Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Saga di Masela, Membahas dari Awal, Mengaji dari Alif

Oleh: Ir. A. Razak Wawo/Ir. Sapri Pamulu, PhD.

Belakangan rakyat Indonesia disuguhi sebuah adu argument menarik di internal pemerintahan Jokowi-JK mengenai alternatif teknologi yang sebaiknya dipakai oleh Inpex, pengelola Blok Abadi dalam mengalirkan hidrokarbon dari perut lapangan Abadi yang berada di pinggir wilayah RI berbatasan dengan Timor Leste.

Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas) Jabodetabek menanggapi kontraversi yang terjadi dengan memberikan tanggapan agar persoalan ini tiAndi Razak Wawodak berlangsung berlarut-larut dan berpotensi kontraproduktif karena bakal ada tendensi investor akan lari dan tidak melanjutkan proyek ini.

Ketua IKA Unhas Jabodetabek, A Razak Wawo menandaskan bahwa “Salah satu kata yang termasuk paling banyak muncul dalam adu argumen ataupun pemberitaan mengenai proyek kepunyaan Inpex ini adalah ‘proyek’. Ya , ini adalah sebuah usaha kelanjutan dari dimenangkannya WKP atau Wilayah Kerja Pertaimbangan oleh Inpex.”

Perusahaan ini kemudian melakukan pekerjaan seismic atau penginderaan, mengebor sumur eksplorasi lalu kemudian masuk ke dalam kesimpulan bahwa lapangan ini punya nilai keekonomian yang cukup prospektif.

Lalu mulailah mereka menyusun rencana awal proyek.

Mulai dengan melakukan langkah-langkah appraisal atau visibility untuk menilai kembali keekonomian lapangan Abadi ini secara lebih rinci sambil secara bersamaan mulai menyusun rencana pengembangan lapangan (Plan of Development – POD) yang menjadi ukuran utama dari pemerintah Indonesia – si empunya lapangan sebenarnya – dalam hal persetujuan apa-apa saja yang akan dilakukan Inpex untuk lapangan itu dari mulai awal sampai akhir pemanfaatan WKP tersebut.

POD yang disuguhkan Inpex yang menggandeng Shell sebagai partnernya ini kemuadian dievaluasi oleh SKK Migas yang dalam hal ini sebagai perpanjangan tangan Menteri ESDM dan disetujui. Sekedar info saja bahwa dalam POD ini dicantumkan juga alternatif apa saja yang akan dilakukan atau dibangun oleh Inpex untuk mendapatkan hasil ekonomi yang sebanyak-banyaknya.

“Saya kok yakin bahwa alternatif FLNG dan Onshore LNG ada di dalamnya,” kata Razak.

“Mari kita kembali ke kata yang paling banyak disebutkan dan saya pilih untuk memulai diskursus ini. Proyek – sebuah proyek didefinisikan sebagai usaha temporer yang dilakukan untuk menghasilkan sebuah produk atau jasa atau hasil yang sifatnya unik. Karena sifatnya sementara maka ia terindikasikan mempunyai dimensi waktu mulai dan akhir.”

Akhir proyek bisa diklaim kalau ia sudah menghasilkan sesuatu yang menjadi target hasil proyek. Atau bisa saja berakhir jika tidak dapat atau diperkirakan tidak akan menghasilkan target yang direncanakan, ataupun pada saat dihasilkan, kebutuhan akan hasil itu sudah tidak ada lagi.

Ada 2 hal yang sangat diperhatikan oleh para pelaku proyek untuk menjaga proyek itu agar bisa memberi hasil dengan biaya dan jangka waktu yang sudah disetujui bahkan kalau bisa dengan biaya yang lebih murah dan waktu yang lebih cepat.2 hal itu dikenal dengan resiko dan peluang (risk and opportunity).

“Inilah memang faktor yang sangat menentukan untuk keberhasilan suatu proyek,” tambahnya.

Resiko, inilah kata yang juga jadi headline argumen di atas. Resiko mahalnya harga, resiko teknis pada saat loading LNG dari FLNG ke LNG cargo carrier, resiko buckling pada saat instalasi pipa bawah laut dan masih banyak sekali yang berkaitan dengan dua alternatif tersebut di atas.

Pada beberapa perusahaan oil and gas yang mapan, pengenalan dan identifikasi resiko adalah sesuatu yang jamak dan mutlak.Visibility dan assurance serta readiness dari sebuah proyek, apalagi proyek dengan hitungan trilyunan rupiah dapat ditentukan dengan sejauh mana proyek itu mengenali setiap resiko yang dapat terjadi.

“Saya ragu jika perusahaan seperti Inpex mempunyai tools dan processes yang kuat dalam mengenali resiko ini. Inpex ini banyak tercatat sebagai investing Company untuk proyek-proyek lapangan minyak dan gas diseluruh dunia tapi bukan sebagai operator langsung. Di Indonesia juga tercatat beberapa lapangan yang mempunyai sharing dengan perusahaan ini.”

Dengan sendirinya bisa dikatakan bahwa belum punya pengalaman yang memadai sebagai operator lapangan minyak dan gas seperti halnya Chevron, Exxon, Shell, Total, BP dan yang lainnya.

Untuk mengawal proses pengenalan dan mitigasi resiko ini, beberapa perusahaan terkenal di atas rela menginvestasikan jutaan dollar untuk menciptakan sistem pengenalan resiko yang handal dan juga identifikasi mitigasinya.

Sejumlah universitas dan institusi terkenal dunia diajak rembuk untuk memastikan standar manajemen resiko dimuat dan dikenali oleh sistem manajemen proyek mereka. Software yang berkorelasi dengan manajemen resiko diciptakan untuk memudahkan mereka.

Tabel implikasi terhadap fasilitas, lingkungan dan dan kerugian lainnya dalam bentuk tangible maupun intangible dibuat khusus dan distandarisasi.

Lebih jauh lagi di beberapa perusahaan itu, ada stage gate process atau tahapan penting dimana kualitas manajemen resiko proyek tertentu harus diuji kelayakannya untuk masuk ke fasa selanjutnya.

Dengan melihat sejauh mana para pemain minyak dan gas ini melakukan investasi serta keseriusan mereka dalam hal manajemen resiko, kita bisa melihat bahwa sebenarnya mereka besar kemungkinan sudah mengenali resiko apa saja yang dapat timbul dari dua alternatif tersebut.

Patut mungkin ditanyakan, apa proses yang sama seriusnya sudah dilakukan oleh kedua belah pihak yang beradu argumen. Sematang apa proses pengenalan resiko yang sudah mereka lakukan? Apa proses yang mereka gunakan?

Asumsi-asumsi apa yang dipakai dalam pengenalan dan mitigasi resiko? “Dan maaf, mudah-mudah2an itu tidak didapatkan hanya dari pembicaraan atau diskusi singkat tanpa melalui proses yang komprehensif.,” ujarnya.

“Indikasi yang sangat mengganggu pikiran saya adalah tidak diungkapkannya kemungkinan-kemungkinan2 mitigasi yang dapat dilakukan, paling tidak sepatutnya sepadan pemaparannya dengan resiko yang digembar-gemborkan.”

Kita lihat satu contoh saja, untuk pilihan onshore LNG dibutuhkan pergelaran pipa sejauh kurang lebih 600 km.

