Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Co-Presenter pada World Clean Coal Conference 2-3 April 2015

World Clean Coal Conference yang diadakan di Le Merridien Hotel, Jakarta selama dua hari ini mengundang banyak antuasisme dari pelaku industri mining, oil & gas di negara tercinta ini. Isu komersialisasi gasifikasi batubara menjadi isu sentral pada konferensi ini.

Ministry of ESDM-1

Indonesia adalah negara eksporter terbesar batubara saat ini di dunia ironisnya deposit batubara kita tidak lebih besar dari 6 negara lainnya seperti US, Amerika, China dan Australia. Batubara kalori tinggi untuk saat ini memang cukup bernilai tinggi diekspor ke beberapa negara di dunia dan kalori menengah lebih banyak digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik domestik.

 

Day 1 EddyIndonesia menurut kementerian ESDM 2014 memiliki lebih dari 32 Milyar Ton coal reserves dan sekitar 40 persen di anataranya adalah low rank coal (lignite). Typically, Indonesia lignite memiliki properti seperti high moisture content (>35% AR), low ash content (>12% DB), low sulphur content (<2% DB)  dan low calorific value (<5100 kcal/kg AB). Lignite saat ini tidak banyak dieksploitasi berbeda dengan  adanya interest yang lebih besar pada batubara kalori menengah (sub bituminuous) dan kalori tinggi (bituminuous).

Mengapa kemudian Indonesia diharapkan memberikan perhatian lebih besar pada monetisasi lignite? Ada beberapa hal yang mendasari antara lain:

 

 

  • Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba yang isinya adalah Pemerintah mengharuskan pelaku tambang untuk memberikan nilai tambah pada bahan tambang. Pola pikir harus berubah dari mining commodity menjadi strategic commodity.
  • Insentif dari pemerintah termasuk income tax, import tax, VAT, etc untuk gasifikasi batubara dan penambangan batubara kalori rendah (PP No. /2007 dan PP Np. 62/2008)
  • Peningkatan kebutuhan domestik untuk chemicals yang kemudian meningkatkan mengakibatkan pada kenaikan volume impor bahan kimiawi. Batubara kalori rendah diharapkan menjadi feedstock alternatif untuk pembangunan coal gasification to chemicals.
  • Penurunan sumber gas alam and kenaikan impor gas mengakibatkan biaya produksi menjadi sangat mahal untuk kebutuhan produksi pupuk dan petrokimia lainnya.
  • Rencana strategis pemerintah untuk membangun chemical processing industry untuk memenuhi konsumsi domestik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Day 1 - HabibieKonferensi kali ini menghadirkan pembicara dan delegasi yang lebih banyak dibandingkan konferensi sejenis tahun lalu yang juga diorganize oleh conference producer yang sama. Pembicara yang hadir antara lain dari perwakilan pemerintah seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). perwakilan dari BUMN seperti Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), lisensor teknologi seperti Shell, UHDE TKIS, Siemens, Haldor Topsoe dan lainnya.

Black & Veatch juga tidak ketinggalan memberikan nilai tambah pada event ini di mana Eddy Karmana – Senior Process Engineer tampil menjadi pembicara didampingi oleh Habibie Razak – Project Manager mempresentasekan “Indonesia Coal Gasification Opportunities; Monetizing Indonesia Lignite”. Pembicara dalam presentasenya memaparkan 2 studi kasus pemanfaatan batubara untuk pupuk (ammonia, urea) dan methanol.

Day 2Tantangan dan peluang gasifikasi batubara menurut Black & Veatch antara lain:

  • Gasifikasi dapat menghasilkan nilai tambah, produk petrokimia dan energi dari gasifikasi batubara kalori rendah.
  • Investasi gasifikasi membutuhkan lebih dari 1 Milyar Dollar yang diharapkan partisipasi Foreign Direct Investment (FDI) dan dukungan dari pemerintah Indonesia
  • Gasifikasi batubara menghasilkan high value chemicals, clean fuels dan listrik menawarkan solusi seiring dengan meningkatnya permintaan energi dan produk kimia sebagaimana dengan dicetuskannya rencana strategis pemerintah untuk membangun industri nasional.

 

 

 

 

Mari berusaha dan berdoa bersama agar rencana strategis pemerintah yang melibatkan semua komponen bangsa (Akademisi, Business, Community dan Government) terwujud sesuai diharapkan. Amin.

Day 2 berpose

Bravo Industri Nasional Indonesia, Bravo Pelaku Industri Nasional Indonesia.

Undangan Pembicara pada ASEAN EPC Projects Conference, 24 Maret 2015

Marcus Evans pada Tanggal 23 dan 24 Maret 2015 menyelenggarakan ASEAN EPC Projects Conference di Hotel Mulia Jakarta. Konferensi kali ini fokus pada usaha pengembangan kompetensi project manager di seluruh Asia Tenggara menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Tahun 2015 ini.

1-FLNG EPC PresentationKonferensi ini menghadirkan fasilitator yang sangat expert di area manajemen proyek, Dr. Paul D. Giammalvo, Technical Advisor PT Mitratata Citragraha (PTMC), Jakarta, Indonesia. Selama lebih dari 20 tahun membawakan kuliah project management dan technical consultation di Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika Barat dan Eropa. Dr. Paul adalah anggota aktif dari Advancement of Cost Engineering International (AACEI), IPMA, Green Project Management Association (GPM) dan beberapa organisasi profesional lainnya.

Konferensi ini menghadirkan beberapa pembicara profesional di bidang energy, oil and gas termasuk pembicara dari SKK Migas. Pembicara-pembicara yang hadir membawakan studi kasus dari proyek-proyek mereka. James Murray dari Aibel Singapore memaparkan strategi eksekusi memanage proyek oil and gas upstream sector, Mukesh Agrawal dari Surya Esa Perkasa mempresentasekan bagaimana mereka mengeksekusi secara in-house proyek ekspansi pabrik LPG mereka di Sumatera dengan mengutilize kontraktor lokal di bawah pengawasan langsung oleh tim manajemen konstruksi mereka. Konferensi kali ini dihadiri oleh Delegasi dari berbagai perusahaan seperti PERTAMINA, Wijaya Karya, Adhikarya, CNOOC, Safa Steel, Surya Esa Perkasa, dan beberap perusahaan terkemuka lainnya.

