Author Archives: habibierazak

About habibierazak

Oil & Energy Professional, Project Manager, Vice Chairman of Professional Organization & Activists

Mengajar Cost Planning & K3L di KPP Diselenggarakan oleh PII Cabang Sukabumi, 19 September 2014

Jumat malam Tanggal 18 September 2014 Pukul 20.00 saya ditemani 2 junior kampus saya, Arno dan Madin berangkat menuju Sukabumi, tempat di mana diadakannnya Kursus Pembinanaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang Sukabumi. Ini adalah kali pertama KPP diadakan di Sukabumi sebagai followup baru terbentuknya Pengurus Cabang salah satu Kabupaten di Jawa Barat ini.

Menunggu Peserta

Perjalanan menempuh kurang lebih 4 jam kami akhirnya tiba dinihari di lokasi acara, Hotel Anugrah Jl Surya Kencana No. 38 Kota Sukabumi. Hotel diadakannya kegiatan ini adalah juga ternyata milik dari Pak Willy, ketua cabang, saya surprise ketika check-in ternyata Beliau juga sudah menyiapkan kamar buat kami.

Kursus Pembinaan Profesi kali ini, saya diberi tanggung jawab untuk membawakan 2 materi sekaligus pada Hari Sabtu, 19 September 2014 yaitu: Construction Cost Management dan K3L. Saya diberi waktu masing-masing 1.5 jam untuk kedua materi ini. Peserta yang hadir sekitar 25 orang dan kebanyakan dari mereka bergelut di dunia konstruksi bangunan seperti bangunan kantor dan hotel. Selain itu, beberapa dari mereka berasal dari dinas PU yang banyak mengurusi jalan dan jembatan. Saya lebih banyak memberikan beberapa studi kasus di mana cost planning sangat memegang peranan penting dalam mensukseskan proyek dan juga pengenalan tentang K3L di industri minyak, gas dan pertambangan sebagai bahan informasi mereka tentang betapa pentingnya K3L bagi profesional dan perusahaan yang bekerja di bidang tersebut.

KPPPII 200915

Saya melihat ada lack of knowledge dan experiences oleh para pengusaha konstruksi  dan juga konsultan jasa engineering di daerah ini dan sangat perlu dilakukan sesi khusus tentang cost management oleh PII selama 2 sampe 3 hari supaya mereka bisa lebih paham dan terlatih dengan perencanaan, estimasi dan pengontrolan biaya proyek. Mereka juga diharapkan bisa langsung menerapkannya dalam aktifitas proyek-proyek mereka supaya target proyek hubungannya dengan anggaran dan biaya bisa dicapai.

 

 

Foto bareng bung KumisPerjalanan kali ini cukup mengesankan buat saya, tanpa direncanakan alias tak terduga pada sabtu malam, teman saya di Inco Sorowako dulu Pak Firman Wahyudi juga baru tiba di Sukabumi dan walhasil kami menikmati obrolan warung kopi di warkop Mamih Ungu, Jl. Brawijaya No. 16 Sukabumi. Diskusi lepas selama hampir 2 jam mengingatkan saya nostalgia Sorowako di mana saya memulai karir sebagai engineer di sana dari Tahun 2003 sampai akhirnya resign pada pertengahan 2010.

 

Foto Bareng

 

 

 

 

 

 

 

Sabtu malam sehabis ngopi dengan Pak Firman kami diajak makan malam sama Pak Willy, Pak Yoseph dan kawan-kawan dari PII Pusat Jakarta. Di samping saya ada Pak Andi Taufan Marimba juga akan membawakan materi project management keesokan harinya.

Foto dinner bersama pengurus Sukabumi

 

Malam semakin larut, tak terasa Pukul 11.00 malam sesuai rencana kami harus balik lagi ke Jakarta. Perjalanan menempuh 2.5 jam dari Sukabumi ke Jakarta malam itu Honda CRV DD 313 IE melesat bagai bayangan menembus kegelapan malam ha ha ha sampe-sampe si Arno dan Madin susah tidur.

Diundang Membawakan Kuliah Umum Effective Career Planning for Students & Fresh Graduates oleh Himpunan Mahasiswa Geologi FT-UH

Hari Sabtu Tanggal 6 September 2014 saya kembali masuk kampus membawakan Kuliah Tamu  dan kali ini yang mengundang adalah Himpunan Mahasiswa Geologi (HMG) FT-UH. Kuliah Tamu ini bertemakan Perencanaan Karir Efektif bagi Mahasiswa dan Lulusan baru. Materinya hampir sama secara substansial dengan materi yang pernah dipresentasekan di depan mahasiswa Sipil FT-UH Desember tahun lalu. Namun diskusi yang dibangun selama kuliah adalah  mahasiswa Geologi setelah alumni nanti bakalan masuk ke perusahaan tambang nasional maupun multinasional seperti Freeport, Vale, KPC, Adaro dan beberapa perusahaan besar lainnya.

Spanduk

Sesi kuliah tamu ini juga dihadiri oleh Bapak Dr. Eng. Asri Jaya, Ketua Jurusan Mahasiswa Geologi FTUH dan pada sambutannya Beliau mengingatkan mahasiswa untuk lebih fokus pada kegiatan kemahasiswaan yang sifatnya pengembangan diri (personality) dan academic oriented. Beliau mengharapkan mahasiswa(i) yang menghadiri kuliah tamu ini bisa membuat CV yang menarik, berisi dan padat termasuk trik-trik wawancara yang tepat. Dengan adanya kegiatan kemahasiswan termasuk program Himpunan Mahasiswa geologi mahasiswa(i) bisa memasukkannya ke dalam CV sebagai klaim pengalaman organisasi dan pengalaman kerjanya. Magang dan kerja praktek juga diharapkan dilaksanakan dengan baik dan diklaim sebagai pengalaman berharga mahasiswa untuk masa depan mereka.

Penyerahan Plakat

 

 

Pada kesempatan kali ini, saya kembali menitikberatkan pada pentingnya memahami perencanaan karir dari awal untuk bisa meraih cita-cita atau aspirasi karir mahasiswa dan fresh graduates. Langkah-langkah kunci perencanaan karir sebagai berikut:

 

 

 

 

1. Create your Career Goal or Career Planning. Career planning contains tasks that students should achieve before completion of their college studies. This is consisting: —What’s your present status, —your career ambition, —Personal development plan.