Menurut pihak yang mendukung alternatif ini, pergelaran pipa bisa dilakukan. Ketika ditanyakan bahwa ini akan sulit mengingat adanya palung/trench di area sea-bed lapangan Abadi, argumentasinya bahwa proyek lain sudah melakukannya.

“Sejauh yang saya tahu saya belum melihat adanya proyek yang sudah berani melakukan pergelaran pipa sejauh itu dengan kondisi nature trench yang dipunyai lapangan Abadi/Masela,” tambahnya.

Lebih jauh lagi dengan potensi impurities (komposisi kimia yang bisa menyebabkan korosi atau yang lainnya) seperti CO2 yang mungkin akan memperpendek umur pipa. Bagaimana metode instalasi yang akan dilakukan?

Mungkin juga dilihat aspek geoteknis dan analisa kegempaan di wilayah tersebut.

Banyak sekali resiko yang bisa di kenali hanya untuk satu ide pergelaran pipa, bisa dibayangkan resiko yang lain berkaitan dengan keseluruhan alternatif.

Sebuah studi awal untuk proyek pergelaran pipa pipa yang melewati Timor trench kepunyaan Negara tetangga kita Timor Timor menunjukkan resiko yang cukup besar yang akan berkorelasi pada kegagalan proyek.

Letak lapangan yang disebut Sunrise field yang akan dikembangkan mencoba men-design siystem perpipaan bawah laut dari lapangan tersebut ke Timor Leste, tempat dimana LNG akan juga dibuat.

Banyak hasil studi dan komentar para ahli tentang visibility proyek ini. Intinya adalah untuk menetapkan design awal dari siystem perpipaan ini saja mereka belum juga rampung.

Banyak resiko yang mereka harus tahu terlebih dahulu, menganalisanya dan melengkapi dengan mitigasi yang diperlukan. Sunrise field ini boleh dikatakan tetangga dengan Abadi field.

Bisa jadi ada beberapa kondisi lingkungan, kegempaan  dan juga kontur yang mirip atau bahkan identik.

Dengan contoh ini diharapkan masing-masing pihak sadar bahwa ide-ide mereka sangat bisa ditest keshahihannya dengan membuka ruang seluas-luasnya untuk informasi kemudian mengolahnya kedalam asumsi ide itu sendiri. Petunjuk sebenarnya bertebaran di mana-mana.

Dalam hal pengenalan dan manajemen resiko ini, Inpex terbantu dengan kehadiran Shell sebagai mitra dan juga pemegang sekitar 30-an persen. Shell terkenal mempunyai proses manajemen resiko yang baik.

Inpex juga bergerak cepat merekrut beberapa praktisi dan merayu karyawan dari beberapa perusahaan minyak dan gas lain yang terkenal kemampuannya dalam manajemen resiko untuk bergabung.

Pertanyaan yang sama selanjutnya kita boleh ajukan ke pihak Inpex dan Shell, apakah mereka sudah melakukan proses yang baik dalam mengenali resiko di setiap tahapan proyek?

“Saya berani mengatakan ya, sangat kuat dugaan saya mereka sudah melakukannya. Inpex terbantu dengan adanya Shell dalam tim mereka sebagai pemegang saham sejumlah lebih dari 30 persen, proses manajemen resiko untuk proyek Masela proyek bisa dianggap teratasi,” tegas Razak Wawo.

Dengan Front-End Engineering yang telah mereka lakukan selama berbulan-bulan, tentunya aspek resiko yang tadinya berada pada tahap pengenalan sudah diobservasi kembali validitasnya dan melewati beberapa pengujian yang lebih tajam ketimbang di fase sebelumnya.

Aspek mitigasi resiko juga dengan sendirinya akan lebih tajam. Jika di akhir fase ini ditemukan resiko besar dari alternatif FLNG ini, maka tidak usah capek-capek didebat, pihak Inpex dan Shell pasti sudah lama menghadap kembali ke SKK Migas dan mengajukan perubahan rencana preferensi tentang strategi fasilitias pengolahan gas dari Lapangan Abadi.

Pernyataan Tidak Beralasan

Sementara itu, Sapri Pamulu, PhD dari Divisi Ristek IKA UNHAS Jabodetabek, mengatakan, ”Pernyataan sebagian kalangan yang menyatakan bahwa teknologi Floating LNG Production Unit belumlah proven adalah pernyataan yang tidak beralasan. Di dunia saat ini, beberapa Proyek Floating LNG Production yang sementara melalui proses pengembangan bahkan sudah ada yang mulai beroperasi seperti proyek EXMAR FLNG Caribbean dengan kapasitas 0,5 Juta ton per tahun, Proyek Golar HILLI yang lagi proses konstruksi dengan kapasitas 2.5 Juta ton per tahun, proyek Shell di Australia kapasitas 3.6 Juta ton per tahun dan beberapa proyek floating LNG lainnya yang sementara dalam tahap Front-End Engineering and Design (FEED)”.

”Perusahaan-perusahaan seperti Shell dalam memutuskan untuk mengembangkan teknologi ini telah melalui kajian First of A Kind (FOAK) Analysis yang harus mendapatkan persetujuan dari Chief of Financing Officer perusahaan tadi”, tambahnya lagi.

“Kemaslahatan dan keuntungan sebesar-besarnya untuk negara yang didapatkan dari lapangan Abadi ini tidak akan terlaksana tanpa investasi dari pihak kontraktor,” kata Sapri.

Skema cost recovery meniscayakan kontraktor/investor untuk membangun semua fasilitas yang dibutuhkan dengan dana mereka di depan. Hanya setelah lapangan beroperasi, produksi yang dihasilkan sebagiannya akan mejadi hak kontraktor sebagai pengembalian dari investasi yang sudah ditanamkan.

Dalam mencari dana investasi ini tentunya Inpex harus bisa meyakinkan banyak stakeholder untuk menanamkan modalnya dalam proyek ini. Inpex sendiri tentunya juga harus yakin secara internal bahwa proyek ini visible untuk dilakukan. Dari semua aspek.

“Dengan sangat gampang bisa kita tanyakan pada diri kita sendiri, kalau kita jadi Inpex, apa kita nyaman dengan penundaan fase proyek hanya untuk menunggu jawaban tentang alternatif yang dipilih?”

Dan jika onshore LNG yang dipilih, bukankah mereka sudah melakukan proses pengidentifikasian alternatif hampir 10 tahun yang lalu? Kemudian di uji lagi dengan proses berbulan-bulan dalam tahapan FEED?

Inpex masih punya beribu resiko proyek yang harus mereka pikirkan, resiko sub-surface uncertainty, metode pengeboran yang paling tepat untuk mencapai target kedalaman, strategi fasilitas produksi, strategi fabrikasi, konstruksi dan instalasi, dan banyak lagi.

Semuanya masih bisa berujung pengunduran bahkan pembatalan proyek. Masih sangat banyak PR yang mereka belum dan harus lakukan.Sapri Pamulu

“Pertanyaaan-pertanyaan yang sama juga akan diajukan para calon investor dari proyek ini,” tambah Sapri.