2-FLNG EPC SessionBlack & Veatch sebagai EPC company juga tidak ketinggalan diundang menjadi Pembicara yang diwakili oleh Habibie Razak, Project Manager Oil & Gas, Indonesia. Habibie juga diundang dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan Persatuan Insinyur Indonesia yang pada kesempatan kali ini membawakan materi yang berjudul “PRICO Technology Optimizes Project Deliverability” PRICO adalah teknologi paten milik Black & Veatch untuk aplikasi LNG liquefaction process yang sudah diaplikasikan di lebih dari 25 proyek di seluruh dunia. Setelah sukses merajai pasar onshore LNG plant di dunia Black & Veatch juga telah menyelesaikan proyek floating LNG liquefaction pertama di dunia yakni EXMAR FLNG project dengan kapasitas 0.5 MTPA.

Habibie memaparkan bagaimana B&V mengeksekusi proyek ini dengan benefit-benefit yang dimilik teknologi PRICO antara lain: PRICO® standard layout for both offshore and onshore – small footprints, Typical process configuration and typical equipment for broader range of size (small, medium to base load), Less equipment count and less use of stainless steel, Skidding and modularization approach, Especially for offshore application – working with reputable marine fabrication and get to know the capabilities each other through project experiences sehingga proyek ini bisa diselesaikan lebih cepat dan lebih mudah dibanding menggunakan teknologi LNG lainnya.

4-FLNG EPC End of my SessionBlack & Veatch juga menerapkan critical chain project management antara lain: Introducing Chinese Procurement Model, Vendor Prequalification Stage – Selecting reliable vendors far before the project begins, Historical database on previous projects, Identification on critical equipment or long lead items such as cold box, refrigerant compressor, DCS, cryogenic valves, etc. Selecting reputable partner to work with including but not limited to subcontractor’s package and detailed engineering design, Utilizing multiple offices in several countries such as Beijing, Pune and Jakarta Office to plan and execute the project(s).

Hari kedua di sesi terakhir Dr. Paul dalam presentasenya menitikberatkan bahwa untuk menjadi project manager yang sukses dituntut untuk memiliki kombinasi pengetahuan manajemen proyek, skill dan attitudes yang mumpuni (mature). Pengalaman 10 tahun di berbagai posisi seperti scheduler, cost control , estimator, project engineer, design engineer akan menjadikan profesional lebih luwes dan lebih mature untuk menjadi seorang project manager yang akan sukses di masa depan.

PTMC di bawah kepemimpinan Ibu Yani Suratman dan Dr. Paul sebagai senior trainer di akhir sesi menawarkan para delegasi untuk mengikuti AACE certification course yang dischedulekan di Jakarta pada Tanggal 4-8 May 2015 for the 5 DAYS INTENSIVE FACE TO FACE CLASS dan 9 MAY  – 25 OCTOBER 2015 menyediakan DISTANCE LEARNING MODE serta pada Tanggal 26 – 28 OCTOBER 2015 untuk mengikuti FINAL FACE TO FACE REVIEW CLASS. Bagi yang berminat silahkan menghubungi yanis@ptmc-apmx.com atau yanisuratman@gmail.com

Bravo ASEAN Project Managers, Bravo Indonesian Project Managers.

 

 

Diskusi Umum Pemenuhan Kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025, 28 Februari 2015

Presiden Joko Widodo memanggil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ir. Bobby Gafur Umar, MBA, IPM beberapa bulan kemarin menanyakan perihal kesiapan Insinyur-Insinyur Indonesia di dalam menghadapi pasar ekonomi ASEAN dan dalam rangka pemenuhan tenaga profesional untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Menurut informasi yang didapatkan oleh PII bahwa rasio penambahan Sarjana Teknik per 1 Juta Penduduk per Tahun masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara maju bahkan negara ASEAN lainnya.

Kakanda HabibieTentunya ini mengundang kekhawatiran karena target proyek infrastruktur sampai Tahun 2025 dianggarkan lebih dari Rp. 1.786 Trilyun untuk peningkatan dan perluasan konektivitas antarpulau besar dan lebih dari Rp. 2.200 Trilyun untuk kegiatan 6 koridor ekonomi: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa tenggara dan Papua-Kepulauan Maluku. Target Pemerintah tahun 2025 untuk GDP pun adalah USD 4,000 – 4,500 Milyar atau sekitar USD 14,250 per kapita.

Rasio penambahan Sarjana Teknik di Tahun 2008 adalah 164 per tahun per 1 Juta penduduk masih lebih kecil dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam masing masing 367, 202 dan 282 per tahun per sejuta penduduk. Target 2025 adalah Sarjana Teknik harus berada di kisaran 600 – 800 keluaran Sarjana Teknik/Tahun/1 Juta Penduduk. Untuk mencapai target rasio Tahun 2025 ini diharapkan terjadi pertumbuhan Sarjana Teknik setiap 5 tahun dengan proyeksi sebagai berikut:

  • Tahun 2011 – 2015 bertumbuh sekitar 50.000 per Tahun
  • Tahun 2016 – 2020 bertumbuh sekitar 75.000 per Tahun
  • Tahun 2021 – 2025 bertumbuh sekitar 120.000 per Tahun

Tidak hanya berfokus pada kuantitas tapi kualitas Sarjana Teknik juga sangat menentukan bagi pembangunan infrastruktur. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam perannya sebagai organisasi profesi keinsinyuran mengembangkan program jenjang karir keinsinyuran dimulai sejak Sarjana Teknik menjadi Insinyur kemudian mengikuti proses Insinyur Profesional berjenjang mulai dari Insinyur Profesional Pratama, Insinyur Profesional Madya dan Insinyur Profesional Utama. Seorang Insinyur Profesional Madya pun sudah bisa mendapat kesetaraan dengan Insinyur ASEAN dan Asia Pasifik dengan mengikuti program ASEAN Engineer Register, ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) dan APEC Engineer Register. PII pun sesuai Undang-undang No. 11 Tahun 2014 menetapkan program Profesi Berkelanjutan (Continuous Professional Development – CPD) di mana seorang Professional Engineer (P.E/P.Eng) perlu menjaga tingkat pembaruan ilmu pengetahuan keinsinyuran dan dilaporkan setiap tahun ke PII.