2. Review your: —Attitudes/Behaviors (interpersonal skills related), —Abilities(Professional abilities, Aptitudes), —Experiences, —Education and professional training

3. Identify your values. —Values: Principles, standards, or qualities, that you consider desirable.

4. Consider costs, benefits, and lifestyle trade-offs.

5. Align yourself with tomorrow’s employment trends.

6. Take advantage of networking.  Professional Networking: Making and using contacts with individuals, groups, and other firms to exchange career information.

7. Target preferred employers.  Preferred Employer: Employers that would suit you best.

Plakat

 

Pada slides selanjutnya, saya juga memaparkan tentang effective employment search strategies and application preparation antara lain:

a. Assemble a resume.  Resume or usually called CV consist of but not limited to: —Personal strength such as able to work both as individual and teamwork, specialized in foundation engineering, problem solver, etc., —Professional experiences, Organizational experiences, —Training, workshop &seminars attendance, —Oral presentation, —Languages capabilities, —Technical papers & articles, —References.

b. Identify job opportunities, such as: —Career Fairs, —Classified Advertisements, —Employment Agencies, —The Internet.

c. Write an effective cover letter.  Cover Letter: Letter of introduction sent to a prospective employer to get an interview.

d. Obtain strong reference letters.

e. Apply!

 

 

 

Presentase yang kemudian dilanjutkan dengan babakan tanya jawab berlangsung lebih dari 2.5 Jam dan pada sesi terakhir ditutup dengan penyerahan plakat oleh Ketua Himpunan Mahasiswa Geologi. Di HMG sebutan ketua Himpunan adalah Jenderal Geologi yang terpilih melalui mekanisme pemilihan langsung oleh Anggota Himpunan Mahasiswa Geologi.

Foto Bersama HMG

 

Apabila ada pertanyaan atau komentar bisa menghubungi saya melalui email: habibie.razak@gmail.com

Sukses selalu buat semua.

 

 

 

Faktor-faktor yang Dipertimbangkan pada Studi Kelayakan Gasifikasi Batubara Menjadi Ammonia dan Urea

Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia setelah Australia. Batu bara dengan jumlah berlimpah tersebar di pulau-pulau besar seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Deposit batubara Indonesia lebih dari 21 Miliar Ton (2011; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Total sumber daya batubara di Indonesia sebesar 105 Milyar Ton (2011; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral). Diperkirakan lebih dari 50% dari deposit batubaradi Indonesia adalah batubara berkalori rendah.

Sebagian besar batubara yang diekspor, berkalori menengah dan tinggi, digunakan untuk memproduksi baja dan sebagai bahan pembangkit listrik. Nilai kalor (CV) lebih dari 4.500 kkal / kg dengan kadar air lebih dari 30%. Seperti disebutkan di atas, jenis batubara lainnya adalah batubara berkalori rendah yang disebut lignit. Karena batubara kalori rendah ini tidak ekonomis untuk diekspor, sekarang ini, dimanfaatkanuntuk kepentingan dalam negeri. Solusi untuk memanfaatkan batubara berkalori rendah ini adalah dengan melakukan gasifikasi batubara.

Salah satu program pemerintah melalui Pupuk Indonesia, salah satu BUMN, adalah upaya memanfaatkan batubara sebagai bahan baku untuk memproduksi Amonia dan Urea. Saat ini, di Indonesia, harga gas alam lebih dari 10 Dolar / MMBTU dan pasokannya cenderung berkurang dalam jangka pendek karena penurunan kapasitas lifting minyak dan gas di Indonesia. Sekarang, BUMN ini mulai melakukan beberapa Studi Kelayakan Gasifikasi Batubara untuk Amoniak & Urea.

Ada beberapa faktor penting yang harus diperhitungkan sebagai bagian dari laporan Kelayakan Study terutama untuk proyek gasifikasi batubara untuk amonia dan urea, seperti basis desain proyek, pemilihan teknologi gasifier, konversi syngas dan pengelolaan gas, amonia & urea. Penelitian ini juga termasuk studi pasar amonia & urea, lokasi pabrik, evaluasi pendanaan proyek, perencanaan awal pelaksanaan proyek EPC, evaluasi produk transportasi dan beberapa faktor lain:

1. Basis Desain Proyek

Basis desain proyek untuk Studi Kelayakan mempertimbangkan beberapa hal antara lain:

  1. Kapasitas Pabrik (jumlah batubara atau produk ammonia dan urea)
  2. Mendesain analisis feedstock batubara, ukuran yang dikirim dari lokasi tambang, dan lokasi transfer.
  3. Peta survey batas lokasi termasuk jalan dan rute akses rel
  4. Mendesain analisis supply air dan hambatan-hambatan supply lainnya
  5. Spesifikasi produk ammonia dan urea
  6. Diagram alir blok.

 2.   Evaluasi Lisensor-Lisensor Teknologi Proses dan Supplier-supplier Boiler Batubara

Studi juga akan membuat perbandingan antara teknologi gasifikasi batubara dengan membandingkan antara keunggulan entrained flow dibandingkan dengan tipe fluidized bed dan fixed bed.

Evaluasi teknologi proses gasifikasi berdasarkan performa, biaya (capital, operasi, dan lisensi), pengalaman, dan karakteristik kontraknya (seperti kontraktor-kontraktor EPC yang qualified, supply peralatan).

  1. Shell
  2. Siemens
  3. Uhde

Evaluasi teknologi juga akan meliputi:

  1. Kehandalan pengoperasian dan pemeliharaan
  2. Pengalaman komersial dalam kurun waktu 15 tahun ini
  3. Kelayakan ekonomi terhadap produksi ammonia/urea.

 

Hal yang sama juga akan dilakukan pada evaluasi teknologi ammonia yang terdiri dari beberapa lisensor antara lain KBR, Topsoe dan Uhde. Evaluasi teknologi urea juga setidaknya mempertimbangkan beberapa lisensor seperti Toyo, Snamprogetti dan Stamicarbon.

