Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Safety Forum BKK PII di Gedung BPPT, 6 Agustus 2015

Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia untuk kesekian kalinya melaksanakan Focus Group Discussion di bawah kepemimpinan Bapak Ir. Nanang Untung, IPU. FGD ini adalah hasil kerjasama antara BKK PII dan BPPT. Diskusi ilmiah kali ini diberi nama “BKK PII Safety Forum” yang menghadirkan Pembicara-pembicara dari Industri, Akademisi dan perwakilan Pemerintah. Bapak Dr.Ir. Unggul Priyanto Kepala BPPT hadir dan turut membawakan kata sambutan sebelum sesi FGD dimulai.

Moderator FGD adalah Bapak Ir. Lukmanul Hakim, IPM yang juga adalah Direktur Eksekutif BKK PII sangat sukses mendeliver diskusi safety ini. Bapak Ir. Alvin Alfiyansyah adalah panelis pertama yang bekerja sebagai Senior Loss Prevention Engineer di Qatargas OPCO dan panelis kedua dari sisi Industri adalah Bapak Ronald Timbuleng perwakilan dari PT Newmont Nusa Tenggara. Sedangkan dari sisi akademisi diwakili oleh Bapak Ir. Agustinus Hariadi yang juga auditor untuk KLHK. Ibu Ir. Sulistyowati, MM Direktur Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mewakili Pemerintah pada FGD kali ini.

1-OverallMateri yang dibawakan oleh Alvin berjudul “Aplikasi Aturan HSE Masa Kini dan Dahulu” sangat  menarik kita simak di mana sejarah Keselamatan Proses dan Aturan HSE di Amerika, dunia secara umum dan terkhusus Indonesia diulas secara garis besar. Berdasarkan kajian statistik yang dilakukan oleh Dupont di Tahun 2004-2005 bahwa Unsafe Act/At-risk Behavior berkontribusi 96% dan penyebab lainnya 4% pada Injuries yang terjadi di Industri secara umum. Untuk menurunkan rate injuries bahkan incidents harus melalui tiga cara yaitu: improved engineering, improved HSEMS dan Incorporation of Human factors.

3-Alvin show

Alvin menelurkan beberapa rekomendasi dan saran kepada peserta FGD untuk disampaikan kepada pihak Pemerintah untuk memperbaiki tata kelola K3 dan HSE sebagai berikut:

1.Perlunya revisi pasal 15 UU No. 1 tentang K3 yang mencakup hal penalti dan pelanggaran K3.

2.Perlunya perbaikan kompetensi Ahli K3/HSE yang mencakup keahlian Process Safety dan penyidik kecelakaan industri.

3.Perlunya membuat standar kompetensi nasional untuk Ahli K3/HSE.

4.Perlu penyidik Kecelakaan Industri di berbagai lembaga dan departemen negara agar tidak terpaku pada institusi Kepolisian.

5.Perlunya pemetaan hak dan kewajiban antar departemen negara untuk implementasi dan perbaikan budaya K3/HSE.

6.Perlunya pemetaan dan penyederhanaan UU dan PP yang berkaitan dengan K3 dan HSEQ secara umum agar tidak terjadi tumpang tindih wewenang dan pengawasan.

7.Perlu diterbitkan aturan mengenai “sharing data base” kecelakaan industri dan “lesson learn” mengenai kecelakaan industri asli Indonesia di seluruh sektor industri agar praktisi, regulator, dan manajemen perusahaan bisa belajar.

Panelis kedua Bapak Ronald memaparkan tentang “Pengelolaan K3 di PT Newmont Nusa Tenggara (PTNNT)” di mana diketahui bersama PTNNT ini adalah salah satu anak perusahaan dari Newmont yang berdiri sejak Tahun 1921 dan berkantor pusat di Denver Colorado sedangkan PTNNT sendiri mulai masuk ke Indonesia di Tahun 1986, mulai beroperasi di tahun 2000 sampai sekarang.

4-Pak Roland show

Key Performance Indicator (KPI) untuk keselamatan kerja di PTNNT dinilai dari semakin menurunnya Serious Injury, Total Reportable Injury dan Total Reportable Injury Frequency Rate. Ketiga parameter ini haruslah lebih kecil dibandingkan target yang dicanangkan Perusahaan baru kemudian kinerja safetynya dikatakan berhasil. Ronald juga mempresentasekan beberapa program unggulan pencegahan kecelakaan berat dan kematian dan 6 perilaku utama untuk tetap selamat di wilayah Kontrak Pertambangan PT Newmont Nusa Tenggara.

Panelis ketiga Bapak Ir. Agustinus Hariadi DP membawakan materi tentang Strategi Pengembangan Keunggulan Kompetitif Berbasis Implementasi Manajemen Lingkungan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Indonesia. Beliau memaparkan hasil penelitian tentang kinerja LK3 perusahaan dihubungkan dengan komitmen manajemen perusahaan, manajemen proses dan manajemen sumber daya manusia. Kinerja LK3 pada perusahaan ternyata berpengaruh positif terhadap keunggulan kompetitif dan kinerja finansial perusahaan.

Rekomendasi dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Bapak Agustinus antara lain:

PERUSAHAAN

-Memasukkan aspek LK3 dalam penetapan strategi perusahaan

-Menerapkan strategi proaktif

-Menjadikan isu LK3 sebagai sasaran semua fungsi

-Menyeimbangkan bobot Manajemen proses dan Manajemen SDM

-Mewujudkan komitmen manajemen

PEMERINTAH

-Merubah fokus BINWASDAL

-Keterkaitan antarprogram-program pemerintah

Panelis terakhir adalah Ibu Ir. Sulistyowati memaparkan “Keselamatan Sosial dan Lingkungan dalam Kegiatan Pertambangan”. Permasalahan pertambangan secara umum termasuk tambang rakyat di Indonesia saat ini terdiri dari permasalahan ekonomi, sosial dan lingkungan merupakan 3 isu utama yang menjadi tugas besar dari Ditjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Direktur Pemulihan Kerusakan Lahan Akses Terbuka.