Pemberian plakat

Pemerintah Indonesia dan kementerian terkait bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) perlu melakukan upaya-upaya kongkrit di dalam rangka memenuhi kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025 antara lain:

 

 

 

 

 

  1. Adanya keperluan mendesak untuk segera menyelesaikan seluruh peraturan (PP. Kepres, Permen, dll) yang merupakan turunan dari UU No. 11 Tahun 2014 tentang profesi keinsinyuran.
  2. Koordinasi antarsektoral dalam hal pendidikan agar kuantitas dan kualitas sarjana teknik bisa meningkat, seiring dengan peningkatan kualitas perguruan tinggi penyelenggara pendidikan teknik. Contoh kongkrit yang bisa dilakukan adalah menambah jumlah Perguruan Tinggi berbasis Keteknikan di Indonesia secara merata di seluruh belahan Indonesia, meningkatkan kualitas kurikulum pendidikan tinggi Keinsinyuran lebih berbasis kepada R&D untuk pemenuhan kebutuhan Industri Nasional termasuk ketersediaan infrastruktur, fasilitas & tenaga pengajar.
  3. Sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran lebih ditingkatkan lagi menyentuh semua jajaran Perguruan Tinggi dan Industri-industri nasional tentang pentingnya sertifikasi Keinsinyuran.
  4. Kebijakan pemerintah untuk tidak berorientasi pada penjualan hasil mentah atas sumber daya alam yang diperoleh dari bumi Indonesia dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi sarjana teknik.
  5. Perlu adanya insentif dari pemerintah kepada profesi insinyur yang telah memperoleh sertifikat ASEAN. Sebab jika insinyur telah memperoleh sertifikat ASEAN namun tidak ada penghargaan lebih atau insentif dari pemerintah, maka dorongan bagi insinyur untuk mengambil sertifikasi ASEAN tidak akan terwujud.
  6. Sinergitas antara Akademisi, Business/Swasta dan Pemerintah (ABG) atau lebih dikenal dengan Triple Helix perlu lebih ditingkatkan lagi di dalam hal pengembangan IPTEK dan peningkatan sumber daya Insinyur.

Bersama pesertaHabibie Razak, wakil dari Persatuan Insinyur Indonesia pada Tanggal 28 Februari lalu membawakan diskusi ilmiah dengan topik pemenuhan kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025 di Kampus Fakultas Teknik Tamalanrea Universitas Hasanuddin di hadapan lebih dari 50 mahasiswa(i). Habibie menegaskan betapa pentingnya lulusan Sarjana Teknik bekerja di bidang keinsinyuran di awal karirnya dan konsisten selama bertahun-tahun seiring dengan peningkatan compensation and benefit yang yang mereka terima pada perusahaan tempat mereka bekerja. Satu yang pasti katanya, Engineer dibayar sesuai pengalaman dan kualifikasinya, apalagi kalo bisa sampai berkarir di sektor minyak dan gas duitnya bisa berkali-kali lipat dari sektor lainnya.

Jayalah Insinyur Indonesia, maju terus PII.

Narasumber pada Simposium Nasional Migas Indonesia, Makassar, 26 Februari 2015

Rabu dinihari, pesawat Garuda bertolak dari Jakarta menuju Makassar. Di dalam pesawat itu, Habibie Razak salah seorang narasumber Simposium Nasional Migas Indonesia dengan tema “Perkembangan, Potensi dan Tantangan Sektor Migas Nasional Kawasan Timur Indonesia” mengalokasikan waktunya untuk menghadiri 2 hari simposium di Hotel Clarion Makassar Hari Rabu dan Kamis, 25 dan 26 Februari 2015.

IMG_3174_editSimposium yang dihadiri oleh lebih dari 200 peserta ini diorganize oleh Komuntas Migas Indonesia (KMI) Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin, Pemda Kota Makassar, Pemda Tingkat I Sulawesi Selatan, SKK Migas dan IKA Unhas Chapter Jabodetabek. Hadir sebagai pembicara adalah perwakilan Ditjen Migas Bapak Patuan Alfon,  SKK Migas diwakili Bapak Awang Harun Satyana dan Ibu Shinta Damayanti. Pertamina juga mengirimkan delegasinya menjadi pembicara yaitu Bapak Rudy Ryacudu – Director Exploration Pertamina PHE dan Bapak Sigit Rahardjo – VP Upstream Technology Center. Perwakilan dari Pemerintah Daerah adalah Bapak Dani Pomanto Walikota Makassar dan Bapak Muhammad Ihsan Kakanwil BPN Sulsel.

IMG_3192_edit

Presentation sponsor menghadirkan Bapak Darman Saul selaku perwakilan AINTZA perusahaan asing asal Belanda yang akan membangun pembangkit listrik 3000 MW berikut dengan Kawasan Industri di Kabupaten Jeneponto. Rangkaian dari Simposium ini adalah product and services expo yang diselenggarakan tepat di depan Phinisi Balroom.

 

Habibie Razak sebagai narasumber pada sesi IV hari kedua dipanelkan dengan Bapak Walikota Makassar, Bapak Direktur Eksplorasi Pertamina dan Bapak Darman Saul dari perwakilan AINTZA. Judul presentasi dari Habibie sebagai praktisi LNG dan juga sekaligus mewakili Persatuan Insinyur Indonesia adalah “LNG as Clean Transportation Fuel Toward Green City”. LNG sebagai bahan bakar adalah ide yang coba dipasarkan ke Pemda Makassar dengan pertimbangan bahwa LNG bisa mengurangi 20-30 persen emisi dari bahan bakar minyak seperti diesel. LNG pun dalam kondisi harga minyak mentah normal juga lebih murah sekitar 30 persen dari diesel dan yang paling penting saat ini sudah banyak komersialisasi engine berbahan bakar LNG untuk kendaraan truck dan bis yang sekaligus membuktikan bahwa bisnis ini sangat promising.

IMG_3198_editBusiness case yang ditawarkan ke Pemda Makassar berisikan bullet points sebagai berikut:

  • Gas supply source comes from Sengkang LNG, Building LNG Fueling Stations & Storages, LNG distribution using either LNG trucks or LNG Barge
  • Converting all busses and trucks including new Trans-Makassar busses, Starting to think to buy LNG Vehicles instead of diesel ones, Economic Model as part of Business Case/Feasibility Study – need to work with reputable Consultant

Pada kesempatan ini, narasumber juga memaparkan konsep business transportation LNG yang terdiri dari: gas supply, LNG plant, transportation model, LNG storage and fueling station dan  LNG vehicles. Business ini dimulai dari sumber gas sampai pada end user yakni pemilik kendaraan berbahan bakar LNG baik itu dari hasil konversi maupun unit baru. Di US, untuk membangun reguler LNG fueling station yang terdiri dari LNG storage, LNG dispensing pumps, dan flexible hoses hanya membutuhkan investasi kurang dari USD 2 Juta. Di China dan negara Asia lainnya biaya CAPEXnya akan jauh lebih murah di kisaran 20-30 persen. Dengan melihat perhitungan simple economic model pemilik LNG fueling station akan mampu melakukan breakeven point kurang dari 2 tahun dan pemilik kendaraan bahan bakar LNG bahkan bisa kurang dari 1.5 tahun payback period.

facebook-20150301-171338Habibie Razak juga memaparkan beberapa teknologi LNG liquefaction di dunia termasuk teknologi PRICO milik Black & Veatch yang merupakan teknologi handal dan teruji untuk kapasitas kecil sampai dengan menengah. Teknologi sangat murah dari sisi Capital Cost dan efisien dari Operational Expenditure (OPEX). B&V memiliki lebih dari 50 tahun pengalaman di dunia LNG dan menandatangani lebih dari 40 LNG plant seluruh dunia, 22 plant sudah beroperasi dan sisanya dalam proses engineering dan construction.