“Penundaan proyek karena peninjauan kembali sebuah keputusan yang sudah disetujui, akan menimbulkan tanda tanya yang sangat besar tentang kelayakan proyek ini. Para investor ini bukan anak baru dalam bisnis energi. Mereka sudah menanamkan modalnya di banyak negara, puluhan tahun lamanya. Dan maaf, untuk investasi di Indonesia, stigma buruk sejenis ini sudah jauh hari ditempelkan. Selamat, Pak, stigma itu semakin kuat telah Anda tempelkan.”

“Sebaiknya tolong pikirkan dengan jernih. Kita bermimpi membuat rakyat Maluku dan sekitarnya sejahtera, tapi ketika terbangun dari tidur tentang mimpi patriotik itu, tak ada yang terlihat. Tak ada Onshore LNG atau FLNG,” kata Razak.

“Inpex dan para investornya sudah angkat kaki dan memilih tempat lain. Capek melihat ketika saling bertikai. Padahal bersama SKK Migas, mereka sudah kita libatkan dalam proses yang panjang. Membahas dari awal, mengaji dari alif. Oh ya, Inpex punya fasilitas dekat dari Lapangan Abadi, yang sudah mulai terbangun di benua Kanguru, Lapangan Ichtys namanya. Mungkin lebih baik begitu buat mereka.Ketimbang menunggu kita keluar dengan keputusan, yang bisa saja berubah lagi.”

Pemerintah di sisi lain berharap iklim investasi yang sehat dan kondusif sehingga bisa mengundang Foreign Direct Investment (FDI) namun pada kasus ini sepertinya kita akan membuat investor kita hengkang dari bumi pertiwi Indonesia karena ketidakpastian investasi yang sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

“Sebagai bagian dari masyarakat IKA Unhas Jabodetabek menuntut pemerintah memberikan porsi alokasi gas sebanyak-banyaknya buat kemaslahatan masyarakat dan kepentingan nasional,” katanya.

“Alokasi gas untuk nasional akan memberikan multiplier effect pada perekenonomian nasional dengan membangun industri nasional berbasis petrokimia seperti methanol sampai pada olefin, ammonia dan urea sampai pada produk turunannya. Alokasi gas kedua diharapkan dialokasikan untuk melakukan penghematan bahan bakar minyak dengan mengkonversi ke bahan bakar gas untuk pembangkit listrik (PLN) dan industri-industri nasional yang menggunakan bahan bakar minyak saat ini,” tegas Sapri Pamulu.(*)

Sumber: Tribun News

Kembali Menjadi Pengurus PII Pusat Periode 2015-2018, Sekilas Tentang STRI dan Professional Indemnity Insurance

Susunan PengurusKepengurusan Persatuan Insinyur Indonesia Periode 2015/2018 yang diketuai oleh Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak dan Sekjendnya Bapak Ir. Bachtiar Sirajuddin kembali memberikan amanah kepada saya untuk menjadi bagian dari kepengurusan pusat. Berbeda dengan periode sebelumnya di bawah kepempimpinan Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, rekomendasi dari Bapak Ir. Rudianto Handojo selaku Direktur Eksekutif menempatkan saya sebagai salah satu Wakil Ketua Bidang Energi dan Kelistrikan dan untuk periode kali ini saya diminta menjadi Sekretaris Badan Registrasi Insinyur, Persatuan Insinyur Indonesia.

Badan Registrasi Insinyur adalah salah satu badan di PII Pusat yang fungsi dan tugasnya antara lain: melaksanakan tugas penyelenggaraan Registrasi Insinyur Indonesia, termasuk di dalamnya penyelenggaraan Sertifikasi Kompetensi Insinyur, Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) dan mekanisme perpanjangannya. Sebagaimana diketahui bersama, PII saat ini bekerja sama dengan Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi dan kementerian terkait hubungannya dengan implementasi Surat Tanda Registrasi Insinyur (STRI) yang akan dikeluarkan segera tahun ini dalam bentuk Peraturan Presiden dan Peraturan Pemerintah.

STRI adalah ijin praktek keinsinyuran sama halnya para dokter memiliki ijin praktek kedokteran, diharapkan nantinya dengan STRI ini para Insinyur yang teregistrasi akan melaksanakan praktek keinsinyuran sesuai dengan kaidah-kaidah dan standard perancangan, konstruksi, instalasi, kegiatan keinsinyuran lainnya secara konsekuen sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara professional di hadapan pengguna dan pemanfaat keinsinyuran. Insinyur yang menyandang STRI diwajibkan dalam setiap aktifitas praktek keinsinyurannya mengutamakan kaidah keselamatan masyarakat, kesehatan kerja dan kelestarian lingkungan hidup sebagaimana diatur oleh UU No. 11 Tahun 2014.

Belajar dari Insinyur yang berlisensi di luar negeri mereka dalam profesinya dicover oleh professional indemnity insurance. Professional Indemnity Insurance memproteksi claim terhadap tuduhan melanggar kewajiban profesi sebagai Insinyur termasuk biaya akibat kerusakan dan biaya hukum yang terjadi akibat suatu claim. Insinyur yang terlisensi tadi diakui secara profesional sebagai ahli di bidangnya dan orang atau pihak lain bergantung pada keahliannya dan bertanggung jawab penuh pada profesinya. Apabila kewajiban ini dilanggar maka pihak lain yang merasa dirugikan bisa mengklaim kerusakan akibat kesalahan yang dilakukan oleh Insinyur tadi. Ini juga berlaku walaupun Insinyur tadi menyediakan jasa secara gratis kepada pihak lain yang tidak terlibat di dalam kontrak pelayanan jasa tadi.

Sebagai professional, kita membutuhkan Professional Indemnity Insurance untuk mensatisfy peraturan pemerintah, kewajiban kontrak atau sederhananya untuk memproteksi asset-asset kita. Jaman dimana Insinyur memiliki asuransi seperti dijelaskan di atas akan segera terjadi dan ini menjadi salah satu alasan mengapa Insinyur yang ber-STRI tadi akan lebih dihargai profesinya dan secara umum akan membuat profesi Insinyur menjadi lebih seksi sehingga bisa lebih diminati ke depannya oleh para remaja lulusan Sekolah Menengah nantinya.

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia

 

 

Konvensi Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia, 13 Januari 2016

Konvensi Badan Kejuruan Sipil yang diadakan di Gedung G Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah Kementrian PUPERA, Jalan Pattimura No. 20 Jakarta berlangsung mulai Pukul 15.30 sampai dengan 19.00 terdiri dari beberapa rangkaian acara antara lain: sambutan dari Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak diikuti oleh Laporan Pertanggungjawaban Kepengurusan BKS PII Periode 2013-2016 dan Pemilihan Ketua BKS PII yang baru periode 2016 – 2019.

Konvensi BK Sipil PII 13 Januari 2016

Laporan pertanggungjawaban (LPJ) kepengurusan sebelumnya Periode 2013-2016 dibawakan oleh Bapak Hermanto Dardak didampingi Sekretarisnya Bapak Bachtiar Sirajuddin yang oleh forum menerima LPJ secara bulat. Di akhir LPJ, Bachtiar Sirajuddin menyampaikan bahwa berdasarkan hasil laporan keuangan, BKS PII meninggalkan saldo berupa petty cash yang cukup signifikan  dan juga beberapa piutang yang nantinya bisa ditindak lanjuti oleh pengurus BKS yang baru.