 

Selain itu studi kelayakan juga diharapkan akan mengevaluasi supplier paket boiler batubara secara komersil berdasarkan performa, biaya (capital dan operasi), pengalaman, lingkup pekerjaan, dan akan memasukkan pengalaman Pemilik Proyek, Evaluasi Teknologi Penyiapan Batubara dan Suppliernya, Evaluasi Teknologi Unit Pemisahan Udara dan Suppliernya (Linde, Air Liquide, Air Products), Evaluasi Teknologi Pembersihan dan Pengkondisian Gas dan Suppliernya (Linde, Lurgi) , Evaluasi Treatment yang Optimum dan Penggunaan produk samping dan Limbah/Buangan, Evaluasi Supplier-supplier Utilitas,

 

3. Evaluasi Lokasi Pabrik

Evaluasi lokasi pabrik yang ditawarkan dan menyarankan kepada Pemilik Proyek lokasi alternatif yang akan mengurangi biaya proyek termasuk pengetesan tanah dan membuat penentuan dasar pada tipe pondasi dan pengaturan lokasi, Pihak konsultan FS akan menggunakan peta topografi yang disediakan oleh Pemilik Proyek untuk mengembangkan denah pabrik. Data lokasi yang ada seperti arah angin dan kecepatannya, temperature ambient wet bulb dan dry bulb juga akan disediakan oleh Pemilik Proyek.

 

4. Studi Transportasi Pengiriman Peralatan dan Material

Studi kelayakan juga menentukan bagaimana equipment dan material dapat ditransportasi ke lokasi proyek dan batas ukuran dan beratnya. Jalan raya dan jalan rel ke lokasi proyek akan dievaluasi berdasarkan pada pelabuhan yang paling ekonomis untuk pengiriman dari luar negeri.

 

5. Studi Transportasi Produk

Opsi transportasi produk seperti truk dan rel produk ammonia dan urea berdasarkan pengiriman pada terminal pupuk yang ada yang dimiliki oleh pemilik proyek.

 

6. Rencana Awal Eksekusi Proyek dan Jadwalnya

Rencana eksekusi proyek akan memasukkan strategi kontrak EPC. Jadwal proyek akan memasukkan aktifitas mulai dari studi kelayakan sampai pada operasi awal pabrik termasuk proses negosiasi lisensi teknologi, kontrak paket desain proses lisensor, seleksi kontraktor EPC, FEED, negosiasi kontraktor EPC, sampai pada penutupan keuangan.

7. Estimasi Biaya EPC

Basis estimasi biaya proyek EPC yang akan digunakan antara lain:

  1. Pengaturan lokasi
  2. Daftar equipment yang sudah memiliki ukuran
  3. Jadwal dan rencana eksekusi proyek

Estimasi biaya EPC pabrik akan menggunakan data yang diterima dari penawaran-penawaran dan sumber-sumber internal konsultan FS termasuk proyek-proyek saat ini. Estimasi akan dipecah menjadi area pabrik besar dan paket peralatan, material, konstruksi, sipil, engineering dan harga lisensi/pihak ketiga. Biaya total peralatan dan jam kerja konstruksi juga akan didaftarkan untuk setiap area pabrik besar. Harga-harga supplier untuk peralatan/paket akan disediakan selain harga peralatan yang sifatnya bebas.

Akurasi estimasi biaya EPC untuk FS adalah di kisaran +/-25% dan berada pada batas +/-30%.

 

8. Estimasi biaya Proyek Pemilik

Biaya estimasi proyekPemilik terdiri dari biaya pengembangan proyek termasuk lisensi proses, engineering awal sebelum kontrak EPC, perijinan, dan cadangan Pemilik.

9. Biaya Material Massal Pemilik

Jumlah dan biaya isian pertama dan inventori katalis-katalis, bahan Kimia, dan konsumebel akan diestimasi. Spare part utama akan didaftar dan ada cadangan biaya yang diestimasi berdasarkan pengalaman industri. Laboratorium dan peralatan pemeliharaan pabril akan didaftar dan cadangan biaya diestimasi berdasarkan pengalaman industri. Isian awal dan biaya-biaya inventori akan dimasukkan pada estimasi biaya proyek Pemilik.

10. Fee Royalti dan Lisensi Pemilik

Fee royalty dan lisensi akan dikumpulkan dari proposal lisensor proses untuk teknologi proses terpilih dan dimasukkan ke dalam estimasi biaya proyek Pemilik.

 11. Biaya Pemeliharaan dan Pengoperasian Pabrik oleh Pemilik

Staff pabrik dan biaya tetap tahunan dan biaya pengoperasian tidak tetap akan diestimasi awal berdasarkan pada pengalaman industry dan jadwal rencana pemeliharaan dasar yang akan menggambarkan frekuensi shutdown, durasi, dan kerja pabrik yang dilakukan. Estimasi-estimasi ini akan dikaji dengan Pemilik dan kemudian direvisi untuk merefleksikan filosofi dan pengalaman Pemilik.

 

12. Kajian Pasar

Kajian pasar akan memperkirakan harga ammonia dan urea untuk periode operasi pabrik selama 25 Tahun berdasarkan proyeksi harga gas alam.

 

13. Evaluasi Pendanaan

Evaluasi ini mencakup mengevaluasi sumber konvensional dan alternatif untuk investasi proyek di dalam dan luar negeri. Sumber ini dikategorikan oleh ketertarikan mereka pada investasi perpupukan dan energi, ukuran investasi yang biasanya mereka lakukan, dan harapan mereka terhadap term dan kondisi termasuk lama utang dan biaya-biaya terkait. Sebuah laporan akan disiapkan mempresentasekan hasil-hasil evaluasi dan suatu rencana untuk mendapatkan pendanaan proyek.

 

14. Model Keekonomian

Konsultan FS juga diharapkan akan membuat model keekonomian dalam kertas Excel untuk proyek berdasarkan pada:

  1. Harga batubara lebih dari periode 25 Tahun yang disiapkan oleh Pemilik
  2. Harga Amonia dan Urea selama lebih dari periode 25 Tahun
  3. Estimasi biaya capital dan biaya-biaya pendanaan proyek dibuat oleh Konsultan FS berdasarkan kemampuan dan pengalaman Konsultan FS dan input dari Pemilik
  4. Estimasi biaya pemeliharaan dan pengoperasian yang dibuat oleh Konsultan FS berdasarkan pada kemampuan dan pengalaman mereka dan input dari Pemilik
  5. Tingkat eskalasi dari Konsultan FS berdasarkan input dari Pemilik Proyek.
  6. Tingkat pajak dan biaya administratif dan umum yang secara bersama-sama dibuat oleh Konsultan dan Pemilik.