Simposium ini akhirnya ditutup oleh Bapak Sigit Rahardjo – Vice President Upstream Technology Center Bapak Sigit Rahardjo dan sekaligus dilanjutkan dengan foto bersama melibatkan Panitia, Peserta, Pengurus KMI dan para tamu undangan yang hadir.

10448790_10153106064723486_8389498636656331450_n

 

 

 

 

Pembicara Cost Planning Pembinaan Profesi Insinyur, Makassar, 14 Februari 2015

PII Speaker's Certificate_edit_editPengurus Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Makassar di bawah kepemimpinan Bapak Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT untuk kesekian kalinya melakukan kegiatan Pembinaan Profesi Insinyur (PPI) pada Hari Sabtu dan Minggu, 14 – 15 Februari 2015. PPI kali ini terlaksana berkat kerjasama PII Cabang Makassar dengan Universitas Bosowa Makassar. Peserta yang hadir sekitar 120 orang adalah jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarah di seluruh Indonesia untuk event Kursus Pembinaan Profesi (KPP) atau sekarang lebih dikenal dengan istilah Pembinaan Profesi Insinyur (PPI). Ini sungguh fantastis di mana Kota Makassar sebagai center point of East Indonesia dikombinasikan dengan kepemimpinan PII Cabang Makassar mampu menarik keikutsertaan para Sarjana Teknik (ST) untuk mengikuti kegiatan ini.

KPP PII 14 Feb - CopySemenjak Pembinaan Profesi Insinyur (PPI) disahkan oleh amanah UU No. 11 Tahun 2014 adalah syarat wajib bagi Sarjana Teknik untuk meraih gelar Insinyur minat calon-calon Insinyur pun semakin meningkat karena mereka sudah meyakini bahwa akan ada real benefit dengan menjadi bagian dari keanggotaan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). PII pun sesuai UU Profesi Keinsinyuran berhak mengeluarkan Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) setelah Insinyurnya meraih gelar Insinyur Profesional baik itu di level pratama, madya maupun utama.

Habibie Razak pada PPI kali ini seperti halnya dengan PPI sebelumnya diminta membawakan materi Cost Planning/Construction Cost Management yang merupakan materi wajib diajarkan pada setiap pembinaan profesi.Di sesi ini pembicara lebih banyak mengulas tentang estimate classification menurut American Association of Cost Engineers (AACE). Klasifikasi estimasi biaya sesuai dengan tabel di bawah ini:

KPP PII 14 Peb Cost Planning - Copy

AACE INTERNATIONAL RP #18R-97 Estimate Classification
General Project Data Class 5 Class 4 Class 3 Class 2 Class 1
Front End Loading StageTypical EPC Cost Estimate Accuracy FEL-1+/- 40-50% FEL-2+/- 25-30% FEL-3+/- 10-15%
AACE EPC Cost Estimate Accuracy L: -20% to -50%H: +30% to +100% L: -15% to -30%H: +20% to +50% L: -10% to -20%H: +10% to +30% L: -5% to -15%H: +5% to +20% L: -3% to -10%H: +3% to +15%
Project Definition 0-2% 1-15% 10-40% 30-70% 50-100%
Project Scope Description General Preliminary Defined* Defined** Defined***
Plant Production/Facility Capacity Assumed Preliminary Defined* Defined** Defined***
Plant Location General Approx Specific Specific Specific***
Soils & Hydrology None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Integrated Project Plan None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Project Master Schedule None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Escalation Strategy None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Work Breakdown Structure None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Project Code of Accounts None Preliminary Defined* Defined** Defined***
Contracting Strategy Assumed Assumed Preliminary Defined** Defined***

Legend:   S = Started (initial draft); P = Progressed; C = Completed

* ** *** indicated increasing level of certainty and confidence in the costs.

KPP PII Cab Makassar - Copy

Industri Minyak dan Gas di Indonesia telah mengadopsi project  stage development dan klasifikasi estimasi setiap stage berdasarkan AACE namun untuk proyek-proyek pemerintah (dana APBN) belumlah menggunakan konsep ini. They are still far away to go untuk bisa moving to modern concept.

PPI kali ini juga  mengundang Rektor Bosowa yang juga adalah mantan Ketua PII Wilayah Sulsel Bapak Prof. Dr. Ir. H. M. Saleh Pallu, M.Eng membawakan materi Kode Etik Insinyur Indonesia di hadapan 120 calon Insinyur. Bapak Dr. Ir. M. Sapri Pamulu, M.Eng – Direktur PMO PT Wiratman juga pada PPI kali ini membawakan materi project management and construction management.

 

 

 

 

Setelah 4.5 Tahun, Diundang Knowledge Sharing Session di PT Vale Indonesia, Sorowako, 3 Pebruari 2015

Setelah 4.5 tahun meninggalkan PT Vale Indonesia (dulunya PT Inco) yang berlokasi di Sorowako akhirnya bisa menginjakkan kaki lagi di Perusahaan tambang dan penghasil nickel matte ini. Ini terjadi berkat undangan dari teman-teman Utilities Department PT Vale Indonesia terkhusus buat Ricky seorang engineer muda yang bergelut mengurusi Utilities di perusahaan ini.

Sedikit profil mengenai PT Vale Indonesia, PT Vale Indonesia is part of global Vale operating in more than 30 countries. PT Vale produces nickel in matte, an intermediate product, from lateritic ores at their integrated mining and processing facilities near Sorowako on the island of Sulawesi. Their entire production is sold in US dollars under long-term contracts for refining in Japan. Since the establishment in July 1968, PT Vale has been operating under the contract of Work agreement with the Government of Indonesia to explore, mine, process, and produce nickel. The total area of COW is 190.510 hectares. Their main product is nickel in matte, which is an intermediate product used to manufacture refined nickel that has an average content of 78% nickel, 1% cobalt and 20% sulfur and other metals. Vale applies sustainable product development and product stewardship that integrate with the company’s business and culture. They pour millions of dollars into assisting product research and development and the exploration of nickel reserves.Vale Indonesia generated USD 921.6 Million Revenue in 2013.