 

Konvensi ini juga melahirkan pemimpin baru di BKS PII dengan memilih secara aklamasi Bapak Ir. Bambang Guritno sebagai Ketua BKS PII Periode 2016-2019. Bapak Ir. Kayan Sutrisna sebagai pemimpin sidang memberikan kesempatan kepada Bapak Bambang untuk memberikan pidato pembuka sebagai Ketua BKS yang baru dan juga kesempatan kepada Bapak Hermanto Dardak sebagai Ketua Umum PII Periode  2015-2019 untuk memberikan pesan kepada kepengurusan yang baru agar BKS terus menjadi bagian dari organisasi PII mendukung kinerja PII secara umum dan lebih khusus lagi kepengurusan yang baru diharapkan lebih meningkatkan pelayanan kepada seluruh Insinyur Sipil Indonesia.

Konvensi BKS PII 13 Jan 2016

Acara konvensi ini ditutup dengan makan malam bersama bersama pengurus demisioner dan calon pengurus baru. Sebelumnya, Bapak Ir. Bambang Priatmono diminta membacakan doa bersama pada konvensi kali ini yang dihadiri lebih dari 30 peserta.

Bravo Badan Kejuruan Sipil Persatuan Insinyur Indonesia, Salam Insinyur.

 

 

Trip to Jogja; Penerbangan Terakhir di Akhir Tahun 2015

Iseng-iseng hari terakhir di Tahun 2015 saya menyempatkan terbang ke kota Jogja yang terletak tidak terlalu jauh dari Pesisir Pantai Laut Selatan Pulau Jawa. Perjalanan dengan penerbangan memakan waktu kurang dari 60 menit dari Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Sejujurnya ini trip pertama saya ke Propinsi ini setelah sekian lama memimpikan dan finally paling tidak saya bisa menginjakkan kaki di Jalan Malioboro Kota Gudeg ini.IMG20151231065116

Penerbangan pertama Garuda dari Jakarta Pukul 05.25 pagi tiba di Bandara Adi Sucipto Pukul 06.30 dan setibanya di sana tanpa pikir panjang saya mengambil taksi dan mulai berkeliling kota Jogja. Tidak banyak yang saya lakukan pada trip pertama saya ini, tidak lain adalah menyusuri Jalan Malioboro dan menyempatkan ke lokasi pembuatan Bakpia asli Jogja yang lokasinya juga tidak jauh dari istana Kesultanan Daerah Istimewa Yogyakarta ini.IMG_20151231_074313

IMG_20151231_072921

 

Saya pun menyempatkan berfoto di toko di mana saya membeli bakpia dengan mengambil posisi tepat di samping Andong, kendaraan tradisional yang menggunakan empat roda dan ditarik oleh seekor kuda. Di kampungku namanya bukan Andong tapi Bendi, rodanya cuman dua dan juga ditarik oleh seekor kuda. Pengoperasian Andong atau pun Bendi sangat tergantung pada kusir yang mengendarainya, mereka sudah berpengalaman bagaimana mengontrol kudanya. Kuda pun pada andong dan bendi ini menggunakan kacamata yang didesain supaya kuda tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, anyway.

IMG_20151231_073327

Apa yang terkenal di Jogja selain bakpianya? Pernah mencoba nasi gudeg dan nasi kucing? Terus terang saya belum pernah menikmatinya langsung di kota ini. Di Jakarta sini tempat saya bekerja pastinya banyak restoran yang menghidangkannya terutama nasi gudeg, however, saya pun mungkin belum pernah mencicipinya di Jakarta sini.

Sopir taksi, Pak Wakiman mengatakan, Di Jogja juga banyak pengrajin batik dan jualannya murah dan berkualitas. Namun sayang sekali ya, toko yang menjual batik belum pada buka sampai akhirnya saya harus balik lagi ke bandara untuk penerbangan balik ke Jakarta Pukul 10.00 pagi.

Salah seorang teman menyarankan, apabila diberi waktu luang lagi ke Jogja selain sisi kota Jogja jangan lupa berwisata ke daerah pantai laut selatan di sana pemandangannya luar biasa indah. Link ini http://yogyakarta.panduanwisata.id/category/daerah-istimewa-Yogyakarta/ sepertinya bisa menjadi panduan wisata ketika di beri kesempatan kedua kalinya ke Propinsi D.I Yogyakarta.

IMG20151231072508

Jogja, see you soon next year, tunggu aku ya.

 

 

 

 

Bobby Gafur Meninggalkan Kesan Memukau di Kongres PII XX, 11-12 Desember 2015

Rangkaian kegiatan Kongres Persatuan Insinyur Indonesia yang terdiri dari pra-kongres yang diadakan pada Hari Jumat, 11 Desember 2015 dan kongres pada Hari Sabtu Tanggal 12 Desember 2015 di Hotel Sari Pan Pacific meninggalkan kesan yang sungguh impresif bagi siapa saja yang menghadirinya. Bagaimana tidak? Hari pertama yakni pra-kongres dibuka dan dihadiri oleh Bapak Drs. M. Jusuf Kalla, Wakil Presiden Republik Indonesia dan di hari kedua, Bapak Ir. H. Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia juga membuka dan menghadiri Kongres PII yang ke-20 ini. Kejadian ini tidak pernah terjadi di kegiatan PII sebelumnya di mana Presiden dan Wapres menghadiri rangkaian acara yang sama. Sepengetahuan saya, ini hanyalah terjadi di masa periode kepengurusan Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, MBA., IPU.

IMG-20151212-WA002Bapak Jusuf Kalla yang dikerap disapa Pak JK dalam sambutannya menekankan di hadapan para peserta kongres, bahwa para Insinyur Indonesia tidak perlu takut menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Adalah, sangat tidak mungkin insinyur atau tenaga ahli yang berasal dari negara tetangga seperti Malaysia atau Singapura masuk ke Indonesia. Sebab, tingkat penghasilan yang diterima tenaga ahli di sana lebih besar dibanding Indonesia.  Kekhawatiran yang muncul justru sebaliknya. JK takut insinyur dan tenaga ahli Indonesia bekerja di negara tetangga.
“Yang akan terjadi adalah insinyur kita ke Malaysia dan Singapura. Karena pergerakan itu memungkinkan di dua negara itu. Orang Kamboja tidak akan ke sini, atau kita tidak juga ke Kamboja dan Laos,” jelas JK.
Pak JK lanjut lagi “Jadi jangan pernah ditakutkan MEA ini dari segi profesi. Tidak akan terjadi kalau kita terbuka insinyur asing akan masuk, insinyur mana coba yang mau datang ke sini,”.

Hari kedua pelaksanaan kongres, giliran Bapak Joko Widodo menyampaikan bahwa Pemerintah gencar membangun infrastruktur, salah satunya adalah jalan tol. Menurut Presiden Joko Widodo (Jokowi) pembangunan jalan tol perlu ditambah hingga minimal 1000 kilometer dalam 5 tahun. Sebab, sejak dulu hingga sekarang pembangunan jalan tol masih di bawah 1000 kilometer.