7-Sesi Q&A Pak nanang

Jumlah Penambang Rakyat saat ini adalah 2 juta orang (1 juta penambang emas dan 1 juta penambang mineral). Banyaknya masyarakat yang terlibat secara tidak langsung (misalnya sebagai pemasok bahan kimia berkisar 8 juta orang) dan penerimaan negara dari pertambangan umum tahun 2005-2012 rata-rata Rp 60,42 triliun, sedangkan potensi omset tambang rakyat mencapai Rp. 400 trilyun per tahun (sumber APRI). Di sisi lain kerusakan lahan akibat penambangan rakyat berdasarkan data APRI ada sekitar 4000 lokasi bekas tambang (lebih 40% di kawasan hutan) yang membutuhkan pemulihan fisik (reklamasi), pemulihan lahan dari kontaminan (13.000 ton Hg/tahun) dan juga memerlukan penyuburan lahan karena tanah humus sudah hilang.

2-Sambutan Ketum BKK PII

Rencana strategis untuk melahirkan Pertambangan Ramah Lingkungan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan antara lain: pengembangan kebijakan pengelolaan tambang yang ramah lingkungan, pembinaan dan pendampingan, pemantauan dan bimbingan teknis, peningkatan kapasitas serta insentif dan dis-insentif untuk pelaku bisnis pertambangan.

6-HR in action

Sesi pemaparan keempat panelis ini dimulai Pukul 16.30 dan berakhir Pukul 18.15 dilanjutkan dengan Istirahat dan Shalat Maghrib. Sesi tanya jawab dimulai Pukul 18.45 sampai pada Pukul 20.00 di mana pada sesi tanya jawab ini berlangsung sangat interaktif dan Habibie Razak juga mendapatkan kesempatan bertanya yang lebih ditujukan kepada Bapak Alvin Alfisyansyah dan Bapak Ronald Timbuleng. Acara kemudian dilanjutkan dengan Foto bersama Pengurus BKK PII dan Peserta Focus Group Discussion.

5-HR in action-1

Diskusi ini ditutup oleh Bapak Ir. Nanang Untung dengan kesimpulan utama bahwa dibutuhkan sinergi berkelanjutan antara Akademisi, Bisnis dan Government (ABG) untuk bisa lebih meningkatkan implementasi keselamatan dan kesehatan kerja dan lingkungan di Indonesia termasuk memasukkan materi K3L pada kurikulum perkuliahan sehingga mahasiswa sebagai calon professional dibekali oleh pengetahuan tentang K3L lebih awal sebelum masuk ke dunia industri.

9-Pose bersama Nanang Untung & Alvin

Bravo Insinyur Kimia, bravo Insinyur Indonesia.

8-Foto bersama

 

 

 

 

 

 

 

MSW to Jet Fuel Product; Solution to Utilize Municipal Solid Waste into High Value Product in Indonesia

by Habibie Razak – Energy Practitioner and Project Manager.

The high urban community growth and also the increase of infrastructure development in every sector causes several problems such as urbanizations, poverty, poor real estates and housing, municipal wastes, etc. The major concern in bigger cities such as Jakarta, Surabaya, Makassar city and other developed cities right now in Indonesia is municipal wastes.

The rapid development of metropolis cities in Indonesia, followed by the increase of urbanization with the ideas the villagers can get better life in big cities. This will affect the increase of populations and also the increase of wastes both from industry and housing. Unfortunately, this situation is not followed up by the improvement of facility and infrastructures provided by the government and slightly reducing the quality of the environment, especially the increase of municipal wastes and how to handle it to be more environmental friendly.

Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, Kusayyeng said http://makassar.tribunnews.com/2014/02/28/volume-sampah-di-makassar-bertambah-menjadi-800-ton-per-hari, the volume of wastes in Makassar increased to become 800 tons per day as of February 2014. Estimated waste volume will keep increasing to become 1000 tons per day at early of 2015.

One of the solutions to manage the municipal wastes is to convert it to synthetic gas (syngas) through gasification process. Gasification is thermochemical conversion process of solid organic to gas. This gasification involves to the partial oxidations and combustion process at 900 – 1100 Degree Celsius or more. Like pyrolysis, gasification process producing gas the calorific value about 4000 kJ/Nm3.

Benefits of Biomass Gasification such as: Converting what would otherwise be a waste product into high value products, reduced need for landfill space for disposal of solid wastes, Decreased methane emissions from landfills, Reduced risk of groundwater contamination from landfills, Production of ethanol from non-food sources. For gasification of biomass can be read further at this link http://www.gasification.org/gasification-applications/biomass/

The government of Indonesia through the Ministry of Industry, Energy & Mineral Resources and related ministries should put more emphasis in inviting investors and technology licensors and facilitate the communications with the city mayors. The symposium or seminars on biomass/MSW gasification related technology should be done frequently to enrich the knowledge and insights of the business players (industry) and government for both technical and economical aspects of the investment.

One of the projects finished their demonstration plant construction and currently in operation is for converting municipal solid waste (MSW) to jet fuel using TRI gasification and EFT Fischer Tropsch process technologies. The TRI pilot plant has operated over 1,200 hours gasifying 4 tons per day of sorted and sized MSW (aka RDF) producing FT liquids suitable for upgrading to jet fuel which is considered renewable. This process is not yet commercially proved.

Fulcrum Bioenergy is licensing the TRI and EFT process technologies and is developing a project in the US which will use TRI’s gasification process and EFT’s Fischer Tropsch process. The EPC work has started for this project.

As being said before, there are several big cities such as Jakarta, Makassar (South Sulawesi), Surabaya (East Java), Bogor (West Java), Bandung (West Java) that can collect over 500ton/day of MSW. The potential off-takers for jet fuel would be PT Angkasa Pura, a State-owned Air Business Company which is coordinating all airlines logistic in Indonesia.

Gasifying and converting over 200 ton/day waste can produce 700 barrel/day of jet fuel considered to become feasible and will need to conduct some economic study and see how the investment works-out in term of CAPEX, OPEX, IRR, NPV and payback period.

 

 

 

 

Knowledge Sharing di Telekonferensi PPI EHIME Jepang, 28 Juni 2015

Hari Minggu 28 Juni 2015 PPI Jepang Komisariat EHIME menyelenggarakan sesi Knowledge Sharing sebagai bagian dari program “Scientific Interaction and Academic Studies”. Topik sesi kali ini menurut Ketua PPI EHIME, Ir. Andi Erwin Syarif, MT adalah menitikberatkan pada pengembangan teknologi dengan melakukan konversi energi melalui implementasi desain yang efisien. Tujuan utamanya adalah mengajak para stakeholders baik akademisi maupun praktisi memainkan peranan signifikan di dalam menyelesaikan tantangan energi hubungannya dengan pengurangan emisi karbon, biaya energi yang lebih kompetitif dan ketahanan energi.