B&V PresentationUtilities Department adalah salah satu Departemen dari beberapa Department besar yang menyediakan steam, water, air dan power untuk pabrik dan seluruh infrastruktur yang ada di wilayah Kontrak Karya PT Vale Indonesia, Sorowako dan sekitarnya. Departemen ini mengurusi 3 Hydropower, Thermal Power Plant dan beberapa unit genset untuk pemenuhan kebutuhan listrik di wilayah Sorowako.

Tepatnya hari Selasa pagi saya menemani Direktur Operasi saya berangkat dari Jakarta menuju Makassar dan sekitar sejam kemudian berangkat lagi menuju Sorowako dengan menggunakan Pesawat Kecil Type ATR milik Indonesia Air Transport (IAT). Setibanya di Sorowako Pukul 01.30 siang kami dijemput mobil dinas dari bandara menuju ke Taman AntarBangsa Salonsa untuk menikmati makanan siang. Kami adalah tamu Vale jadinya kami menginap di Dormitory Pontada. Kamar Dormitory ini didesign untuk karyawan PT Vale yang masih single di dalamnya memiliki fasilitas yang cukup memadai seperti kamar mandi dalam dengan shower, kulkas, AC, tempat tidur dan furniture pendukung lainnya.

Selasa malam kami mengundang teman-teman yang semuanya adalah karyawan perusahaan menikmati angin malam alias nongkrong di Hotel Grand Mulia, Sumasang. Saya pun mulai bernostalgia menceritakan kembali pengalaman pribadi sewaktu bekerja di Perusahaan dari Tahun 2003 sampai dengan Tahun 2010. Beberapa karya monumentalku sebagai civil engineer waktu itu adalah Matano Flyover Bridge, jembatan layang ini mulai dibangun awal Tahun 2004 dan diresmikan oleh Bupati Luwu Timur awal 2005.  Karya lain yang cukup monumental adalah Fasilitas Pusat Pembibitan (Nursery Facility) berlokasi tepat di sebelah kantor GFS PT Vale Indonesia.

Di luar urusan kantor, saya pada visit kali ini kembali mengingatkan teman-teman Engineer untuk segera melanjutkan kepengurusan PII Cabang Sorowako dengan membentuk susunan pengurus baru untuk Periode 2015/2018. Sudah saatnya membangunkan kembali aura dan semangat keinsinyuran di wilayah tambang ini dan mengajak semua engineer-engineer di wilayah ini untuk menjadi Insinyur Profesional. Merujuk pada UU No. 11 Tahun 2014, Sarjana Teknik (ST) wajib mengikuti program keinsinyuran untuk menjadi Insinyur. Hanya yang bergelar Insinyur yang bisa melakukan praktek keinsinyuran dan hanya profesionnal engineer atau Insinyur yang memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) memiliki hak untuk bertanda tangan di atas gambar teknik dan mengawasi pekerjaan keinsinyuran.

Habibie & Pak Is Dwi-1Hari Rabu tiba saatnya kami berdiri di depan para profesional Departemen Utilities dan beberapa profesional dari Department lainnya. Adapun yang kami share adalah kapabilitas perusahaan kami di bidang energi termasuk pembangkit listrik, minyak dan gas. Antusiasme teman-teman profesional cukup membuat kami kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan berbobot, untungnya ada Bapak Direktur yang sangat mature  menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan pembangkit tenaga listrik batubara dan gas dan uap. Pertanyaan yang muncul antara lain berapa biaya investasi untuk membuat PLT Batubara dan PLTGU dalam USD per MW, Komponen-komponen pembangkit listrik sehubungan dengan pemenuhan batas emisi seperti Flue Gas Desulfurization System (FGDS) dan ESP, durasi pembangunannya, luas area yang dibutuhkan dan pertanyaan-pertanyaan berkualitas lainnya.

Di kesempatan ini saya juga mempresentasekan teknnologi Floating LNG Liquefaction yang dimiliki oleh perusahaan saya yang cukup mengundang banyak pertanyaan dari teman-teman profesional dari PT Vale Sorowako ini.

Kami juga menyempatkan site visit ke lokasi kerja Utilities Department termasuk mengunjungi 2 pembangkit listrik dan Pelabuhan Balantang milik perusahaan ini. Keesokan harinya, Pukul 05.30 pagi kami akhirnya bersiap terbang kembali menuju Makassar dengan pesawat charter perusahaan, IAT. Saya melanjutkan petualangan saya di Makassar sampai Hari Minggu sedangkan Direktur saya setibanya dari Sorowako di hari yang sama harus berangkat ke Jakarta karena harus menghadiri urgent meeting.
Teringat mitos yang mengatakan, barang siapa yang sudah pernah mandi di Danau Matano dan kemudian meninggalkan Sorowako suatu waktu pasti akan kembali lagi ke sana. Mungkin ini betul adanya saya pun kembali ke Sorowako walaupun hanya 3 hari di sana memenuhi undangan para Profesional PT Vale Indonesia.

 

 

Menjadi Pembicara untuk Materi Standards and Codes pada Kursus Pembinaan Profesi Insinyur di Makassar, 21 Desember 2014

Kursus Pembinaan Profesi Insinyur yang diadakan di Hotel Clarion Makassar, 20 – 21 Desember 2014 adalah merupakan program kerja Pengurus PII Cabang Makassar yang mereka lakukan minimal sekali dalam 3 bulan. Ketua PII Cabang Makassar, Bapak Dr. Eng. Ir. Muhammad Rusman, MT dalam laporannya mengatakan kegiatan ini harus lebih sering dilakukan lagi di Makassar untuk mengakomodir membludaknya keinginan para Sarjana Teknik di Sulawesi Selatan khususnya dan Kawasan Indonesia Timur pada umumnya untuk segera menjadi Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan memperoleh Sertifikasi Insinyur Profesional (SIP).

Amanah Undang-Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Praktek Keinsinyuran sangat jelas mengharuskan para Sarjana Teknik untuk memperoleh gelar Insinyur apabila mereka bekerja pada dunia Keinsinyuran termasuk bidang engineering, construction, manufacturing, mining, industry process, dan bidang lainnya.

Kegiatan Pembinaan Profesi ini juga dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan Ikatan Keluarga Alumni Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin (IKATEK UH). Direktur Eksekutif PII, Bapak Ir. Faisal Safa, IPM dan Ketua Umum IKATEK UH Bapak Ir. Haedar A. Karim mewakili penandatangan MoA ini.