“Dari merdeka sampai sekarang kita cuma bangun tol 800 kilometer. Saya sampaikan 5 tahun minimal 1000 kilometer, kalau kita pepet pasti bisa,” ujar Jokowi di acara Kongres Persatuan Insinyur Indonesia di Hotel Sari Pan Pacific, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (12/12/2015).

IMG-20151212-WA004

Jokowi juga menyebut sejumlah pembangunan jalan tol yang pembangunannya sempat tersendat seperti di tol Trans Jawa ada ruas Ngawi-Kertosono dan Batang-Semarang.
“Ambil, tenderkan lagi. Ngapain kita nunggu,” tegas Jokowi.
Selain itu, Jokowi mengatakan dalam setahun ini sudah 3 kali mengecek pembangunan jalan tol Trans Sumatera. Sebab, jika tidak dicek ke lapangan, proyek jalan tol tersebut tak akan jalan.

Bukan itu saja, menurut Jokowi, dirinya juga mengecek perkembangan proyek jalan tol Samarinda-Balikpapan di Kalimantan Timur dan Manado-Bitung di Sulawesi Utara. ”Kalau enggak digitukan, enggak rampung-rampung,” kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Jokowi menambahkan, dia sudah berpesan kepada menteri yang terkait dengan proyek jalan tol untuk lebih banyak turun ke lapangan ketimbang menghabiskan waktu untuk rapat. “Kalau saya mengecek 3 bulan sekali, menteri pasti setiap bulan, apalagi bawahannya. Saya sampaikan ke menteri-menteri jangan rapat tiga kali baru memutuskan, saya enggak mau rapat bertele-tele,” kata Jokowi.

Begitu pun dengan program pembangunan pembangkit listrik 35,000 MW, Pemerintah harus optimis bisa menyelesaikan ini dalam kurun 5 tahun. Apabila ada menteri yang mengatakan ini tidak mungkin terjadi maka seharusnya menterinya bekerja dengan penuh optimisme supaya ini bisa terealisasi. “Bagaimana bisa diselesaikan apabila belum mencoba apa-apa kita sudah bilang kita tidak mampu” Ujar Jokowi.

IMG-20151212-WA003

“Tinggal tiga minggu lagi MEA akan dibuka. Bahkan banyak yang bertanya kepada saya, termasuk Ketum PII (Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia Bobby Gafur Umar), ‘apakah kita siap?’ Saya sampaikan kepada semua setiap saya menyampaikan sambutan, tidak usah takut,” ujar Jokowi. Menurut Jokowi, kualitas insinyur Indonesia cukup diperhitungkan di negara Asia sehingga tak ada yang perlu khawatir. Lagipula, jelas Jokowi, justru negara lain mengaku takut akan kebanjiran produk dari Indonesia.

Salah satu rangkaian pembukaan kongres PII XX ini adalah Presiden Joko Widodo menerima kalung medali tanda menjadi anggota kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (PII) yang disematkan langsung oleh Ketua Umum PII Bobby Gafur Umar.

 

Rangkaian dari kongres ini adalah seminar dengan tema “Penguatan Industri Migas, Minerba, Manufaktur dan Konstruksi menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN”. Pembicara menghadirkan wakil dari Kementerian Keuangan dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta wakil dari PII yang diwakili oleh Ketua Umum PII periode 2012-2015, Bobby Gafur Umar.

IMG-20151212-WA005

Sesi kedua siang hari kongres PII ini adalah pemaparan laporan pertanggungjawaban Bobby Gafur Umar sebagai Ketum PII Periode 2012-2015 yang langsung diterima oleh peserta kongres yang dihadiri perwakilan Badan Kejuruan, Pengurus Cabang dan Wilayah tanpa meninggalkan coretan apapun. Kita melihat ada beberapa bukti keberhasilan kepengurusan PII periode 2012-2015 ini adalah antara lain dengan disahkannya UU No. 11 Tahun 2014 tentang profesi keinsinyuran, sebuah mahakarya, hasil kerja keras para senior-senior PII di bawah koordinasi kepengurusan pusat dan prestasi kedua adalah juga dengan semakin kuatnya eksistensi wilayah dan cabang yang ada di seluruh Indonesia dimana mereka sudah bisa lebih professional dan proaktif terhadap penyelenggaraan kegiatan pengembangan keinsinyuran di daerahnya. Dukungan PII Pusat yang intens turun ke bawah sungguh sangat membantu mereka di dalam bekerja sambil berkreasi di daerahnya masing-masing.

Kongres ini juga memilih Bapak Ir. Heru Dewanto, MSi., IPM sebagai Wakil Ketua Umum setelah melalui proses pemilihan suara terbanyak dan Ketua Umum Bapak Dr. Ir. Hermanto Dardak  Periode 2015-2018. Kongres ini dihadiri lebih dari 500 peserta lebih dari 100 cabang, 20 wilayah dan badan-badan kejuruan. Peserta terjauh berasal dari PII Wilayah Papua yang meluangkan waktunya menghadiri kegiatan ini.

IMG20151211113822

Penulis, Habibie Razak adalah juga bagian dari kepengurusan Periode 2012 – 2015 di bawah kepemimpinan Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, MBA., IPU.

Bravo PII, sukses Insinyur Indonesia.

 

Instruktur pada Kursus Kontrak EPC, 27 November 2015

Engineering, Procurement and Construction kini menjadi model kontrak yang bukan hanya diaplikasikan di dunia industri minyak dan gas namun sudah mulai merambah ke sektor pertambangan, general industry seperti pharmaceuticals dan food processing bahkan sampai pada sektor infrastruktur public.

IMG_20151127_114706

Kontrak EPC ini memberikan jaminan performa oleh EPC contractor terhadap overall performance of the plant atau pun fasilitas yang dibangun. Mengapa kontraktor EPC berani menggaransi? Faktor utamanya adalah karena mereka yang mengeluarkan output desain, melakukan pengadaan sekaligus melakukan pekerjaan ereksi dan instalasi sampai pada commissioning dan startup suatu pabrik atau infrastruktur/fasilitas.

IMG_20151127_114618

Kursus EPC yang diselenggarakan oleh EMLI training kali ini mengupas tentang beberapa aspek penting dalam kontrak EPC antara lain: aspek legal, jenis-jenis asuransi pada kontrak EPC, aspek finansial atau keuangan yang mesti diperhatikan oleh kontraktor EPC pada saat menyiapkan proposal EPC, aspek treasury atau cashflow dan penyiapan dana untuk mengeksekusi kontrak EPC oleh kontraktor EPC dan aspek perpajakan yang harus diidentifikasi lebih dini di dalam penyiapan proposal dan penyusunan kontrak EPC.

Foto Bersama1

Peserta dihadiri oleh 8 orang dan kebanyakan dari mereka adalah legal officer dan commercial manager di perusahaan mereka bekerja. Kursus sehari ini juga memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana merencanakan dan mengeksekusi proyek EPC pada saat tahap pengadaan dan konstruksi.

Bpk Habibie dan Bapak Renno

Kita berharap lebih banyak lagi professional di bidang ini memahami kontrak EPC dan mulai mengimplementasikan jenis kontrak ini baik sebagai project owner maupun sebagai kontraktor EPC.