Invitation Letter - for BlogSaya pada sesi ini diminta sebagai Guest Speaker dengan membawakan materi tentang Aplikasi Bahan Bakar LNG sebagai bahan bakar murah dan ramah lingkungan. LNG di Indonesia selain berasal dari gas alam juga bisa dibuat dari batubara yang keduanya merupakan kekayaan alam Nusantara. Batubara melalui proses gasifikasi dapat menghasilkan synthetic gas (syngas) yang kemudian bisa diturunkan lagi menjadi berbagai macam produk seperti pupuk, methanol, DME, olefin, synfuel, sampai menjadi Synthesis Natural Gas (SNG). SNG dari batubara kemudian bisa diliquefy menjadi LNG.

Pembicara menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia mengimplementasikan program Greenhouse Gas Emission Reduction di mana targetnya adalah pengurangan emisi sampai 26% di Tahun 2020 dengan kondisi tanpa dukungan dari negara lain dan sampai 41% pengurangan dengan bantuan dari negara lain. Sebagaimana Tabel di bawah adalah Target Reduksi GHG pada tiap sektor.

Indicator Emission Reduction Plan (Giga ton of CO2) The Responsible Ministry
  26% 41%
Forestry and Turf area (Gambut) 0.672 1.039 Forestry, Environment, Public Work
Agriculture 0.008 0.011 Agriculture, Environment, Public Work
Energy and Transportation 0.038 0.056 Transportation, Energy and Mineral resources, Public Work, Environment
Industry 0.001 0.005 Industry, Environment
Waste 0.048 0.078 Public Work, Environment
Total 0.767 1.189

Regulasi yang mengatur tentang upaya pengurangan efek rumah kaca ini setidaknya diatur sebagaimana di bawah ini antara lain:

◦Law No 17 Year 2004 on The Ratification Kyoto Protocol To The United Nations Framework Convention on Climate Change Protocol.

◦Presidential Regulation No. 61 Year 2011 on the National Action Plan for Greenhouse Gas Emissions Reduction.

◦Local Regulation. In East Java for instance Governor Regulation No. 67 Year 2012 on East Java Action Plan for Greenhouse Gas Emission Reduction.

Teleconference PhotoPembicara juga memaparkan tentang perbandingan kadar emisi truck menggunakan bahan bakar LNG dan truck berbahan bakar diesel di mana ada pengurangan emisi CO2 sebanyak 30% sehingga bisa disimpulkan bahwa LNG adalah bahan bakar kendaraan yang lebih bersih (environmental friendly).

Sesi knowledge sharing ini ditutup dengan pengenalan tentang organisasi Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran di mana Pembicara Tamu juga adalah Pengurus PII Pusat. Turunan dari UU ini adalah Peraturan Pemerintah dan Keputusan Presiden yang akan segera diberlakukan tahun ini.

 

Kongres Luar Biasa, Rapat Pimpinan Nasional dan HUT ke-63 Persatuan Insinyur Indonesia, 22 & 23 Mei 2015

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB), Rapat Pimpinan Nasional VIII dan HUT ke-63 yang diadakan di Hotel Shangri-La, Jl. Jenderal Sudirman dengan tema “Kesiapan Insinyur dan Industri Nasional Menyambut Pembangunan Infrastruktur 2015-2019”. KLB ini diadakan dalam rangka pengesahan AD ART PII yang baru sesuai amanat Undang-undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran Pasal 53, bahwa Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD ART) PII harus disesuaikan dengan ketentuan Undang-undang Keinsinyuran dan mendapatkan persetujuan dari Menteri paling lambat 2 tahun terhitung sejak Undang-undang Keinsinyuran dikeluarkan.

suasana KLB 1Kongres dan Rapimnas kali ini dihadiri lebih dari 200 Pengurus Pusat, Pengurus Wilayah dan Cabang, Badan Kejuruan dan Anggota Persatuan Insinyur Indonesia. Hari Jumat, Tanggal 22 Mei acara dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Umum PII Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, MBA., IPM dan dilanjutkan dengan sesi diskusi mengenai Undang-undang Keinsinyuran menghadirkan Bapak Ir. Rully Chairul Azwar dan Bapak Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso sebagai narasumber. Diskusi ini juga mencakup sosialisasi Peraturan Pemerintah (PP) yang baru sebagai turunan dari UU No. 11 Tahun 2014 dan Keputusan Presiden tentang Susunan Dewan Insinyur Indonesia. Tidak lama lagi Insinyur Indonesia akan lebih dihargai profesinya dan juga akan lebih meningkat lagi tingkat kesejahterannya sebagaimana disampaikan oleh Para Narasumber.

Foto BarengBapak Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso juga menyampaikan kabar gembira bagi para lulusan perguruan tinggi yang bergelar Sarjana Teknik. Pemerintah dikabarkan telah menyiapkan aturan baru yang memungkinkan para insinyur muda (fresh graduate) menerima “insentif tunai” sebesar Rp.100 juta selama setahun, sebagai renumerasi tambahan yang diharapkan mampu meningkatkan minat dan ketertarikan mereka untuk serius bekerja dan meniti karier di bidang keteknikan.

“Aturan rincinya sudah mulai digodok. Tapi yang jelas, ini bukan lagi sekadar wacana. Sudah dimatangkan. Mudah-mudahan bisa diterapkan mulai tahun 2016. Kami di Persatuan Insinyur Indonesia (PII) sangat mengapresiasi hal ini, karena dapat menjadi perangsang bagi para insinyur muda untuk sungguh-sungguh menekuni dan berkarier di bidang keinsinyuran” kata Prof. Dr.Djoko Santoso.