MOA SigningHari kedua kursus, saya diminta membawakan materi tentang “Standards and Codes” selama 1.5 Jam di depan 90 orang peserta yang mayoritas merupakan lulusan Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan sisanya beberapa lulusan dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) dan lainnya di Kawasan Indonesia Timur. Materi ini bukanlah materi favorit saya seperti Cost Planning, Project Management dan K3L namun secara keseluruhan saya cukup berhasil menarik perhatian mereka selama presentase dan babakan tanya jawab.

Di hari sebelumnya Bapak Ir. Sapri Pamulu, Ph.D dari PT Wiratman and Associates juga sekaligus Anggota Dewan Penasehat IKATEK UH memaparkan materi project management.

Ada beberapa highlights atau bullet points yang saya ambil dari slides deck presentation antara lain:
Hubungan antara BSN, KAN dan LPK.

  • BSN: Membina, mengembangkan dan mengkoordinasikan kegiatan di bidang standardisasi nasional (Kepres No. 13; 1997 disempurnakan dengan Kepres No. 166; 2000)
  • KAN: Komite yang melaksanakan tugas dan fungsi BSN di bidang akreditasi
  • LPK: lembaga yang disahkan oleh KAN untuk melakukan sertifikasi, laboratorium pengujian, laboratorium medik, laboratorium kalibrasi, dan lembaga inspeksi (Conformity Assessment Body).

Definisi Kode dan Standard

KPP PII 21 Des14(1)

Kode adalah himpunan standar yang secara luas berisi ketentuan-ketentuan yang mencakup materi pokok atau yang sesuai untuk diadopsi ke dalam ketentuan hukum dan tidak bertentangan dengan kode atau standar lain. Kode yang menghimpun beberapa standar perlu dilengkapi dengan faktor faktor tertentu, seperti lingkup dokumen, tujuan penggunaan, bentuk adopsi, ketentuan administrasi dan sangsi-sangsi yang substansial.

—Standar dalam hal ini SNI adalah dokumen berisi ketentuan teknis (aturan, pedoman atau karakteristik) dari suatu kegiatan atau hasilnya yang dirumuskan secara konsensus dan ditetapkan oleh Instansi terkait untuk dipergunakan oleh stakeholders dengan tujuan mencapai keteraturan yang optimum ditinjau dari konteks keperluan tertentu.

 

Penerapan “SNI” mempertimbangkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Penerapan standar oleh pihak yang berkepentingan pada dasarnya bersifat sukarela.

2. Dimaksudkan untuk melindungi :

  • keselamatan manusia,
  • keamanan dan kesehatan masyarakat,
  • kelestarian fungsi lingkungan, serta
  • perkembangan ekonomi dan
  • kepentingan umum lain,

3. Standar dapat diberlakukan secara wajib oleh pemerintah sehingga menjadi persyaratan pasar yang wajib dipenuhi.

4. Instansi pemerintah yang berhak memberlakukan standar wajib adalah Instansi yang memiliki lingkup kewenangan meregulasi suatu kegiatan tertentu dan/atau peredaran produk yang dihasilkan oleh kegiatan itu.

KPP PII Makassar

 

Pertanyaan yang mungkin muncul berhubungan dengan standard dan code ini adalah: Do we need codes and standards to build an FLNG? Does that affect the quality of the project? kemudian pertanyaan selanjutnya yang pasti muncul adalah: What kind of standards and codes might apply to the project?

Salam Insinyur Indonesia.

Undang-undang No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran; Siapa yang Mengambil Manfaatnya?

Tahun 2014 tepatnya Tanggal 25 Februari kemarin Panitia khusus (Pansus) DPR berhasil merampungkan Undang-undang No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sebagai motor penggerak di dalam mengupayakan disahkannya UU ini memang sudah bekerja lebih dari 15 tahun lalu, perjuangan yang cukup lama menguras waktu, tenaga dan juga pemikiran dan akhirnya menghasilkan produk yang cukup komprehensif dan imparsial.

Undang-undang ini bukan hanya lahir sebagai upaya untuk meningkatkan kontribusi dan peran serta keinsinyuran, peningkatan taraf hidup Insinyur Indonesia tapi juga Insinyur-insinyur kita dituntut untuk lebih bisa mendeliver hasil engineering, manufacturing, construction, operation and maintenance yang berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum dan juga masyarakat dan industri sebagai pengguna produk keinsinyuran tadi.

Berbeda dengan negara-negara maju di dunia seperti US, Australia dan Canada mereka sudah memiliki UU ini lebih dari 3 dekade, mereka sangat sadar bahwa Engineers are fully responsible terhadap pekerjaan mereka. Mereka sadar masyarakat butuh jaminan terhadap desain dan konstruksi yang dilakukan oleh Engineer. Pemerintah mereka menitikberatkan keselamatan publik dan masyarakat terhadap hasil karya Insinyur-insinyur lokal mereka. Untuk bisa melakukan pekerjaan engineering mereka haruslah memiliki syarat-syarat khusus seperti pengalaman yang mumpuni, uji kompetensi teknis, dan pendampingan oleh Insinyur-insinyur yang lebih senior kepada Insinyur yang masih muda pengalaman.

Bahkan di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura bahkan Vietnam dalam satu dekade terakhir ini juga telah menerapkan undang-undang profesi keinsinyuran bahkan mereka sudah mengatur profesi ini lebih terinci dan terstruktur dalam bentuk peraturan pemerintah, keputusan presiden dan keputusan menteri.

Pasal 3 UU No. 11 Tahun 2014 menyatakan bahwa pengaturan keinsinyuran antara lain bertujuan:

  1. memberikan landasan dan kepastian hukum bagi penyelenggaraan Keinsinyuran yang bertanggung jawab;
  2. memberikan perlindungan kepada pengguna Keinsinyuran dan Pemanfaat Keinsinyuran dari malapraktik Keinsinyuran melalui penjaminan kompetensi dan mutu kerja Insinyur;
  3. memberikan arah pertumbuhan dan peningkatan profesionalisme Insinyur sebagai pelaku profesi yang andal dan berdaya saing tinggi, dengan hasil pekerjaan yang bermutu serta terjaminnya kemaslahatan masyarakat;
  4. meletakkan Keinsinyuran Indonesia pada peran dalam pembangunan nasional melalui peningkatan nilai tambah kekayaan tanah air dengan menguasai dan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta membangun kemandirian Indonesia; dan
  5. menjamin terwujudnya penyelenggaraan Keinsinyuran Indonesia dengan tatakelola yang baik, beretika, bermartabat, dan memiliki jati diri kebangsaan.