 

 

 

Trip to Penang for CAFEO33, 23 – 25 November 2015

Tanggal 23 November 2015 GA 816 dari Jakarta bertolak ke Kuala Lumpur berisikan 2 professional dari Indonesia untuk menghadiri Konferensi Insinyur se-Asia Tenggara atau biasa juga dikenal Conference of ASEAN Federation of Engineering Organizations yang ke-33 (CAFEO33) di Penang, Malaysia. Perjalanan selama lebih dari dua jam menuju Kuala Lumpur, transit di KLIA selama kurang lebih lima jam kemudian dilanjutkan lagi ke salah satu kota industri di Malaysia, Kota Penang, a Free Trade Zone city berbasis industri electronic dan electrical.

1a-with Fam Yew Hin

Kami, Dr. Ir. Muhammad Rusman Ketua PII Cabang Makassar dan saya sendiri, Ir. Habibie Razak PII Pusat bertemu dengan salah seorang pengurus BK Mesin Persatuan Insinyur Malaysia (IEM), Ir. Fam Yew Hin yang justru akan berangkat ke Jakarta untuk keperluan business perusahaannya. Ir. Fam adalah sosok Insinyur Malaysia yang juga aktif mengembangkan organisasinya dan juga hampir setiap tahunnya menghadiri konferensi Insinyur se-Asia Tenggara ini. Karena satu hal yang sungguh urgent bertepatan dengan kunjungannya ke Jakarta akhirnya dia memutuskan kali ini  untuk tidak berpartisipasi di event ini.

2-Habibie photo first day - Copy

Penerbangan MH1194 berangkat Pukul 23.45  dan tiba di Penang sekitar Pukul 00.45. Kami berangkat menuju Hotel Jen yang lokasinya di downtown tepatnya George Town. Setelah seharian perjalanan kami pun terlelap sampai pagi dan kemudian harus bersiap-siap lagi untuk sarapan dan berangkat menuju lokasi konferensi di Hotel Equatorial, 20-30 menit menggunakan taksi.

4-CAFEO33 DelegatesPembukaan CAFEO33 pada Hari Selasa, Tanggal 24 November 2015 dihadiri oleh perwakilan Institusi Keinsinyuran lingkup Negara-Negara ASEAN sangat meriah mengundang tepuk tangan kagum dari para peserta hingga acara pembukaan selesai dibuka. Sesi siang setelah makan siang dilanjutkan dengan country report oleh masing-masing Engineering Institution dan tak kalah kami dari delegasi Indonesia diwakili oleh President PII, Bapak Ir. Bobby Gofur Umar, MBA., IPU. Delegasi dari Indonesia kali ini berjumlah lebih dari 30 orang dari unsur pusat, badan kejuruan, wilayah dan cabang seluruh Indonesia.

3-CAFEO Opening CeremonyEvent hari pertama yang tidak kalah menarik dan meriahnya adalah technical paper sessions di mana para technical paper presenter mempresentasekan papernya diikuti oleh babakan Tanya Jawab. Ir. Rusman dan saya tidak ketinggalan moment ini dengan mengangkat mic dan melempar pertanyaan kepada paper presenter di ruangan tempat sesi ini dilaksanakan. Total 4 ruangan yang digunakan terpisah selama 2 hari untuk keseluruhan sesi ini.

5-Technical Paper Session Part1Wakil dari Indonesia, Rahmat Mualim membawakan topik tentang Green Mining Reclamation Strategy dan Syaifful Amri, Oktaviani Yohan dan tim membawakan presentase tentang penggunaan natural zeolite dalam hal remediasi tanah akibat limbah mercury dari pengolahan tambang emas. Mereka berhasil menampilkan bahan presentase yang sungguh memukau para peserta technical paper session ini, they were doing excellent presentations, indeed.

7-Rusman Technical Paper SessionCAFEO ke-33 kali ini tidak jauh berbeda dengan CAFEO sebelumnya dari sisi kesamaan para delegasi yang hadir. Ir. Yau Chau Fong, delegasi dari the Institution of Engineers, Malaysia (IEM) adalah professional yang sangat aktif mengikuti event ini juga ikut hadir. Delegasi dari Philipina antara lain Trese Bustamant, Paquito Mirasol dan tim ikut hadir pula. Kami pun menyempatkan berpose bersama dengan engineer Malaysia dan Philipina ini.

9-With Trese & Chau Fong

6-Technical Paper Session Part2Suasana sore dan malam hari di kota Penang tidak luput dari observasi di mana kami menyempatkan menyusuri lorong demi lorong George Town. Kami menyempatkan berfoto pada beberapa street paints di antaranya lukisan motor dan sepeda yang dikendarai anak-anak. Sepertinya inilah street paints yang terkenal ini.

10-Rahmat Presentation Kami juga pastinya menyempatkan ke Jalan Batu Ferringgi di mana Hard Rock Hotel & Café berada. Kami pun membeli Hard RockT-Shirt bertuliskan Penang menandakan kami pernah berada di kota ini. Baik Rusman maupun saya adalah penggemar berat dari Hard Rock dan satu decade ini sudah mengumpulkan puluhan t-shirt dan accessories lainnya.

11-George TownHari kedua, Rabu, 25 November 2015 di konferensi ini, kami menyempatkan berinteraksi dengan teman-teman Insinyur Malaysia dan Brunei selama sesi makan siang yang sampai akhirnya kami pun harus pamitan dulu kepada mereka dikarenakan harus ke bandara mengejar jadwal penerbangan MH1149 siang dari Penang menuju Kuala Lumpur.

 

12-Bicycle paintDua jam transit di Kuala Lumpur International Airport kami pun bertolak kembali menuju Jakarta dengan Penerbangan GA 817 yang menghabiskan waktu sekitar 2.5 jam perjalanan. Walaupun kunjungan kali ini sangat singkat namun tetap memberikan kenangan tersendiri akan keindahan dan keunikan Kota Penang nan jauh di sana.

12a-Hard Rock Cafe

13-Lunch second day

15a-In front Garuda KL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengenalan Sertifikasi ASEAN Engineer (AE) dan ASEAN Chartered Professional Engineer (ACPE) pada Program Pembinaan Profesi Insinyur (P3I) di Makassar, 21-22 November 2015

Hari Sabtu dan Minggu, 21 dan 22 November 2015 Pengurus PII Cabang Makassar kembali menggelar Program Pembinaan Profesi Insinyur (P3I) di Ruang Daisy, Hotel Clarion Makassar. Peserta kali ini berjumlah lebih dari 30 orang dihadiri oleh para professional di bidang Keinsinyuran baik terkait dengan instansi Dinas Pekerjaan Umum maupun yang bergerak di sektor Swasta.

Photo-1Bapak Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT., IPM menyampaikan bahwa ini adalah kegiatan P3I terakhir di tahun ini sambil menunggu Peraturan Pemerintah tentang profesi Keinsinyuran dikeluarkan tahun depan. Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa dengan adanya PP yang baru calon Insinyur akan dikenakan kewajiban melakukan berbagai jenis kegiatan termasuk di dalamnya aktifitas perkuliahan dengan jumlah 16 SKS. “Pihak perumus sementara menggodok PP ini dan insya Allah ada optimisme untuk segera mengesahkan dan menerbitkannya awal tahun depan” kata Bapak Ir. Rudianto Handojo, salah seorang tim perumus Peraturan Pemerintah ini.