WP_000155_edit_edit

Hari kedua Tanggal 23 Mei 2015, Bapak Dr. Ir. Indroyono Soesilo, Menteri Koordinator Kemaritiman menjadi keynote speaker pada hari kedua KLB, Rapimnas dan HUT PII ini. Dalam kata sambutannya, Bapak Indroyono mengatakan, para insinyur ‎Indonesia harus mencontoh keberhasilan yang dicapai Presiden Joko Widodo (Jokowi). Jokowi disebut Indroyono, sebagai insinyur yang sukses terutama di bidang permebelan. “Insinyur kita harus menjadi engineer creates well. Contohlah Pak Presiden selalu saya tunjukkan, Pak Presiden beliau bisa mengolah dari kayu lalu diukir harganya menjadi 10 kali lipat‎,” katanya.

Tidak hanya Presiden Jokowi, salah satu contoh sukses lainnya adalah mantan Presiden Habibie. Habibie mampu merangkai aluminium menjadi kerangka pesawat bahkan hingga diterbangkan. “Presiden Habibie juga insinyur sukses yang bisa membuat aluminium mempunyai nilai tambah cukup besar menjadi ‎pesawat terbang,” tutur Beliau.

Beliau menambahkan lagi “Jadi insinyur adalah untuk meng-create. Untuk komoditas yang mau kita garap seperti infrastruktur listrik yang 35.000 MW dengan investasi sebesar Rp 1.200 triliun. Pemerintah akan melakukan Feasibility Study dan setelah masuk ke fase pelaksanaan konstruksi diharapkan yang lebih banyak berperan adalah insinyur dalam negeri”.

Inauguration-2HUT kali ini juga dirayakan dengan pengukuhan para Insinyur yang meraih gelar Insinyur Profesional dari berbagai bidang kejuruan. Panitia mencatat lebih dari 50 Insinyur mengikuti acara ini yang dikukuhkan langsung oleh Ketua Umum PII. Salah seorang penerima Sertifikat Insinyur Profesional Madya dari Black & Veatch International, Bapak Ir. Eddy Karmana, IPM juga terlihat mengikuti pengukuhan ini.

Jayalah Insinyur Indonesia, majulah profesi keinsinyuran Indonesia.

 

 

 

 

Menjadi Ketua Penyelenggara Rapat Kerja Wilayah IKA Unhas Jabodetabek

Hari Sabtu, Tanggal 6 Juni 2015 Pengurus IKA Universitas Hasanuddin Jabodetabek yang baru dilantik oleh Ketua Umum IKA Unhas Bapak Dr. Muhammad Jusuf Kalla akhirnya berhasil menyelenggarakan Rapat Kerja Wilayah Pertama I yang dilaksanakan di Hotel Santika Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Rapat Kerja ini dihadiri lebih dari 100 Pengurus yang merupakan alumni Unhas yang bekerja di seputaran Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Tema  Rapat Kerja (Raker) ini adalah “Akselerasi Terwujudnya Nawacita untuk Kemajuan Bangsa”.

Foto1Rapat kerja ini dimulai dengan sesi narasumber menghadirkan Bapak Dr. Mat Syukur, staff ahli Kementerian Pertanian membawakan topik “Food Estate Development di Indonesia” dan juga Bapak Ir. Andi Razak Wawo, Ketua IKA UH Jabodetabek dengan topik “Pengantar Rapat Kerja – Garis-garis besar arah program kerja IKA UH Jabodetabek”. Sesi narasumber ini berlangsung cukup lama sebelum akhirnya rehat makan siang dan dilanjutkan dengan pembahasan masukan program kerja setiap departemen.

Susunan Pengurus IKA-UH Jabodetabek ini mengikuti formasi kabinet Jokowi-JK di mana setiap departemen dibentuk untuk bisa berkoordinasi dengan kementerian terkait. Wakil Ketua and Wakil Sekretaris Koordinator Bidang Kemaritiman Dr. Badaruddin Picunang dan Ir. Awaluddin mendapatkan giliran pertama memaparkan program kerja yang berhubungan dengan bidang kemaritiman. Bidang Kemaritiman ini terdiri dari 4 Departemen antara lain: Energi dan Sumber Daya Mineral, Kelautan dan Perikanan, Perhubungan dan Pariwisata & Ekonomi Kreatif. Ir. Habibie Razak mewakili departemen ESDM memaparkan program kerjanya diikuti Ir. Zulfikar Muchtar, M.Sc untuk Departemen Kelautan dan Perikanan.

Foto2Bidang Politik, Hukum dan HAM dipresentasekan oleh Kol. Laut Dr. Rivai Ras dan tim yang terdiri dari beberapa Departemen antara lain: Dalam Negeri dan Otoda, Luar Negeri, Hankam, Hukum dan HAM, Komunikasi dan Informatikan dan Divisi Advokasi & Bantuan Hukum. Divisi Advokasi dikoordinir oleh Darmadi Samad, SH pengacara senior menyampaikan bahwa divisi yang dibentuk ini siap memberikan fungsi advokasi terhadap Alumni Unhas yang mengalami persoalan hukum atau setidaknya bisa menjadi wadah untuk konseling atau konsultasi untuk mendapatkan solusi terbaik buat Alumni.

Koordinator bidang Perekonomian diwakili oleh Bapak Dr. Hilmi Ibrahim dan tim memaparkan program kerja bidang perekonomian yang terdiri dari 14 departemen dan divisi. Dr. Ir. Arifin Tasrif Koordinator Departemen Pertanian, Ir. Darwis Daraba, MSi koordinator Departemen PU dan Perumahan Rakyat, Ir. Marwan Massinai, MSc., IAI Koordinator Departemen Agraria dan Tata Ruang memaparkan program kerja mereka diikuti oleh beberapa departemen dan divisi lainnya.

Foto3Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menghadirkan Wakil Sekretaris Andi Ilham Paulangi, S,Sos memimpin jalannya pemaparan diikuti presentase program kerja oleh Ibu Dr. Ir. Rosmariani Arifuddin untuk Ristek dan Pendidikan Tinggi, Ir. Amril Taufik Gobel untuk divisi Komunikasi Publik dan beberapa departemen lainnya. Ir. Sapri Pamulu, PhD Koordinator Departemen Ristek dan Pendidikan Tinggi (PT) menyampaian bahwa perlu ada koordinasi antardepartemen untuk membuat suatu program kerja yang mengintegrasikan semua departemen terkait yang melibatkan fungsi Ristek dan Pendidikan Tinggi.