Siapa yang mengambil manfaatnya dari Insinyur-insinyur yang berkualitas, insinyur yang memiliki kompetensi yang mumpuni? Tentunya bukan hanya insinyur itu sendiri tetapi masyarakat atau industri sebagai end user dari hasil karya mereka. Bahkan dengan adanya insinyur-insinyur yang handal ini, pemerintah bisa mengambil manfaat dengan memberdayakan mereka sebagai aktor utama di dalam pembangunan nasional yang bisa memberikan nilai tambah dengan cara menguasai dan memajukan IPTEK serta membangun kemandirian bangsa.

Bagaimana cara mengontrol kualitas Insinyur yang akan melakukan praktek keinsinyuran? Menurut Pasal 10 dan Pasal 11,  Setiap Insinyur yang akan melakukan Praktik Keinsinyuran di Indonesia harus memiliki Surat Tanda Registrasi Insinyur yang dikeluarkan oleh Persatuan Insinyur Indonesia.  Untuk memperoleh Surat Tanda Registrasi Insinyur seorang Insinyur harus memiliki Sertifikat Kompetensi Insinyur. Sertifikat Kompetensi Insinyur diperoleh setelah lulus Uji Kompetensi. Uji Kompetensi dilakukan oleh lembaga sertifikasi profesi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Isi pasal 10 dan pasal 11 ini jelas-jelas mengharamkan seorang Insinyur berpraktek di luar sana tanpa adanya ijin kerja yang dikeluarkan oleh PII apakah itu berhubungan dengan infrastruktur dan fasilitas publik maupun industri (swasta). Karena ini sudah diatur maka ini harus dilaksanakan dengan konsekuen oleh praktisi-praktisi keinsinyuran saat ini.

Bagaimana apabila seorang Insinyur melakukan malpraktek dan bagaimana dengan Sarjana Teknik (ST) yang melakukan praktek tanpa Surat Tanda Registrasi (STRI) tadi? Mereka bukan hanya akan dikenakan sanksi administrasi dan denda dalam bentuk materi tapi juga bisa terjerat hukum pidana. Pasal 50 ayat 1 menyatakan bahwa Setiap orang bukan Insinyur yang menjalankan praktek Keinsinyuran dan bertindak sebagai Insinyur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini dipidana dengan pidana penjara  paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Ayat 2 menyatakan, Setiap orang bukan Insinyur yang menjalankan praktek Keinsinyuran dan bertindak sebagai insinyur sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini sehingga mengakibatkan kecelakaan, cacat, hilangnya nyawa seseorang, kegagalan pekerjaan Keinsinyuran, dan/atau hilangnya harta benda dipidana dengan pidana penjara  paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Pasal 51 bahkan juga mengatur tentang Insinyur Asing yang bekerja di Indonesia bisa terjerat hukuman pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak satu milyar rupiah.

Manfaat yang bisa kita dapatkan dari UU ini seyogyanya juga memberikan kesempatan kepada Insinyur-insinyur Indonesia untuk bisa lebih berkiprah sebagai tuan rumah di negeri sendiri. Insinyur Asing yang masuk ke Indonesia menurut UU ini wajib melalui screening process di mana mereka harus memiliki ijin praktek keinsinyuran dari negaranya. Ijin ini dikenal dengan istilah Professional Engineer (PE/P.Eng) License. Insinyur asing yang tidak memiliki ijin/lisensi yang dimaksud haruslah mengikuti uji kompetensi keinsinyuran yang dilaksanakan oleh Persatuan Insinyur Indonesia. Insinyur Asing yang tidak memenuhi syarat-syarat tadi dinyatakan tidak bisa melakukan praktek keinsinyuran di Indonesia. Ini diatur pada Pasal 18 sampai dengan Pasal 22 Undang-undang ini.

Pertanyaan selanjutnya, berapa gaji Insinyur-insinyur Indonesia saat ini? Ternyata gaji Insinyur Indonesia masih jauh dibandingkan gaji dan benefit-benefit yang didapatkan oleh Insinyur luar negeri, bukan hanya di sektor Industri tapi di sektor Pekerjaan Umum (PU) atau proyek-proyek pemerintah mereka masih dibayar jauh dari standard. Hasil survey membuktikan kita sebagai bangsa belumlah menghargai Insinyur-insinyur kita yang notabene adalah aktor utama pembangunan nasional. Diharapkan turunan dari Undang-undang ini pun sangat perlu merumuskan tingkat remunerasi Insinyur lokal supaya mereka bisa hidup lebih sejahtera dan pada akhirnya lebih termotivasi untuk menghasilkan hasil karya keinsinyuran yang lebih baik sesuai dengan standard nasional dan internasional. Jangan lagi terjadi ketimpangan di mana gaji Insinyur kita hanya 20% dari gaji Insinyur asing yang bekerja di Indonesia.

Jayalah Insinyur Indonesia.

 

Narasumber Focus Group Discussion di BPPT 9 Desember 2014

Saya teringat semasa wisuda Sarjana S1 di kampus Ayam Jantan tahun 2004 lalu, ketika Prof. Rady A. Gani, sang rektor waktu itu memberikan pembekalan kepada alumni-alumni baru tentang tantangan dunia profesional di luar sana. Sang Professor mengingatkan bahwa ada dua keunggulan yang harus dimiliki oleh seorang alumni yakni menjadi seorang professional dan menjadi seorang networker di dunia orang-orang profesional khususnya dan di masyarakat pada umumnya.

Saya kira seperti inilah yang terus saya lakukan, selain menguasai bidang profesi dan keilmuan, saya juga terus berupaya membangun jaringan atau networks saya lebih luas lagi bukan hanya pada skala nasional tapi juga sudah menuju pada skala internasional. Memang networking event ini cukup menyita waktu kita bahkan terkadang meeting atau sekedar ngobrol warung kopi bisa terjadi sampai larut malam. Bahkan hampir setiap weekend pun saya terus berusaha menjalin silaturahmi, memperbanyak teman dan mempererat tali persahabatan.
BPPT_editSalah satu hikmah dari networking ini adalah ketika salah seorang karib merekomendasikan saya menjadi narasumber pada acara acara Focus Group Discussion (FGD) yang diorganize oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Petrokimia Gresik dan Kementerian Perindustrian. Walhasil, saya datang ke sana dan mempresentasekan kapabilitas perusahaan saya di bidang Migas khususnya pada Kajian Studi Gasifikasi Batubara baik menyangkut aspek teknis maupun komersialisasinya.