Model akan menghitung NPV, Periode Pengembalian dan IRR melewati periode 25 Tahun mulai dengan award kontrak EPC.

15. Faktor-faktor Resiko Proyek

Konsultan FS akan membuat dan meranking sebuah daftar resiko proyek antara lain:

  1. Resiko-resiko bisnis
  2. Resiko pengoperasian
  3. Resiko regulasi
  4. Resiko lingkungan

 

Penulis kajian ini adalah salah seorang profesional kontraktor teknik dan EPC yang telah melakukan penilaian kelayakan untuk gasifikasi, pengolahan dan produksi syngas dan bahan bakar sintetis. Penulis juga membantu memilih teknologi terbaik untuk kebutuhan khusus, termasuk produk amonia dan urea. Selain itu juga melakukan analisis ekonomi dan evaluasi pendanaan proyek sebagai bagian dari studi kelayakan. Setelah pemilihan teknologi, perusahaan tempat Penulis menyediakan rekayasa yang tepat. Perusahan Penulis telah melakukan penelitian, penilaian dan proyek EPC untuk gasifikasi lebih dari 30 klien. Pengalaman ini meliputi teknologi gasifikasi di permukaan dan bawah tanah. Dalam semua kasus, Penulis mendengarkan dulu kemudian menyelaraskan solusi teknologi terbaik yang cocok dengan kebutuhan bisnis.

The Key Factors Considered on Development of Feasibility Study for Coal Gasification to Ammonia & Urea Project (An Abstract)

By Habibie Razak, P.Eng., ASEAN Eng*

Abstract**

Indonesia is the second largest coal exporter in the world after Australia. Coal is abundant spreading over major islands such as Sumatera, Kalimantan, Sulawesi and Papua. Indonesian coal deposit is more than 21 Billion Ton (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). Total coal resources is 105,187.44 Tons throughout Indonesia (2011; Ministry of Energy and Mineral Resources). It is estimated over 50% of total coal deposit are categorized as low-rank coal.

Most of exported coals are used for steel manufacturing and power plant fuel and these are categorized as high and medium rank coals. The calorific value (CV) is more than 4500 kcal/kg and the water content is less than 30%. As mentioned above, other coal types are low rank coal called lignite. Since this low rank coal is not economical for exports due to the low CV and high water content, this is now emphasized by Indonesian government to be utilized locally. The solution for utilizing this low rank coal is coal gasification.

One of the government programs through Indonesian Fertilizer State-Owned Holding Company is trying to utilize the coal as the raw material to produce Ammonia & Urea. Currently, in Indonesia, price of natural gas from the well is over 10 Dollars/MMBTU and tend to be in short supply in the near future due to the decrease of oil and gas lifting capacity in Indonesia. Now, they start doing several Feasibility Studies on Coal Gasification to Ammonia & Urea.

There are several key factors shall be taken into account as part of Feasibility Study report especially for coal gasification to ammonia and urea project such as the technology selection of gasifier, syngas conversion and gas treating, ammonia & urea. The study shall also include market study of ammonia & urea, plant location, project funding evaluation, preliminary EPC project execution plan, products transportation evaluation and other several factors.

Black & Veatch, an engineering and EPC Contractor, has been performing feasibility assessments for gasification, syngas processing and synthetic fuels production. We help select the best technology for specific feed and product requirements including ammonia and urea product. We also perform economic analysis and project funding evaluation as part of feasibility study. Following technology selection, we provide seamless engineering. We’ve performed studies, assessments and EPC for more than 30 gasification clients. Our experience includes above-ground and underground gasification technologies. In all cases, we listen first. Then we align best-fit technology solutions that match the business need.

Key words: coal gasification, low rank coal, syngas, entrained-flow, feasibility study, engineering, EPC, and gasification technology.

*The author is currently working on one of Feasibility Studies in Indonesia for Coal Gasification to Ammonia & Urea. He is a Project Manager licensed as Professional Engineer by the Institution of Engineers, Indonesia (PII).

**This abstract is being developed to technical paper and will be presented in front of Conference of ASEAN Engineers (CAFEO32) in Yangon, Myanmar, 12th of November 2014.

 

Pembicara Construction Cost Management, KPP PII di Makassar, 8 Juni 2014

Hari Minggu, 8 Juni 2014 saya memenuhi undangan Pengurus PII Cabang Makassar Bapak Dr. Ir. Muhammad Rusman, MT membawakan materi Construction Cost Management di acara Kursus Pembinaan Profesi (KPP) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di Hotel Clarion Makassar. Peserta dihadiri lebih dari 40 calon Insinyur yang bekerja di dinas Pekerjaan Umum, Kontraktor Lokal dan beberapa perusahaan tambang, minyak dan gas di seputaran Sulawesi. Acara ini dilaksanakan selama 2 hari , Tanggal 8 – 9 Juni 2014.

(3) SLIDE PERTAMA

Seperti biasa saya diminta membawakan materi yang memang saya selalu presentasekan di KPP sebelumnya. Pengurus PII Pusat juga sering meminta untuk membawakan materi ini di Jakarta menggantikan Bapak Ir. Asiyanto, MBA., IPU mengingat materi cost planning/construction cost management ini membutuhkan pengalaman dan pendalaman lebih dalam dari Pembicara yang akan menyajikan.

Alhamdulillah, saya adalah dari sedikit orang yang bisa mendeliver materi ini dengan enteng karena materi ini sangat berhubungan dengan aktifitas sehari-hari saya sebagai project manager pada sebuah multionational engineering and EPC contractor. Saya juga pernah mengikuti beberapa training yang berhubungan dengan cost engineering yang meliputi 2 bagian besar yakni: cost estimating and cost control.

(2) DEPAN SAMPING

Slide pertama saya diawali dengan definisi proyek adalah suatu kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan sasaran tertentu, yang dalam prosesnya dibatasi oleh waktu dan sumberdaya yang diperlukan dan persyaratan-persyaratan tertentu lainnya. Proyek konstruksi, hasil fisiknya, berupa: bangunan gedung, Jembatan, Jalan, Bendungan, Kilang LNG dan Pabrik Gasifikasi Batubara.