Rapat Kerja ini dirangkaikan dengan Happy Hours yang dilakukan di Anjungan Sulawesi Selatan Taman Mini Indonesia Indah setelah sesi pembukaan dan narasumber di Hotel Santika. Happy Hours event ini terdiri dari perkenalan alumni Unhas yang hadir dan dilanjutkan dengan Turnamen Domino Raker Cup I yang dimenangkan oleh 4 pasangan yakni Ir. Trigunawan Wardana dan Ir. Awaluddin Sarmidi sebagai Juara I diikuti oleh Juara II pasangan Ir. Habibie Razak dan Aie Asri, ST, Juara III pasangan Ir. Fadli Nurdin dan Andi Ilham Paulangi, S.Sos dan juara Harapan I pasangan Andi Sadli dan Ishak.

Juara Domi

 

Ir. Habibie Razak, ketua penyelenggara kegiatan Rapat Kerja ini cukup puas dengan penyelenggaran event ini dan diharapkan hasil dari Raker ini bisa diimplementasikan di periode kepengurusan 2015 – 2019 IKA Unhas Jabodetabek dengan penuh tanggung jawab sesuai nawacita bersama. Liputan Rapat Kerja ini juga bisa dilihat di link ini http://makassar.tribunnews.com/2015/06/06/ika-unhas-jabodetabek-gelar-rapat-kerja-di-jakarta

Salam IKA Unhas.

 

Mengajar Cost Planning dan EPC Project Overview di Pembinaan Profesi Insinyur, Makassar, 9 Mei 2015

Persatuan Insinyur Indonesia Cabang Makassar kembali mengadakan Pembinaan Profesi Insinyur, 9 – 10 Mei 2015 di Hotel Clarion Makassar dan dihadiri oleh lebih dari 40 peserta. Staff instruktur selain menghadirkan profesional dari Makassar dan sekitarnya beberapa dari mereka adalah Instruktur dari PII Pusat Jakarta. Materi-materi yang dibahas kurang lebih sama dengan PPI-PII sebelumnya kecuali materi tambahan yakni ASEAN Chartered Professional Engineer yang dibawakan oleh Bapak Ir. Bachtiar Sirajuddin, MM., IPU yang juga saat ini adalah Sekretaris Jenderal BK Sipil Persatuan Insinyur Indonesia. Materi tambahan yang tidak kalah menarik adalah Bisnis Konstruksi yang dibawakan oleh Ir. Sapri Pamulu, Ph.D, Strategic Business Development and PMO Specialist PT Wiratman & Associates.

Aksi Panggung

 

 

 

 

Materi yang diamanahkan kepada Habibie Razak tidak jauh dari judul materi sebelumnya yakni, Cost Planning and EPC Project Overview. Sesi kali ini Habibie memaparkan perbedaan antara sistem manajemen proyek EPC (atas) dan sistem tradisional (bawah) sebagaimana bagan sederhana di bawah.

EPC StructureTraditional Structure

 

 

 

 

 

 

Di akhir sesi, Habibie menyampaikan apabila ingin menjadi the Real ‘Cost Engineer’ versi AACE haruslah mengikuti program sertifikasi cost engineering dan meraih gelar profesi Certified Cost Engineer (CCE) dan/atau Certified Cost Consultant (CCC).

Bravo Insinyur Indonesia.

 

 

 

 

Mengajar Sampai Propinsi Maluku Utara, 17 – 18 April 2015

Pertama kali menginjakkan bumi Maluku Utara membawa citarasa kenikmatan tiada tara setelah sekian lama hidup menikmati indahnya Bumi Pertiwi. Kunjungan ke salah satu propinsi di Indonesia Timur diawali oleh Undangan dari PII Cabang Halmahera Utara yang kepengurusannya baru saja terbentuk satu bulan ini. PII Halut diwakili oleh Ketua Cabang, Bapak Ir. Darius Arkwright, MT ini mengirimkan undangan ke saya untuk menjadi salah satu Instruktur pada program Pembinaan Profesi Insinyur (PPI) pertama yang dilakukan di Tobelo, Halmahera Utara.

Ternate View - CopyPesawat Garuda pada pagi hari Tanggal 16 April 2015 membawa saya dan 3 orang Pengurus PII cabang Makassar bertolak dari Makassar menuju Ternate. Rombongan Makassar terdiri dari Bapak Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT., IPM, Bapak Ir. Taufik Nur, MT., IPM dan Bapak Ir. Andi Subhan Mustari, MT., IPM selaku Ketua, Sekretaris dan Koordinator Bidang Sertifikasi PII Cabang Makassar. Tim PII Pusat dihadiri Bapak Ir. Faisal Safaa, IPM dan Bapak Ir. Ngadiyanto, SE., IPM selaku Direktur Eksekutif dan Wakil Direktur Eksekutif PII Pusat. Setibanya di Ternate kami disambut oleh Tuan rumah Bapak Ir. Harsani Harisi, Staff Ahli Gubernur Maluku Utara dengan hidangan makan siang di salah satu restoran favorit di sana.

Perjalanan tidak berhenti di Ternate, setelah itu Pukul 02.00 siang kami menyeberang pulau menuju Kota Sofifi sekitar 45 menit perjalanan menggunakan speed boat. Saat-saat menegangkan terjadi selama 45 menit ketika speed boat menantang lautan dalam nan luas di Maluku Utara. Sofifi adalah ibukota Propinsi Maluku Utara setelah Ternate yang dulunya adalah Kerajaan Kesultanan Ternate. Setibanya di Sofifi kami melanjutkan perjalanan menuju Tobelo dengan kendaraan roda empat selama 3 jam. Kami menginap di Hotel Bryken salah satu Hotel Melati di kota Tobelo.

Presentation Session-2Hari pertama Pembinaan Profesi Insinyur saya mendapatkan giliran membawakan dua materi sekaligus yaitu Cost Planning and Control dan dilanjutkan dengan materi Project Management selama hampir 3 jam. Peserta yang dihadiri lebih dari 20 peserta ini cukup intens mengajukan pertanyaan maupun sekedar berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka mengelola proyek-proyek di Kabupaten Halmahera Utara dan sekitarnya.