Acara sehari ini dibuka oleh Bapak Dr. Ir. Erzi Agson Gani, M.Eng selaku Direktur Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR) dan dimoderasi oleh Ibu Dr. Nadirah, MSc., Direktur Pengembangan Teknologi Industri Proses (PTIP). Saya kebagian presentase di pagi hari setelah pembukaan dan diberi kesempatan selama kurang lebih 45 menit. Sesi tanya jawab menampilkan 2 penanya yang pada intinya ingin mengetahui lebih dalam tentang teknologi gasifikasi batubara di dunia dan bagaimana strategi menerapkan teknologi menjadi suatu bentuk investasi yang nyata sehingga batubara kalori rendah di Indonesia bisa dimonetisasi dan bernilai tambah buat kemakmuran rakyat dan bangsa Indonesia.

IMG01161-20141209-1001_edit

Pada akhir sesi tanya jawab, saya terus memberikan semangat kepada teman-teman BPPT untuk terus berkarya di dalam menghasilkan teknologi yang bisa dikomersialisasi dan digunakan untuk industri dan masyarakat. Akademisi, Business dan Government serta Community (ABCG) diharapkan bisa lebih bersinergi menciptakan sesuatu yang memberikan nilai tambah bagi kejayaan bangsa dan negara Indonesia.

 

 

Delivering the Presentation at CAFEO32 in Yangon, Myanmar, 10 – 13 November 2014

The CAFEO32 was held at Sedona Hotel, Yangon, Myanmar, 9th to 13th of November 2014. This is the annual event conducted by Southeast Asian Countries under the umbrella of ASEAN Federations of Engineering Organization (AFEO). For more details regarding AFEO please click www.afeo.org. Every year each country host brought up the unique theme which are actually relevant to their main focus to develop their countries and what sort of engineering contributions of each country engineering organization could perform. Integrated Solutions for Energy, transport and Infrastructure was the main topic of this conference. The event was not only attended by ASEAN delegates but Japan, Taiwan, Hong Kong and Australian were participating at this year’s event.

CAFEO32 Main EventEach subtheme was presented and discussed at technical paper sessions and most of the delegates of each country deliver and present their technical papers. I was the one of 4 Indonesian delegates who delivered and presented it in front of the technical sessions. My technical paper titled “The Key Factors Considered as Part of Feasibility Study on Development of Coal Gasification to Ammonia and Urea Project” I came up with with some backgrounds of why we need to raise this issue for Indonesian energy development.

 

 

 

 

The subthemes of the conference consist of:

  • Infrastructure Development in Transportation & Energy.
  • ASEAN Connectivity, Infrastructure Development, ICT.
  • Urban Transport for Competitive City.
  • Energy Cooperation ASEAN Power Grid, Trans-ASEAN Gas Pipeline.
  • Renewable Energy Sources: Solar, Wind, Biomass, Bioenergy, etc.
  • Rural Electrification Development.
  • Engineering and Technology for Infrastructure Development.
  • Engineering Education, Research and Innovation

Here is the abstract the paper“Indonesia is the second largest coal exporter in the world after Australia. Coal is abundant spreading over major islands such as Sumatera, Kalimantan, Sulawesi and Papua. Indonesian coal deposit is more than 21 Billion Ton (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). Total coal resources is 105 Billion Tons throughout Indonesia (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). It is estimated over 50% of total coal deposit are categorized as low-rank coal. Coal types are low rank coal called lignite. Since this low rank coal is not economical for exports due to the low CV and high water content, this is now emphasized by Indonesian government to be utilized locally. The solution for utilizing this low rank coal is coal gasification. One of the government programs through Indonesian Fertilizer State-Owned Company is trying to utilize the coal as the raw materials to produce Ammonia & Urea. Currently, the price of natural gas from the well is over 10 Dollars/MMBTU and tend to be in short supply in the near future due to the decrease of oil and gas lifting capacity in Indonesia. Due to the price and lack of supply, they start doing Feasibility Study on Coal Gasification to Ammonia & Urea”

WP_002025 @Sedona Hotel

 

 
CAFEO32 Presentation

ID Card

 

 

 

 

 

 

 
The paper concluded some bullet points were presented at the end of my session:

  • The coal reserves in Indonesia are abundant and more than 50 percent of those are categorized as low rank coals. The best solution to utilize these low rank coals is to go with gasification process.
  • There are three major types of gasification technology in the world, fixed bed, fluidized bed and entrained-flow technology.
  • The company and I could help perfoming feasibility studies (FS), front-end and engineering design (FEED), and engineering, procurement and construction (EPC) services to clients throughout the world.
  • The company has performed studies on Indonesian coal gasification. The company expertise and know-how is available to serve Indonesian clients and their future coal gasification and coal to chemical projects.

This was my first time visiting Yangon (previosly Rangon). The country is one of the ASEAN member and located at the north west side of Thailand. Myanmar is still a least developed country in the region, their infrastructures and urban city development is far behnind compared to Thailand, Malaysia, Singapore and Indonesia. They are trying to open and create investment climates and start inviting foreign direct investors to participate in building the country infrastructures and energy sectors.
CAFEO Presentation2_editJust for your info, if your country is Indonesia or any ASEAN countries, you can now travel to Myanmar by only using your passport, long before that, their governments really restricted the foreigners coming in to the country. Indonesia under former minister foreign affair, Mr. Marty Natalegawa had signed the agreement with U Wunna Maung Lwin, foreign affair minister of Myanmar in May 2014. Click the link http://www.tempo.co/read/news/2014/05/11/118576944/Indonesia-Myanmar-Sepakat-Bebas-Visa-Paspor-Biasa for more details info.

I traveled to Myanmar at 10th of November early morning from Terminal 2 Cengkareng Airport departed to Kuala Lumpur International Airport (KLIA1) for 1.5 Hours flight. After 5 hours transit at KLIA2 I continued the trip to Yangon using Air Asia Airlines for another 3.5 Hours. I arrived at Yangon International Airport around 20.00. The organizing committee of the CAFEO32 picked us up at the arrival gate and took us directly to Sedona Hotel to attend the CAFEO welcoming dinner. Other than me, there were 2 delegates also presenting originally coming from Makassar, South Sulawesi: Ir. Rahmat Muallim, Mine Engineer and Dr. Ir. Ayuddin, Lecturer of Gorontalo University and a Civil Engineer.
CAFEO33 has been decided to be held in Penang Malaysia. Be there and don’t forget to bring your paper and present. It’s gonna be awesome to contribute for ASEAN and also for PII & Indonesia. Salam Insinyur.

CAFEO32 Certificate Handshaking