Photo-2

Habibie Razak pada kegiatan kali ini diminta oleh Bapak Ir. Taufik Nur, MT., IPM, Sekretaris PII Cabang Makassar mendeliver materi “Sertifikasi ASEAN Engineer dan ASEAN Chartered Professional Engineer”. Dua sertifikasi ini adalah produk dari Mutual Recognition Agreement (MRA) di tingkat ASEAN yang salah satu fungsinya adalah memberikan mobilitas kepada para Insinyur di negara ASEAN untuk bisa bekerja di negara tetangga dengan mendapatkan pengakuan berupa kesamaan standarisasi kompensasi dan benefit. Sertifikasi ACPE adalah setingkat lebih tinggi daripada ASEAN Engineer. Menurut ACPE-Coordinating Committee, mereka para ACPEs sudah bisa memimpin tim proyek lintas negara ASEAN baik sebagai Project Manager bahkan sampai level Project Director.

Razak juga di dalam presentasinya memaparkan tentang pentingnya para Insinyur Indonesia mempersiapkan diri menghadapi liberalisasi keinsinyuran ini termasuk upaya-upaya yang harus dilakukan oleh Pemerintah di dalam mempersiapkannya antara lain:

  1. Menambah Jumlah Perguruan Tinggi berbasis Keteknikan seperti Institut Teknologi. Arah Pembangunan lebih besar ke Timur Indonesia. Institut Teknologi Gowa harus segera terbentuk di Sulawesi Selatan sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas para Sarjana Teknik dan Insinyur di Kawasan Indonesia Timur.
  2. Sosialisasi UU No. 11 Tahun 2014 tentang Profesi Keinsinyuran
  3. Kebijakan pemerintah untuk tidak berorientasi pada penjualan hasil mentah atas sumber daya alam yang diperoleh dari bumi Indonesia dengan tujuan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih besar bagi sarjana teknik.
  4. Perlu adanya insentif dari pemerintah kepada profesi insinyur yang telah memperoleh sertifikat ASEAN. Sebab jika tidak ada penghargaan lebih atau insentif dari pemerintah, maka dorongan bagi insinyur untuk mengambil sertifikasi ASEAN tidak akan terwujud.

Photo-4

Syarat-syarat sertifikasi ACPE bisa dilihat langsung di website www.acpecc.net sedangkan syarat registrasi AE ada di website www.afeo.org atau di http://pii.or.id/pii-files/AER.pdf

Razak juga menyampaikan kesekian kalinya pada event sejenis bahwa Undang-undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran ini kemudian meredifinisi istilah insinyur di mana Insinyur menurut Wikipedia adalah Insinyur adalah orang yang bekerja dalam bidang teknik, yang berbekal pengetahuan ilmiah untuk menyelesaikan masalah praktis dengan menggunakan teknologi.

Photo-5

Insinyur menurut PII adalah Insinyur adalah orang yang melakukan rekayasa teknik dengan menggunakan ilmu pengetahuan untuk meningkatkan nilai tambah atau daya guna atau pelestarian demi kesejahteraan umat manusia. Pembicara menekankan bahwa Insinyur seharusnya memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan umat manusia serta pelestarian lingkungan, Insinyur tidak harus lulusan sarjana teknik tetapi mereka yang bisa menciptakan nilai tambah dari inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Photo-3

Bravo Insinyur Indonesia, Salam Insinyur Profesional.

IKA Unhas Audiensi dengan Dirjen Migas, 22 Oktober 2015

Hari Kamis Tanggal 22 Oktober 2015, Pengurus Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA UNHAS) yang dimotori oleh Bapak Ir. Andi Razak Wawo yang merupakan Ketua IKA Unhas Korwil Jabodetabek didampingi oleh Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Ir. Habibie Razak, Ir. Aminuddin Akil (bidang ESDM) dan Direktur Eksekutif,  S. Alam berkunjung ke ruang kerja Dirjen Migas Bapak Ir. Wiratmaja Puja guna membicarakan peluang dan tantangan pengembangan sektor minyak dan gas di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

 

IMG-20151022-WA0025

 

 

 

 

 

 

 

IMG20151022175605

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan yang berlangsung singkat di mulai dari Pukul 05.15 sampai 06.00 sore melahirkan beberapa points of discussion antara lain:

  1. Bapak Wiratmaja menyampaikan bahwa membangun KTI harus dimulai dari sisi downstream yakni dengan melihat apa yang menjadi kebutuhan masyarakat dan kendala-kendala yang mereka hadapi saat ini.  Contohnya,  kendala yang dihadapi nelayan yang berada di pulau-pulau marginal di mana pada musim tertentu harga bahan bakar minyak seperti solar maupun bensin bisa mencapai Rp. 40,000 – 50,000/liter. Ini disebabkan karena tidak ada kontinuitas supply minyak di pulau-pulau marginal ini. Solusinya antara lain dengan membangun tempat penyimpanan bahan bakar dan memperbanyak stasiun depot BBM di pulau-pulau tadi sehingga keberlanjutan supply BBM terjaga.
  2. Bapak A. Razak Wawo mengharapkan Unhas sebagai Universitas terkemuka di KTI diberikan porsi yang lebih besar di dalam pengembangan sektor migas KTI. Selama ini kajian-kajian mengenai migas belum pernah sekali pun melibatkan Unhas. Bapak Dirjen menyampaikan Unhas dan alumni tetap bisa berpartisipasi untuk tender kajian-kajian Migas melalui mekanisme lelang secara online.
  3. Respon dari Bapak Wirat, panggilan mahasiswanya kepada Beliau, bahwa Beliau selama menjabat berkali-kali mengundang pihak Pemerintah Daerah di Kawasan Timur membahas tentang pengembangan sektor energi namun sepertinya mereka tidak melek. Hal ini mungkin karena kurangnya pengetahuan maupun wawasan Pemerintah Daerah akan pentingnya energi. Dirjen Migas meminta IKA Unhas turut serta di dalam memberikan pencerahan tentang arti pentingnya energi bagi pengembangan KTI.
  4. Kurangnya serapan anggaran Tahun 2015 yang nilainya hingga 3 Trilyun yang sebagian porsi anggaran diberikan untuk KTI. Alasan utamanya seperti disebutkan di point 3 di atas, ini karena kurang meleknya pihak Pemerintah di KTI akan pentingnya pemenuhan kebutuhan energi.
  5. Dirjen Migas mencanangkan pembangunan transmisi dan distribusi pipa baru dari induk pipa Donggi Senoro untuk kebutuhan city gas di daerah itu. Anggaran diharapkan dari APBN. Dengan adanya program ini akan merangsang pertumbuhan daerah itu dimulai dengan dibangunnya kawasan Industri dengan supply gas yang tersedia tadi.
  6. Sebagai salah satu upaya pengembangan Indonesia Timur khususnya sektor migas, Dirjen Migas akan melaksanakan program sosialisasi di sejumlah kampus di Indonesia Timur terkait dengan program dan kebijakan Migas. Bapak Wiratmaja Puja mengajak Alumni Unhas untuk berperan serta di dalam kegiatan ini dengan menjembatani pertemuan-pertemuan formal dengan pihak Unhas.
  7. Bapak A. Razak Wawo menyinggung adanya keinginan Unhas untuk segera mendirikan jurusan Perminyakan di Fakultas Teknik Unhas sebagai wujud keseriusan Unhas di dalam berkontribusi pada pengembangan sector migas KTI. Dirjen Migas mendukung upaya ini dan sekaligus meminta juga dibuatnya program studi yang berhubungan dengan pengembangan potensi-potensi yang ada di Indonesia Timur seperti potensi angin untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan gelombang di mana 2 potensi ini sangat perlu dikembangkan segera.