Slide selanjutnya memberikan pemaparan tentang latar belakang pada saat cost engineering belum berkembang perhitungan biaya konstruksi selalu mengalami penyimpangan yang cukup besar. Contohnya pada saat pembangunan torowongan “Great Bore “di Massachussets pada kurun waktu tahun 1851 – 1875. Penggunaan peralatan terowongan yang pertama kali, dibuatoleh John Wilson ( thn 1856). Rencana biaya awalnya sebesar USD 3,88 juta, dan realisasinya membengkak menjadi USD 17,30 juta. Hal inilah kemudian melatar belakangi berdirinya the American Association of Cost Engineer (AACE).

(1) DEPAN DEKAT

Menurut AACE ( American Asociation of Cost Engineer ), Cost Engineering adalah suatu bidang engineering, yang meliputi penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan teknik, dengan menggunakan pengalaman dan pertimbangan engineering dalam masalah estimasi biaya, pengendalian biaya dan ekonomi teknik.

Hadir pada acara ini Ketua PII Wilayah Sulawesi Selatan Prof. Dr. Ir. H. M. Saleh Pallu, M.Eng., IPM yang juga kebagian materi Etika Profesi Insinyur Indonesia. Rombongan PII Pusat dari Jakarta dipimpin Ketua Umum PII Bapak Ir. Bobby Gafur Umar, MM., IPM menutup acara sekaligus melantik anggota PII dan Insinyur-insinyur baru.

(4) PENYERAHAN PLAKAT(5) PROF SALEH

 

 

Kembali Menjadi Pemateri Cost Planning pada Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia, 21 May 2014

Kursus Pembinaan Profesi Persatuan Insinyur Indonesia (KPP PII) yang diadakan pada Hari Selasa, Rabu dan Kamis bertepatan 20, 21 dan 22 Mei 2014 di Menara Kadin Kuningan kembali memberi pengalaman bermakna khususnya buat diriku. Hari Selasa seharian penuh saya diberi amanah menjadi moderator dan pada hari kedua diminta menjadi pemateri menggantikan salah satu pemateri senior untuk topik Cost Planning pada Proyek-Proyek Konstruksi.

Front viewSejujurnya materi Cost Planning ini cukup berat untuk disajikan karena bidang cost engineering ini adalah salah satu disiplin ilmu engineering yang spesifik dan tidak banyak yang bergelut di bidang ini. Pemateri yang sekiranya direncanakan mengisi materi ini berhalangan hadir karena ada acara keluar kota dan beberapa hari sebelumnya pihak panitia KPP tidak mendapatkan pemateri pengganti. Pucuk di cinta ulam pun tiba mereka akhirnya meminta saya untuk menyajikan materi ini karena dianggap bisa menggantikan pemateri senior PII dan melihat latar belakang saya sebagai manajer proyek di beberapa proyek besar minyak dan gas yang tentunya ada aspek biaya yang sudah menjadi sarapan sehari-hari saya di proyek.

Definisi Cost Engineering menurut AACE ( American Asociation of Cost Engineer ) adalah “suatu bidang engineering, yang meliputi penerapan prinsip-prinsip ilmiah dan teknik, dengan menggunakan pengalaman dan pertimbangan engineering dalam masalah estimasi biaya, pengendalian biaya dan ekonomi teknik“

Q&A SessionPada saat cost engineering belum berkembang perhitungan biaya konstruksi selalu mengalami penyimpangan yang cukup besar, salah satu contoh adalah pembangunan torowongan “Great Bore“ di Massachussets pada kurun waktu Tahun 1851 – 1875. Penggunaan peralatan terowongan yang pertama kali dibuat oleh John Wilson ( thn 1856). Rencana biaya awalnya sebesar USD 3,88 juta, realisasinya membengkak menjadi USD 17,30 juta. Merespon semua kondisi yang terjadi pada perencanaan dan pelaksanaan proyek maka dibentuklah Asosiasi Cost Engineer th.1956 di USA, dengan nama “the American Association of Cost Engineer – AACE”.

Salah satu kunci di dalam menghasilkan proyek yang sukses baik dari segi biaya maupun schedule adalah dengan melakukan proses yang dinamakan pre-project planning. Pre-project planning adalah suatu proses yang dilakukan oleh project owner dimulai dari pre-FS, pre-FEED, sebelum melakukan proses FEED dan EPC. Ketika pre-project planning ini dilakukan dengan benar sesuai dengan data statistik dari CII hasilnya adalah biaya proyek bisa kurang 4% dari budget dan schedule pekerjaan bisa lebih cepat 13% dari schedule awal.

Sides View FarPeserta KPP PII kali ini berjumlah 30 calon Insinyur berasal dari beberapa perusahaan nasional dan multinasional seperti McConnel Dowell,  Holcim, Krakatau Engineering dan lainnya. Mereka sangat antusias dengan materi Cost Planning ini karena di awal materi Pembicara sudah memberikan pesan positif kepada peserta untuk bisa memahami cost engineering ini dan apabila perlu menguasai bidang ilmu ini dan kemudian tersertifikasi sebagai Certified Cost Engineer (CCE).

Ini adalah kali ketiga saya membawakan materi Cost Planning setelah diundang oleh Pengurus PII Cabang Makassar di Tahun 2011 dan 2012 lalu. Saya tidak merasa canggung lagi membawakan materi karena apa yang diajarkan di kuliah ini juga saya selalu aplikasikan di dalam keseharian saya sebagai salah seorang Project Manager di sebuah perusahaan Engineering dan EPC Contractor yang berkantor pusat di Negeri Paman Sam yang jauh di sana.

 

Diundang PLN Unit Manajemen Konstruksi V Indonesia Timur Memberikan Kuliah LNG Project Management (8 Mei 2014)

Untuk kesekian kalinya, memenuhi undangan dari berbagai instansi negara maupun swasta dalam rangka knowledge sharing session tentang Teknologi LNG dan Manajemen Proyek EPC Minyak dan Gas. Peserta yang dihadiri oleh kurang lebih 40 professional dari unit 5 Manajemen Konstruksi yang bertanggung jawab terhadap wilayah Indonesia Timur meliputi Sulawesi, Maluku dan Papua.

Undangan ini diinisiasi oleh teman kuliah di Unhas, Bapak Ir. Sunandar Usman yang sekarang menjabat sebagai Asisten Manager Manajemen Konstruksi Unit 5 (UMK5) memberikan kesempatan selama 2 jam buat saya memperkenalkan teknologi paten LNG milik Black & Veatch, PRICO Single Mixed Refrigerant (SMR) Technology dan sekaligus memberikan pemaparan tentang strategi eksekusi model kontrak Engineering, Procurement and Construction (EPC) untuk proyek-proyek Oil & Gas di Indonesia maupun di dunia.