 

Presentation SessionSalah satu bahan kuliah tentang mengapa manajemen proyek diperlukan? Tentunya tujuan utama adalah mencapai target proyek dari sisi kualitas, biaya, schedule dan juga zero accident. Untuk mencapai target ini semua stakeholders should be at the same page. Produk atau deliverables yang dihasilkan oleh suatu proyek harus bisa didefinisikan di awal dan memastikan tidak ada “surprise” at the end of the project. Ilustrasi di bawah ini memperlihatkan bahwa mengapa project management sungguh dibutuhkan untuk menghasilkan produk atau deliverables yang disepakati bersama oleh para stakeholder proyek.

Why Needs Project Management

 

 

 

 

 

 

Manajemen proyek yang tidak diterapkan secara profesional atau bahkan tidak diterapkan sama sekali akan mempengaruhi kinerja proyek antara lain:

ØTarget waktu/deadline tidak tercapai,

ØPekerjaan harus diulang atau terjadi duplikasi,

ØBudget/anggaran yang dilampaui,

ØKemajuan proyek yang tidak jelas,

ØKonflik di antara staf selama penugasan di proyek,

ØKompetensi yang kurang dari anggota tim proyek,

ØPerubahan lingkup proyek yang terus menerus,

ØStaf proyek menerapkan metode pengelolaan proyek sesuai pengalaman dan selera sendiri sendiri dan tidak ada standarisasi.

Sedangkan seorang project manager dituntut untuk memiliki kompetensi yang mumpuni di bidang manajemen proyek yang dibagi ke dalam tiga elemen yakni: knowledge, skill dan attitude.

penyerahan plakatPembinaan Profesi Insinyur (PPI) kali ini menghadirkan materi Pengenalan Etika Profesi dan Organisasi PII dibawakan oleh Dr. Ir. Rusman Muhammad, K3 oleh Ir. Taufik Nur, Pengisian FAIP oleh Ir. Subhan Mustari dan beberapa materi lainnya yang dibawakan oleh Pembicara dari PII Pusat.

Pengalaman tak kalah menarik dari PPI di Tobelo ini adalah kami sempat menikmati alunan live music di salah satu pub and restaurant di kota ini ditemani oleh Pengurus PII Cabang Tobelo, Bapak Ir. Darius, Ir. Willy Jesajas, Ir. Nicko R. Bomara dan teman lainnya. Band dan DJ performance dari Bandung sepertinya membawa kami pada keceriaan dan keriuhan di malam itu.

Sertifikat PembicaraHari Sabtu Tanggal 18 April 2015 saya meninggalkan Kota Tobelo menuju Bandar Udara Kao sekitaran sejam perjalanan dan bertolak menuju Manado dengan menggunakan pesawat Wings Air tipe ATR. Pengalaman selanjutnya terjadi di Manado bersama teman-teman Alumni Unhas yang bekerja di sana.

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia.

 

 

 

Co-Presenter pada World Clean Coal Conference 2-3 April 2015

World Clean Coal Conference yang diadakan di Le Merridien Hotel, Jakarta selama dua hari ini mengundang banyak antuasisme dari pelaku industri mining, oil & gas di negara tercinta ini. Isu komersialisasi gasifikasi batubara menjadi isu sentral pada konferensi ini.

Ministry of ESDM-1

Indonesia adalah negara eksporter terbesar batubara saat ini di dunia ironisnya deposit batubara kita tidak lebih besar dari 6 negara lainnya seperti US, Amerika, China dan Australia. Batubara kalori tinggi untuk saat ini memang cukup bernilai tinggi diekspor ke beberapa negara di dunia dan kalori menengah lebih banyak digunakan untuk pemenuhan kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik domestik.

 

Day 1 EddyIndonesia menurut kementerian ESDM 2014 memiliki lebih dari 32 Milyar Ton coal reserves dan sekitar 40 persen di anataranya adalah low rank coal (lignite). Typically, Indonesia lignite memiliki properti seperti high moisture content (>35% AR), low ash content (>12% DB), low sulphur content (<2% DB)  dan low calorific value (<5100 kcal/kg AB). Lignite saat ini tidak banyak dieksploitasi berbeda dengan  adanya interest yang lebih besar pada batubara kalori menengah (sub bituminuous) dan kalori tinggi (bituminuous).

Mengapa kemudian Indonesia diharapkan memberikan perhatian lebih besar pada monetisasi lignite? Ada beberapa hal yang mendasari antara lain:

 

 

  • Undang-undang No. 4 Tahun 2009 tentang Minerba yang isinya adalah Pemerintah mengharuskan pelaku tambang untuk memberikan nilai tambah pada bahan tambang. Pola pikir harus berubah dari mining commodity menjadi strategic commodity.
  • Insentif dari pemerintah termasuk income tax, import tax, VAT, etc untuk gasifikasi batubara dan penambangan batubara kalori rendah (PP No. /2007 dan PP Np. 62/2008)
  • Peningkatan kebutuhan domestik untuk chemicals yang kemudian meningkatkan mengakibatkan pada kenaikan volume impor bahan kimiawi. Batubara kalori rendah diharapkan menjadi feedstock alternatif untuk pembangunan coal gasification to chemicals.
  • Penurunan sumber gas alam and kenaikan impor gas mengakibatkan biaya produksi menjadi sangat mahal untuk kebutuhan produksi pupuk dan petrokimia lainnya.
  • Rencana strategis pemerintah untuk membangun chemical processing industry untuk memenuhi konsumsi domestik dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Day 1 - HabibieKonferensi kali ini menghadirkan pembicara dan delegasi yang lebih banyak dibandingkan konferensi sejenis tahun lalu yang juga diorganize oleh conference producer yang sama. Pembicara yang hadir antara lain dari perwakilan pemerintah seperti Kementerian Perindustrian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). perwakilan dari BUMN seperti Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC), lisensor teknologi seperti Shell, UHDE TKIS, Siemens, Haldor Topsoe dan lainnya.

Black & Veatch juga tidak ketinggalan memberikan nilai tambah pada event ini di mana Eddy Karmana – Senior Process Engineer tampil menjadi pembicara didampingi oleh Habibie Razak – Project Manager mempresentasekan “Indonesia Coal Gasification Opportunities; Monetizing Indonesia Lignite”. Pembicara dalam presentasenya memaparkan 2 studi kasus pemanfaatan batubara untuk pupuk (ammonia, urea) dan methanol.