Diskusi selama kurang lebih 40 menit ini kemudian diikuti dengan foto bersama dengan Bapak Wirat. Habibie Razak di akhir diskusi sambil becanda menyampaikan bahwa ada mantan mahasiswa Beliau yang titip salam katanya dia dapat nilai A di mata kuliah Mechanical Engineering Design yang diajarkan oleh Beliau.

 

Kunjungan Pabrik Gasifikasi Batubara di China, 20 – 26 September 2015

Pagi itu, Hari Minggu Tanggal 20 September 2015 berangkat dari Fatmawati Jakarta Selatan menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Pesawat Cathay Pacific CX 718 yang menerbangkan kami bertolak Pukul 08.20 dan tiba di Hong Kong Pukul Pukul 15.00. Setelah transit kurang lebih 2 jam kami harus naik pesawat lagi menuju Beijing menempuh 3 jam perjalanan menggunakan maskapai penerbangan Dragon Air KA974, afiliasi dari Cathay Pacific Airlines.

IMG_20150921_133615Beijing International Airport menanti kedatangan tim kami dan setelah baggage clearing kami dengan menggunakan bis jemputan menuju Capital Airport Hotel yang lokasinya tidak begitu jauh dari Terminal kedatangan kami. Kessokan harinya, kami check-out dari hotel dan balik lagi menuju Terminal kedatangan internasional untuk menjemput rombongan Client yang menggunakan maskapai penerbangan berbeda dari Jakarta.

Kunjungan pertama adalah Pabrik Gasifikasi Batubara yang letaknya di Propinsi Jilin tepatnya di kota kecil yang bernama Changshan sekitar 2 jam perjalanan darat dari Ibukota Propinsi, Changchun. Siang hari kami dari tim konsultan berjumlah 3 orang dan dari Client kami terdiri dari 2 Direktur dan 2 Business Analyst tiba di Bandara Changchun dan kemudian melanjutkan perjalanan menuju South Lake Hotel, Changchun.

IMG20150920194015Setelah beristirahat sejenak kami bertemu dengan gasifier technology licensor dan formal meeting selama kurang lebih 2 jam di hotel meeting room. Diskusi sangat interaktif melihat Client kami banyak menanyakan concern-concern mereka baik yang sifatnya teknis maupun komersil. Sangat kelihatan bahwa Direktur dari salah satu perusahaan terkemuka ini memahami bisnis ini secara komprehensif.

Hari ketiga, Tanggal 22 September kami mengunjungi Pabrik Gasifikasi yang berlokasi di Changshan. Pabrik ini berdiri semenjak Tahun 1969 di mana end product yang dihasilkan adalah ammonia dan urea. Proyek ekspansi yang sekiranya startup bulan September kemarin akan menghasilkan total produksi ammonia 300,000 Ton/Tahun. Sekedar informasi, di China saat ini total 77 pabrik gasifikasi batubara dibangun dengan menggunakan teknologi mutakhir baik China maupun luar China. Semangat memonetisasi batubara kian tingginya di negara ini mengingat mereka juga memiliki lebih banyak cadangan batubara di dunia saat ini.

IMG_20150921_181917Setelah kurang lebih sejam di lokasi pabrik Changshan ini, kami balik ke South Lake Hotel beristirahat seenak dan dilanjutkan dengan dinner malam harinya di salah satu restoran di kota Changchun. Hidangan Chinese food bersama Client kami diiringi diskusi lepas dan candaan membuat kami semakin akrab.

Hari keempat, kedua direktur harus berangkat ke Changchun airport menuju Beijing dan flying back to Jakarta dengan pesawat tengah malam. Tim Client yang tersisa 2 orang dan 3 dari tim kami melanjutkan perjalanan menuju Yinchuan dengan menggunakan pesawat Air China CA1662 dan tiba di Yinchuan Airport sekitar Pukul 14.00 siang.

IMG_20150922_134438IMG_20150922_130057

 

 

 

 

 

 

 

Dari Yinchuan airport kami berangkat menuju Kempinsky Hotel sekitar sejam perjalanan dan checkin di sore hari menjelang malam. Dinner time Jam 7 malam memaksa kami untuk turun lagi ke lobby hotel dan bergegas menuju salah satu restoran yang menyajikan hotpot di kota Yinchuan ini.

Keesokan harinya kami checkout dan menuju salah satu hotel di mana salah seorang professional dari technology licensor gasifier terkenal dan sama sama menuju lokasi Pabrik Gasifikasi batubara yang berlokasi di Shenhua tepatnya di Kawasan Industri Ningdong. Kawasan ini memiliki area ratusan hektar ditempati oleh banyak perusahaan dan berbagai jenis industri. Pabrik yang kami kunjungi adalah pabrik gasifikasi batubara menjadi methanol dan polypropylene. Di kawasan ini juga sementara dibangun coal to liquid project menggunakan teknologi fischer tropsch yang dulunya sempat menjadi patent dari Shell company.

IMG_20150923_182110

Setelah beberapa jam di kawasan industri ini kami kemudian kembali ke hotel dari professional dari salah satu gasifier technology licensor dan dilanjutkan dengan makan siang dan gasification plant presentation yang baru baru kita kunjungi.

IMG_20150923_194201Sore harinya kami harus berangkat lagi ke Yinchuan airport dan bertolak menuju Beijing International Airport. Malam hari Pukul 20.00 kami menuju kota Beijing dan menginap di Traders Hotel salah satu hotel di area Jianguomen Road di mana kantor kami berlokasi.

Hari keenam, start di pagi hari kami menuju Tembok Raksasa China yang lokasinya sekitar 2 jam perjalanan dari kota Beijing. Di sana kami mendaki tembok raksasa atau bisa dikenal dengan The Great Wall yang panjang temboknya ternyata lebih dari 3000 km. Sudah pasti dong selama menanjak ke puncak great wall kami menyempatkan mengambil foto bersama maupun gaya selfie supaya memori tentang trip ini bisa direcord dan menjadi kesan yang tidak akan pernah terlupakan.

IMG_20150924_130252Setelah kunjungan tembok raksasa kami mengundang client ke kantor kami di Beijing dan mengajak mereka dinner sebelum akhirnya checkout dan balik menuju airport untuk pesawat tengah malam menuju Jakarta.

Hari ketujuh, Sabtu pagi kami pun akhirnya berangkat menuju Beijing airport dan bertolak menuju Jakarta dan sebelumnya transit di Hong Kong International Airport.

 

 

This was an amazing and exciting trip, indeed, combination between business and a bit of pleasure supaya jiwa dan raga ini tetap sehat dan relax selama trip.

IMG_20150925_111201

Bravo Indonesia, jayalah para professional Indonesia, sukses selalu Insinyur Indonesia….Amin.

 

IMG_20150925_183155