PLN1 PLN

 

 

Presentase saya ini sangat relevan dengan PLN di dalam usahanya mengurangi subsidi BBM pada pembangkit listrik mereka melalui program Mini LNG Projects Business Schemes di mana mereka menawarkan 2 skenario yaitu: Skenario pertama; PLN membeli gas di sisi sumur (hulu) dan kemudian bersama-sama dengan mitra bisnisnya membangun LNG plant, LNG transportation, LNG regasification facility dan infrastruktur pendukung lainnya memastikan gas terkirim ke pembangkit-pembangkit listrik mereka. Skenario kedua; PLN membeli dan menerima gas dari plant gate (sisi pembangkit listrik) yang artinya gas developer dan mitranya yang akan membangun LNG plant, LNG transportation, LNG regasification facility dan infrastruktur pendukung lainnya.

PLN2

 

Studi kasus yang saya angkat pada sesi kali ini adalah proyek EXMAR FLSRU – Floating, Liquefaction, Storaging, and Regasification Unit yang sementara ini dikonstruksi di Nantong Cina, Wison fabrication yard. Proyek ini melalui beberapa tahapan pengembangan dimulai dari Pre-FEED, FEED dan EPC stage. EXMAR project saat ini onschedule dan akan mulai beroperasi pada kuarter pertama Tahun 2015 dan sekaligus menjadi the World First Floating LNG Production Unit di dunia.

Saya memberikan sedikit banyak penjelasan mengapa proyek-proyek Oil & Gas mengharuskan melakukan FEED stage sebelum lanjut ke EPC. Menurut AACE INT. RP #18R-97 tentang estimate classification, fase Class 3 yang biasa disebut FEL-3 Phase atau FEED, output dari fase ini akan menghasilkan estimasi -10% to 20% (typical B&V estimate: +/- 10-15%). Mengapa bisa demikian akuratnya? Karena pada fase FEED project definition sudah lebih jelas sampai pada level 40% clarity, deliverables FEED itu sendiri antara lain: Block Flow Diagram (BFD), Plot Plans, Process Flow Diagram (PFD), Utility Flow Diagram (UFDs), Piping & Instrument Diagrams (P&IDs), Heat & Material Balances, Process Equipment List, Utility Equipment List, Electrical One-Line Drwawings, Specifications & Datasheets dan termasuk Equipment Arrangement Drawings. Output atau deliverables ini memberikan informasi yang mumpuni untuk mendevelop estimasi akurasi +/- 10 to 15% dan memberikan kenyamanan yang lebih luas bagi client untuk melakukan Final Investment Decision (FID) dan moving to EPC stage.

PLN3Diskusi mengenai manajemen proyek yang dijalankan teman-teman PLN UMK. Mereka bertanggung jawab melakukan supervisi di lapangan selama fase konstruksi dan melakukan program quality control sampai pada commissioning dan startup. Ada beberapa proyek yang dikerjakan EPC contractor dari China dan permasalahan yang dihadapi kerap kali adalah kontraktor China ini tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan standar dan spesifikasi internasional seperti ASME, ANSI, NEMA, IEC dan lainnya. Kebanyakan material dan equipment yang disupply juga di bawah standard internasional. Lessons learnt yang bisa dipetik adalah memastikan kontrak antara PLN dan kontraktornya memasukkan code, spesifikasi dan standard termasuk material dan equipment yang disupply dan juga bagaimana mereka melakukan pekerjaan konstruksi. Sebaiknya pada saat melakukan evaluasi penentuan pemenang, tidak hanya melihat harga termurah tetapi lebih fokus pada penilaian teknis sehingga kontraktor yang terpilih bisa menghasilkan kualitas pekerjaan sesuai dengan yang ditargetkan oleh PLN.

PLN4

 

Bahan pembelajaran buat semuanya adalah  proyek adalah suatu investasi jangka panjang, jangan hanya terfokus pada sisi capital expenditure saja tapi juga harus melihat berapa lama ekspektasi ROI, payback period dan IRRnya. Mungkin CAPEXnya agak tinggi tetapi Operational  Expenditurenya (OPEX) jauh lebih murah karena kehandalan equipment dan material yang terpasang sehingga memungkinkan sistem pembangkit listrik bisa beroperasi sepanjang tahun tanpa mengalami down time yang signifikan. Gas turbine dari GE atau Siemens mungkin bisa lebih mahal dari gas turbine merek lain karena merek seperti ini bisa beroperasi sampai 345 hari per tahun dibandingkan gas turbine yang sering sesak nafas dan batuk-batuk dan beroperasi kurang dari 250 hari per tahun. Sekarang mana yang lebih cepat periode pengembaliannya? Proforma economic analysis akan menjadi referensi untuk memilih system yang lebih robust dan reliable.

Dua jam berlalu dan tibalah saatnya mengakhiri tanya jawab dan presentase ini, Pak Rachman Tinri sebagai host dari knowledge sharing session kali ini menutup sesi ini diikuti oleh tepuk tangan dari para peserta.

 

 

Menjadi Pembicara, Panelis, Chairperson dan Moderator di LNG Asia Summit 2014 (24 & 25 April 2014)

Oleh: Habibie Razak, P. Eng – Project Manager & Seller Doer, Oil & Gas, Black & Veatch International Company

LNG Asia Summit 2014 kali ini diadakan di Swiss Belhotel Jl. Kartini Mangga Besar menyisakan kenangan yang tak pernah terlupakan di mana pada event ini saya diutus sebagai pembicara dan panelist diskusi oleh perusahaan saya dan sekaligus diminta menjadi Chairperson pada sesi pagi hari pertama dan menjadi moderator pada diskusi panel sesi pagi juga di hari pertama. Undangan menjadi chairperson dan moderator datang tak disangka-sangka minus satu hari H dari conference organizer meminta kesiapan saya hari esok. Apa daya saya memang orangnya suka menerima tantangan, ya sudahlah saya terima undangan itu dan melaksanakannya keesokan harinya.

???????????????????????????????