Day 2Tantangan dan peluang gasifikasi batubara menurut Black & Veatch antara lain:

  • Gasifikasi dapat menghasilkan nilai tambah, produk petrokimia dan energi dari gasifikasi batubara kalori rendah.
  • Investasi gasifikasi membutuhkan lebih dari 1 Milyar Dollar yang diharapkan partisipasi Foreign Direct Investment (FDI) dan dukungan dari pemerintah Indonesia
  • Gasifikasi batubara menghasilkan high value chemicals, clean fuels dan listrik menawarkan solusi seiring dengan meningkatnya permintaan energi dan produk kimia sebagaimana dengan dicetuskannya rencana strategis pemerintah untuk membangun industri nasional.

 

 

 

 

Mari berusaha dan berdoa bersama agar rencana strategis pemerintah yang melibatkan semua komponen bangsa (Akademisi, Business, Community dan Government) terwujud sesuai diharapkan. Amin.

Day 2 berpose

Bravo Industri Nasional Indonesia, Bravo Pelaku Industri Nasional Indonesia.

Undangan Pembicara pada ASEAN EPC Projects Conference, 24 Maret 2015

Marcus Evans pada Tanggal 23 dan 24 Maret 2015 menyelenggarakan ASEAN EPC Projects Conference di Hotel Mulia Jakarta. Konferensi kali ini fokus pada usaha pengembangan kompetensi project manager di seluruh Asia Tenggara menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) Tahun 2015 ini.

1-FLNG EPC PresentationKonferensi ini menghadirkan fasilitator yang sangat expert di area manajemen proyek, Dr. Paul D. Giammalvo, Technical Advisor PT Mitratata Citragraha (PTMC), Jakarta, Indonesia. Selama lebih dari 20 tahun membawakan kuliah project management dan technical consultation di Asia Selatan, Asia Timur, Timur Tengah, Afrika Barat dan Eropa. Dr. Paul adalah anggota aktif dari Advancement of Cost Engineering International (AACEI), IPMA, Green Project Management Association (GPM) dan beberapa organisasi profesional lainnya.

Konferensi ini menghadirkan beberapa pembicara profesional di bidang energy, oil and gas termasuk pembicara dari SKK Migas. Pembicara-pembicara yang hadir membawakan studi kasus dari proyek-proyek mereka. James Murray dari Aibel Singapore memaparkan strategi eksekusi memanage proyek oil and gas upstream sector, Mukesh Agrawal dari Surya Esa Perkasa mempresentasekan bagaimana mereka mengeksekusi secara in-house proyek ekspansi pabrik LPG mereka di Sumatera dengan mengutilize kontraktor lokal di bawah pengawasan langsung oleh tim manajemen konstruksi mereka. Konferensi kali ini dihadiri oleh Delegasi dari berbagai perusahaan seperti PERTAMINA, Wijaya Karya, Adhikarya, CNOOC, Safa Steel, Surya Esa Perkasa, dan beberap perusahaan terkemuka lainnya.

2-FLNG EPC SessionBlack & Veatch sebagai EPC company juga tidak ketinggalan diundang menjadi Pembicara yang diwakili oleh Habibie Razak, Project Manager Oil & Gas, Indonesia. Habibie juga diundang dalam kapasitas sebagai Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan Persatuan Insinyur Indonesia yang pada kesempatan kali ini membawakan materi yang berjudul “PRICO Technology Optimizes Project Deliverability” PRICO adalah teknologi paten milik Black & Veatch untuk aplikasi LNG liquefaction process yang sudah diaplikasikan di lebih dari 25 proyek di seluruh dunia. Setelah sukses merajai pasar onshore LNG plant di dunia Black & Veatch juga telah menyelesaikan proyek floating LNG liquefaction pertama di dunia yakni EXMAR FLNG project dengan kapasitas 0.5 MTPA.

Habibie memaparkan bagaimana B&V mengeksekusi proyek ini dengan benefit-benefit yang dimilik teknologi PRICO antara lain: PRICO® standard layout for both offshore and onshore – small footprints, Typical process configuration and typical equipment for broader range of size (small, medium to base load), Less equipment count and less use of stainless steel, Skidding and modularization approach, Especially for offshore application – working with reputable marine fabrication and get to know the capabilities each other through project experiences sehingga proyek ini bisa diselesaikan lebih cepat dan lebih mudah dibanding menggunakan teknologi LNG lainnya.

4-FLNG EPC End of my SessionBlack & Veatch juga menerapkan critical chain project management antara lain: Introducing Chinese Procurement Model, Vendor Prequalification Stage – Selecting reliable vendors far before the project begins, Historical database on previous projects, Identification on critical equipment or long lead items such as cold box, refrigerant compressor, DCS, cryogenic valves, etc. Selecting reputable partner to work with including but not limited to subcontractor’s package and detailed engineering design, Utilizing multiple offices in several countries such as Beijing, Pune and Jakarta Office to plan and execute the project(s).

Hari kedua di sesi terakhir Dr. Paul dalam presentasenya menitikberatkan bahwa untuk menjadi project manager yang sukses dituntut untuk memiliki kombinasi pengetahuan manajemen proyek, skill dan attitudes yang mumpuni (mature). Pengalaman 10 tahun di berbagai posisi seperti scheduler, cost control , estimator, project engineer, design engineer akan menjadikan profesional lebih luwes dan lebih mature untuk menjadi seorang project manager yang akan sukses di masa depan.

PTMC di bawah kepemimpinan Ibu Yani Suratman dan Dr. Paul sebagai senior trainer di akhir sesi menawarkan para delegasi untuk mengikuti AACE certification course yang dischedulekan di Jakarta pada Tanggal 4-8 May 2015 for the 5 DAYS INTENSIVE FACE TO FACE CLASS dan 9 MAY  – 25 OCTOBER 2015 menyediakan DISTANCE LEARNING MODE serta pada Tanggal 26 – 28 OCTOBER 2015 untuk mengikuti FINAL FACE TO FACE REVIEW CLASS. Bagi yang berminat silahkan menghubungi yanis@ptmc-apmx.com atau yanisuratman@gmail.com

Bravo ASEAN Project Managers, Bravo Indonesian Project Managers.

