan tamu undangan dari Jepang, Taiwan, dan Australia dari berbagai lembaga unsur pemerintah maupun swasta. Pembukaan CAFEO-31 oleh Bapak Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Djoko Kirmanto pada Tanggal 11 Nopember 2013 dan acara perpisahan dihadiri oleh Bapak Menteri ESDM, Ir. Jero Wacik.

 

 

 

Selain technical paper sessions yang dibagi ke dalam beberapa ruangan CAFEO ada meeting khusus untuk ASEAN Energy Business Networking, Woman Engineers Session, Young Engineer of ASEAN session, dan sesi seminar yang salah satu pembicaranya adalah Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak, Wakil Menteri PU juga sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PII.

5-Habibie receives certificate 

WP_001456

Hari ketiga pelaksanaan CAFEO-31, 13 Nopember 2013 penyelenggara mengadakan technical tour ke Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Gunung Salak. Peserta tour ini dihadiri oleh beberapa delegasi dan peserta dari Myanmar, Vietnam dan Malaysia. Mereka berangkat mulai Pukul 08.00 pagi dan tiba di Gunung Salak tepat tengah hari. Di sana mereka mengunjungi lokasi PLTP dan ditemani oleh beberapa karyawan(i) dari Indonesia Power. Setelah berkeliling selama 5-6 Jam mereka memutuskan kembali ke Jakarta karena keesokan harinya delegasi dan peserta dari negara lain harus kembali ke negara masing-masing. Secara keseluruhan acara berjalan sesuai rencana dan menikmati keramahtamahan tuan rumah.

Sampai ketemu lagi di CAFEO-32 yang akan diselenggarakan di Myanmar akhir tahun 2014. Salam Insinyur ASEAN.

 

Pembicara di Ajang Bergengsi Konferensi LNG Internasional dengan Judul “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago”

Menjadi peserta pada suatu konferensi atau seminar adalah suatu hal yang biasa-biasa saja buat saya tapi ketika diberi amanah menjadi pembicara pada suatu event bergengsi seperti International LNG Conference yang diadakan oleh IBC Singapore adalah suatu hal yang luar biasa. Sejujurnya ini bukan pengalaman pertama saya menjadi pembicara (speaker) pada acara konferensi, seminar atau workshop yang bertaraf nasional, regional maupun internasional saya juga hampir setiap tahunnya menjadi technical paper presenter di acara Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara, pernah diundang menjadi pembicara pada workshop Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK – PII), menjadi Instruktur pada workshop pada Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia (KPP-PII) sampai dengan memenuhi undangan dari mahasiswa menjadi penBV3yaji kuliah tamu.

BV3BV3BV3Tanggal 22 Oktober 2013 kemarin saya membawakan kuliah tentang teknologi Floating LNG Production Plant mewakili perusahaan saya. “LNG Barge: Solution for Gas Supply to Indonesian Archipelago” adalah judul presentation slides saya dan dengan melihat trend sekarang, small to medium scale LNG plant akan menjadi primadona bisnis di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Berikut sedikit penggalan abstrak tentang topik Floating LNG Plant ini begitu relevan dan suitable untuk diaplikasikan di Indonesia sebagai Negara yang terkenal dengan julukan archipelagonya.

Indonesia is the archipelago country consists of many islands starting from 7 big islands to smaller islands throughout Indonesia. In order to meet the energy demand especially gas supply from one island that has a lot of gas reserves to other islands that haven’t got any reserves then the LNG is the best option to go instead of building the gas pipeline. LNG will benefit in term of economic viability to meet the gas supply and demand for energy need such as power generations and transportation fuel.

LNG Presentation-1The world-wide market for LNG continues to grow rapidly, many countries that are rich of gas reserves have built many LNG plants starting from base-load type to mid and small scale liquefaction facilities. Traditionally, base load LNG plants have provided the majority of this LNG supply. As the industry has grown, base load plants have grown increasing larger and more difficult to site. Owners are turning to developing mid-scale projects with Floating LNG production systems. A variety of configurations have been put forth and a few are progressing.