 

Acara ini berlangsung selama satu setengah hari di mana pada hari pertama lebih mengfokuskan kepada beberapa topik antara lain: Indonesian LNG Industry Outlook pada sesi pagi dan pada siang hari dilanjutkan dengan topik FSRU & FLNG Development in Asia. Pada sesi FLNG development saya mempresentasekan kapabilitas Black & Veatch dan aliansinya di dalam suatu tema: FLNG: Meeting the Domestic Demand in Indonesia’s Archipelago. Presentase berlangsung selama 25 menit dan diikuti babakan tanya jawab. Pembicara hari pertama menampilkan Nusantara Regas, PLN, Galway Group dan beberapa perusahaan terkemuka lainnya.

Sedikit berbicara tentang FLNG berikut beberapa kutipan dari slides deck saya:

  • Floating LNG monetizing stranded offshore reserves
  • Floating LNG applications – Export onshore pipeline gas
  • Near-shore or dock side application
  • Protected waters – benign (met ocean conditions)
  • Moored at jetty / wharf or sea-island
  • Small to mid-scale LNG supply volumes – 0.5 – 2+ MMTPA
  • Move away from traditional onshore plants

Why do we need to move floating LNG production unit?

  • Fit for small to mid scale  production plants
  • Less complex
  • Low capital and operating costs
  • Faster schedule

SELECTION OF LIQUEFACTION TECHNOLOGY FOR OFFSHORE APPLICATION

  • Most important criteria – minimize the footprint
  • Simple to operate
  • Efficiency
  • Mitigating vessel motion – marinization
  • Flexibility to expand – scalability
  • Flexibility to changes in Feed gas
  • Turndown and rapid startup

Based on the above selection criterias, Black & Veatch PRICO SMR LNG Process  is the only one patented technology which met all requirements for offshore applications

???????????????????????????????????????

 

 

Hari kedua lebih fokus pada LNG Shipping & Transport and Current LNG Market Trends from Legal Perspective. Pembicara hari kedua menampilkan beberapa perusahaan transportasi LNG seperti PT Humpuss Intermoda, Mann Teknik AB dan beberapa perwakilan perusahaan lokal dan internasional lainnya.

Konferensi seperti ini tidak hanya melahirkan wawasan dan pengetahuan baru tentang dunia LNG secara umum tapi juga sebagai wadah untuk networking di antara pada pelaku bisnis LNG dimulai dari pemerintah, pengusaha dan investor untuk pembangunan liquefaction process, regasification, transportation and distribution sampai pada end user. Tak ketinggalan Black & Veatch sebagai LNG industry pioneer yang telah bermain di ranah ini selama 50+ tahun dengan lebih dari 50 proyek LNG di seluruh dunia menggunakan teknologi patent PRICO LNG process membuat posisi Black & Veatch tak terkalahkan dari engineering & EPC contractor lainnya di dunia. B&V lebih fokus dan terdepan untuk small to mid scale LNG development, tak terkalahkan.

???????????????????????????????

 

 

Kesimpulan akhir dari slides deck presentation saya antara lain adalah:

????????

  • Barge LNG moving forward – The world’s first FLNG will be LNG barge (PRE-EXMAR FLRSU – Q1 2015)
  • Cost effective and shorter schedule;
  • Bankability
  • Integrated WISON-Black & Veatch solution – Simple process and simple barge
  • Barge LNG proving to be good option for small to midscale facility

Saya merasa bangga dengan pencapaian yang saya miliki selama ini masih terus diberi kesempatan mewakili perusahaan di dalam mempromosikan B&V LNG qualification and experiences. Menjadi pembicara dari Indonesia bersanding dengan pembicara internasional yang sudah malang melintang di bisnis ini. Maju terus Habibie Razak menjadi pioneer LNG business di Indonesia dan Asia Tenggara.

 

 

 

 

 

 

 

Diutus sebagai Delegasi pada World Clean Coal Conference di Bali 9-10 April 2014

Konferensi internasional tentang pemanfaatan batubara yang dilaksanakan di Hotel Pan Pacific Tanah Lot, Kab. Tabanan, Bali berlangsung sesuai direncanakan melibatkan delegasi dari berbagai negara, technology licensor, pengusaha batubara, sampai pada delegasi pemerintah. Acara berlangsung selama 2 hari, Tanggal 9 – 10 April 2014 di Grand Balroom salah satu hotel sekaligus resort terkenal di Pulau Dewata ini.

Mungkin ada yang bertanya, Tanggal 9 kan bertepatan dengan jadwal Pemilu? Iya betul sekali karena acara ini saya dan teman-teman delagasi lainnya tidak menggunakan hak pilih di Pemilu legislatif kali ini.

Sitting down and listening Conference Situation

 

Perjalanan ke Bali dari Bandara Soekarno atta, Cengkareng hanya menempuh kurang lebih 1.5 jam dan mendarat di Bandara Gusti Ngurah Rai. Lokasi bandara tidak jauh dari Pantai Kuta, Bali, pantai terpopuler di Bali dan Indonesia umumnya. Hari Selasa, Tanggal 8 April tepatnya Pukul 13.30 PM dari Bandara kami langsung menuju Tanah Lot, salah satu lokasi wisata di Bali yang berada di sisi tepi pantai barat arah utara pulau Dewata. Perjalanan menempuh 1.5 jam dengan kondisi lalulintas ramai lancar dengan jarak tempuh kurang lebih 60 km dan selama itu pula kami banyak mendapatkan outlet-outlet di pinggir jalan yang menghadirkan kerajinan tangan dan seni pahat khas Bali. Dari dalam mobil kami melewati beberapa tempat peribadatan umat Hindu seperti Pura dan sejenisnya, sungguh mengesankan.

ID Card Sponsorship view

 

 

Hari pertama konferensi World Clean Coal menghadirkan Bob Kamandanu, Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia berbicara tentang coal policy and investment climate in Indonesia di mana Beliau mendorong sektor swasta dan BUMN untuk berinvestasi di sektor coal gasification dan coal upgrading dan bersama-sama mempresentasekan business case mereka di depan pemerintah.  Pupuk Kaltim tidak ketinggalan menghadirkan beberapa slides tentang Coal related Projects for Fertilizing Production. Yang menarik buat saya adalah presentase project portfolio dan technology overview of UHDE gasifier dibawakan oleh Claudio Marsico, Thyssen Krupp Industrial Solutions. Konferensi 2 hari kali ini menghadirkan Prof. Bukin Daulay, peneliti dari TEKMIRA kementerian ESDM sebagai host. Beliau sangat intens mengkampanyekan pemanfaatan batubara kalori rendah di Indonesia untuk memberikan nilai tambah buat sektor energi dan industri.