 

 

Diskusi Umum Pemenuhan Kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025, 28 Februari 2015

Presiden Joko Widodo memanggil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Ir. Bobby Gafur Umar, MBA, IPM beberapa bulan kemarin menanyakan perihal kesiapan Insinyur-Insinyur Indonesia di dalam menghadapi pasar ekonomi ASEAN dan dalam rangka pemenuhan tenaga profesional untuk proyek-proyek infrastruktur di Indonesia. Menurut informasi yang didapatkan oleh PII bahwa rasio penambahan Sarjana Teknik per 1 Juta Penduduk per Tahun masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara maju bahkan negara ASEAN lainnya.

Kakanda HabibieTentunya ini mengundang kekhawatiran karena target proyek infrastruktur sampai Tahun 2025 dianggarkan lebih dari Rp. 1.786 Trilyun untuk peningkatan dan perluasan konektivitas antarpulau besar dan lebih dari Rp. 2.200 Trilyun untuk kegiatan 6 koridor ekonomi: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali-Nusa tenggara dan Papua-Kepulauan Maluku. Target Pemerintah tahun 2025 untuk GDP pun adalah USD 4,000 – 4,500 Milyar atau sekitar USD 14,250 per kapita.

Rasio penambahan Sarjana Teknik di Tahun 2008 adalah 164 per tahun per 1 Juta penduduk masih lebih kecil dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Vietnam masing masing 367, 202 dan 282 per tahun per sejuta penduduk. Target 2025 adalah Sarjana Teknik harus berada di kisaran 600 – 800 keluaran Sarjana Teknik/Tahun/1 Juta Penduduk. Untuk mencapai target rasio Tahun 2025 ini diharapkan terjadi pertumbuhan Sarjana Teknik setiap 5 tahun dengan proyeksi sebagai berikut:

  • Tahun 2011 – 2015 bertumbuh sekitar 50.000 per Tahun
  • Tahun 2016 – 2020 bertumbuh sekitar 75.000 per Tahun
  • Tahun 2021 – 2025 bertumbuh sekitar 120.000 per Tahun

Tidak hanya berfokus pada kuantitas tapi kualitas Sarjana Teknik juga sangat menentukan bagi pembangunan infrastruktur. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dalam perannya sebagai organisasi profesi keinsinyuran mengembangkan program jenjang karir keinsinyuran dimulai sejak Sarjana Teknik menjadi Insinyur kemudian mengikuti proses Insinyur Profesional berjenjang mulai dari Insinyur Profesional Pratama, Insinyur Profesional Madya dan Insinyur Profesional Utama. Seorang Insinyur Profesional Madya pun sudah bisa mendapat kesetaraan dengan Insinyur ASEAN dan Asia Pasifik dengan mengikuti program ASEAN Engineer Register, ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) dan APEC Engineer Register. PII pun sesuai Undang-undang No. 11 Tahun 2014 menetapkan program Profesi Berkelanjutan (Continuous Professional Development – CPD) di mana seorang Professional Engineer (P.E/P.Eng) perlu menjaga tingkat pembaruan ilmu pengetahuan keinsinyuran dan dilaporkan setiap tahun ke PII.

Pemberian plakat

Pemerintah Indonesia dan kementerian terkait bekerja sama dengan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) perlu melakukan upaya-upaya kongkrit di dalam rangka memenuhi kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025 antara lain:

 

 

 

 

 

  1. Adanya keperluan mendesak untuk segera menyelesaikan seluruh peraturan (PP. Kepres, Permen, dll) yang merupakan turunan dari UU No. 11 Tahun 2014 tentang profesi keinsinyuran.
  2. Koordinasi antarsektoral dalam hal pendidikan agar kuantitas dan kualitas sarjana teknik bisa meningkat, seiring dengan peningkatan kualitas perguruan tinggi penyelenggara pendidikan teknik. Contoh kongkrit yang bisa dilakukan adalah menambah jumlah Perguruan Tinggi berbasis Keteknikan di Indonesia secara merata di seluruh belahan Indonesia, meningkatkan kualitas kurikulum pendidikan tinggi Keinsinyuran lebih berbasis kepada R&D untuk pemenuhan kebutuhan Industri Nasional termasuk ketersediaan infrastruktur, fasilitas & tenaga pengajar.
  3. Sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran lebih ditingkatkan lagi menyentuh semua jajaran Perguruan Tinggi dan Industri-industri nasional tentang pentingnya sertifikasi Keinsinyuran.
  4. Kebijakan pemerintah untuk tidak berorientasi pada penjualan hasil mentah atas sumber daya alam yang diperoleh dari bumi Indonesia dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi sarjana teknik.
  5. Perlu adanya insentif dari pemerintah kepada profesi insinyur yang telah memperoleh sertifikat ASEAN. Sebab jika insinyur telah memperoleh sertifikat ASEAN namun tidak ada penghargaan lebih atau insentif dari pemerintah, maka dorongan bagi insinyur untuk mengambil sertifikasi ASEAN tidak akan terwujud.
  6. Sinergitas antara Akademisi, Business/Swasta dan Pemerintah (ABG) atau lebih dikenal dengan Triple Helix perlu lebih ditingkatkan lagi di dalam hal pengembangan IPTEK dan peningkatan sumber daya Insinyur.

Bersama pesertaHabibie Razak, wakil dari Persatuan Insinyur Indonesia pada Tanggal 28 Februari lalu membawakan diskusi ilmiah dengan topik pemenuhan kebutuhan Insinyur Profesional Tahun 2025 di Kampus Fakultas Teknik Tamalanrea Universitas Hasanuddin di hadapan lebih dari 50 mahasiswa(i). Habibie menegaskan betapa pentingnya lulusan Sarjana Teknik bekerja di bidang keinsinyuran di awal karirnya dan konsisten selama bertahun-tahun seiring dengan peningkatan compensation and benefit yang yang mereka terima pada perusahaan tempat mereka bekerja. Satu yang pasti katanya, Engineer dibayar sesuai pengalaman dan kualifikasinya, apalagi kalo bisa sampai berkarir di sektor minyak dan gas duitnya bisa berkali-kali lipat dari sektor lainnya.

Jayalah Insinyur Indonesia, maju terus PII.