One of the floating LNG production unit application is a barge-based LNG production facility requires the application of liquefaction technology that is simple, foot-print efficient and energy efficient. The technology of choice for these applications is the single Mixed Refrigerant (SMR) process. The simplicity, flexibility, and scalability of the SMR process can provide a wide range of liquefactions capacities in a unique single or multiple-trains configuration on the barge. There are several system options from which any configuration can be built around depending up on the location, power availability, permitting constraints for use of water cooling and the LNG offloading/export strategy. The barge could be self sufficient or be integrated with onshore support systems at dockside. The barge and its topsides production facility can be built in Indonesia or China or anywhere in the world competitively and towed to project location.

BV4

 BV5 - Copy

Pada acara konferensi ini hadir juga pembicara dari beberapa instansi dan perusahaan baik dalam maupun luar negeri seperti Pertamina, PLN, SKK Migas, Donggi Senoro, Hoegh LNG Asia, Humpuss Intermoda Transportasi, Dart Energy, Lloyd’s Register, dan Rekayasa Industri. Materi konferensi yang disajikan sangatlah menarik seperti: Balancing LNG exports with domestic needs, global LNG and LNG’s market in Indonesia, LNG as transportation fuel, floating LNG production unit, LNG shipping trends, current challenges and future prospects, small LNG ships market challenge and opportunity dan beberapa materi menarik lainnya.

Konferensi ini diadakan di Hotel Grand Hyatt selama 2 hari dari Tanggal 22-23 Oktober 2013. Pra-konferensi diadakan Tanggal 21 Oktober 2013 di tempat yang sama dan Pasca-konferensi pada Tanggal 24 Oktober 2013. Konferensi dihadiri lebih dari 100 peserta dari perusahaan-perusahaan yang bergelut di dunia minyak dan gas, investor asing dari USA, China dan Jepang. Tak ketinggalan juga beberapa perusahaan minyak dan gas yang mensponsori event ini dan tentunya Black & Veatch adalah salah satu diantaranya.

Event berikutnya yang saya mesti hadiri adalah Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara (CAFEO31) yang diadakan di Jakarta Convention Center, Tanggal 10-14 Nopember 2013 di mana saya mewakili Persatuan Insinyur Indonesia untuk membawakan materi tentang coal gasification technology dan its business opportunity in Indonesia.

Sampai ketemu di acara CAFEO31. Keep on Fighting till The End, terus menulis dan terus berkarya demi kemajuan bangsa dan Negara.

US Trip, 3 Days in Chicago (US Assignment May to September 2013 Part 4)

Hari Jumat Tanggal 20 September 2013 Pukul 04.30 pagi saya menuju Kansas City International Airport. Hari itu sungguh senang hatiku karena setelah melewati 4 bulan assignment di Kansas saya akhirnya bisa balik tanah air. Namun apa daya, setibanya di airport saya menuju check in desk salah satu perusahaan penerbangan domestik US, schedule pesawatku Pukul 06.45 pagi ternyata dicancel secara sepihak oleh maskapai penerbangan tanpa pemberitahuan lebih awal. Alasannya, katanya cuaca lagi tidak bersahabat demi keselamatan penerbangan akhirnya mereka harus mengcancel flight pertama di hari itu.

Saya kemudian meminta dicarikan penerbangan lain setelahnya namun mereka tidak bisa memastikan saya akan terbang pada pesawat berikutnya melainkan harus berada pada daftar antrian sama halnya dengan penumpang-penumpang lainnya. Di pikiranku, pokoknya saya harus berada di Chicago O’Hare International Airport sebelum Pukul 11 siang karena connecting flight  Asiana Airlines dischedulekan take-off dari Chicago menuju Seoul Incheon International Airport pada Pukul 12.00. Setelah antrian sekian jam saya akhirnya kebagian pesawat berangkat Pukul 03.15 sore dan akhirnya tiba di Bandara Chicago sekitaran Pukul 04.30 sore. Hasilnya, saya harus info ke Travel Agent untuk reservasi flight besok atau lusanya menuju tanah air. Walhasil saya baru mendapatkan flight hari Minggu, 22 September 2013.