Pembicara dan topik pembahasannya di hari kedua tidak kalah menariknya dengan hari pertama menampilkan Muhammad Khayam mewakili Kementerian Perindustrian dan Pak Unggul Priyanto dari BPPT.  Pertamina yang diwakili oleh Djauhari Kunsetyanto memaparkan project mereka yaitu coal based fuel and chemical project di mana Pertamina saat ini bekerja sama dengan Celanese, USA di dalam pengembangan ethanol dan E10 gasoline dari batubara.

Finally, giliran perwakilan dari Black & Veatch, George Gruber, PE Technology Manager untuk gasification and chemicals memberikan kuliah dan ceramah tentang Indonesia Coal Gasification Opportunities. Beliau di dalam pemaparannya menjelaskan bahwa batubara kalori rendah dapat dikonversi menjadi high value products seperti: ammonia and urea, methanol and DME, SNG and LNG, diesel dan gasoline. Beliau juga memaparkan studi kasus tentang Indonesian low rank coal menggunakan teknologi Shell, Siemens dan Uhde di mana Beliau memaparkan keunggulan-keunggulan dari 3 teknologi ini dari sisi capital dan operating expenditures. Menurut George Gruber, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemilihan teknologi gasifikasi antara lain: karakteristik batubara seperti nilai kalori, ash content dan kadar air, produk akhir yang dihasilkan dan aplikasinya, skala pabrik dan ekspektasi reliabilitasnya, capital investment (CAPEX), operating expenditure (OPEX) dan faktor-faktor lainnya. Di ujung presentase Mr. Gruber menampilkan product case economics dengan asumsi harga batubara adalah masing-masing 20 USD/ton dan 30 USD/ton untuk menghasilkan methanol, DME, gasoline, diesel dan naphtha, SNG, ammonia dan urea. Dari tabel yang ditampilkan menyimpulkan bahwa batubara sudah sangat feasible, economically viable untuk menghasilkan produk-produk di atas.

Presentation by George

 

Dua hari konferensi menyimpulkan bahwa gasifikasi batubara adalah layak berdasarkan pendekatan teknis dan ekonomis dan diharapkan kerjasama yang apik antara pihak akademisi, businessman dan government untuk membuat investasi ini terwujud di masa depan.

Pan Pacific nameplate background Hard Rock Cafe

 

 

 

Oh iya, mungkin ini petualangan yang tak kalah menariknya buat saya, Hari Jumat pagi Tanggal 11 April saya check out dari Hotel Pan Pacific dan bergegas menuju Kuta dan check in di salah satu Hotel dekat Pantai Kuta. Di hari itu kami menyempatkan berwisata ke Bali Safari, Monkey Forest di Ubud, Pantai Kuta dan beberapa obyek wisata lainnya. Tak lupa saya berfoto gagah di depan Hard Rock Hotel dan Cafe yang lokasinya berada tepat di depan Pantai Kuta. You know me lah saya fans berat Hard Rock. Hari Sabtu siang saya menuju Bandara Gusti Ngurah Rai dan terbang ke kota Daeng dengan pesawat Garuda Airlines. Kenapa harus Garuda? Iya karena saya adalah member setianya Garuda Miles ha ha ha…

 

 

 

Jalan-jalan ke Kota Pempek Palembang dan Kota Tambang Muara Enim

Siang hari Tanggal 18 Maret 2014, saya dan dua teman berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta menuju Palembang. Pesawat Garuda GA0012 berangkat Pukul 16.15 menuju Sultan Muhammad Badaruddin II dan mendarat Pukul 17.25. Kami menginap di Hotel Arya Duta Jalan POM IX tepatnya di tengah kota Palembang.

Kami berangkat ke Palembang dalam rangka tugas kantor dan menginap selama 3 hari di sana dan juga berkunjung ke lokasi tambang Batubara Bukit Asam di Muara Enim. Malam pertama kami menikmati makan malam di Restoran River Side yang lokasinya dekat dengan Jembatan Ampera. Di hari kedua, Tanggal 19 Maret 2014 kami juga mengunjungi salah satu pabrik Pupuk di Palembang.

Caterpillar Heavy Equipment Site Visit Team

Kota Palembang yang terkenal dengan kota Pempek dan Kerupuk khas Palembang menyimpan sejarah perjuangan masyarakat Palembang sebagai pejuang kemerdekaan dan memiliki beberapa pahlawan yang terkenal. Salah satunya adalah Kapten Ahmad Rifai yang sekarang namanya diberi nama jalan di tengah kota Palembang. Kapten A. Rifai ini dengan warga dan pejuang-pejuang Palembang berhasil menahan serangan Belanda selama lebih dari 2 minggu berperang tanpa henti.

Conveyor Belt from Mining site to Railway station - Copy

 

Tanggal 20 Maret kami dari Palembang menuju Tanjung Enim, lokasi tambang batubara berada. Perjalanan menempuh 5 Jam menuju lokasi tambang melalui jalan darat. Tanjung Enim masuk ke dalam area Kabupaten Muara Enim, salah satu kabupaten yang berlokasi di bagian barat selatan, 190 Km dari Kota Palembang. Kota ini kaya akan deposit batubara dan termasuk daerah penghasil batubara terbesar di Indonesia. Di sinilah PT Tambang Batubara Bukit Asam beroperasi.

Mining Hopper Station - Copy

Selama 2 jam di lokasi tambang kami menyempatkan melihat lokasi tambang dan melihat beberapa caterpillar engine lalu-lalang di depan kami. Sepertinya tambang ini tetap beroperasi seperti biasa walaupun harga batubara saat ini lagi tidak bersahabat. Crushing station dan conveyor sepanjang beberapa kilometer pun menjadi pemandangan attraktif selama kunjungan kami. PT Bukit Asam mengirim batubara dari lokasi tambang menuju pelabuhan melalui jalur rel kereta api dengan jarak lebih dari 1oo Km.

Sore harinya pun di Tanggal 20 kami harus balik lagi ke Palembang dan menginap satu malam di Hotel Arya Duta dan balik ke Jakarta keesokan harinya. Palembang adalah kota pertama di Pulau Sumatera yang pernah saya kunjungi saya berharap bisa berkunjung lagi ke kota-kota besar lainnya seperti Medan dan Padang.