Ya sudahlah, saya check in di Hilton International Hotel di area Bandara Chicago dan menghabiskan waktu dua hari di sana. Hotelnya bagus tapi harganya juga bagus pastinya ha ha ha, karena dibayarin kantor saya tinggal menikmati saja pastinya he he… Bandara Chicago ini termasuk bandara yang lalulintas udaranya padat baik penerbangan domestik maupun International route selain Los Angeles, New York, Houston dan Dallas. Ini pengalaman menarik buat saya berada di dua Bandara Besar yaitu Chicago dan Houston International Airport.

Hari Sabtu Tanggal 21 Oktober 2013 saya memulai petualangan saya menyusuri Kota Chicago. Saya menyewa taksi yang kebetulan sopirnya berasal dari India namun sudah menjadi US citizen. Di perjalanan menuju Downtown kami ngobrol banyak tentang kota besar ini mulai dari living cost, penghasilan jadi taxi driver, sampai pada tingkat kriminalitas di kota ini. Sepertinya kota ini tidak jauh beda dengan Kota Jakarta, Indonesia, masih banyak kasus perampokan, copet dan lain sebagainya. Namanya juga kota besar di mana-mana pasti tinggi tingkat kriminalitasnya. Setelah hampir 45 menit perjalanan, tibalah saya di tempat yang dituju yakni Hard Rock Cafe Chicago di  63 W Ontario St, Chicago. Argonya memperlihatkan USD 38 saya serahkan saja USD 4o buat Jacob Abraha, nama sopir taksi India ini dan tidak lupa meminta nomor HPnya untuk dijemput lagi nantinya.

Hard Rock Cafe Chicago tidak jauh beda dengan Hard Rock Cafe lainnya seperti di Saint Louis & Dallas seperti dekorasi ruangannya, tata cahaya, termasuk beberapa gitar listrik yang dipajang di dinding. Karena sangat lapar saya menuju bar dan restaurant untuk mencicipi makan siang dengan menu Honey Chic Sand Burger and Lite Italian Salad dan Goose Island, minuman khas lokal Chicago. Wuihhh, enak gila makan dan minumnya serasa membuatku pingin balik ke sana lagi. Sehabis menikmati makan siang diiringi hard rock music saya membayar tagihan dan menuju ke area Hard Rock Shop. Di area Hard Shop saya menengok ke kiri ke kanan, depan belakang bergantungan T-Shirt, Sweater, dan beberapa product lainnya. Saya akhirnya membeli beberapa T-Shirt laki dan perempuan dan gelas bertuliskan Hard Rock Cafe Chicago.

Chicago-20130921-01100 Chicago-20130921-01092

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah 2 jam di Hard Rock Cafe saya menyempatkan jalan-jalan di sekitaran pusat kota Chicago dan sekali-sekali menjepret dengan menggunakan HP Blackberry dan Nokia Lumiaku. Cuaca kota sudah mulai dingin karena tidak lama lagi masuk musim dingin dan saya hanya menggunakan 2 lapis baju tanpa jaket atau sweater. Saya sungguh menikmati kota ini walaupun saya berjalan sendiri tanpa ditemani teman kantorku, Si Edward dari B&V Beijing office. Pukul 03.30 sore saya memutuskan menghubungi Mr. Jacob si taxi driver dan menuju balik ke Hotel Hilton.

 

Chicago-20130921-01096 IMG-20130921-01095

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keesokan harinya Minggu, 22 September 2013 setelah sarapan di restoran hotel saya kemudian check-out dan bergegas menuju Check-in Desk Asian Airlines di Area Terminal 5 dan berangkat menuju Korea Pukul 12.00. 13 Jam perjalanan dari Chicago menuju Seoul, transit selama 1,5 Jam di Seoul dan berangkat lagi menuju Jakarta dengan lama tempuh 6 Jam. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan mengasyikkan. Walaupun sempat stuck selama 2 hari di Chicago karena flight cancellation oleh salah satu maskapai penerbangan domestik US saya menganggap itu suatu anugerah di mana saya bisa menikmati the Hospitality of Chicago downtown ha ha ha….